
Sepulang dari pemakaman Aldi, Zaky mengurung diri dikamarnya. Sembari memandangi foto dirinya bersama ketiga sahabatnya yang kala itu masih duduk di bangku SMA.
“Di, lo pasti udah bahagia disana. Lo orang baik Di, tuhan sayang lo makanya dia ambil lo lebih dulu. Orion masih belum sadar Di dan Lucas...” Zaky mengepalkan tangannya saat melihat wajah Lucas entah mengapa dirinya curiga kepada Lucas sahabatnya sendiri. Bahkan dihari pemakaman Aldi saja Lucas tak terlihat batang hidungnya.
Zaky mengingat-ingat kejadian sebelum kecelakaan itu terjadi, dan juga pria misterius itu.
“Gak, ini gak mungkin murni kecelakaan pasti ada seseorang yang sengaja mensabotase mobil Orion” Dialog Zaky dengan dirinya sendiri
Zaky meraih hoodienya, dan menuju garasi untuk mengambil motor kesayangannya dan memacunya dengan kencang. Tujuan Zaky sekarang adalah mencari keberadaan Lucas.
Tempat pertama yang Zaky kunjungi adalah Bar Cafe, namun tak ada tanda-tanda keberadaan Lucas. Zaky kembali memacu mobilnya menuju rumah Lucas.
Yahhh benar Lucas ada disana, namun ada hal yang tak ingin Zaky lihat adalah pertengkaran kedua orangtua Lucas, tak hanya itu Lucas juga ikut beradu argumen dengan ayahnya.
Plakkkkkk, Ayah Lucas melayangkan tamparan keras di pipi kanan Lucas yang menyebabkan sudut bibir Lucas mengeluarkan cairan merah. Lucas tersenyum getir menatap ayahnya.
“Tampar sepuas papah, asal papah berhenti nyakitin mamah” Pekik Lucas
“Wanita itu pantas diperlakukan seperti itu Lucas” Pekik ayah Lucas tak kalah keras
“Mamah ibu kandungku pah wanita yang udah ngelahirin aku, wanita yang tetap merawat papah meskipun papah selalu kasar dan menyakiti mamah”
“Rasa cinta papah sudah hilang sejak dia melakukan hal kotor itu”
“Mas, harus berapa kali aku meyakinkanmu aku di perkosa mas itu semua bukan kehendakku” Ucap ibu Lucas dengan penuh derai air mata.
“Tunggu apa maksud mamah? Jadi aku ini anak?”
“Maafin mamah nak” ibu Lucas bersimpuh dikaki Lucas
Zaky memalingkan wajahnya, ia benar-benar tak menyangka jika hubungan keluarga Lucas sekacau itu. Zaky sudah tidak sanggup lagi melihat semua itu, ia mengurungkan niatnya untuk menemui Lucas.
***
Danira masih senantiasa merawat Orion yang masih belum sadarkan diri, dengan hati-hati Danira mengelap wajah Orion. Air matanya kembali mengalir saat dipandangnya dalam-dalam wajah Orion. Wajah yang biasanya terlihat tegas dan dingin kini wajah itu benar-benar dingin dan pucat.
Danira tak kuasa menahan tangisnya dan memeluk tubuh Orion menumpahkan segala kerinduannya lewat tangisannya. Danira terkejut saat mendapati kepalanya tersentuh oleh tangan.
“Orion, orion kamu udah bangun” Danira bergegas memanggil Dokter untuk memeriksa keadaan Orion. Namun saat Danira ingin kembali masuk Anna menahan tangan Danira.
“Tugas lo udah selesai, lo udah gak ada hak lagi atas Orion gw harap lo sadar diri kehadiran lo gak pernah diinginkan” Danira tersentak dengan ucapan Anna. Danira hanya melihat Orion dari balik kaca, hatinya sungguh-sungguh hancur.
“Danira” Panggil Devan
“Pah, mah Orion sudah sadar” Tamara memandang Danira acuh dan memasuki ruang kamar Orion
“Danira bisa papah bicara sebentar” Danira mengangguk, harapan Danira satu-satunya adalah Devan ayah Orion, Danira berharap Devan memberikan keputusan yang bijak untuk dirinya dan Orion.
“Dengan atau tidak persetujuan dari Orion papah harap kamu mau menandatangani surat perceraian itu” Mata Danira membola mendengar ucapan Devan, Danira mengatup mulutnya dengan kedua tangannya agar suara tangisnya tak terdengar.
“Maafin papah, papah tau ini sangat menyakitkan untuk mu tapi papah harap kamu bisa mengerti. Kamu tenang saja papah sudah menyiapkan semuanya, Rumah untukmu tinggal, biaya hidup dan semua keperluanmu dan juga rumah sakit saat kamu melahirkan nanti” Bibir Danira terasa keluh tak ada satu kata pun yang dapat ia keluarkan, suaranya tertahan ditenggorokan.
