
Orion menjengut rambutnya frustasi, ada sakit disisi hatinya mengetahui kenyataan yang menyekababkan mobilnya kecelakaan adalah Lucas sahabatnya sendiri, dan sekarang orang yang mengisi hati Orion tengah disekap oleh Lucas.
Orion memang yang terlihat paling cuek dan gak peduli tapi pada kenyataannya dialah yang selama ini menjadi penolong sahabat-sahabatnya.
"Cas, apa mau Lo sebenarnya"
Orion sudah mantap jika ia akan meminta bantuan Devan ayahnya. Dia tidak ingin bertindak gegabah apalagi sampai membuat Danira terluka.
Orion mengetuk pintu ruang kerja ayahnya dan tak lama Devan membuka pintu.
"Ada apa Yon"
"Pah, ada yang mau Orion bicarain" Sebenarnya Orion terlalu sungkan untuk meminta bantuan ayahnya tapi kali ini ia benar-benar membutuhkannya semua ini ia lakukan demi Danira.
"Duduk Yon" Orion menggeser satu kursi dihadapan Devan dan kini keduanya duduk saling berhadapan.
"Yah Orion mau minta tolong" Devan menatap wajah Orion dengan serius, Orion menceritakan semua permasalahan yang tengah ia hadapi. Devan menghela nafasnya pelan.
"Yon, kamu harus tau kebenaran soal Danira" Orion menatap Devan serius.
"Danira tidak pernah menandatangani surat perceraian kalian, dia juga menolak uang dan fasilitas yang papah berikan" Orion membulatkan matanya mendengar pengakuan ayahnya.
"Papah melakukan ini semua atas permintaan mamah kamu, tidak takut jika kamu terus dengan Danira kamu akan mengalami hal buruk lainnya" Orion bisa merasakan kekhawatiran yang dirasakan ibunya. Orion adalah anak satu-satunya karena setelah melahirkan Orion rahim Tamara terpaksa harus diangkat karena penyakit yang dideritanya.
"Iya pah, Orion mengerti"
"Maafin papah" Devan menepuk habu putranya
"Kamu tenang aja, papah akan bantu masalah kamu sampai selesai. Keputusan yang kamu ambil sudah tepat bagaimanapun Danira adalah istrimu dan soal siapa pelakunya biar itu menjadi urusan pihak berwajib"
"Terimakasih pah"
Orion keluar dari ruang kerja ayahnya, ia ingin menemui Zaky dan Sami terkait rencananya dengan ayahnya.
"Orion"Sapa Anna
"Lo gak punya rumah apa?" Balas Orion ketus
"Kok kamu gitu ngomongnya?" Orion menatap sinis kearah Anna namun dengan tak tahu malu gadis itu malah memeluk sebelah tangan Orion.
"Lo gak malu apa bersikap kayak gini sama suami orang, mau jadi pelakor"
"Yon kok kamu nyakitin sih" Rengek Anna membuat Orion memutar bola matanya malas.
Melihat hal itu Orion mendekatkan wajahnya ketelinga Anna, sampai-sampai membuat Anna menjadi salah tingkah dan memejamkan matanya.
"Btw adengan ranjang Lo sama Lucas, keren" Bisik Orion ditelinga Anna, membuat tubuh Anna mematung seketika.
Orion menarik wajahnya menjauh dan tersenyum miring kearah Anna yang masih syok dengan apa yang Barusan Orion katakan. Orion berlalu begitu saja, membuat Anna berdecak kesal. Wajahnya memanas, nafasnya memburu, air matanya menggenang disana.
"Hallo"
"Iya"
"Gw mau kita sekarang. nittt" Anna mematikan sambungan telfonnya sepihak membuat Lucas yang baru saja mendapat telfon dari Anna berdecak kesal.
"Ada apa???" Tanya Danira
"Gak apa-apa aku harus pergi sebentar ada urusan" Danira mengangguk pelan
"Kamu gak apa-apa kan aku tinggal sebentar"
"Gak apa-apa kok" Ucap Danira sembari tersenyum tipis.
Lucas tak pernah lupa mengunci pintunya, kini Danira tak bisa lagi untuk mencoba kabur karena Lucas sudah mengganti kunci pintunya dengan yang berpasword.
Danira duduk diatas sofa, menyandarkan kepalanya disandaran kursi menatap keatas langit-langit rumah.
"Yon, kamu gak nyariin aku?aku kangen kamu Yon" Danira mulai terisak mengingat semua hal saat dia bersama Orion.
