
Orion merebahkan tubuhnya di kasur setelah seharian mencari keberadaan Danira.
Orion memegangi sudut bibirnya yang masih terasa sakit akibat pukulan yang ia terima dari ayah Danira.
Dimana gadis itu berada sekarang, Orion menyugar rambutnya ingatan akan wajah lugu Danira terlintas dipikirannya. Gadis itu benar-benar membuat Orion frustasi.
“Yon” Panggil Tamara, membuat Orion mendengus kesal
“Ma, biasain ketuk pintu”
“Mamah udah ketuk pintu kamunya aja yang gak denger makanya mamah langsung masuk aja” Balas Tamara tak terima disalahkan
“Kamu lagi mikirin apa sih sampe gak denger suara mamah” Tanya Tamara sembari mengusap punggung lebar putranya.
Orion masih terdiam, dia tau akan konsekuensi yang akan Orion terima akan keputusannya. Dia akan membuat wanita dihadapannya wanita yang sangat ia sayangi marah dan kecewa.
“Yon, kita makan malam bersama” Orion menatap kearah mamanya
“Papah udah pulang?” Tamara mengangguk sembari tersenyum.
“Turun ya, makanannya udah siap” Orion mengangguk mengiyakan.
Perasaannya campur aduk, entah jalan mana yang harus Orion ambil dia masih ragu tapi dia juga tidak bisa diam begitu saja.
“Anak sialan itu sudah bukan lagi anak saya, terserah kamu mau kamu apakan dia” Ucap Dani dengan nada emosi.
Itu adalah kata-kata yang diucapkan Dani ayah Danira saat Orion datang kerumah Danira tadi siang.
Bagaimana bisa seorang ayah membuang putrinya sendiri, Orion tidak bisa membayangkan betapa sedihnya Danira jika mendengar perkataan orangtuanya.
Orion melangkahkan kakinya menuruni tangga rumahnya satu persatu, terlihat mama dan papanya yang sudah menunggunya di meja makan.
Papa Orion bernama Devan, ia jarang sekali dirumah karena kesibukan bisnisnya yang semakin berkembang pesat. Usaha yang Devan rintis sedari nol membuahkan hasil, Devan bukan berasal dari kalangan terpandang berbeda dengan Tamara ibunda Orion yang berasal dari keluarga kaya.
Namun atas kegigihan dan kerja keras yang Devan tunjukkan kepada kedua orangtua Tamara, Devan berhasil mendapat restu kedua orangtua Tamara dan menjadikan Tamara istrinya.
“Pah” Sapa Orion
“Iya Yon, duduk” Orion mengangguk
Baik Devan maupun Orion memiliki sifat pendian dan tegas. Bisa dikatakan Orion adalah foto copy nya Devan.
Tamara mengambilkan nasi dan lauk untuk Devan suaminya, dan juga untuk Orion putra semata wayangnya baru untuk dirinya sendiri.
“Makasih mah” Ucap Orion yang dibalas senyum manis Tamara.
Ketiganya menikmati makan malam dengan tenang, tak ada percakapan apapun hening hanya ada suara sendok dan piring yang bersentuhan.
Kini ketiganya sudah selesai, Tamara memang tidak memiliki pembantu tetap yang menginap dirumahnya jadi ia terbiasa melakukan pekerjaan rumah sendiri. Pembantu dirumahnya akan datang di pagi hari dan akan pulang sekitar jam delapan malam.
“Apa rencana kamu setelah lulus Yon” Tanya Devan dengan raut seius.
“Belum tau pah” Devan menautkan alisnya mendengar pernyataan Orion.
“Setau papah pihak Monash University sudah mengirim surat untukmu” Terang Devan yang dijawab anggukan oleh Orion.
“Lalu apalagi yang masih kamu pikirkan Orion, atau kamu ada University lain yang kamu minati?” Tanya Devan
“Ada hal yang ingin Orion sampaikan ma, pa” Ucap Orion
Tamara dan Devan saling tatap sekilas lalu kembali menatap serius kearah Orion.
“Orion ingin menikah” Ucap Orion dalam sekali tarikan nafas.
“Menikah?” Tamara melipat keningnya bingung.
“Apa-apaan kamu Yon, kamu ingin merusak masa depanmu sendiri” Omel Tamara.
“Mah sabar dulu kita dengerin penjelasan Orion” Devan meraih tangan istrinya.
“Apa yang sebenarnya terjadi” Ucap Devan tenang.
“Wanita Orion hamil pah” Ucap Orion datar
“HAMIL????” Pekik Tamara yang dijawab anggukan Orion
“Namanya Danira”
“Danira” Mata Tamara sudah berkaca-kaca, bulir air mata mengalir. Orion hanya bisa menunduk ia sudah tau jika keputusannya akan melukai hati Tamara.
