
Danira berjalan menuju kelasnya, semua pasang mata menatapnya sinis bahkan ada beberapa dari mereka yang mengatai Danira.
Krekkkk, Salsa menarik seragam Danira hingga sobek di satu sisinya
“SALSA” Pekik Danira
“Udah cukup sandiwara lo, dasar ***** cewek murahan”
“Gw yakin lo pasti gak tau kan siapa bapak dari anak lo” Mata Danira membola mendengar ucapan Salsa.
Plakkkk, Danira menampar pipi kanan Salsa.
Plakkk, Tak mau kalah Salsa membalas tamparan Danira “LO LIAT BERITA LO DI MADING”
Danira menatap jengah ke arah Salsa, dengan jantung berdebar Danira berjalan ke arah madding. Kakinya melemas saat di mading terpampang hasil pemeriksaan atas nama Danira Egawasta yang menyatakan akan kehamilannya, tak hanya itu tespack yang menunjukkan garis dua pun tertempel disana.
“Siapa yang tega melakukan ini” Danira mengambil paksa kertas itu dari papan madding. Seseorang tersenyum puas melihat betapa hancurnya seorang Danira.
Hari itu juga Danira resmi dikeluarkan dari SMA BINA RAJASA, hidupnya benar-benar hancur.
“Jadi selama ini mula lugu lo ini cuma tameng buat nutupin kelakuan asli lo” Ucap Salsa
Salsa menjengut kasar rambut Danira “Sebenarnya ge ngerasa kehilangan lo harus cabut dari sekolah ini, karena gw gak bisa bully lo lagi hahaha” Salsa, Meta dan Lora tertawa bersamaan.
“Jangan sentuh dia” Ucap Orion dengan tatapan tajam kearah Salsa dan kawan-kawan.
“Kak Orion kenapa sih belain cewek ini” Kesal Salsa
“Terus lo pantes ngelakuin itu ke dia” Ucap Orion
“Ya, dia ini udah bikin malu sekolah kita kak”
Orion meraih tangan Danira dan menariknya pergi dari sana.
“DIA ITU CEWEK GAMPANGAN GAK HERAN SIH KALO DIA SAMPE HAMIL” Cibir Salsa
DEG, Orion tertegun dan berhenti berjalan. Danira masih terisak, Orion menatap sekilas wajah Danira.
“Dia hamil anak gw” Ucap Orion dengan tatapan tajamnya, membuat semua orang yang ada disana ternganga tak terkecuali Danira.
“Gw gak salah denger kan?” Tanya Salsa kepada dua temannya
“E-enggak deh” Beo Meta
“Beneran itu anak kak Orion?” Tambah Salsa
“Lepasin” Danira menghempaskan tangannya yang masih di genggam Orion.
Orion melipat kedua tangannya di dada, menatap tajam ke arah Danira. Ditatap seperti itu membuat nyali Danira menciut.
“Gw bantu lo ngomong ke temen-temen gw” Suara Orion melembut membuat Danira refleks menatap Orion, netra kedua bertemu membuat nafas Danira memburu.
“A-aku” Danira tak tau harus berkata apa
“Rumah lo dimana? Gw anter lo pulang, lo gak usah khawatir gw bantu lo” Kali ini Danira tak menolak tawaran Orion, mungkin ini satu-satunya cara agar Danira mendapatkan haknya.
Danira turun dari mobil Orion “Terimakasih kak” Orion hanya membalasnya dengan senyum.
PLAKKKK, sebuah tamparan mendarat di pipi kanan Danira.
“Dasar anak gak tau diri, PLAKKKKKK”
“Ampun yah”
Dani mencengkeram kerah baju Danira dan menghempaskan tubuh Danira hingga tersungkur ke lantai.
“Siapa yang udah menghamili kamu Dira” Pekik Dani
Danira masih terisak dalam tangisnya, perutnya terasa nyeri akibat terbentur lantai.
“JAWAB” Dani menjengut sarkas rambut Danira
“Di-dira minta maaf yah”
“Mulai sekarang jangan pernah panggil aku ayah, aku bukan ayah mu lagi”
“Ayah” Danira meraih kaki Dani, bersujud di kakinya namun dengan sarkas Dani menendang Danira.
