
Asuna tengah sibuk membersihkan rumahnya ketika ponselnya berbunyi, menandakan ada panggilan masuk. Dia mengambil telepon dan suara Han terdengar dari seberang sana.
"Halo Asuna, apa kabarmu?" Han bertanya dengan ramah.
"Aku baik-baik saja, ada apa Han ?" jawab Asuna sambil membersihkan debu di rak buku.
"Bagaimana jika kita pergi ke pasar malam, malam ini bersama adikmu kalau bisa ajak juga temanmu yang lain," tawar Han.
Asuna terdiam sejenak. Dia memang jarang pergi ke tempat-tempat ramai seperti pasar malam, tetapi tawaran Han terdengar menggiurkan. "Itu terdengar menyenangkan, aku akan mengajak adikku," kata Asuna akhirnya.
"Baiklah, aku akan menjemput kalian berdua nanti malam," kata Han.
Asuna tersenyum. Dia tidak sabar untuk mengajak adiknya ke pasar malam dan bertemu dengan teman-teman Han, termasuk Rina yang sudah lama tidak dia temui.
"Terima kasih, Han. Aku akan memberitahu adikku dan menunggumu, nanti malam," kata Asuna sambil mengakhiri panggilan.
Asuna melanjutkan membersihkan rumahnya sambil tersenyum. Dia merasa senang dengan keputusannya untuk pergi ke pasar malam besok malam bersama Han dan teman-temannya. Mungkin ini bisa menjadi awal dari petualangan baru dan pengalaman yang menyenangkan di kota ini.
Setelah menutup telepon dari Han, Asuna berbalik ke arah Farhan yang sedang duduk di sofa dan menawarkannya untuk ikut ke pasar malam malam ini bersama Han dan beberapa teman mereka.
"Farhan, mau ikut ke pasar malam malam ini bersama aku dan Han? Dia akan mengajak beberapa temannya," ujar Asuna sambil tersenyum.
Farhan yang sedang asyik bermain game di ponselnya mengangkat kepalanya dan menjawab, "Pasar malam? oke aku akan ikut."
Asuna merasa senang melihat adiknya antusias untuk ikut ke pasar malam. Dia ingin memberikan pengalaman yang menyenangkan bagi Farhan setelah sekian lama hidup di lingkungan yang kurang menyenangkan.
"Baguslah kalau begitu, aku akan mengurus semuanya. Kamu hanya perlu siap-siap nanti malam ya," kata Asuna sambil mengacak rambut Farhan.
Farhan mengangguk dan kembali melanjutkan permainannya. Asuna lalu berjalan ke dapur untuk menyiapkan makan siang untuk mereka berdua.
Dalam hati, Asuna berharap malam ini akan menjadi malam yang menyenangkan bagi mereka berdua dan dapat sedikit menghilangkan rasa kesepian yang sering dirasakannya karena ayahnya yang jarang pulang. Dia juga berharap Han dapat membantu menghibur adiknya dan memberikan pengalaman yang tak terlupakan bagi Farhan.
Asuna mengambil ponselnya dan menelpon Rina.
"Hey, Rina. Apa kabar?" tanya Asuna.
"Baik, Asuna. Ada apa?" jawab Rina dari seberang telepon.
"Aku dan Han akan pergi ke pasar malam malam ini. Kamu mau ikut?" tawar Asuna.
"Oke, aku ikut. Jam berapa kita bertemu di sana?" tanya Rina.
"Kita bisa kumpul di rumahku dulu, jam 7 malam. Kamu bisa menginap jika kamu mau," kata Asuna.
"Terima kasih, Asuna. Aku akan siap di jam itu," jawab Rina.
"Baiklah, sampai nanti malam," ucap Asuna sebelum menutup telepon.
Asuna menunggu di rumahnya dan mempersiapkan segalanya untuk malam itu. dan membawa Tas kecil untuk menyimpan uang dan handphone untuk dibawa ke pasar malam. Adiknya Farhan sedang asyik bermain game di konsol ketika Asuna memanggilnya.
"Farhan, kau siap untuk pergi ke pasar malam?" tanya Asuna.
