
Danira masih berusaha untuk terlepas dari ikatannya tapi semua usaha yang dilakukannya sia-sia. Handel pintu bergerak dan seseorang masuk membawakan Danira makanan, tapi beda dengan hari-hari biasanya hari ini orang itu melepaskan ikatan tangan Danira.
“Kau melepaskanku?”
“Tidak, aku hanya ingin memberimu waktu untuk bergerak dan menikmati makananmu, aku juga membawakanmu vitamin. Aku tidak ingin bayi dikandunganmu kenapa-kenapa”
“Baiklah terimakasih” Danira duduk dilantai sembari menikmati makanannya, ia tau jika peria yang menahannya tidak akan menyakitinya. Danira menyuapkan makanannya kedalam mulutnya sambil sesekali melirik kearahnya pria itu.
“Kamu gak makan?” Pria itu menggeleng, ia tertunduk lesu seperti tengah menghadapi suatu masalah.
“Kau benar-benar sudah makan?” Tanya Danira lagi
“Aku tidak lapar”
“Apa kamu sedang ada masalah?”
“Boleh aku minta sesuatu padamu?” Danira mengangguk
“Boleh aku memelukmu?” Danira tertegun tak tau apa harus mau atau tidak, sebelum Danira menjawab orang itu sudah memeluk Danira.
“Maafkan aku sudah menyekitimu” Ucapnya lirih
“Kau tidak menyakitiku, ada apa sebenarnya?” Tanya Danira bingung
“Aku tidak tau apa yang sebenarnya terjadi, semua yang kulakukan karena aku sedang marah” Jelas pria itu lagi
“Kau marah dengan siapa?”
“Kau mau mendengarkan ku?”
“Iya aku akan mendengarkanmu”
“Ikut aku” Pria itu membawa Danira keluar dari ruangan itu dan mengajak Danira masuk kedalam sebuah kamar. Dania terdiam, tak bergerak dari tempatnya berdiri.
“Kenapa kaudiam disitu?”
“A-aku....” Pria itu menarik tangan Danira untuk duduk diatas tempat tidur
“Tolong jangan-“
“Ra, gw gak akan nyakitin lo untuk yang kedua kalinya. Asal lo tau kalo sebenarnya gw udah ngerasa sayang sama lo dan gw terpaksa nyulik lo, gw cuma pengen hidup bahagia berdua sama lo Ra”. Danira terdiam, aura menakutkan yang melekat pada pria itu , hari ini benar-benar hilang.
“Lo sakit Ra?” Danira menggeleng
“Gw tau apa yang gw lakuin udah kelewatan tapi lo gak tau Ra, rasa penyesalan yang bikin gw kayak gini. Dan dengan cara baik-baik pun gw gak akan bisa ngerebut lo dari tangan Orion”
“Tapi kenapa gak dari awal” Ucap Danira sembari menahan tangisnya
“Gw gak punya cukup keberanian waktu itu, tapi gw gak mau berdiam diri dan jadi pengecut Ra. Gw mau nebus semua kesalahan gw dan bikin lo bahagia”
“Tapi gw udah bahagia dengan Orion” Tungkas Danira
“Orion gak benar-benar sayang sama lo Ra, cepat atau lambat Orion juga akan ngebuang lo”
“Itu semua gak akan pernah ngerubah perasaan sayang aku ke Orion”
“CUKUP RA, GW GAK MAU DENGER NAMA ITU LAGI”
“Lepasin aku” Pria itu mencengkeram kedua pipi Danira
“Lupain Orion dan hidup bahagia sama gw” Danira menggeleng
“HHHHHHHH” Pria itu menghempaskan tubuh Danira ke atas kasur
“Sekuat apapun kamu maksa aku, perasaan aku gak akan pernah berubah aku cuma sayang sama Orion” Pria itu mengepalkan tangannya, melenggang pergi meninggalkan Danira, mengunci pintu kamar dari luar.
***
Karena kelelahan Salsa sampai tertidur, Zaky memandangi wajah Salsa yang manis sedang tertidur dengan lembut Zaky menyibakkan rambut Salsa yang menutupi wajah Salsa. Zaky dan Salsa tengah memantau rumah Lucas, sudah berjam-jam mereka berdua menunggu tapi Lucas masih belum terlihat, hingga akhirnya Salsa ketiduran.
Zaky berusaha tak mengganggu tidur Salsa namun aktivitasnya membuat Salsa terbangun. Saat Salsa membuka mata, Salsa terkejut karena wajah Zaky sangat dekat dengan wajahnya.
“Sorry, gw cuma mau pasangin sabuk pengaman biar lo gak jatuh”
“Ohhh emangnya kak Lucas udah keliatan?”
