
Aku sudah pasrah jika nantinya kak Orion akan menceraikanku, dan memilih Anna.
“Kak” Aku memberanikan diri untuk berbicara dengan kak Orion
“Aku boleh minta waktu sebentar?” Kak Orion meletakkan ponsel yang sedang ia mainkan dan menatap serius kearahku. Tatapannya membuat nyaliku ciut, tapi aku harus berani mengatakannya sekarang.
“Jika nanti kakak akan menceraikanku kakak bilang ya seminggu sebelumnya agar aku bisa mempersiapkan diriku” Orion mengernyitkan keningnya.
“A-aku sudah siap jika posisiku sekarang di gantikan oleh Anna, lagi pula kalian nampak serasi”
“OH ya, bagus kalau kau mengerti” Aku tersentak mendengar ucapan Orion, aku tak bisa melanjutkan percakapan ini lagi sepertinya Orion benar-benar akan menceraikanku.
“Iya kak, terimakasih atas waktunya” Aku mengubah posisi tidurku membelakangi Orion yang kembali fokus dengan ponselnya. Hatiku tertusuk belati putih rasanya sakit sekali.
***
Author Pov
“Hallo Sa, akhirnya lo angkat telfon gw” Itu suara Meta
“Pelan-pelan njirr, telinga gw sakit denger suara lo”
“Lo kemana aja sih, udah tiga hari lo gak masuk sekolah nyokap lo telfonin gw terus Salsa” Pekik Meta
“Terus lo bilang apa ke nyokap gw?”
“Ya gw bilang gak tau, lo juga pergi gitu aja gak ngasih kode ke kita. Lo kemana Sa?” Aku rasa gak ada salahnya Meta dan Lora tau keadaan ku sekarang mereka sahabatku.
“SALSA” Teriak Meta
“Gw gak budeg anj***, gw udah sharelok lokasi gw”
“Oke gw sama Lora otw ketempat lo, bye”
“Gimana Ta, ada Salsanya?” Tanya Lora penasaran
“Bentar, ini Salsa ngapain kirim lokasi rumah sakit”
“Hah, mana liat” Lora mengambil paksa ponsel Meta
“Jangan-jangan Salsa kenapa-kenapa Ta, kita harus kesana sekarang”
Meta dan Lora bergegas menuju lokasi yang dikirimkan Salsa, bagaimanapun sikap Salsa yan terkadang semena-mena dan menyebalkan Salsa tetap sahabat Meta dan Lora. Rasa khawatir akan keadaan Salsa membuat keduanya tidak tenang apalagi lokasi yang dikirim Salsa adalah rumah sakit.
Butuh waktu hampir enam jam untuk Meta dan Lora sampai di sebuah rumah sakit yang jauh dari kota tempat mereka tinggal.
“Sus, ruangan atas nama Salsa Lovani Andersn” Tanya Lora ke petugas reseptionis
“Sebentar ya bu saya cek dulu”
“Iya sus”
“Mohon maaf buk, dirumah sakit ini gak ada yang namanya ibu Salsa”
“Hah, coba cek sekali lagi sus. Ini benar Rumah Sakit Permata Medika kan?”
“Sebentar ya, saya coba cek lagi”
“Mohon maaf bu, nama pasien tersebut tidak ada di daftar kami”
“Baik sus, terimakasih”
“Brengsek Salsa ngerjain kita?” Kesal Lora
“Sabar dulu, gw coba telfon Salsa” Sudah tiga panggilan Meta tak diangkat Salsa
“Gimana diangkat gak?”
“Gw coba sekali lagi”
“Halo”
“Gak akan ada nama gw, lo naik aja ke lantai tiga kamar gw ada di paling ujung nomor 117”
Lora dan Meta mencari kamar tempat Salsa berada sekarang, saat mereka sampai di pintu bertuliskan angka 117 mereka membuka handle pintu, dan betapa terkejutnya mereka melihat kondisi Salsa tekulai lemas di bed dengan infuse ditangannya.