“Selama ini mamah berusaha mendidik kamu untuk jadi pria yang bertanggungjawab Yon, bukan pria brengsek yang menghamili anak orang” Amarah Tamara mencuat.
“Sabar mah” Devan mencoba menenangkan amarah istrinya.
PLAKKKKK
Tamara menampar pipi Orion.
“Mamah gak habis pikir sama kamu Yon, mamah kecewa sama kamu” Ucap Tamara yang sangat-sangat kecewa dengan putra kesayangannya. Tamara pergi meninggalkan Orion dan Devan berdua.
“Ikut papah” Devan berjalan lebih dulu diikuti Orion dibelakangnya. Mereka berdua pindah keruang kerja Devan di lantai dua.
Devan dan Orion duduk berhadapan dengan tatapan wajah yang sama-sama datar dan dingin.
“Apa kau sungguh-sungguh” Orion mengangguk
Iya sangat mengetahui perangai ayahnya yang tenang dan selalu berfikir dengan kepala dingin bukan emosi.
“Kau sudah memikirkannya?” Tanya Devan lagi.
“Masa depanmu masih sangat panjang, dan kamu adalah satu-satunya penerus papah”
“Menikah itu perkara mudah tapi untuk mempertahankan pernikahan itu bukan sesuatu hal yang main-main”.
“Semua sudah terjadi” Jawab Orion membuat Devan terkekeh.
“Apa kau menikmatinya sampai kau lupa harus menggunakan pengaman” Ucap Devan sembari tersenyum meledek putranya.
Orion memutar bola matanya malas, sisi lain Devan yang serius dan dingin adalah sikap santainya yang kelewatan santai.
“Papah juga pernah muda Yon, kamu gak perlu setegang itu papah akan atur semuanya”. Mata Orion berbinar mendengar ucapan Devan.
“Seius pah, papah ijinin Orion menikah?” Tanya Orion memastikan yang dijawab anggukan oleh Devan.
Senyum Orion tercetak melihat respon Devan yang mendukungnya. Bagi Devan kebahagiaan putranya adalah hal yang utama Devan bisa merasakan sirat kekhawatiran Orion. Meskipun ia tak menunjukkan ekspresi apapun. Bagaimana Devan tau??? Orion adalah foto copy’an seorang Devan.
“Makasih pah” Ucap Orion
“Tapi sebagai hukumannya kamu gak bisa nolak lagi untuk membantu papah mengurus perusahaan” Orion hanya mengangguk.
Orion keluar dari ruang kerja ayahnya dan kembali ke kamarnya, sebenarnya ia ingin menemui ibunya tapi Orion tahu saat ini Tamara masih sangat-sangat kecewa padanya. Jadi ia memutuskan untuk mengurungkan niatnya dan memberikan waktu untuk Tamara menerima keputusannya.
...***...
“Yon” Panggil Aldi
Orion memperlambat langkahnya agar Aldi bisa mensejajarkan langkahnya.
“Ada yang mau gw omongin sama lo” Orion mengangguk.
Keduanya kini sudah berada di rooftop sekolah menikmati hembusan angin dari atas. Aldi meraih bungkus rokoknya dan mengambilnya sebatang, lalu memberikannya pada Orion.
“Gw tau Yon lo kecewa sama kita bertiga” Aldi menyesap rokoknya dalam lalu menghembuskannya. Orion tersenyum miris mendengarnya.
“Jujur gw menyesali apa yang udah gw lakuin gw udah gagal jadi laki-laki” Ucap Aldi penuh penyesalan.
“Gw gak pernah ngerasa sebrengsek ini, bahkan ini bukan kali pertama gw ngelakuin hal itu” Ucap Aldi
Sebelumnya Aldi pernah melakukannya dengan wanita yang sangat ia cintai dan itupun dilakukan atas dasar suka saling suka. Namun hal itupun tak menjadikan hubungan mereka bertahan.
Aldi memukul pembatas rooftop melampiaskan kekesalannya.
Orion membuang rokoknya ke lantai dan menginjaknya. Ia tak menanggapi apapun yang diucapkan sahabatnya karena memang tak ada yang ingin ia sampaikan.
Tatapannya menatap lurus membayangkan senyum manis Danira yang pernah ia lihat sekali. Manis sangat manis sampai membuatnya candu.
Rasa memiliki Danira semakin terasa jelas dibenak Orion, bahkan ia sama sekali tak menyesali keputusannya malah ia bertambah yakin untuk menikahi Danira.