“Ma-afin Dira yah, Dira gak salah Dira bisa jelasin” Rintih Danira
Ratna melempar pakaian Danira “Pergi dari rumah ini” Ucap Ratna
“Bu-ibu Dira mohon jangan usir Dira bu”
“Buah jatuh memang gak pernah jauh dari pohonnya, sama halnya denganmu kau dan ibumu sama-sama wanita kotor aku menyesal membuang-buang waktuku selama ini membesarkanmu”
“PERGI”
...***...
Orion mengirim pesan kepada ketiga sahabatnya untuk datang ke apartemennya.
Tak butuh waktu lama keempat pria tampan sudah berkumpul di apartemen Orion. Orion menatap wajah ketiga temannya bergantian.
“Yon, lo kenapa sih liatin kita bertiga kayak gitu???risih tau gak” Cicih Zaky
“Lo ada masalah Yon?” Tanya Lucas
“Lo bertiga tau apa kesalahan lo?” Tanya Orion
“Bah salah? Emang kita ada salah sama lo Yon” Jawab Zaky santai
“GW GAK LAGI BECANDA” Gertak Orion
Kini wajah Zaky, Lucas dan Aldi Nampak serius. Zaky yang tadinya masih bisa cengengesan kini terlihat serius menatap ke arah Orion.
“Siapa gadis yang lo bawa ke apartemen gw waktu itu?” Tanya Orion dengan tenang serta wajah datarnya.
“Cewek yang mana Yon?” Tanya Lucas
“Cihhh, cewek yang lo bertiga pake” Ketus Orion
“Jujur aja kita bertiga gak tau identitas cewek itu, bahkan wajahnya aja kita gak inget. Memangnya ada apa yon?” Ucap Aldi
Orion meletakkan pemeriksaan kehamilan atas nama Danira Egawasta di hadapan ketiga temannya.
Mereka bertiga bergantian membaca kertas itu “Danira Egawasta” Ucap Aldi
“Anak beasiswa kelas X IPA 1, iya kan?” Tambah Aldi
“Danira?” Beo Zaky
Berbeda dengan kedua temannya Lucas tak bereaksi apapun, tak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulutnya.
“Jadi dia orangnya” Gumam Aldi
“Lo tau Di?” Tanya Zaky
Aldi mengangguk “Sebenarnya gw udah duga, gw gak asing waktu pertama kali liat dia, untuk ngeyakinin kalo beneran dia orangnya gw cari tau soal dia, ya cuma sebatas itu yang gw tau”
“Jujur gw belum siap kalo harus nikahin dia, dan yang pasti orangtua gw gak bakalan setuju” Terang Aldi
Zaky membuang nafasnya kasar “Gw juga, gw gak pernah kepikiran buat nikah muda”
“Kita gak usah repot-repot nikahin dia, gw kenal dokter ahli aborsi. Kita masih anak SMA hal kayak gini wajar” Ucap Lucas tanpa dosa.
“Kali ini gw setuju sama Lucas” Tambah Aldi
“Lo bertiga egois” Ucap Orion
“Kita gak egois Yon, jalan kita masih panjang masa depan kita masih jauh, gak mungkin gw nikahin tu cewek” Kekeh Lucas
“Lo masih bisa mikir masa depan lo? Sedangkan lo udah ngerusak masa depan dia” Ucap Orion emosi
“Kalian gak kasihan hah, bahkan lo semua gak tau kan apa yang terjadi sama dia sekarang?” Terang Orion
“Kalo lo ngerasa kasian, kenapa gak lo aja yang nikahin dia!!!” Ucap Lucas
BUGGGG...BUGG..., Orion melayangkan pukulan di wajah tampan Lucas.
“Yon, tahan Yon” Aldi menahan Orion, sedangkan Zaky menahan Lucas.
“BANGSATTTT” Orion melenggang pergi meninggalkan ketiga temannya.
Orion mengacak rambutnya frustasi, wajah Danira terus-terusan terbayang di pikiran Orion. Orion meraih kunci motornya dan memacu motor kesayangannya menuju rumah Danira. Entah mengapa rasanya ia ingin bertemu gadis itu.
Namun belum sampai di rumah Danira ponsel Orion bordering, ia menepikan motornya dan meraih benda pipih itu dari dalam sakunya.
“Yon kamu dimana?” Tanya Tamara ibunda Orion dari sebrang sana.
“Orion masih dijalan mah”
“Cepet pulang ya Yon, kepala mamah sakit dan obat yang biasa mamah minum habis”
“Iya mah Orion beliin obat mamah”
“Makasih ya sayang” Orion memutar balik motornya dan mencari apotek terdekat unduk membelikan obat pesanan ibunya.