DIRASTA (ON GOING)

DIRASTA (ON GOING)
10. Kebohongan



Riuh suara murid-murid SMA BINA RAJASA di tengah menyemangati OMORFOS In the geng yang tengah bertanding bola basket di tengah lapangan. Orion sesekali menyeka keringatnya membuat wajah tampannya semakin mempesona.


“Gila kak Orion ganteng banget” Puji siswi-siswi yang tengah menonton pertandingan itu.


Dari kejauhan Danira memperhatikan mereka yang tengah fokus bertanding, tanpa sengaja manik mata Danira bertemu dengan manik mata hitam milik Orion. Orion menarik sudut bibirnya saat memergoki Danira tengah memperhatikannya.


Deg,Dira cepat-cepat menjauh dari tempatnya berada sekarang.


“Nafas Ra, lo bisa mati” Dira meraup oksigen sebanyak-banyaknya mengisi pasokan udara di paru-parunya.


“Gila baru liat dari jauh aja udah ngabisin udara di paru-paruku, gimana kalo deket beneran ehhh” Danira tersenyum dengan dialognya sendiri


“Sadar Ra, mana ada cowok yang mau sama cewek kotor kayak kamu” Danira mengusap berutnya yang sebenarnya masih rata.


“Ekhmmmm”


“Ema” Dari terkejut dan refleks berdiri


“Kok lo keget sih, lo lupa kalo gw sekolah disini juga” Ketus Ema


Dira berjalan meninggalkan Ema.


Ema tersenyum sinis ke arah Danira yang mulai menjauh.


“Danira Egawasta, sebentar lagi lo bakal keluar dari sekolah ini So just enjoy your last days here”


Bell pulang sudah berbunyi, Danira bersiap untuk pulang, tapi sebelumnya ia ingin mencari kakak kelasnya yang bernama Orion. Dira menunggu Orion keluar dari kelasnya, dengan gugup Dira masih menunggu sampai wajah tampan Orion terlihat keluar dari kelasnya bersama ketiga temannya.


“Kak” Dira menyerahkan paperbag ditangannya kepada Orion


“Terimakasih” Ucap Dira dan pergi begitu saja setelah Orion menerima paperbag darinya.


“Woy...woy..woy, ape nich” Ledek Zaky dengan bahasa alaynya


“Tumben lo nerima hadiah dari fans Yon” Tanya Lucas


“Keknya bukan sekedar fans deh tapi lebih dari sekedar fans” Timpal Aldi


“Gaje lo pada” Tungkas Orion


***


Dicafe Dira tengah sibuk dengan pekerjaannya karena Mila hari ini ijin tidak masuk kerja karena harus menunggu ibunya yang sedang di rawat. Jadi mau tak mau Dira harus menghandle dua pekerjaan sekaligus.


“Aura lo makin cerah aja Ra” Ucap bang Pedro memuji


“Biasa aja bang perasaan”


“Ehhh beneran Ra, dulu sewaktu istri gw hamil auranya juga beda Ra jadi makin cantik”


“Maksud bang Pedro apa ya ngomong kayak gitu?” Monolog Danira


“Terus lo samain Danira sama istri lo bang, lo pikir Danira hamil?” Potong Sami yang baru dating


“Gak gitu Sam, maksud gw ahhh udahlah gw mau lanjut kerja”


“Kerja yang bener”


“Gak usah dipikirin Ra, bang Pedro emang suka gitu maklum mulutnya gak ada remnya” Ucap Sami


“Sampai kapan aku membohongi semua orang, berpura-pura jadi wanita yang baik tapi pada kenyataannya aku hanyalah seorang pembohong”


“Ra, Ra Danira” Sami membuyarkan lamunan Danira


“Ehhh iya, kenapa?”


“Lo ngelamun?”


“E—ee itu tadi kepikiran tugas sekolah” Danira beralasan


“Yaudah kalo gitu sepulang kerja gw temenin lo ngerjain tugas lo”


Danira mengangguk ragu.


Danira menghela nafasnya merasakan sesuatu yang teramat sesak memenuhi kepalanya. Apa dia harus meminta pertanggungjawaban kepada ketiga pria itu? Tapi apa mereka akan mengakui dan mau bertanggungjawab. Tak terasa air matanya menetes membayangkan nasib anak yang ada di dalam kandungannya.


Danira buru-buru menyeka air matanya saat suara pembeli datang untuk memesan minuman.


