
Asuna pergi ke sekolah dengan mengenakan seragam sekolahnya yang rapi dan memasuki gerbang sekolah. Tiba-tiba, ia melihat Leo yang berjalan di seberang jalan. Asuna berusaha menghindari tatapannya dan terus berjalan ke arah kelasnya. Namun, Leo memanggilnya dari belakang.
"Asuna, tunggu sebentar!" ucap Leo.
Asuna berhenti dan berbalik ke arah Leo. "Ada apa?" tanyanya singkat.
"Aku hanya ingin meminta maaf atas tindakanku kemarin," ucap Leo sambil menundukkan kepalanya.
Asuna merasa sedikit terkejut dengan permintaan maaf Leo. Namun, ia masih merasa tidak nyaman dengan keberadaannya dan ingin cepat-cepat pergi dari sana. "Baiklah, saya mengerti. Terima kasih sudah minta maaf," ucapnya cepat dan berusaha pergi.
Namun, Leo tidak berhenti begitu saja. Ia mengejar Asuna dan menghentikannya. "Tunggu, Asuna. Saya masih ingin bicara denganmu," ucap Leo.
Asuna merasa semakin tidak nyaman dengan keberadaannya. Namun, ia memutuskan untuk memberikan kesempatan pada Leo untuk berbicara. "Baiklah, silakan bicara," ucapnya singkat.
Leo menarik napas dalam-dalam sebelum membuka mulutnya. "Saya ingin meminta maaf karena telah membuatmu kesal kemari aku tidak bermaksud mengganggu istirahamu,".
"Ya, Leo aku juga minta maaf karna mengabaikanmu , kemarin aku hanya kelelahan"ucap Asuna.
Leo yang tau mungkin Asuna sedang memikirkan Han, namun Leo yang merasa tidak bersalah karna sudah menghakimi Han dengan menyuruh orang bayaran, dia hanya kesal karna Asuna kembali menjadi Asuna yang dulu, walaupun sempat dekat dengan Asuna,dia sudah melakukan segala cara agar tetap dekat dengannya.
Asuna terus berusaha mengabaikan Leo dan fokus pada aktivitasnya di sekolah. Dia mencoba untuk tidak terlalu memikirkan masalah dengan Rina dan berusaha untuk lebih fokus pada pelajarannya dan mengikuti kegiatan ekstrakurikuler di sekolah.
Leo sendiri juga tampaknya mengerti bahwa Asuna tidak lagi tertarik dengan dirinya. Meskipun begitu, ia masih mencoba untuk mendekatinya dan seringkali mengajaknya berbicara ketika mereka bertemu di sekolah. Namun, Asuna tetap bersikap cuek dan tidak terlalu memperdulikan Leo.
Saat jam istirahat, Asuna seperti sebelumnya pergi sendirian tanpa Rina ,ke kantin, Asuna sedang makan di kantin saat tiba-tiba sekelompok orang duduk di sebelahnya dan mulai mengganggunya.
"Hey, pelacur, kamu sendirian?" kata salah satu dari mereka.
Asuna mencoba mengabaikan mereka dan terus makan, tetapi mereka terus saja memanggilnya dengan julukan yang sama.
"Apa kamu merasa terhormat duduk bersama kami, pelacur?" kata yang lain.
Asuna merasa kesal dan ingin segera pergi dari situ, tapi mereka tidak berhenti mengganggunya. Dia merasa terpojok dan tidak tahu harus berbuat apa.
Cindy dengan sinis mengganggu Asuna yang sedang makan di kantin.
"Bagaimana perasaannya menjadi pelacur darat, huh?" ejek Cindy. "Kau sudah merebut pacarku, terus kau ciuman dengan Josh, dan sekarang menggoda Leo. Lalu, siapa mangsamu sekarang?"
Asuna merasa marah dan terganggu oleh perkataan Cindy. Dia mencoba untuk tetap tenang, tetapi kata-kata Cindy telah melampaui batas.
"Kau tidak tahu apa-apa, Cindy," kata Asuna dengan suara yang gemetar. "Aku tidak melakukan apa-apa yang kau tuduhkan. Kau dan kelompokmu yang selalu membullyku."
Cindy hanya tertawa sinis. "Oh, haruskah aku percaya padamu? Kau sudah merusak hidupku sejak dulu. Kau tidak akan bisa lari dari reputasimu yang buruk, pelacur darat!"
