Decent Place

Decent Place
Keinginan



Mereka duduk bersama di sebuah sudut di dalam Decent Place, gedung tua tempat pelarian Asuna dan Han di kota keras ini. Asuna dan Han saling berbincang-bincang.


Asuna memandang ke arah Han, "Han, apakah kamu akan terus bekerja di warnet?Apa kamu nggak ingin memiliki pekerjaan yang lain?"


Han menarik nafas dalam-dalam, "Aku hanya lulusan Smp asuna, paling aku hanya ingin punya usaha sendiri, tapi kalau sekarang belum ada modal yang cukup untuk itu."


Asuna mengangguk mengerti, "begitu, aku harus bekerja keras untuk bisa keluar dari kota ini setelah aku lulus dan bekerja nanti."


Han tersenyum ke arah Asuna, "Apa cita-cita mu Asuna ?"


"Jujur, aku ingin banget jadi penulis han," jawab Asuna dengan semangat.


Han mengangguk, "Kamu pasti bisa. Aku yakin kamu punya bakat."


Asuna tersenyum, "Makasih. Tapi sekarang, aku harus fokus untuk sekolah dulu."


Han menatap Asuna dengan penuh perhatian, "Kamu tahu, aku selalu berharap bahwa kamu bisa keluar dari sini. Aku tahu kamu bisa melakukan lebih dari sekedar menjadi pegawai pabrik seperti kebanyakan orang di sini."


Asuna tersenyum sambil mengangguk, "Aku nggak mau hidup seperti itu. Aku pengin mencoba sesuatu yang berbeda."


Han mengambil tangan Asuna dan berkata, "Suatu saat, Kita akan keluar dari sini bersama-sama. Aku pasti akan membantumu."


Asuna tersenyum dan balas memegang tangan Han, "Terima kasih. Aku bahagia punya teman seperti kamu."


Han menatap Asuna dengan lembut, "Kamu tahu kan aku nggak akan pernah meninggalkanmu sendirian di sini."


Asuna merasa hangat di hatinya, "Aku tahu. Kamu selalu ada untukku."


Mereka duduk dalam keheningan, menikmati suasana Decent Place yang sunyi dan damai. Asuna merasa bersyukur memiliki teman sebaik Han. Mereka berdua saling mendukung dan menemukan kekuatan di antara satu sama lain.


Mereka tahu perjalanan menuju kebebasan tidak mudah, tapi mereka siap melangkah. Bersama-sama, mereka akan mengejar impian masing-masing dan meninggalkan kota keras ini di belakang mereka.


Setelah Han memberikan dukungan dan dorongan untuk mimpi Asuna, Asuna mulai merasa lega dan memutuskan untuk membicarakan keinginannya dengan Han.


"Asuna, kenapa kamu ingin meninggalkan kota ini?" tanya Han.


Asuna menatap Han dengan pandangan lelah dan penuh harap. "Aku sudah muak dengan lingkungan di sini. Aku merasa seperti terjebak di dalam lingkaran setan yang tak ada habisnya. Aku ingin mencoba hidup yang baru dan mengejar mimpiku."


"Dan apa mimpi yang ingin kamu kejar?" Han bertanya lagi, dengan wajah serius dan penuh perhatian.


Asuna memandang ke bawah sejenak, seolah merenung. "Aku ingin bekerja sebagai penulis dan menerbitkan buku-buku yang bisa menginspirasi orang-orang di luar sana. Aku ingin membuat perbedaan dalam hidupku dan hidup orang lain."


Han mengangguk setuju. "Mimpi yang hebat. Dan kamu tahu, kamu bisa melakukannya. Aku yakin kamu punya bakat untuk menjadi penulis yang hebat."


"Tapi bagaimana aku bisa pergi dari sini? Bagaimana aku bisa mencari uang untuk membayar kebutuhan hidupku?" Asuna merasa sedikit putus asa. Dia sudah merencanakan kepergiannya, tapi dia tidak yakin apa yang harus dilakukannya setelah meninggalkan kota.


Han tersenyum dan meraih tangan Asuna. "Kita bisa mencarinya bersama-sama. Aku akan membantumu mencari pekerjaan dan menyediakan tempat tinggal untukmu. Kita bisa membantu satu sama lain dalam mengejar mimpimu."


"Kita teman, Asuna. Itulah yang teman lakukan. Membantu satu sama lain dan mendukung mimpi masing-masing." Han menjawab dengan tegas dan penuh semangat.


Asuna merasa begitu beruntung memiliki teman seperti Han. Dia merasa seperti tidak sendirian lagi dalam perjuangan hidupnya untuk mencapai tujuannya. Bersama Han, dia merasa yakin bahwa dia bisa melakukan apa saja yang dia inginkan.


"Kita akan melakukan ini, Han. Bersama-sama, kita akan mencapai tujuan kita masing-masing." kata Asuna dengan mantap.


Han tersenyum lagi dan merangkul Asuna erat-erat. "Tentu saja, kita akan melakukannya bersama-sama. Dan sekarang, mari kita fokus pada rencana kita dan mengambil tindakan. Kita tidak boleh membuang waktu lagi."