“Salsa” Meta dan Lora berhamburan memeluk Salsa
“Lo kenapa? Kenapa bisa sampai kayak gini ada apa Sa” Meta berurai air mata begitu juga Lora, melihat wajah Salsa yang sangat pucat.
“Sorry, gw gak pernah cerita masalah gw ke kalian”
“Sa, kita ini sahabat lo, kita gak akan biarin lo menderita sendirian kayak gini” Ucap Lora
“Apa yang terjadi Sa” Tanya Lora
“Gw Aborsi”
“Hah, becanda lo gak lucu Sa” Bantah Meta
“Gw serius”
“Lo hamil anak siapa anjir” Tanya Meta
“Kak Lucas”
“KAK LUCAS????” Ucap Meta dan Lora bersamaan
“Jadi selama ini lo pacaran sama kak Lucas?” Salsa menggeleng
“Terus gimana lo bisa hamil sama kak Lukas, Salsa” Lora frustasi
“Kalian inget kan waktu kita bertiga parti di club?” Meta dan Lora mengangguk
“Waktu itu sehabis dari toilet gw gak sengaja liat kak Lucas lagi minum sendirian terus gw samperin. Karena gak mungkin gw biarin kak Lucas pulang sendirian dengan keadaan mabuk parah akhirnya gw bawa dia ke apartement gw”
“Jadi itu alasan lo pulang duluan ninggalin kita, Sa” Protes Lora
“Ihhh lo diem dulu deh biarin Salsa selesein dulu ceritanya”
“Tapi gw kesel Ta, gara-gara Salsa ninggalin kita, kita jadi terlantar dijalanan” Kesal Lora
“Sorry guys gw minta maaf” Ucap Salsa merasa bersalah
“ Terus Sa?”
“Karena kita berdua mabuk kita gak sadar kalo kita berhubungan badan, tapi pas gw bangun kak Lucas udah gak ada di samping gw dia ninggalin gw gitu aja di apartemen. Sampe akhirnya gw hamil pun kak Lucas selalu ngehindarin gw dan gw dipaksa buat gugurin kandungan gw”
“Brengsek banget sih si Lucas, awas aja kalo ketemu gw bikin perhitungan udah bikin sahabat gw kayak gini” Ujar Meta
Tiba-tiba saja handle pintu diputar dan pintu terbuka menampakkan pria berwajah tampan dengan tubuh atletisnya siapa lagi kalo bukan Lucas. Karena hanya Lucas dan dokter yang menangani Salsa yang tau keberadaan Salsa. Tapi sekarang Meta dan Lora juga sudah tau.
“Ngapain kalian disini?” Ucap Lucas dengan nada dingin dan tegas
“Sorry kak gw yang minta mereka buat temenin gw” Balas Salsa
“Terserah asal mereka berdua bisa tutup mulut” Salsa mengangguk meyakinkan
“Kak Lo-“ Ucapan Meta tertahan karena Salsa menahan tangan Meta
“Tapi Sa”
“Gw mohon Ta” Gak pernah sekalipun Meta dan Lora melihat Salsa memohon seperti ini.
“Gw udah bayar semua biaya rumah sakitnya, kata dokter lo udah bisa pulang besok. Kalian berdua urus dia tugas gw udah selesai” Ucap Lucas dan langsung pergi meninggalkan ruangan Salsa, Meta yang geram melihat sikap Lucas ingin mengejar dan memberi Lucas pelajaran namun ditahan oleh Salsa.
“Sabar Ta, lo kayak gak tau aja sikap kak Lucas” Terang Lora
“Tapi gw kesel Ra, pengen gw tonjok mukanya” Cibik Salsa
“Udah ini gak sepenuhnya salah kak Lucas kalo gw gak nyamperin dia, ini semua juga gak bakalan terjadi”