Farhan melepas pandangannya dari layar televisi dan mengangguk. "Iya, kak. Aku siap."
"Mari kita bersiap-siap, Han akan segera datang," kata Asuna sambil memeriksa tas kecilnya.
Tak lama kemudian, Han datang bersama satu temannya Kenji, Dia menyapa Asuna dan Farhan, mereka berkumpul di depan rumah Asuna. Asuna memberitahu Han untuk menunggu Rina.
Beberapa saat kemudian, Rina tiba dan mereka semua bersiap untuk pergi ke pasar malam. Asuna memberikan camilan yang telah disiapkan ke semua orang dan mereka mulai berjalan menuju pasar malam yang terletak tidak jauh dari rumah Asuna.
Asuna, Han, Rina, Farhan, dan Kenji bersiap-siap untuk pergi ke pasar malam. Mereka memutuskan untuk menggunakan MRT agar lebih cepat dan efisien. Saat berada di dalam MRT, Han memperkenalkan Rina dan Kenji satu sama lain. Kenji adalah pemilik warnet tempat Han bekerja dan sekaligus temannya.
“Rina, ini Kenji. Pemilik warnet tempat aku bekerja. Dan Kenji, ini Rina, teman baikku,” kata Han sambil tersenyum.
Rina mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan dengan Kenji. “Senang bertemu denganmu, Kenji.”
“Ya aku juga, Senang bertemu denganmu,” balas Kenji dengan ramah.
Sementara itu, Farhan sedang sibuk memperhatikan orang-orang yang lewat di sekitar mereka. Asuna merangkul bahunya dan berkata, “ kita akan bersenang-senang kan akan menjadi anggota yang paling kecil.”
Farhan mengangguk. “baiklah asal aku baik-baik saja.”
Saat mereka di dalam kereta, Kenji tiba-tiba bertanya, “Asuna, kamu dan Han sudah lama saling kenal ya?”
Asuna mengangguk. “Iya, aku mengenalnya saat aku bermain di warnetmu.”
“Jadi kamu juga tahu kalau Han punya impian memiliki usaha sendiri?”
Asuna mengernyitkan kening. “Iya, aku tahu. Tapi Han tidak pernah terlalu membicarakannya. Kenapa kamu tanya?”
“Karena aku sudah berbicara dengannya tentang membuka usaha bersama. Aku pikir kamu pasti tertarik juga,” jawab Kenji.
Asuna terkejut. “Bersama? Maksudmu, aku bisa ikut terlibat dalam usaha kalian?”
Kenji mengangguk. “Iya, aku berpikir kita bisa membuka usaha kafe bersama. Aku akan mengatur segalanya dan Han akan menjadi bagian dari manajemen. Kamu bisa ikut membantu dalam pengelolaan atau di bagian kreatif.
Asuna terdiam sejenak, terkejut dengan tawaran tersebut. Dia tidak pernah membayangkan bahwa dia bisa memiliki usaha sendiri, apalagi bersama teman-temannya. Tapi pada saat yang sama, dia merasa senang dan terharu dengan tawaran Kenji.
Han melihat wajah Asuna yang terkejut dan bertanya, “Ada apa, Asuna? Kamu baik-baik saja?”
Asuna tersenyum ke arah Han. “Aku baik-baik saja, Han. Kenji hanya saja menawarkan untuk membuka usaha bersama.”
Mereka melanjutkan jalan-jalan di pasar malam,
Setelah menaiki MRT selama beberapa menit dari stasiun, Asuna, Han, Rina, Farhan, dan Kenji akhirnya tiba di stasiun tujuan dekat pasar malam. Mereka keluar dari stasiun dan melihat keramaian pasar malam yang sudah penuh dengan pengunjung.
Asuna menarik lengan Han, "Ayo, kita cari tempat untuk makan dulu sebelum jalan-jalan di sini."
Han setuju, "Bagus ide kamu, Asuna. Rina, ada tempat makan yang enak di sini kan?"
Rina menjawab, "Iya, seperti di sana makanan enak ayo ikut aku".
