
Asuna merasa bingung dengan perasaannya sendiri terhadap Han. Selama ini dia hanya menganggap Han sebagai teman, tetapi setelah makan malam tadi, ada perasaan yang berbeda dalam dirinya. Asuna menghabiskan waktu di kamarnya dengan merenung tentang perasaannya
Esok harinya, Han menjemput Asuna di depan rumahnya. Mereka berencana untuk pergi ke pasar membeli hadiah untuk anak-anak di panti asuhan. Asuna merasa senang dan terharu dengan kebaikan Han yang ingin berbagi kepada mereka yang kurang beruntung.
Mereka berjalan bersama menuju pasar, sambil berbicara tentang rencana mereka dan apa yang mereka ingin beli untuk anak-anak di panti asuhan. Han menceritakan tentang pengalaman pribadinya dengan panti asuhan dan mengapa dia merasa begitu dekat dengan mereka. Asuna terkesan dengan sikap dermawan dan hati mulia Han.
Sesampainya di pasar, Han mengajak Asuna untuk memilih makanan dan mainan untuk anak-anak di panti asuhan. Mereka berdua sibuk memilih dengan penuh semangat.
"Mereka pasti senang menerima hadiah dari kita," kata Han.
Asuna setuju, "Iya, benar. Kita bisa memberikan mereka sedikit kebahagiaan."
"Aku merasa begitu bahagia melihat mereka tersenyum," ucap Han.
Asuna setuju, "Iya, ini akan menjadi hal yang menyenangkan,".
Setelah memilih semua hadiah, Han membayar dengan uang yang dia miliki. Asuna tidak bisa menahan senyum melihat kebaikan hati Han dan bagaimana dia memperhatikan setiap detail dalam memilih hadiah-hadiah itu.
Han dan Asuna akhirnya tiba di panti asuhan setelah membeli berbagai hadiah untuk anak-anak di pasar. Asuna merasa sedikit gugup karena ini adalah pengalaman pertama baginya mengunjungi panti asuhan. Namun, Han dengan sigap membuka pintu mobil dan membantunya keluar. Mereka berjalan menuju pintu gerbang panti asuhan, di mana mereka disambut oleh beberapa anak kecil yang berlarian ke arah mereka dengan senyum lebar di wajah mereka.
Asuna merasa terharu melihat kebahagiaan di wajah anak-anak itu dan ia memperhatikan dengan seksama setiap gerakan mereka. Han memperkenalkannya pada beberapa pengurus panti asuhan dan mereka mulai menunjukkan hadiah-hadiah yang telah mereka beli untuk anak-anak tersebut. Asuna merasa senang dapat berkontribusi dan menghabiskan waktu bersama anak-anak itu. Ia terkejut mengetahui bahwa Han sudah sering melakukan kegiatan amal seperti ini.
Asuna melihat Han dengan rasa kagum saat melihat betapa akrabnya Han dengan staf panti asuhan itu. Mereka tampak berbincang-bincang dengan ramah dan penuh tawa. Setelah beberapa saat, Han dan staf panti asuhan itu mempersilakan Han dan Asuna untuk masuk ke dalam ruangan panti asuhan.
"Kalian boleh berinteraksi dengan anak-anak di sini dan memberikan mereka hadiah yang kalian , bawa," kata salah satu staf panti asuhan dengan ramah.
Asuna merasa senang dan gugup sekaligus. Ini adalah pengalaman pertamanya mengunjungi panti asuhan, dan dia tidak tahu bagaimana cara berinteraksi dengan anak-anak di sana. Namun, Han tampaknya sudah sangat terbiasa. Dia tersenyum ramah dan berbicara dengan anak-anak di sana, memberikan mereka hadiah yang dibelinya di pasar tadi.
Sementara Han sibuk berinteraksi dengan anak-anak, Asuna mengamati suasana di panti asuhan itu. Ada sekitar dua puluh anak-anak yang tinggal di sana, dari berbagai usia dan latar belakang. Beberapa di antaranya tampak gembira saat menerima hadiah dari Han, sementara yang lain terlihat sedih dan lesu.
"Asuna, bagaimana perasaanmu?" tanya Han sambil memberikan hadiah ke seorang anak perempuan berusia sekitar tujuh tahun.
"Asuna merasa sedih melihat kondisi anak-anak di sini. Mereka tampak sangat membutuhkan kasih sayang dan perhatian," jawab Asuna dengan sedikit lirih.
Han mengangguk mengerti, "Ya, mereka membutuhkan bantuan kita. Kita bisa memberikan sedikit kebahagiaan di kehidupan mereka dengan mengunjungi mereka di sini dan memberikan hadiah."
"Dulu aku juga seperti mereka, mereka semua mendapat kehangatan dari pengurus dan orang-orang di sekitar aku memiliki teman sebagian dari mereka ada yang mengadopsi dan berakhir sepertiku, bekerja dan meninggalkan panti ini," ucap Han.