Harapan terakhir Danira sudah pupus, Devan yang Danira kira akan memperjuangkannya ternyata juga membuangnya begitu saja. Sebelum pergi untuk yang terakhir kalinya Danira melihat Orion dari kaca rumah sakit.
“Harusnya aku memang tidak pernah ada dikeluarga ini” Danira berjalan dilorong rumah sakit menahan segala kesakitan dihatinya.
“Mah, dimana Danira?”Tanya Orion lirih
“Kamu fokus sama kesembuhanmu dulu ya”
“Kenapa Danira tidak merawatku disini?”
“Orion, aku yang merawatmu selama kamu sakit bukan wanita itu jadi kamu jangan mikirin dia lagi ya” Ucap Anna berbohong
Berangsur-angsur keadaan Orion semakin membaik, hari ini Orion sudah diperbolehkan pulang.
“Mau kemana Yon?”
“Orion mau pulang mah”
“Danira mah Orion mau nyari Danira”
“Yon kamu masih belum sehat” Anna mencoba menghalangi Orion, namun Orion tetap kekeh ingin mencari Danira.
Hingga akhirnya Devan menahan bahu Orion.
“Yon, sebaiknya kita masuk dulu, ada yang perlu papah bicarakan”
“Tapi pah”
“Sudahlah sayang, kita masuk dulu kamu gak boleh banyak gerak dulu” Akhirnya Orion mengalah dan menuruti kemauan kedua orangtuanya.
Semuanya berkumpul diruang tamu Devan, Tamara, Orion dan juga Anna.
“Orion, papah sudah meminta Danira untuk menandatangani surat perceraian kalian” Orion membolakan matanya menatap tajam kearah Devan
“Cerai????”
“Dengarkan dulu Yon” Pinta Tamara, Anna mengambil kesempatan menenangkan Orion dengan mengusap bahunya.
“Danira sudah menerima hal itu”
“Dimana Danira sekarang pah?”
“Kamu tenang saja papah gak akan sekejam itu pada Danira, papah sudah memberikan fasilitas untuk Danira dan papah juga meminta orang kepercayaan papah untuk mengawasi Danira”
“Orion, kamu itu penerus keluarga Galandra dan papah perhatikan sejak kehadiran Danira dikehidupan kamu malah membuat hidupmu semakin kacau penuh dengan masalah. Papah hanya ingin kamu bahagia bukan bermasalah terus-menerus”
“Biarkan Orion menentukan kebahagiaan Orion sendiri” Ucap Orion dan pergi begitu saja meninggalkan yang lain.
Danira berjalan putus asa menyeret kopernya entah kemana dia harus pergi, ditengah keputusasaannya sebuah mobil berhenti disampinya, langsung membekap mulut Danira hingga pingsan dan membawanya pergi.
***
Berkali-kali Salsa menghubungi ponsel Danira namun tak ada jawaban dari Danira, saat ini Salsa tengah berada dirumah sakit tempat Orion dirawat namun rupanya Orion sudah pulang pagi tadi. Salsa menaruh khawatir pada Danira pasalnya tidak mungkin Tamara mengijinkan Danira untuk ikut pulang kerumahnya.
Sebelum kerumah sakit Salsa sudah lebih dulu kerumah Danira namun tak ada siapapun disana.
“Hey, ngapain lo disini?”
“Ehhh kak Zaky”
“Lo Salsa kan temennya Danira”
“Iya kak, kakak tau gak Danira kemana?”
“Hah maksud lo? Bukannya Danira dirumah Orion?”
“Gak ada kak, aku tadi udah cari Danira disana tapi gak ada siapa-siapa dan kak Orion juga udah keluar pagi tadi”
“Yaudah lo tenang kita cari Danira sama-sama”
“Kak, sebelumnya ada yang pengen aku omongin sama kakak”
“Oke kita cari tempat biar lebih enak ngobrolnya”
Sesampainya ditempat yang dipilih Zaky, mereka memesan minuman sebagai pelengkap obrolan mereka.
“Lo mau ngomong apa?”
“Jadi gini, sebelum kecelakaan itu terjadi Danira minta tolong gw buat datang kerumahnya karena Danira merasa ada seseorang yang tengah mengintai rumahnya”Zaky mendengarkan cerita Salsa dengan seksama
“Bukan hanya itu kak, orang misterius itu juga ninggalin sebuah kotak di depan pintu yang isinya dua buah foto yang satu foto mobil kak Orion setelah kecelakaan dan yang satu foto kak Orion tapi di foto itu penuh dengan noda darah. Bahkan sepertinya darah itu masih benar-benar segar karena masih tercium bau amis”.
“Lo tau gak ciri-ciri orang itu kayak gimana?”
“Aku sih gak tau ya kak cuma kata Danira orang itu memakai pakaian serba hitam dan sempat mengancam Danira dengan mengarahkan ujung pisau kearah Danira walaupun jaeak orang itu dan Danira jauh” Zaky terperanjat, gak salah lagi orang yang Danira lihat adalah orang yang sama dengan yang Zaky liat.