Asuna merasa semakin marah, tetapi dia tahu tidak ada gunanya berdebat dengan Cindy. Dia memutuskan untuk mengabaikannya dan pergi dari situ, berusaha untuk menjaga ketenangan hatinya.
Asuna mencoba untuk pergi, tetapi Farah dan Ami yang duduk di sampingnya menahan tangan Asuna agar tidak pergi. "Ayo, jangan kabur dulu, aku belum selesai berbicara denganmu," kata Cindy dengan suara tinggi.
Asuna merasa terjepit dan tidak tahu harus berbuat apa. Dia merasa takut dan tertekan dengan situasi ini. "Sudahlah, aku tidak ingin berbicara denganmu," ucap Asuna dengan lembut.
"Tidak bisa begitu saja, kau belum meminta maaf padaku," kata Cindy sambil menatap Asuna dengan tatapan sinis. "Kau harus tahu bahwa kau salah besar, kau tidak bisa merampas pacarku dan mencoba mencuri perhatian semua pria di sekolah ini."
Asuna merasa semakin tertekan dengan ucapan Cindy. Dia merasa kesal karena tidak bisa menahan diri dari perdebatan ini. "Aku tidak punya niatan merampas pacarmu, itu keputusan dia sendiri," kata Asuna dengan suara lirih.
Cindy tertawa dengan keras. "Kau pikir aku percaya dengan omong kosongmu itu? Kau pasti menggunakan trik jahat untuk memikat pacarku. Tapi aku tidak akan membiarkanmu mencuri perhatian semua pria di sekolah ini. Aku akan membuatmu seburuk-buruknya di depan semua orang," ucap Cindy dengan sinis.
Asuna merasa semakin tertekan dan ingin segera pergi dari situasi ini. Dia merasa kesal karena tidak bisa berbuat apa-apa untuk melindungi dirinya. Dia berharap Leo atau teman-temannya bisa membantunya menghadapi situasi ini
Asuna merasa marah dan terhina dengan ucapan Cindy. Dia merasa tidak bisa lagi diam dan memilih untuk melawan. Dia melepaskan dirinya dari cengkraman Farah dan Ami, dan menghadapi Cindy dengan tatapan tajam.
Cindy tersenyum sinis dan berteriak kepada orang di kantin, "Hei, semuanya, lihatlah pelacur ini! Hatilah bagi kalian yang memiliki pacar, jangan sampai dia menjadi mangsamu!"
Beberapa orang di kantin mulai berbicara dan menatap Asuna dan Cindy. Beberapa dari mereka terlihat tidak nyaman dengan situasi ini, sementara yang lain terlihat menikmati pertunjukan tersebut. Asuna merasa semakin terhina dan marah.
"Tolong hentikan, Cindy! Kau tidak punya hak untuk menyebarkan berita palsu tentangku!" ucap Asuna sambil menahan emosinya.
Cindy hanya tertawa dengan sombong. "Siapa yang akan percaya padamu? Kau pikir kau bisa mengalahkanku? Kau hanya seorang pecundang!" ucap Cindy dengan sinis.
Asuna merasa frustasi. Dia tahu dia tidak bisa menghadapi Cindy sendirian.semua orang menatap ke arahnya dengan berbagai ekspresi.
Asuna mencoba melawan Cindy, tetapi Cindy terus mempermalukannya dan berteriak memanggil perhatian orang di kantin. Kemudian, Cindy mengambil ponselnya dan menunjukkan foto Asuna dan Josh yang sedang berciuman di depan semua orang.
"Kalian semua lihat ini! Asuna adalah pelacur dulu dia mencuri pacarku dan sekarang dia bahkan dia pernah berciuman dengan Josh!" teriak Cindy dengan nada sombong.
Asuna merasa sangat malu dan tertekan. Dia ingin menangis, tetapi dia menahan tangisannya karena tidak ingin membuat dirinya semakin memalukan. Dia merasa sangat terpojok dan tidak tahu harus berbuat apa lagi.
Asuna mencoba membela diri sambil menangis, "Cindy, kau memang ingin menghancurkan hidupku ya? Padahal aku sudah menuruti permintaanmu untuk bermusuhan dengan Rina, Josh yang kau suruh keluar dari tim basketnya, apa kau tidak puas dengan semua itu?" ucap Asuna dengan suara tercekat.