“Belum, kita lanjutin besok lagi lo juga udah capek kan?” Salsa mengangguk
Zaky memacu mobilnya meninggalkan daerah rumah Zaky, tapi mata Zaky menangkap motor milik Lucas berbelok masuk kedalam rumah.
“Kenapa berhenti kak?”
“Lo liat itu motor Lucas, kita tunggu disini sebentar gw yakin Lucas bakalan pergi lagi”
“Kalau benar Lucas yang menculik Danira, pasti dia gak akan lama meninggalkan Danira” Batin Zaky
Tak berselang lama mobil berwarna hitam juga berbelok masuk kerumah Lucas.
Untung saja pagar rumah Lucas tidak ditutup jadi Zaky dan Salsa bisa mengendap-endap masuk.
“Kak, apa kita gak apa-apa seperti ini?”
“Gak ada cara lain Sa”
“Kakak kan temennya Lucas kenapa gak langsung temuin aja sih, kalo kita ketahuan gimana?” Zaky memberi isyarat dengan jari telunjukknya meminta Salsa untuk diam, Zaky pun menundukkan kepalanya seolah enggan melihat apa yang ada dihadapannya saat ini.
“Pah, harus banget bawa wanita-wanita ****** ini kerumah??? Papah gak kasihan liat mamah?” Protes Lucas pada ayahnya
Plakkkkk, Tamparan keras mendarat di pipi Lucas
“Udah berani kamu sama papah”
“Pukul pah pukul Lucas sesuka papah kalo itu bikin hati papah puas” Ayah Lucas melayangkan pukulannya kembali kearah Lucas namun dihalang oleh ibunya Lucas hingga pukulan itu mengenai ibu Lucas hingga jatuh tersungkur.
“Mah, mamah” Teriak Lucas sembari membantu ibunya, sedangkan ayah Lucas melenggang begitu saja dengan terus merangkul wanita disampingnya.
“Lucas jangan lawan papah nak”
“Lelaki itu gak akan berhenti nyakitin mamah”
“Mamah gak apa-apa nak”
“Mah” Lucas mendekap tubuh lemah ibunya
Zaky mengusap air matanya yang tak terasa mengalir begitu saja. Setelahnya Zaky menarik tangan Salsa untuk pergi dari sana. Salsa hanya menurut ada rasa iba dihatinya terhadap Lucas setelah melihat kehidupan Lucas yang sesungguhnya. Kini Zaky dan Salsa sudah kembali kedalam mobil.
“Gw minta maaf sama lo Sa, kalo selama ini Zaky ada salah sama lo” Salsa terkejut mendengar ucapan Zaky
“Gu-gw udah maafin Lucas kok” Salsa tertunduk mengingat apa yang sudah Lucas lakukan padanya. Zaky meraih tangan Salsa.
“Gw tau apa yang udah Lucas lakuin ke lo” Salsa tak kuasa menahan tangisnya, Zaky memeluknya membiarkan Salsa menumpahkan tangisannya di pundaknya.
Danira berusaha dengan segala cara membuka pintu, namun tetap saja gagal. Dan tiba-tiba handel pintu bergerak. Danira sudah bersiap dan BRAKKKKKKK. Danira memukul kepala Lucas dengan gelas.
“Arghhhhh” Lucas memgangi kepalanya yang mengeluarkan darah pandangannya pun sedikit kabur. Danira masih berdiri ditempatnya dengan tubuh yang gemetaran, ia mengira jika pukulannya tidak akan membuat Lucas hingga terluka, Danira pikir Lucas hanya akan pingsan dan kesempatan itu Danira gunakan untuk kabur, tapi nyatanya tidak Lucas masih sadar hanya saja pecahan gelas membuat kepala Lucas berdarah.
“Ra, lo”
“Ma-maaf aku” Lucas melepas kaos yang ia kenakan untuk menahan darah yang terus keluar dari sudut pelipisnya. Melihat wajah Lucas membuat Danira merasa bersalah.
“Lucas a-aku minta maaf, dimana kotak obatnya biar aku bantu obatin”
“Di sebelah dapur”
“Tunggu sebentar aku ambil dulu” Lucas menahan tangan Danira
“Ra, kalo lo mau pergi lo bisa pergi sekarang pintunya gak gw kunci” Lalu Lucas melepaskan tangan Danira.
Danira berjalan kearah dapur mencari keberadaan kotak obat, dan yah “ketemu” gumam Danira sumringah berhasih menemukan kotak obatnya. Saat akan kembali ke kamar danira melihat kearah pintu dan benar saja apa yang dikatakan Lucas kunci pintunya ada disana.