"Gw setuju Yon, gimana pun disini Lucas bersalah dan sudah sewajarnya Lucas mempertanggungjawabkan perbuatannya" Jelas Zaky, Orion dan Sami mengangguk.
"Gw jadi keinget Aldi Yon, gw ngerasa hidup gw gak seasik dulu" Zaky merasakan perih dimatanya mengingat sosok Aldi sahabatnya.
"Gak usah lemah gitu, gw yakin sahabat Lo Aldi gak bakalan suka liat Lo kaya gini" Sami mencoba menyematkan Zaky.
"Eh Lo Sam, cara ngomong Lo bikin gw tambah keinget Aldi" Tambah Zaky yang disetujui Orion
"Ya mungkin karena gw sama Aldi Deket jadi keliatan sama" Ucapan Sami membuat Zaky dan Orion bingung
"Gak usah bingung gitu, Lo belum tau kan siapa gw"
"Sebenarnya gw udah tau semuanya jauh sebelum gw ketemu kalian berdua, Aldi udah cerita semuanya ke gw. Tapi gw gak tau kalo cewek yang dia maksud itu Danira" Sami menghembuskan nafasnya pelan.
"Kalo gw tau kejadiannya bakal kayak gini gw bakal paksa Danira buat pulang bareng gw malem itu" Zaky memegang bahu Sami
"Tapi semua udah terjadi" Ucap Zaky
"Gw dan Aldi sebenarnya sepupuan tapi karena gw lebih tua dari Aldi jadi kita jarang banget main bareng" Zaky dan Orion semakin bingung mendengar penjelasan Sami
"Gimana bisa dunia sesempit ini" Celetuk Zaky membuat ketiganya terkekeh.
Saat ini Anna tengah menunggu kedatangan seseorang siapa lagi kalau bukan Lucas.
"Hy beibhhh" Sapa Lucas yang langsung dibalas tamparan keras Oleh Anna.
"Lo gila" Ucap Anna penuh emosi yang hanya dibalas Lucas dengan senyum getir.
"Lo kirim apa ke Orion?" Tanya Anna lagi dengan menggebu-gebu
"Oh Lo udah tau"
"Brengsek Lo bajingan, maksud Lo apa?" Anna benar-benar tak habis pikir dengan pria dihadapannya.
"Gw sengaja" Jawabnya Lucas enteng, Anna membulatkan matanya tak percaya.
"Anna gw gak yakin gw bisa milikin Danira, maka dari itu Lo juga gak berhak milikin Orion" Anna membulatkan matanya
"Gw capek Anna, dan gw yakin sekarang Orion sedang nyari cara buat bebasin Danira"
"Terus Lo mau nyerah gitu aja" Lucas tersenyum kecut
"GW NYESEL UDAH BIKIN SAHABAT GW ALDI MATI, DAN ITU SEMUA GARA-GARA LO" Pekik Lucas, membuat tubuh Anna gemetaran.
"Lo udah hasut gw supaya ngelakuin apa yang Lo mau, dan bodoh nya gw , gw mau shitttt"
"Emang Lo bodoh Lucas, Lo tolol dari dulu Lo gak pernah bisa ngalahin Orion, selalu Orion yang dapetin apa yang Lo mau" Anna membuat hati Lucas semakin panas.
"Diem Anna, Lo gak tau apa-apa soal gw"
"Gw tau Lucas, Lo selalu kalah telak bahkan untuk ngedapetin gw"
"Cihhhh, Gw cuma penasaran sama tubuh Lo gak lebih dari Lo Anna, bahkan Dimata gw sekarang Danira jauh lebih baik dibandingkan Lo" Lucas meninggalkan Anna begitu saja, membuat Anna semakin emosi. Harapannya untuk bisa mendapatkan Orion sudah hancur.
"Selamat siang, dengan saudari Anna? kami dari kepolisian, kami ditugaskan untuk menahan saudari Anna"
"Salah saya apa pak" Wajah Anna sangat panik, ia mencoba lari namun tangannya sudah lebih dulu dicekal oleh salah satu polisi.
"Saya gak salah pak" Ucap Anna memohon
" Anna" Panggil Orion
"Orion, tolong Yon aku minta maaf aku gak mau dipenjara" Anna berusaha memohon menarik simpati Orion
"Lo jelasin semuanya dikantor polisi" Ucap Orion setelahnya.
✓✓✓✓✓Segini dulu aku lanjut besok , see you guys😘