
Orion dan yang lain menuju tempat dimana Danira berada. Pihak kepolisian yang membantu juga sudah mengepung tempat itu. Namun saat pintu dengan paksa di buka tak ada siapapun disana. Lucas sudah membawa Danira pergi lebih dulu.
Orion, Zaky dan Sami juga membantu mencari disetiap sudut ruangan.
"Sial" Orion mengusap wajahnya kasar
"Sabar Yon, kita pasti nemuin Danira" Zaky mencoba menenangkan Orion, begitu pun Sami.
"Please Ra, kasih gw petunjuk Lo dimana?gw gak bisa kehilangan Lo" Ucap Orion dalam hati. Iya terus berusaha mencari sesuatu yang bisa dijadikan petunjuk. Sampai akhirnya Orion melihat segelas susu coklat kesukaannya yang masih hangat. Dibawahnya terselip kertas.
Dia membawaku ketempat peristirahatan sahabatnya.
Begitulah pesan singkat yang sengaja Danira tinggalkan, entah mengapa feeling ya mengatakan bahwa Orion akan menjemputnya.
"Gw tau mereka dimana" Orion menuju mobilnya diikuti Zaky dan juga Sami.
Orion mengendarai mobilnya sangat kencang, ia tak mau jika Lucas membawa Danira pergi semakin jauh.
Mata Orion berbinar saat dirinya melihat Danira dan Lucas disana. Lucas tengah menangis sembari memeluk nisan Aldi. Mengungkapkan segala penyesalan di hatinya.
"ANGKAT TANGAN" Perintah bapak polisi, Lucas terlihat pasrah dirinya sudah dikepung.
"Orion" Mata Danira menangkap sosok yang sangat ia rindukan, saat Danira hendak berlari kearah Orion tangannya lebih dulu ditahan Lucas. Danira membalikkan badannya ke arah Lucas.
Orion mendekat kearah Lucas dan Danira berada.
"Gw pecundang Yon, gw selalu ingin milikin apa yang Lo punya, tapi gw gak pernah bisa dapetin itu. Lo selalu jadi pemenangnya" Lucas tersenyum getir, Orion masih tak bereaksi
"Apa gw gak berhak milikin satu aja yg Lo punya?" Lucas menarik tangan Danira mendekat ketubuhnya dan mencium bibir Danira. Danira tersentak dan mencoba melepaskan diri dari Lucas.
Buggghhhh
Orion menarik Danira dan memukul Lucas hingga tersungkur, Lucas menarik sudut bibirnya yang berdarah.
"Selama ini gw anggep Lo temen tapi apa yang Lo lakuin"
"Gw gak pantes disebut temen" Orion kembali memukul Lucas yang tak memberi perlawanan.
"Orion berhenti" Teriak Danira
Zaky dan Sami berlari kearah Orion melerai perkelahian mereka.
"Saudara Lucas anda kami tangkap" Polisi memakaikan borgol ditangan Lucas. Dan membawanya pergi.
Orion memeluk tubuh Danira erat sangat erat melepaskan rindu yang selama ini menyesak didada.
"Ra, maafin gw" Danira menjauhkan tubuhnya dari Orion dan memalingkan wajahnya. Kata-kata Devan dan Tamara memutar diotaknya.
"Danira"
"Aku udah berjanji sama papah dan mamah kamu buat gak ganggu hidup kamu lagi"
"Ra, sampai kapanpun gw gak akan biarin Lo pergi lagi dari gw"
"Yon, aku-" Orion menarik Danira dalam pelukannya, meyakinkan gadis itu untuk tidak pergi.
***
Orion membawa Danira kerumah orangtuanya. Danira terkejut saat Tamara memeluknya.
"Mah"
"Maafin mamah sayang, mamah udah jahat sama kamu"
"Enggak mah, jangan bicara seperti itu"
"Tapi mamah udah bikin kamu menderita, mamah bikin kamu susah"
"Mah"
"Mah, kebahagiaan Orion ada di Danira, tolong ijinin Orion untuk tetap bersama Danira" Tamara mengangguk sembari memeluk Danira.
Orion duduk termenung dipinggir tempat tidurnya.
"Gw pecundang Yon, gw selalu ingin milikin apa yang Lo punya, tapi gw gak pernah bisa dapetin itu. Lo selalu jadi pemenangnya"
Kata-kata Lucas membekas di hatinya, Orion paham betul apa yang dirasakan Lucas, dia memang yang paling tidak beruntung dalam keluarga, orangtuanya selalu bertengkar. Itu mengapa Orion menjadikan Lucas menjadi salah satu sahabatnya. Sebelumnya Lucas adalah orang yang benar-benar kacau, hari-hari nya selalu diisi dengan mabuk mabuk dan mabuk. Sampai rasa simpati itu muncul di benak Orion.
