
Saat itu Asuna dan Han masih menikmati pemandangan matahari terbit yang begitu indah. Udara yang segar dan tenang membuat suasana semakin damai. Han merasa senang bisa membawa Asuna ke tempat ini dan melihat kebahagiaan di wajahnya.
Han: "(senyum) Kau tahu, kadang-kadang kita tak perlu pergi jauh-jauh untuk menemukan keindahan. Cukup dengan memperhatikan keindahan yang ada di sekitar kita."
Asuna: "(tertawa) Tapi aku masih ingin ke sana suatu saat nanti. Ke New Zealand, tempat di mana novel itu berlatar."
Han: "(tersenyum) Tentu saja, suatu saat nanti kita bisa ke sana bersama."
Asuna: T"adi pagi aku membaca sebuah novel, tentang seorang gadis yang tinggal di Pedesaan New Zealand. Dia menceritakan tempat-tempat yang indah dan menenangkan di sana. Aku benar-benar ingin pergi ke sana suatu hari nanti."
Han:"Itu pasti akan menjadi pengalaman yang luar biasa. Aku sendiri belum pernah ke sana, tapi aku selalu mendengar cerita tentang keindahan alam di sana."
Asuna: 'Ya, benar-benar indah. Tapi aku tahu itu akan menjadi perjalanan yang sangat mahal dan jauh.'
Han: "Tapi jangan pernah menyerah pada impianmu, Asuna. Siapa tahu suatu hari nanti kau bisa pergi ke sana."
Asuna: "Terima kasih, Han. Aku harap suatu hari nanti impianku bisa menjadi kenyataan."
Han : "Jadi jika kau ke sana apa rencana selanjutnya ?"
Asuna : "mungkin aku akan tinggal di sana memiliki rumah dan perternakan sapi atau domba di pedesaan New Zealand, dengan begitu aku bisa menikmati matahari sepanjang waktu, kalau aku masih disini sampai matipun Takan terwujud."
Han: "wah aku sangat tertarik dengan memeras susu sapi, mimpimu sangat cocok denganku Asuna hehehe."
Asuna: "(Tertawa tipis,) Itu artinya kita harus memiliki rencana untuk pergi dari kota ini Han."
Han: "Kau tahu, aku sempat mengira kau adalah orang yang membosankan.'
Asuna: "Hah? Kenapa?'
Han: "Karena kau selalu menghindari percakapan dengan orang lain, dan terkesan seperti tidak memiliki minat yang besar. Tapi ternyata kau memiliki minat yang besar pada tempat-tempat indah."
Asuna: "Aku memang bukan tipe orang yang mudah berbicara dengan orang lain, tapi bukan berarti aku tidak memiliki minat atau passion."
Han: "Aku tahu, aku salah mengira. Kau sebenarnya sangat menarik dan memiliki sisi yang menarik."
Asuna tersenyum malu mendengar pujian dari Han. Mereka berdua tetap menikmati pemandangan matahari terbit yang indah.
Han: "Bagaimana kalau kita tinggal di gedung ini saja? Kita tinggal di ruangan yang sudah kita dekor dan menikmati pemandangan setiap hari di atas sini."
Asuna: "(tertawa) Bagaimana makan dan minum? Apa kita harus menangkap burung di atas gedung?'
Han: "(tertawa) Kita bisa memanen sayuran di atap, dan membawa bekal dari bawah. Kita akan hidup sehat dan bahagia.'
Han: "Itu karena hidup harus diisi dengan petualangan dan kegilaan. Tidak ada yang lebih membosankan daripada hidup yang monoton dan teratur."
Asuna: "(tersenyum) Kau benar. Aku merasa hidupku terasa lebih hidup ketika bersamamu."
Han": (senyum) Aku juga merasa sama, Asuna. Kita bisa membuat hidup ini menjadi petualangan yang luar biasa."
Setelah menikmati matahari terbit, perut Asuna tiba-tiba mengeluarkan suara yang cukup nyaring. Asuna merasa sedikit malu dan canggung, namun Han justru tertawa kecil.
Han: "Hehe, nampaknya perutmu juga ingin menikmati pemandangan yang indah di pagi hari."
Asuna: (tersenyum kecut) "Benar-benar lucu ya kamu, Han."
Han: "Maaf, maaf. Tapi kau tahu kan kalau sarapan adalah hal yang penting untuk memulai hari dengan energi yang cukup."
Asuna: (tersenyum) "Ya, aku tahu. Kita makan apa nanti?"
Han: "Aku sudah siapkan beberapa roti dan jus buah di tasku. Kita bisa sarapan di sini sambil menikmati pemandangan kota yang indah dari atas gedung."
Asuna: "Terima kasih, Han. Kau selalu tahu caranya membuatku senang."
Han: (tersenyum) "Senang bisa membuatmu bahagia, Asuna.
Han akhirnya menyadari bahwa Asuna memang benar-benar lapar dan tidak hanya bercanda. Dia lalu mengeluarkan beberapa bungkus roti dari tasnya dan menawarkan ke Asuna.
"Maafkan aku, aku lupa bahwa kau pasti lapar setelah berlari seperti tadi," ucap Han sambil memberikan bungkus roti pada Asuna.
Asuna merasa sangat terharu dengan kebaikan hati Han. Dia meraih bungkus roti itu dan tersenyum ke arah Han.
"Terima kasih, Han. Kau selalu tahu apa yang harus dilakukan untuk membuatku merasa baik," ucap Asuna sambil membuka bungkus roti itu dan mulai memakannya.
Han tersenyum, merasa senang bisa membuat Asuna merasa bahagia. Mereka lalu duduk bersama dan menikmati pemandangan indah di sekitar mereka sambil memakan roti bersama. Waktu terasa berlalu begitu cepat, dan sebelum mereka menyadarinya, matahari sudah mulai terik di langit
Han dan Asuna pun mulai merapikan tempat mereka dan bersiap-siap untuk kembali ke rumah. Mereka turun dari gedung Decent Place sambil berbincang-bincang ringan tentang pengalaman mereka tadi pagi.
Han mengantarkan Asuna ke depan pintu rumahnya dan mengucapkan selamat tinggal. Asuna merasa sedih harus berpisah dengan Han, namun dia juga merasa bahagia karena telah menghabiskan waktu yang menyenangkan bersama Han.
"Terima kasih untuk hari yang menyenangkan, Han. Aku benar-benar menikmatinya," ucap Asuna sambil tersenyum pada Han.
"Terima kasih juga, Asuna. Aku senang bisa membuatmu bahagia," ucap Han sambil tersenyum balik.
Mereka berpelukan sebentar sebelum akhirnya berpisah dan kembali ke masing-masing rumah. Asuna merasa hatinya hangat setelah menghabiskan waktu bersama Han, dan dia tahu bahwa dia pasti akan mengingat hari ini untuk selamanya.