
Aku menghubungi Salsa berharap Salsa mau menemaniku. Ku tekan nomor Salsa dan tak berapa lama Salsa menerima panggilanku.
“Hallo Sa”
“Iya Ra, ada apa?”
“Sa, aku.....” Aku menceritakan semua yang kualami pagi ini pada Salsa, dan beruntungnya Salsa tanggap memahami situasiku saat ini.
“Ra” Salsa memelukku
“Maaf ya Sa aku bikin kamu bolos” Ucapku bersalah
“Tenang Ra soal bolos buat gw hal biasa, mana kotaknya?” Aku memberikan kotak misterius itu pada Salsa.
Salsa menutup mulutnya saat melihat foto yang ada di dalam kotak itu, foto pertama adalah foto mobil Orion dan foto kedua foto Orion dengan banyak darah.
“Ra, ini?”
“Aku gak tau Sa, nomor kak Orion juga gak aktif”
“Lo ada nomor Aldi atau Zaky?” Aku menggeleng
“Emmmmm” Salsa terlihat berfikir
“Aku ada nomor Lucas, tapi apa kita harus” Salsa menghela nafasnya kasar, wajahnya murung setelah mengucapkan nama Lucas.
“Sa, kalo kamu ragu gak usah gimana kalo kita susulin aja ke kampus mereka?” Salsa mengangguk setuju, langkahku dan Salsa terhenti saat mendengar ponselku berdering.
“Siapa?”
“Gak tau” Aku menggeser tombol hijau diponselku
“Ra, ada apa? Lo kenapa?” Tubuhku seakan mati rasa, aku tak bisa merasakan denyut dinadiku.
“Duduk dulu Ra, gw ambil minum lo tunggu disini” Aku menahan tangan Salsa dan menangis sejadinya dipelukan Salsa. Apa yang aku takutkan terjadi mobil kak Orion mengalami kecelakaan dan satu korbannya meninggal.
“Ra, tenang lo harus tenang”
“Kak Orion Sa, kak Orion”
“Lo harus yakin kalo suami lo baik-baik aja”
“Kita kerumah sakit Sa”
“Kita kerumah sakit tapi lo tenangin diri lo dulu Ra”
Apa kecupan itu akan jadi kecupan terakhir yang Orion berikan. Tuhan apapun yang terjadi tolong selamatkan Orion.
Sesampainya dirumah sakit sudah ada mamah, papah dan Anna.
“Mah” Untuk pertama kalinya setelah sekian lama aku bertemu dengan mamah
Plakkkkk , tamparan keras mendarat di pipiku.
“Untuk apa kamu kesini? Kamu itu penyebat kesialan di hidup Orion, dan gara-gara kamu saya hampir kehilangan putra saya” Pekik Tamara
“Tante ini semua kecelakaan gak ada sangkut pautnya dengan Danira” Aku menggenggam tangan Salsa agar tak memperburuk suasana
“Maafin Danira mah, bagaimana kondisi Orion?”
“Kamu udah gak ada hak atas anak saya, ini” Tamara menyerahkan sebuah amplop coklat yang isinya surat perceraian.
“Tante, kenapa tante tega melakukan ini?” Ucap Salsa yang menopang tubuhku yang sudah lemas duniaku gelap hitam.
Aku terbangun di hospital bed.
“Ra, lo mau minum?” Aku menggeleng, aku mengingat semuanya Orion, mamah , surat perceraian.
“Aku mau ketemu Orion”
“Gak Sa, aku pengen ketemu Orion” Aku tetap memaksakan diriku
“Ra, jangan nekat lo mau mamahnya Orion ngusir lo lagi? Lo gak kasihan apa Ra sama bayi lo?” Aku terduduk di hospital bed dan menangis sejadinya.
“Ra, gw tau lo perasaan lo tapi lo harus tenang kita hadapin sama-sama kita cari jalan keluarnya. Gw yakin perceraian itu bukan kemauan Orion”
“Gw Cuma mau liat kondisi Orion Sa”
“Orion gak apa-apa Ra, Orion mengalami benturan dikepalanya Orion belum siuman”
“Terus yang gak selamat siapa Sa” Lama aku menunggu jawaban Salsa yang masih terdiam
“Siapa Sa”
“Aldi” Mata ku membola tak percaya, kenapa Tuhan mengambil orang-orang yang menyayangiku begitu cepat.