Cindy hanya tertawa sinis, "Kau masih saja mengira aku akan berhenti? Kau pantas mendapat semua ini karena telah mencuri pacarku dan merusak hubunganku dengan Josh. Kau tidak pantas menjadi teman siapapun!" ucap Cindy dengan nada merendahkan.
Farah dan Ami, teman-teman Cindy, terus merasa senang melihat Asuna terpojok. Mereka ikut tertawa dan menghina Asuna. Asuna merasa semakin putus asa dan kesal. Dia ingin berbicara lebih banyak, tetapi kata-katanya tercekik oleh tangisnya.
Sementara itu, banyak orang di kantin mulai berkumpul dan melihat kejadian tersebut. Beberapa dari mereka mencibir dan menghujat Asuna, sedangkan yang lain tampak tidak nyaman melihat aksi penghinaan publik yang dilakukan oleh Cindy dan kelompoknya.
Asuna merasa sangat terpojok dan tidak tahu harus berbuat apa lagi. Dia ingin melawan, tetapi dia tidak memiliki cukup kekuatan fisik atau mental untuk melawan Cindy dan kelompoknya. Dia merasa sangat sendirian dan hancur di hadapan semua orang
Rina, yang selama ini diam-diam memerhatikan kejadian di balik kerumunan di kantin, merasa cukup. Dia tidak bisa lagi membiarkan Cindy dan kelompoknya menghina Asuna begitu saja.Tanpa ragu, Rina jalan menuju Cindy lalu menampar Cindy dengan keras di wajahnya.
Plaakkk...
"Tolong hentikan semua ini, sudah cukup!" teriak Rina, diikuti dengan sorakan dan tepuk tangan dari teman-teman sekelas yang lain.
Cindy terkejut dan kesal. Dia meraih minuman yang ada di dekatnya dan mencoba menyiram Rina, tapi Rina berhasil menghindar dan balik menyiram Cindy dengan minuman yang lebih banyak.
"Sudah cukup, Cindy! Kamu sudah kelewatan!" ucap Rina dengan suara yang tegas.
Cindy yang basah kuyup merasa malu dan segera pergi meninggalkan kantin, diikuti oleh kelompoknya yang lain yang tak berdaya melawan Rina. Asuna dan teman-temannya kemudian mendekati Rina dan berterima kasih atas keberaniannya.
"Asuna, maafkan aku. Aku tak bisa lagi berpura-pura bahwa aku tidak peduli denganmu," ucap Rina sambil menangis.
Rina memeluk Asuna dan mencoba menenangkannya, "Tenanglah Asuna, aku ada di sini untukmu. Kau tidak sendirian," ujarnya dengan lembut. Asuna masih menangis sambil memeluk Rina erat-erat.
Rina menarik Asuna pergi dari kantin dan membawa Asuna ke toilet untuk mengusap wajah Asuna . Setelah Asuna merasa sedikit tenang, mereka berdua duduk di lantai toilet.
"Terima kasih, Rina. Aku benar-benar tidak tahu bagaimana cara menghadapi semua ini," ucap Asuna dengan suara lemah.
Rina mengusap punggung Asuna lembut, "Kita akan menyelesaikan masalah ini bersama-sama. Kau tahu aku selalu mendukungmu," ujarnya.
Asuna tersenyum kecil dan mengangguk. "Iya, aku tahu. Terima kasih, Rina."
Kemudian, Rina membawa Asuna pergi dari kantinsekolah dan mereka kembali ke Kelas. Sambil menatap ke arah papan tulis, Asuna merenung dan teringat kembali pada kejadian di kantin. Ia merasa sedih dan terluka atas perlakuan Cindy dan kelompoknya. Namun, ia juga merasa bersyukur karena Rina ada di sisinya.
"Aku tidak tahu harus bagaimana lagi, Rina. Semua ini terasa begitu berat," kata Asuna lirih.
Rina meletakkan tangannya di atas tangan Asuna dengan lembut, "Tenanglah, Asuna. Kita akan melewatinya bersama-sama. Aku selalu ada untukmu, sahabatku."
Asuna tersenyum kecil dan menggenggam erat tangan Rina. Ia merasa lega dan terhibur dengan kehadiran sahabatnya itu. Mereka berdua kemudian kembali fokus pada pelajaran yang sedang disampaikan oleh guru di depan.