
Ketika Asuna sudah tertidur, tiba-tiba terdengar ketukan di pintu. Asuna terbangun dan pergi ke pintu untuk membukanya. Saat Asuna membuka pintu, dia melihat ayahnya yang sudah pulang.
"Ayah, kenapa baru pulang?" tanya Asuna dengan nada sedikit kesal.
"Ada urusan di kantor yang harus diselesaikan," jawab ayahnya dengan nada cuek.
"Asal kau tahu, Farhan sakit hari ini dan aku tidak bisa menghubungimu. Kau bahkan tidak menjawab panggilanku," ucap Asuna dengan nada sedikit mengejek.
Ayahnya terlihat agak kesal dengan komentar Asuna. "Aku sibuk, Asuna. Aku tidak selalu bisa memperhatikanmu dan adikmu."
Asuna merasa sedih dan kesepian. Ayahnya tidak pernah peduli dengan dirinya dan adiknya, dan hanya menghabiskan waktu di kantor. Tapi dia tidak bisa menyalahkan ayahnya sepenuhnya, karena dia tahu ayahnya juga membutuhkan uang untuk membiayai keluarga mereka.
Asuna mengangguk dan berjalan kembali ke kamarnya, sedih dengan situasi keluarganya. Dia merasa bersyukur karena Han ada di sampingnya dan menjadi teman yang baik baginya.
Pagi harinya Asuna pergi ke pasar untuk membeli keperluan sehari-hari untuk keluarganya. Dia berjalan-jalan di sekitar pasar mencari barang-barang yang dia butuhkan dan menawar harga yang dia rasa lebih pantas. Beberapa penjual mengenali Asuna dan memberinya harga khusus karena dia sering membeli dari mereka.
Saat berbelanja, Asuna melihat seorang anak kecil yang terlihat kelaparan dan kesepian. Asuna merasa kasihan dan memutuskan untuk membeli beberapa makanan untuk anak itu. Ketika dia memberikan makanan tersebut kepada anak itu, dia melihat senyum kecil di wajahnya dan merasa sangat bahagia.
Setelah selesai berbelanja, Asuna pulang ke rumah dan mulai mempersiapkan makanan untuk keluarganya. Dia berharap dapat membuat mereka senang dengan makanan yang dia buat. Setelah makanan siap, Asuna membangunkan adiknya Farhan dan mereka bersama-sama sarapan bersama, Ketika makanan sudah siap, Ayahnya juga ikut bergabung untuk sarapan bersama. Asuna tetap diam dan fokus pada makanannya, sementara Ayahnya mencoba memulai percakapan.
"Apa kau sudah menemani Farhan ke dokter?" tanya Ayahnya.
"Sudah, dokter mengatakan Farhan hanya demam biasa dan tidak ada yang serius," jawab Asuna singkat.
"Baiklah," kata Ayahnya seraya melanjutkan sarapannya.
Asuna terus makan dalam diam, sementara Ayahnya terlihat sedikit tidak nyaman dengan situasi tersebut. Setelah sarapan selesai, Asuna langsung membersihkan meja dan pergi ke kamarnya.
Asuna merasa sedih dan marah pada Ayahnya karena dia merasa Ayahnya tidak mempedulikan perasaannya. Namun, dia mencoba untuk menenangkan diri dan fokus pada mencuci piring dengan cepat dan tepat. Setelah selesai mencuci piring, Asuna pergi ke kamarnya untuk beristirahat.
Ayah Asuna merasa kesal saat tukang sampah datang untuk meminta pembayaran sampah. Dia mulai merasa frustasi dengan banyaknya pengeluaran belakangan ini. Asuna mendengar percakapan ayahnya itu.
Setelah tukang sampah pergi, Ayah Asuna kembali ke dalam rumah dan Asuna membantunya membersihkan meja. Dia berusaha untuk memulai percakapan dengan Ayahnya, tapi Ayahnya tetap cenderung pendiam dan pendek dalam menjawab.
Setelah selesai membersihkan meja, Ayah Asuna pergi ke kamarnya sementara Asuna merapikan dapur. Dia merasa sedih dan khawatir dengan situasi keluarganya.
Asuna tak sengaja mendengar percakapan telepon ayahnya yang terdengar cukup keras dan tegang. Ayahnya sepertinya sedang berbicara dengan bosnya yang terdengar cukup marah. Asuna merasa khawatir dan mencoba mendekati ayahnya untuk menanyakan apa yang terjadi.
Namun, ayahnya terlihat marah dan menolak untuk bercerita apa yang sedang terjadi. Asuna merasa sedih dan kecewa karena selalu dihindari oleh ayahnya ketika mencoba untuk berbicara dengannya. Dia merasa tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi di dalam hidup ayahnya.
Setelah itu, suasana menjadi tegang dan Asuna merasa tidak nyaman di rumah. Dia memutuskan untuk keluar rumah
Saat di berjalan-jalan Asuna melihat seorang anak perempuan yang sedang digendong oleh seorang pria dewasa di jalan. Dari jauh, Asuna dapat melihat bahwa pria itu adalah ayah dari anak perempuan itu. Asuna merasa terharu dan sedikit cemburu karena tidak pernah merasakan kasih sayang seperti itu dari ayahnya.
Setelah itu, Asuna menghabiskan waktu di toko buku dan memutuskan untuk membeli sebuah novel. Ketika ia berjalan pulang, ia melihat pemandangan yang sama sekali berbeda dari jalan yang biasa ia lalui. Di sana, ia melihat banyak sekali anak-anak yang bermain dan bersenang-senang bersama. Mereka semua terlihat bahagia dan Asuna merasa iri pada mereka.
Asuna kemudian kembali ke rumah dan melanjutkan membaca novelnya. Ia merasa sedikit lebih baik setelah melihat anak perempuan tadi, namun ia tetap merasa kesepian dan kecewa dengan ayahnya
Asuna membaca novel barunya dengan penuh minat. Dia merasa terbawa suasana dengan deskripsi tempat yang indah dan tenang dalam novel tersebut. Ia membayangkan betapa indahnya jika ia bisa pergi ke tempat seperti itu, jauh dari kekacauan dan masalah yang ada di kota tempat tinggalnya.
Namun, Asuna juga menyadari bahwa keadaan di kota tempat tinggalnya tidak akan berubah dengan sendirinya. Ia merasa perlu melakukan sesuatu untuk membantu mengubah kota itu menjadi lebih baik, meski hal itu terasa sulit dilakukan.
Setelah selesai membaca novelnya, Asuna mengembalikannya ke tempat yang semestinya dan melanjutkan kegiatan sehari-harinya dengan berbagai tanggung jawab yang harus ia selesaikan. Namun, cita-citanya untuk pergi ke tempat yang tenang dan indah masih terus membayangi pikirannya.