Mereka berjalan bersama menuju ke tempat makan yang dimaksud. Sambil jalan-jalan, Kenji dan Han mulai berbicara dan tertawa-tawa. Farhan dan Rina juga terlihat asyik bercerita.
Setelah beberapa menit berjalan, mereka akhirnya sampai di tempat makan yang Rina rekomendasikan. Mereka memesan makanan dan minuman yang berbeda-beda sesuai dengan selera masing-masing. Mereka pun menikmati makanan dan berbincang-bincang dengan santai.
Setelah puas makan, mereka melanjutkan perjalanan ke pasar malam. Mereka mengelilingi seluruh area pasar, melihat-lihat berbagai stand yang menjual makanan dan barang-barang unik. Mereka juga bermain game di beberapa stand, mencoba peruntungan di permainan keberuntungan, dan membeli beberapa barang yang menarik perhatian mereka.
Asuna dan Han berjalan berdua sambil berbicara, memperhatikan orang-orang di sekitar mereka. Rina dan Farhan bergabung dengan Kenji, mencoba beberapa makanan yang belum pernah mereka coba sebelumnya.
"Aku senang kamu mengajakku ke sini, ini luar biasa Han," kata Asuna sambil tersenyum.
Han balas tersenyum, "Aku juga senang bisa jalan-jalan bersama kamu, Asuna. Ini tempat yang menyenangkan."
Setelah menikmati beberapa kuliner di pasar malam, Asuna, Han, Rina, Farhan, dan Kenji melihat wahana bianglala yang besar di tengah-tengah area hiburan. Mereka semua tertarik untuk mencoba naik, kecuali Rina yang takut ketinggian.
"Tinggi banget ya, aku nggak berani ikutan,aku tunggu kalian saja di sini" ucap Rina sambil melihat bianglala yang berputar dengan tinggi.
"Ah, jangan takut, Rina. kita pasti akan melindungimu," kata Han sambil tersenyum.
Asuna ikut menghibur Rina, "Tenang saja, Rina. Nanti kita naik bareng-bareng, aku akan di sampingmu."
Han dan Farhan berbisik-bisik, "Kita dorong saja, biar naik kak Rina ikut"
Mereka semua tertawa melihat sikap Rina yang cemas. Akhirnya, setelah beberapa usaha meyakinkan Rina, mereka memutuskan untuk naik wahana tersebut. Asuna duduk di samping Han, sedangkan Rina duduk di samping Kenji. Farhan, yang masih kecil, duduk di antara Asuna dan Han.
"Tidak usah takut, Rin. Ini hanya sebentar kok, nanti kamu akan menyukainya!" kata Asuna mencoba menenangkan Rina.
Setelah berhasil memaksa Rina untuk naik bianglala, akhirnya mereka berhasil mendapatkan tempat duduk di wahana tersebut. Rina masih gemetar dan menahan napasnya ketika bianglala mulai bergerak. Han, Asuna, Farhan, dan Kenji menertawakan Rina yang masih ketakutan.
Rina masih terdiam dan tidak berani membuka matanya, sementara bianglala semakin tinggi dan semakin cepat berputar. Han mengambil tangan Rina dan meletakkannya di tangannya, mencoba memberikan dukungan.
"Ayo, buka matamu, Rin. Kamu bisa melihat pemandangan yang indah dari atas sini," ujar Han.
Setelah beberapa saat, Rina mulai membuka matanya dan melihat pemandangan yang sangat indah. Cahaya dari lampu-lampu kota dan kembang api membuat langit malam terlihat sangat menakjubkan.
"Wow, benar-benar indah sekali," kata Rina, yang kini sudah terlihat lebih tenang.
Semua temannya mengangguk setuju, dan mereka terus menikmati wahana bianglala dengan bahagia. Suara tawa dan teriakan mereka terdengar dari kejauhan.
Saat wahana berhenti, mereka turun dan berjalan-jalan di sekitar pasar malam. Mereka membeli makanan, bermain game, dan menikmati acara panggung yang sedang berlangsung.
