DIRASTA (ON GOING)

DIRASTA (ON GOING)
12. Sami



Don't force your love on the person you love, just be a light when the world feels dark, rest assured that at that time you will see sincerity through their smile_ Sami Bachtiar Aryabatha


"Pah, Sami sebelum ke cafe mau mampir dulu ketempat mamah" Sami mengoleskan selai kacang di roti miliknya.


Tito menarik nafasnya dalam" Maafin papah ya Sam, papah belum bisa ketempat mamahmu"


"Gak apa-apa pah Sami ngerti kok"


Sami dan Tito hanya tinggal berdua karena Vera istri dari Tito yang juga ibunda Sami meninggal dua tahun lalu karena penyakit yang di deritanya.


Walau begitu tak ada niatan Tito untuk menikah lagi, cintanya masih dimiliki Vera mendiang istrinya. Meski beberapa kali Sami terang-terangan memberikan ijin untuk papahnya menikah lagi, tapi Tito terkesan enggan menanggapi hal itu.


"Yaudah Sam, papah berangkat dulu kamu hati-hati"


"Oke pah"


"Papah nitip salam buat mamah kamu" Tito menepuk belan bahu putra semata wayangnya itu dan meraih tas kerjanya.


Bukan tanpa alasan ia tak mendatangi makam wanita yang sangat ia cintai itu, tapi setiap kali datang ketempat itu Tito tak pernah bisa menahan air matanya. Dan itu membuatnya bersalah karena telah mengingkari janjinya kepada Vera untuk tidak menangisi kepergiannya.


Nyatanya hal itu bukanlah hal yang mudah bagi Tito. Bagi Tito hanya Vera yang pantas menjadi istrinya dan tak akan pernah tergantikan.


"Jalan pak" Perintah Tito pada supir pribadinya


"Baik pak"


Sami memarkirkan mobilnya , mengambil bucket bunga yang ia beli saat menuju ke pemakaman ibunya. Semasa hidupnya Vera sangat menyukai berbagai jenis bunga dan yang menjadi bunga favoritnya adalah bunga lili putih.


Sami meletakkan bunga kesukaan ibunya di samping batu nisan Vera.


"Mah, Sami datang tapi Sami minta maaf belum bisa ajak papah kesini mamah gak apa-apa kan kalo Sami kesininya cuma sendiri"


"Gak kerasa ya mah udah dua tahun mamah pergi ninggalin aku sama papah"


"Cinta dan kasih mamah gak pernah bisa digantiin oleh siapapun, bahkan papah gak pernah mau menggantikan posisi mamah dengan orang lain"


Seseorang tersenyum mendengar setiap kata yang diucapkan Sami sembari mengelus batu nisan ibunya. Dalam hatinya ia berkata "Beruntung banget wanita yang nantinya jadi istri kamu Sam, yang jelas wanita itu bukan aku"


Sami telah selesai dengan urusannya dan ia berbalik badan hendak kembali, namun netra matanya menangkap seseorang yang berdiri menatap dirinya.


"Dira, Lo ngapain disini?" Sami menghampiri Danira yang masih setia berdiri di tempatnya.


"Aku juga habis ketemu sama ibuku Sam"


"Ouh, yaudah bareng yuk kamu mau ke cafe kan??" Danira mengangguk


Keduanya berjalan beriringan menuju mobil Sami terparkir, namun sebelum sampai di parkiran Danira merasakan pandangannya mulai kabur dan kesadarannya pun menghilang.


"Danira" Sami terkejut melihat tubuh Danira yang sudah ambruk ke tanah, melihat itu Sami bergegas membopong Danira ke mobilnya.


Rumah Sami


"Mbok tolong bantu saya ambilkan minyak angin" Perintah Sami kepada wanita paruh baya yang sudah lama bekerja dikeluarkannya.


"Baik den"


Mbok Nah segera datang dengan membawa minyak angin ditangannya dan menyerahkannya kepada Sami.


"Den sebaiknya dibawa ke kamar saja, biar saya buatkan teh anget" Ucap mbok Nah yang diangguki Sami.


Sami menggendong tubuh mungil Danira ala bridal style, membawanya masuk ke dalam kamarnya. Sebenarnya ada banyak kamar di rumah Sami, tapi instingnya memilih kamar pribadinya.


