
Author POV
Pesta pernikahan digelar sangat mewah, tamu undangan pun banyak dihadiri oleh relasi bisnis
Devan. Sambil menyelam minum air, Devan ingin memperkenalkan Orion kepada rekan-rekan bisnisnya
karena cepat atau lambat Orion juga harus ikut andil dalam mengurus bisnis keluarga Galandra.
Yahhh, pesta itu dirayakan disebuah Villa besar milik keluarga Galandra. Lokasinya bisa dikatakan sama halnya dengan PUNCAK BOGOR. Kenapa lokasinya seperti itu??? Karena nuansa pesta pernikahan Orion menganut unsur Outdoor.
Serapat apapun bangkai yang ditutupi pasti bau busuknya akan tercium juga. Begitu juga dengan berita skandal pernikahan Orion dan Danira. Namun, hal itu tak lantas membuat citra seorang Devan Galandra hancur begitu saja.
Banyak dari rekan bisnisnya malah memuji keberanian putranya Orion yang mau bertanggung jawab. Mendengar pujian-pujian yang dilontarkan rekan bisnisnya ayahnya hanya membuat Orion mengulum senyumannya.
"Hay Yon" Zaky yang baru saja datang melambaikan tangan kearah Orion
"Saya kesana dulu ya om" Pamit Orion
"Iya-iya silahkan"
"Weyyy bro, bangga gw sama lo, anjirrr panutan gw lo" Zaky menepuk-nepuk bahu Orion
mengungkapkan kebanggaannya.
"Udah jadian lo berdua"
"Heee jelas dong, harus gerjep biar gak disamber yang lain" Bisik Zaky pada Orion yang suaranya
masih bisa di dengar jelas oleh Salsa. Alhasil pipi Salsa dibuatnya bertambah merah merona.
"Danira mana Yon"
"Masih di dalem, lo susulin sana"
"Oke" Salsa mengangkat kedua ibu jarinya kearah Orion dan melenggang pergi.
"Kapan ya gw kawinin Salsa" Celetuk Zaky yang langsung mendapat toyoran dari Orion
"Selesein dulu kuliah lo, lagian nikah anjim otak lo kawin mulu" Sarkas Orion
"Gw udah berubah Yon, masalah yang kita hadapi kemarin bikin gw jadi pribadi yang jauh lebih baik" Tutur Zaky membuat Orion mengulas senyumnya.
"Gw gak telat kan, Selamat ya Yon" Ucap Sami yang baru saja datang
"Gak kok, acaranya belum dimulai"
"Sendirian aja lo" Ucap Zaky
"Keliatannya" Balas Sami
"Ganteng-ganteng nganggur yahhh payah lo" Ejek Zaky
"Gw jomblo berkualitas brayyy"
"Anjim ngeles aja lo"
"Hahahaha" Mereka pun tertawa bersama
Tak lama setelahnya tawa itu pun terhenti karena pandangan mereka tertuju pada gadis cantik nan anggun yang berada di samping Salsa siapa lagi kalau bukan Danira.
“Samperin” Sami menepuk bahu Orion memberi kode, Orion yang paham segera menghampiri Danira.
Kini keduanya sudah saling berhadapan, Danira terlihat kurang percaya diri.
“Cantik” Puji Orion membuat Danira tersipu malu.
Acarapun dimulai dengan begitu meriah, diawali dengan sambutan dan ucapan terimakasih Devan kepada seluruh tamu yang hadir. Dilanjutkan dengan orion.
"Danira Egawasta Galandra, bersediakah engkau menemani ku Orion Galandra dalam keadaan susah maupun senang? Aku memang bukan pria yang sempurna tapi aku selalu berusaha mencintaimu dengan sempurna. Aku berjanji
akan senantiasa menjagamu dan menyayangimu dalam setiap hembusan nafasku" Mata Danira berkaca-kaca, haru dan bahagia menjadi satu, Orion menyematkan sebuah cincin berlian di jari manis Danira dan berakhir dengan kecupan singkat
di bibir Danira.
Semua tamu yang hadir pun bertepuk tangan ikut merasakan kebahagiaan Orion dan Danira. Acara pun dilanjutkan dengan menikmati hidangan yang sudah disediakan. Keluarga Danira juga hadir disana.
"Selamat ya sayang" Ayah Danira memeluk tubuh putrinya, begitu juga dengan ibu tiri Danira.
"Selamat kak, kamu cantik banget hari ini" Ucap Ema begitu antusias.
Berbeda dengan yang lainnya Dewa nampak gelisah, namun kegelisahannya ia sembunyikan dihadapan Danira dan yang lain.
"Terimakasih semuanya, silahkan dinikmati Danira kesana dulu ya" Pamit Danira yang setelahnya melenggang menghampiri
Orion dan yang lain.
Namun sebelum Danira berhasil sampai ditempat Orion berada, seseorang dibalik Hoodie hitamnya sudah lebih dulu
menarik pelatuk pistolnya.