Malam itu, Asuna merasa sangat bahagia bisa menghabiskan waktu bersama teman-temannya. Dia tahu bahwa kehidupannya mungkin tidak sempurna, tapi memiliki teman yang peduli dengannya sudah membuatnya merasa cukup.
Sekitar lima menit kemudian, wahana bianglala berhenti di puncak tertingginya, dan semua penumpang di atasnya merasakan sensasi menggantung di ketinggian yang cukup tinggi. Mereka semua menatap pemandangan indah kota dari ketinggian. Meskipun Rina masih merasa cemas, dia merasa tenang karena ada teman-temannya yang menemaninya.
Setelah beberapa saat, wahana mulai turun dan akhirnya berhenti di tanah. Semua penumpang turun dengan senyum bahagia di wajah mereka. Mereka menghabiskan waktu bermain game dan menikmati kuliner lain di pasar malam sebelum akhirnya pulang ke rumah. Hari itu merupakan hari yang menyenangkan bagi mereka semua.
Sebelum mereka tiba di stasiun, tiba-tiba mereka dihadang oleh sekelompok gangster yang menuntut uang dari mereka. Gangster-gangster tersebut terlihat kasar dan memaksa mereka untuk menyerahkan uang dan barang berharga yang mereka bawa.
Asuna dan teman-temannya merasa ketakutan dan tidak tahu harus berbuat apa. Han, yang merasa marah dengan perilaku gangster-gangster tersebut, mencoba untuk membela teman-temannya. Namun, gangster-gangster tersebut malah semakin marah dan berusaha untuk memukul Han.
Farhan yang masih kecil merasa takut dan menangis, sementara Rina berusaha untuk menenangkan adiknya. Asuna merasa kesal dan ingin segera melaporkan kejadian ini ke polisi, tetapi Han menahannya dan mengatakan bahwa itu tidak perlu.
Sementara itu, Kenji berdiri di belakang mereka dengan tatapan tajam. Dia merasa kesal dengan perilaku gangster-gangster tersebut dan ingin segera mengambil tindakan. Namun, sebelum dia bisa melakukan sesuatu, polisi tiba dan mengusir gangster-gangster tersebut.
Mereka merasa lega karena ada polisi di sekitar mereka, polisi tersebut meminta identitas mereka untu laporan dan meminta mereka untuk hati-hati, namun di saat mereka ingin pergi dan meminta untuk mengembalikan Kartu identitas mereka kepada polisi tersebut
"Mohon maaf pak kami ingin pergi, bisa kita ambil lagi kartu identitas kami pak," tanya Han
"Kalian harus bayar denda, jika ingin ini kembali " jawab salahsatu polisi itu.
" Hah kok gitu sih,pak." ucap Asuna.
"Yahh, gak bisa gitu dong,pak kita gak melakukan hal apapun, kok malah kena denda?" ucap Han dengan sedikit kecewa.
"Yasudah pulanglah, kami hanya menahan kartu kalian". Jawab polisi itu.
Mereka merasa terjbak dan kecewa atas perlakuan polisi tersebut namun mereka tidak bisa berbuat apa-apa karna mereka berhadapan polisi, mereka menyerahkan uang untuk mengembalikan Kartu identitas mereka,
"Yasudahlah, ini kami hanya ada uang segini" ucap Han yang memberikan beberapa uang dari teman-temannya.
Merekapun meninggalkan polisi tersebut dan lanjut pergi ke stasiun dan menunggu di Paron untuk menunggu MRT, saat mereka masuk ke gerbong MRT, Han merasa kesal atas tindakan polisi tersebut.
"Gila padahal tadi kita udah merasa aman, ternyata sama aja ,kita di peras sama polisi kurup" ucap Han.
"Emang gila tuh polisi, gak ada bedanya dengan preman tadi caranya aja yang beda,"ujar Kenzi.
"Kita tau kota ini memang begitu dari rakyat hingga aparat hukumnya tidak ada yang benar, polisi di sini hanya bekerja karna uang membuat laporan aja harus bayar" jawab Asuna.
Merekapun menikmati perjalanan pulang menunggu beberapa menit untuk sampai ke stasiun tujuan mereka.