Sami mengusapkan minyak angin ke hidung dan pelipis Danira, sesekali ia memanggil nama Danira untuk menyadarkan gadis itu.


Danira mencium aroma semerbak minyak angin yang mengganggu Indera penciumannya. Danira mengerjapkan matanya berlahan, mengamati langit-langit dan juga dinding yang begitu asing di indera penglihatannya.


"Ra Lo udah sadar?" Tanya Sami dengan nada sangat lembut


"Sami, aku dimana?"


"Kamu ada dirumah aku Ra"


"Rumah kamu?" Sami mengangguk memberi jeda Danira untuk memutar kembali ingatannya.


"Nih diminum dulu biar enakan" Sami membantu Danira untuk bersandar di sandaran ranjang tidur milik Sami. Danira memasukkan gelas berisi teh hangat dimulutnya dengan perlahan.


Dengan hati-hati Sami merapikan surai rambut Danira yang mengganggunya saat tengah minum.


"Terimakasih" Ucap Danira


"Lo hobby banget pingsan ya Ra" Danira mengerucutkan bibirnya membuat Sami semakin gemas melihat wanita dihadapannya.


"Gak usah manyum gitu Ra, ntar gw khilaf Lo mau nanggung?" Danira mengernyitkan Dahinya bingung


Sami menangkup kedua pipi Danira, dan berkhir dengan cubitan kecil dihidung Danira.


"Lo laper???" Sami terkekeh saat mendengar cacing-cacing yang ada di perut Danira sudah berdemo ria meminta untuk segera diberi makan. Danira mengangguk malu.


"Sebentar ya gw ambilin makanan dulu" Danira menahan tangan Sami yang hendak beranjak


"Sami makasih ya" Sami mengacak rambut Danira gemas


"Selama Lo nyaman ada disamping gw, gw gak pernah ngerasa terbebani sedikitpun Ra. Asal Lo tau gw sayang sama Lo" Sayang ucapan Sami tak didengar oleh Danira karena Sami mengucapkannya dalam hati.


Danira menatap setiap sudut ruangan tempat dirinya berada sekarang, ruangan yang di dominasi dengan warna putih dan abu-abu. Aroma musk yang sangat mendominasi aroma ruangan ini membuat Danira langsung menebak bahwa kamar ini milik Sami.


Danira menundukkan wajahnya kearah jemarinya yang ia mainkan.


"Mikirin apaan Ra"


"Eh gak kok gak ada"


"Ini makanannya nona Danira"


"Sam, ini berlebihan" Danira merasa tidak enak mendapat perlakuan yang sangat manis dari Sami


"Kenapa gak Ra, apapun bakal gw lakuin buat Lo" Lagi-lagi ucapan Sami tak bisa Danira dengar karena diucapkan di dalam hati.


"Gak apa-apa Ra, Lo kan tamu jadi wajar dong kalo gw memperlakukan tamu gw dengan baik"


"Ya tapi kan"


"Aaaa" Sami menyuapi Danira dengan telaten dan Danira menerima suapan demi suapan itu dari Sami hingga makanan yang ada dipiring tandas.


Sami memberikan segelas air putih untuk Danira, lagi-lagi Danira harus menerimanya padahal Danira bisa melakukannya sendiri.


"Pinter" Sami memuji Danira layaknya anak kecil yang mendapat pujian dari ibunya karena telah menghabiskan makanannya.


"Kamu gak jadi ke cafe?" Tanya Danira


"Ke cafe bisa kapan aja Ra" Ucap Sami enteng


"Gimana bisa gitu, ntar kalo kita berdua di pecat gimana?" Danira memasang wajah khawatir jika ia harus kehilangan pekerjaannya juga.


Sami terkekeh melihat wajah lucu Danira


"Kok kamu ketawa sih, memangnya ada yang lucu? Danira mendengus sebal sembari mengerucutkan bibirnya


"Ra, gw udah bilang bibirnya gak usah digituin"


"Emangnya bibir aku kenapa? ada yang salah?"


"Lo gak tau Ra, dari tadi gw nahan buat gak cium Lo" Batin Sami


Duh maaf banget jadi banyak banget yang aku revisi, karena gak tau kenapa semoga kalian tetep suka ❤️


Terimakasih yang udah mau baca,


Terimakasih yang udah like,


Terimakasih yang udah komen,


Terimakasih kalian semua☺️