Dorrrr....dorrr...dorrrr
Satu dari tiga peluru yang dilepaskan berhasil mengenai bahu sebelah kiri Danira. Tatapan semua orang mengarah pada Danira
"DANIRA" Pekik Orion yang langsung berlari kearah Danira. Begitu juga Salsa dan yang lain.
Dewa yang sedari tadi sudah mengawasi gerak-gerik orang itu langsung berlari mengejar orang berbaju hitam tersebut, kejar-kejaran
pun terjadi diantara keduanya.
"BERHENTI" Pekik Dewa, orang itu pun menghentikan langkahnya karena dihadapannya saat ini sudah tak ada jalan lagi melainkan jurang
"Siapa lo, apa maksud lo nyelakain adik gw" Tak ada jawaban dari orang itu, ia terdiam tak berkutik. Saat Dewa hendak mendekat.
Orang itu bersuara " Diam disitu" Dewa menghentikan langkahnya saat suara itu terdengar seperti seorang perempuan.
Orang tersebut mengarahkan pistolnya kearah Dewa, mata Dewa membola keadaan berbalik. Wanita itu menarik sudut bibirnya, tanpa pikir panjang ia menarik pelatuk pistolnya tapi sayang tak ada apapun yang terjadi.
Ia masih berusaha mengancam Dewa, namun tak banyak yang bisa ia lakukan.
"Siapa lo sebenarnya"
"Diam disitu atau gw loncat" Dewa memberi jeda untuk wanita itu, perlahan wanita itu membuka kupluk hoodienya dan juga maskernya.
"GW MAU ADIK LO ITU MATI" Ucap wanita itu
"Apa salah adik gw ke lo, sampai lo tega nyakitin dia"
"HHHHH, DIA ITU BENALU YANG SEMAKIN LAMA NGEHANCURIN HUBUNGAN GW SAMA ORION"
"Maksud lo???" Tanya Dewa bingung
"ORION CUMA MILIK GW , GAK ADA YANG BOLEH MILIKIN ORION SELAIN GW" Dewa semakin tidak mengerti dengan ucapan gadis dihadapnnya.
"ANNA" Pekik Zaky dan Sami yang menyusul Dewa.
"Lo dah gila"
"Iya gw gila, gw gak waras" ucap Anna kesal
"Dengan sikap lo kayak gini gak akan bikin Orion kembali sama lo" Nasihat Sami kepada wanita di hadapannya.
"Gw gak peduli"
"Anna"
"Diam disitu atau gw loncat"
"Oke-oke" Zaky menahan langkahnya mencoba menenangkan emosi Anna. Ya mereka mengulur waktu sampai polisi datang.
"Lo gak harus nekat kayak gini, Na"
"Gw cuma mau Orion, mata Orion udah gak tertuju ke gw lagi sejak ada gadis itu"
"Keadaannya udah beda Anna, Orion udah menemukan cintanya yang baru dalam diri Danira"
"Cihhhh" Anna tersenyum sinis
Anna sudah merasa muak dengan semuanya, ia pun nekat loncat ke jurang yang ada dihadapannya.
"ANNNAAAA" Pekik Zaky
Polisi yang baru saja datang segera mengerahkan timnya untuk melakukan pencarian.
Di rumah sakit semua orang menunggu dengan cemas, Danira sedang berada di meja operasi. Orion teringat janji yang baru saja ia ucapkan kepada Danira.
Tapi Orion sudah mengingkari janjinya itu "Maafin gw Ra" Ucapnya penuh sesal.
"Yon, Danira pasti baik-baik saja" Tamara mencoba menguatkan putranya yang sedang rapuh.
Setelah hampir satu jam Dokter keluar dari ruang operasi.
"Gimana dok" Orion yang sudah tidah bisa menahan sabarnya langsung mengajukan pertanyaan.
"Bisa kita bicara?" Orion mengangguk lemah dan mengikuti langkah dokter itu.
"Apa ada sesuatu yang terjadi denga istri saya dok" Tanya Orion yang sudah dipenuhi rasa khawatir
"Tenang pak, istri anda baik-baik saja begitu juga bayinya" Dokter menghela nafasnya memberi jeda sebelum melanjutkan
"Tapi---"
"Tapi apa dok"
"Mohon untuk tidak memotong ucapan saya pak"
"Ma-maaf dok"
"Ibu Danira mengalami trauma yang cukup berat sehingga membuat ibu Danira mengalami koma" Terang dokter
"Koma dok???? sampai kapan???"
Dokter membuang nafasnya "Hmmmm untuk waktunya saya tidak bisa memastikan pak. Yang perlu kita lakukan sekarang hanya berdoa semoga Tuhan memberikan keajaiban untuk ibu Danira"
Orion keluar dari ruangan Dokter dengan lemah, ia melihat wajah pucat Danira yang terbaring di bed dari jendela kaca kamar.