“Chocolate Cappuccinonya satu ya mbak”


“I-iya mas sebentar” Danira merapikan kembali penampilannya serta mengusap sisa-sisa air matanya


Pembeli itu mengulurkan sapu tangan miliknya untuk Danira “Pakai ini”


“Kak Orion?”


“Ambil” Danira meraih sapu tangan pemberian Orion


“Terimakasih, ta-tadi pesan apa?”


“Chocolate Cappucino dua” Orion mengulangi pesanannya


“Ada lagi?”


“Cukup”


“Totalnya 156 ribu, ini billnya pesanannya silahkan di tunggu”


“Kak yang satu lagi!!!!!”


“BUAT LO” Pekik Orion


Danira tersenyum simpul merasakan ribuan kupu-kupu berterbangan di dalam perutnya.


“Ra, lo kenapa senyum-senyum?”


“Sami, ngagetin aja”


“Udah mau jam pulang, lo jadi gak ngerjain tugas sekolah lo” Danira mengerjapkan matanya bingung


“Ra...lo gak lupa kan kalo sore ini kita mau ngerjain tugas sekolah lo”


“Hehehe iya lupa” Danira menyengir kuda


Di Taman


“Udah lama ya Ra, kita gak kesini”


“Heem”


“Kita duduk situ yuk” Ajak Sami sembari menggandeng tangan Danira


“Lo tunggu sini gw beli minum buat kita”


“Oke”


Danira memainkan ponselnya sembari menunggu Sami datang.


“Loh Ra, kok lo malah mainan handphone sih”


“Memangnya kenapa?”


“Bukannya lo bilang tadi lo ada tugas sekolah?”


“Aku kerjain dirumah aja”


“Serius?” Danira mengangguk


“Aku udah lama gak nikmatin suasana kayak gini” Danira menarik sudut bibirnya.


“Ra,kalo ada masalah cerita ya. Gw gak mau liat lo sakit kayak kemarin gw ngerasa bersalah Ra, gw ngerasa gagal jagain lo” Entah mengapa ucapan Sami malah membuat Danira merasa jadi orang yang sangat jahat. Tapi untuk jujur soal kehamilan dia belum bisa.


“Sam, kita pulang sekarang ya”


“Kenapa Ra?”


“Gak apa-apa aku pengen pulang awal aja” Sami mengantar Danira pulang dengan motornya.


Tok---tok—tok


“Ra, udah tidur?”


Ceklek, Danira membuka knop pintu kamarnya


“Ada apa bang?”


“Gw pengen ngobrol aja sama lo” Danira mengikuti langkah Dewa menuju balkon


“Bang Dewa mau ngomongin apa”


“Lo gak lagi ada masalah kan Ra”


“Enggak bang Dira baik-baik aja”


“Gw ngerasa akhir-akhir ini lo ngejauh dari gw, lo selalu nolak kalo gw ajak bareng ke sekolah”


“Ohhh itu bang, Dira gak mau terus-terusan ngerepotin abang”


“Huffffttttt” Dewa menghembuskan nafasnya pelan


“Kalo gw boleh jujur dari awal kehadiran lo dirumah ini gw sebenarnya gak suka Ra” Danira tersenyum getir


“Tapi gw selalu berusaha ngeyakinin diri gw kalo apa yang terjadi itu bukan sepenuhnya salah nyokap lo tapi papah juga salah karena udah ngekhianati mamah”


“Ra, lo gak marah kan kalo gw jujur gini ke lo” Danira menggeleng


“Tapi gw yakin dan percaya kalo adik gw ini gak bakal ngecewain gw” Dewa mengacak lembut rambut Danira.


“Bang, kalo Dira ngecewain abang gimana?”


“Gw gak akan pernah maafin lo Ra”


DEG


“Tapi bagaimana kalo hal itu beneran terjadi dan Dira bikin abang kecewa”


“Yang pasti gw bakal benci lo Ra, tapi gw yakin lo gak akan ngelakuin itu”


“Udah malem lo tidur jangan begadang mulu” Danira memandang kepergian abangnya.


“Tapi Dira udah boongin abang, Dira udah gak jujur sama abang, Dira udah kecewain abang” Danira menitihkan air matanya, merasakan sakit yang teramat ketika ia telah membohongi orang-orang yang dengan tulus mempercayainya.


“Gw pikir lo bakalan jujur Ra, tapi nyatanya lo masih nyembunyiin itu dari gw”