"Yon, kamu gak apa-apa" Danira mengelus bahu Orion.
Orion meraih tangan Danira dan mengecupnya. Danira duduk disamping Orion.
"Aku gak apa-apa"
"Kamu gak pengen bebasin Lucas" Orion menatap tajam kearah Danira
"Bukan begitu maksudku, aku cuma gak ingin kamu-" Ucapan Danira terhenti karena kini Orion tengah ******* bibir Danira, Danira memejamkan matanya mengikuti pagutan bibir Orion. Hingga bibir itu terlepas dan keduanya tersenyum canggung.
***
Keputusan pengadilan sudah keluar dan menetapkan Lucas sebagai tersangka atas kasus kecelakaan yang mengakibatkan kematian Aldi Varenza Munaf.
Untuk kasus penculikan atas Danira, Orion mencabut berkasnya. Orion tak sampai hati melihat sahabatnya Lucas harus berlama-lama mendekam dipenjara.
"Lucas"
"Cas, Lo tetap sahabat kita ya kan Yon" Orion mengangguk
"Atas nama Aldi gw maafin Lo" Tambah Sami
"Aku gak dendam sama kamu kak" Timpal Danira
Lucas melihat kearah Salsa.
"Gw juga udah maafin Lo , Cas" Lucas tersenyum getir melihat orang-orang disekitarnya yang begitu menyayanginya namun ia malah menghancurkan kepercayaan mereka.
"Ra, temenin gw ketoilet yuk" Ajak Salsa
"Yon, gw boleh minta sesuatu sama Lo" Orion menatap dalam kearah Lucas dan setelahnya mengangguk
"Gw mau setelah anak itu lahir di tes DNA"
"Cas" Orion menahan Zaky
"oke kalo itu mau Lo"
"Jika seandainya hasil DNA mengatakan gw ayah biologis dari anak itu, gw harap Lo jangan kasih tau ke dia soal gw"
"Gw gak mau anak gw tau kalo ayahnya seorang penjahat yang ngebunuh sahabatnya sendiri"
"Ky, gw titip nyokap gw ya ke Lo, jangan sampe tangan bokap gw nyentuh nyokap gw"
"Tenang aja gw bakal jagain nyokap Lo"
"Sekali lagi gw minta maaf sama Lo semua"
Danira merasa ada yang aneh dengan Salsa karena sedari tadi Salsa senyum-senyum sendiri.
"Salsa kamu kenapa?"
"Gak apa-apa"
"Dari tadi kamu senyum-senyum"
"Emmmm aku-" Ucapan Salsa terhenti saat nama mereka dipanggil
"Danira"
"Salsa"
"Iya" Danira dan Salsa menoleh bersamaan.
"Disini rupanya kalian, katanya tadi ke toilet"
"Ya masak mau nginep di toilet" Jawab Salsa
"Ra kita pulang" Ajak Orion
"Aku duluan ya Sa, kak Zaky nitip Salsa ya"
"Siap masalah Salsa biar gw yang urus" Salsa merasakan pipinya memanas.
"Kak gw bisa pulang sendiri kok, kebetulan tadi gw udah order Taxi"
"Nih nyangkut ke gw" Zaky menunjukkan ponselnya yang tertera nama Salsa disana.
"Loh kak Zaky"
"Dah yuk" Zaky menggandeng tangan Salsa, membukakan pintu untuk Salsa.
"Duh kak Zaky kenapa manis gini sih"
"Kenapa bengong ayok masuk"
"Ehhh iya kak"
Suasana di dalam mobil Zaky menjadi canggung, baik Salsa maupun Zaky merasakan dadanya bergemuruh.
"Sampai sini aja kak" Zaky menghentikan mobilnya
"Sini kak HP nya biar aku scan pembayarannya"
"Gak usah"
"Kok gak usah terus aku bayarnya gimana, atau kak Zaky tunggu sini dulu ya aku ambil uang cash dulu" Zaky menahan tangan Salsa yang hendak keluar dari mobilnya
"Lo bayarnya cukup jadi cewek gw aja" Zaky mendekatkan wajahnya
"Kak"
Cupppp
Salsa menutup mulutnya saat Zaky berhasil mengambil kecupan dibibirnya.
"Kak a-aku"
"Mau lagi???"
"ini gila ini gak bener, kak Zaky" Pekik Salsa dalam hati.