“Ra, udah Ra lo tenang ya lo ikhlasin biar Aldi tenang di sana”
Author POV
Orion dan yang lain berangkat menuju kampus setelah menyelesaikan sarapan mereka.
"Ra, aku berangkat ya"
"Hati-hati ya" Orion mengecup lembut kening Danira
Aldi dan Orion duduk di depan sedangkan Zaky duduk.di kursi belakang. Mereka sesekali mengobrol mengenai perkuliahan mereka, sedangkan Zaky sedari tadi merasa gelisah pasalnya saat dirumah Orion tadi Zaky melihat seseorang berpakaian serba hitam seperti tengah mengawasi mereka. Zaky mencoba menjauhkan pikiran buruknya namun tiba-tiba mobil yang Orion kendarai kehilangan keseimbangan.
"Kenapa Yon???"
"Rem mobilnya blong" Dengan susah payah Orion menyeimbangkan mobilnya namun hal terburuk tak bisa dihindarkan, mobil Orion menabrak pohon dan menyebabkan mobil rusak parah.
Orion dan Aldi mengalami benturan yang cukup keras dibagian kepala. Orion bisa melewati masa kritisnya walaupun masih harus mendapatkan perawatan dirumah sakit, tapi tidak dengan Aldi, Aldi menghembuskan nafas terakhirnya saat masih dalam perjalanan menuju rumah sakit. Zaky hanya mengalami luka ringan.
Dengan tubuh gemetar Zaky membuka penutup kain ditubuh sahabat nya. Tangisnya pecah saat melihat wajah sahabatnya Aldi sudah pucat dan tak bernafas. Zaky mengepalkan tangannya, ia harus mencari tau orang yang sengaja mencelakai teman-temannya.
"Di, Lo gak usah khawatir gw bakal temuin orangnya gw janji" Zaky menutup kembali kain putih itu.
Zaky terduduk dikursi di depan ruangan Orion dirawat. Pikirannya teringat pria misterius itu.
"Zaky" Panggil Danira lirih
"Da-danira"
"Aldi" Zaky tertunduk lesu mengingat wajah sahabatnya Aldi
"Ra, Aldi sudah tenang gw harap Lo mau maafin semua kesalahan Aldi semasa hidupnya" Danira mengangguk pelan, dan terus menangis. Zaky mengusap lembut bahu Danira menenangkan. Sebenarnya ada hal yang ingin Zaky tanyakan pada Danira, tapi rasanya waktunya belum tepat.
"Orion" Danira mendekatkan tubuhnya ke kaca agar bisa melihat keadaan Orion ingin sekali rasanya ia berada disamping Orion.
"Orion kamu harus kuat kamu harus sembuh" Ucap Danira dengan air mata yang tak henti-hentinya berderai
"Ra" Salsa meraih tubuh Danira takut jika Danira pingsan
"DANIRA" Pekik Tamara, semua mata menoleh kearah sumber suara.
"Bukankah aku sudah melarangmu menemui Orion, apa kamu tidak dengar" Bentak Tamara
"Mah, ijinin Dira buat ketemu Orion sekali aja mah Dira janji setelah ini Dira gak akan ganggu Orion lagi" Dira menyatukan kedua tangannya memohon.
"Tante, kenapa Tante Setega ini sama Danira. Saya yakin Tante Orion butuh Danira saat ini biarkan Danira bertemu Orion" Ucap Zaky
Dengan berat hati akhirnya Tamara membiarkan Danira untuk menemui Orion.
Danira menghapus air matanya, ia tak ingin menemui Orion dengan wajah sedihnya. Danira menggenggam tangan Orion.
"Aku mencintaimu Yon, aku mencintaimu maafkan aku" Danira mencium punggung tangan Orion dan air matanya kembali menetes.