"Yah Han, mungkin itu sebabnya kau begitu peduli kepada mereka," jawab Asuna.
Saat waktu untuk pulang tiba, anak-anak di panti asuhan tersebut merengek dan meminta mereka untuk tetap tinggal dan bermain bersama. Asuna merasa sedih meninggalkan anak-anak tersebut dan merenung tentang keberuntungan yang dimilikinya, memiliki keluarga yang masih ada dan rumah yang nyaman untuk tinggal. Namun, ia juga merasa bersemangat dengan kegiatan amal ini dan merasa terinspirasi untuk melakukan lebih banyak lagi untuk membantu orang lain di sekitarnya
Setelah beberapa jam berada di panti asuhan, Han dan Asuna merasa sudah waktunya untuk pulang. Mereka mengucapkan selamat tinggal kepada anak-anak dan staf panti asuhan dengan hati yang hangat. Ketika mereka keluar dari panti asuhan, Han melihat ke arah Asuna dengan senyum hangat.
"Asuna, terima kasih sudah ikut bersamaku ke panti asuhan. Aku sangat senang bisa berbagi pengalaman ini bersamamu," ucap Han dengan tulus.
Asuna tersenyum, "Sama-sama, Han. Aku juga merasa sangat terharu dan berterima kasih telah mengajakku ke sini. Aku belajar banyak dari pengalaman ini."
Han menggenggam tangan Asuna dengan lembut, "Aku senang kamu merasa seperti itu. Aku ingin kamu tahu bahwa aku sangat menghargai keberadaanmu dalam hidupku."
Asuna merasa hatinya berdebar-debar mendengar kata-kata Han itu. Dia merasa ada perasaan yang berbeda dalam dirinya saat berada di dekat Han, tetapi dia masih merasa bingung. Dia belum yakin apa yang sebenarnya dia rasakan terhadap Han.
Mereka kembali pulang dengan perasaan yang campur aduk. Di perjalanan pulang, Han dan Asuna masih berbicara dengan riang tentang pengalaman mereka di panti asuhan dan rencana mereka untuk mengunjungi lagi di masa depan. Namun, di dalam hati Asuna, ada keraguan dan kebingungan tentang perasaannya terhadap Han.
Setelah sampai di rumah Asuna, Han mengantar Asuna sampai ke depan pintu rumahnya. Mereka berdua berdiri di sana, saling menatap dengan senyuman di wajah mereka.
"Terima kasih lagi, Han, untuk hari yang menyenangkan ini," ucap Asuna dengan suara pelan.
Han tersenyum, "Tidak perlu berterima kasih. Aku senang bisa menghabiskan waktu bersamamu dan berbagi pengalaman ini."
Asuna mengangguk, "Aku juga senang. Sampai jumpa besok di panti asuhan."
Han mengangguk, "Sampai jumpa, Asuna."
Han melambaikan tangannya saat Asuna masuk ke dalam rumahnya. Asuna menghampiri jendela dan melihat Han pergi dengan senyum di wajahnya.
Saat Han pergi dan menjauh dari rumah Asuna , di jalan pulang tiba-tiba ada beberapa orang dengan motor mereka kemungkinan ganster, sepertinya mengikuti langkah Han lalu tiba-tiba Han terkejut ketika beberapa gangster tiba-tiba menghadangnya dan menghajarnya Tanpa ragu, Han berusaha melawan mereka dengan segala kemampuannya. Dia berputar, menghindari pukulan dan tendangan yang dilancarkan gangster-gangster itu. Namun, jumlah mereka terlalu banyak, dan mereka menggunakan taktik yang terorganisir dengan baik.
Han melawan sekuat tenaga, mengirimkan pukulan dan tendangan balik kepada para gangster. Dia berhasil menjatuhkan beberapa dari mereka, tetapi terlalu banyak yang datang bertubi-tubi. Gangster-gangster itu tidak mengenal belas kasihan, mereka menerjang Han dengan kejam.
Beberapa pukulan mengenai tubuh Han, membuatnya terdesak. Dia merasa semakin lelah dan tidak mampu melawan dengan maksimal. Akhirnya, Han tidak bisa menghindari pukulan terakhir yang mengenai kepalanya. Dia merasa pusing dan akhirnya pingsan di tempat.
Setelah itu salah satu dari ganster tersebut menelpon seseorang "Hallo boss sekarang kita sudah membuatnya pingsan, dia cukup kuat hingga memberi perlawanan tapi akhirnya dia pingsan juga hahahah..".
"baguss... sekarang kalian kembali dan biarkan dia tergeletak di sana" ucap seseorang di balik telepon tersebut.
para gansterpun pergi dan membiarkan Han yang masih pingsan di jalan, Han tak sadarkan diri hingga pagi hari ada warga sekitar melihatnya dan membawa Han ke rumah sakit.