Han mengangguk mengerti saat Asuna menceritakan keinginannya untuk tinggal di New Zealand. "Aku ingat, dulu kau pernah bercerita tentang kau yang ingin tinggal di pedesaan New Zealand. Kau ingin mengunjungi tempat itu karena kau suka pemandangan hijau dan keindahan alamnya."


Asuna tersenyum kecil. "Ya, benar. Dan sekarang aku ingin benar-benar tinggal di sana. Aku sudah mencari informasi tentang bagaimana cara mendapatkan visa kerja di New Zealand dan juga tempat tinggal di sana."


Han melihat Asuna dengan cemas. "Kau harus punya uang yang cukup untuk bisa pergi ke sana, Asuna. Dan kau juga harus memikirkan pekerjaan di sana."


Asuna mengangguk. "Aku tahu itu, Han. Itulah sebabnya aku ingin bekerja dan menabung uang untuk bisa pergi ke sana. Aku tidak ingin terus-terusan tinggal di sini dan merasa tidak bahagia."


Han menatap Asuna dengan perasaan campur aduk. Di satu sisi, dia mengerti keinginan Asuna untuk mengejar mimpi dan menemukan kebahagiaannya di tempat lain. Namun, di sisi lain, dia tidak ingin kehilangan Asuna. Mereka telah menjadi teman dekat selama bertahun-tahun dan Han tidak tahu bagaimana hidupnya akan terasa tanpa kehadiran Asuna di sampingnya.


"Asuna, apa kau yakin tentang keputusanmu ini?" tanya Han dengan ragu. "Apa kau tidak akan merindukan keluargamu dan teman-temanmu di sini?"


Asuna memandang Han dengan lembut. "Tentu saja aku akan merindukan mereka. Tapi aku juga tahu bahwa aku harus mengejar mimpiku. Aku harus mencari tempat di mana aku merasa bisa menjadi diriku sendiri dan menemukan kebahagiaan sejati."


Han mengangguk mengerti. Dia tahu bahwa Asuna adalah orang yang teguh pada pendiriannya dan sangat berani dalam mengambil keputusan. Dia tidak akan bisa menghalangi keinginan Asuna untuk mengejar mimpinya.


"Aku akan selalu mendukungmu, Asuna," kata Han akhirnya. "Aku akan selalu berada di sampingmu dan membantumu dalam apa pun yang kau butuhkan."


Asuna tersenyum bahagia. "Han. Kau adalah teman terbaikku dan aku sangat bersyukur bisa memiliki teman seperti kau."


Setelah beberapa saat terdiam, Asuna kembali membuka percakapan dengan Han. "Saat aku membicarakan ini dulu, kau juga ingin ikut denganku karena kau tertarik menjadi peternak sapi bukan?" tanya Asuna.


Han tersenyum kecil dan mengangguk. "Ya, memang benar. Aku tertarik untuk mencoba hal yang baru dan mengembangkan diri di bidang peternakan. Tapi aku juga tahu bahwa ini bukanlah sesuatu yang bisa dilakukan dengan mudah. Butuh waktu dan modal yang tidak sedikit."


Asuna mengangguk setuju. "Benar, aku juga menyadari hal itu. Tapi setidaknya aku punya cita-cita yang jelas dan aku ingin mencoba untuk menggapainya. Bagaimana denganmu?"


Han menatap Asuna dengan penuh perhatian. "Aku juga memiliki cita-cita yang ingin aku capai. Tapi aku merasa masih belum siap untuk meninggalkan kota ini dan memulai hidup yang baru di luar negeri. Aku masih ingin belajar dan mengembangkan diriku di sini dulu."


Asuna mengerti perasaan Han. Dia juga tidak ingin memaksakan kehendaknya pada Han dan memaksa Han untuk ikut dengannya ke luar negeri. Tapi dia merasa sedikit kecewa juga karena sebelumnya mereka sudah membicarakan rencana ini bersama.


"Baiklah, aku mengerti," kata Asuna akhirnya. "Tapi setidaknya, kalau suatu saat aku sudah siap untuk pergi, aku harap kau bisa mendukungku dan mungkin bahkan bisa ikut bersamaku."


Han mengangguk mantap. "Tentu saja, aku akan selalu mendukungmu dan siap membantumu kapan saja. Kita akan saling mendukung dalam meraih cita-cita kita masing-masing."


Asuna tersenyum puas mendengar jawaban Han. Dia merasa lega karena dia memiliki seseorang seperti Han yang selalu ada untuknya dan selalu siap mendukungnya dalam setiap langkah yang dia ambil. Meskipun mereka memiliki rencana yang berbeda-beda, tapi dia yakin mereka akan selalu bersama dan saling mendukung satu sama lain.


Mereka lalu melanjutkan pembicaraan mereka tentang mimpi dan cita-cita mereka. Asuna merasa senang karena dia bisa berbicara dengan Han tentang semua hal yang ada dalam pikirannya. Dia merasa lebih ringan dan lebih bersemangat untuk meraih mimpi-mimpinya yang ada di depan mata.