
Besoknya di sekolah, Asuna dan Rina berjalan menuju kelas dengan perasaan campur aduk. Asuna masih penasaran dengan alasan di balik kematian Leo, sementara Rina juga merasa bingung dan belum mendapatkan informasi yang jelas mengenai hal tersebut. Mereka berdua saling berpandangan, mengisyaratkan bahwa mereka berdua memiliki pertanyaan yang sama.
Ketika mereka tiba di kelas, suasana terasa berat. Murid-murid yang berkerumun di koridor tampak sibuk membicarakan kejadian tragis yang menimpa Leo. Asuna memutuskan untuk mencari tahu lebih lanjut dan mencoba mendapatkan informasi dari teman-temannya.
Dia mendekati beberapa temannya yang duduk di dekatnya dan dengan hati-hati bertanya tentang apa yang mereka ketahui tentang kematian Leo. Namun, tanggapan yang dia dapatkan tidaklah jelas. Beberapa temannya juga hanya mendengar desas-desus tanpa memiliki informasi yang pasti. Beberapa orang lainnya menghindari topik tersebut, mungkin karena masih terlalu sedih atau tidak nyaman membicarakannya.
Rina, yang melihat upaya Asuna untuk mencari tahu, juga bergabung dalam percobaan tersebut. Mereka berdua saling memberikan dukungan dan bersama-sama mencoba mengumpulkan informasi yang dapat memberikan gambaran yang lebih jelas tentang apa yang sebenarnya terjadi.
Namun, setelah berusaha sepanjang hari, mereka menyadari bahwa mereka belum mendapatkan jawaban yang mereka cari. Tidak ada yang tahu pasti alasan di balik keputusan tragis Leo. Keadaan semakin membuat mereka bingung dan sedih.
Di tengah kekecewaan, Asuna dan Rina saling berbagi perasaan mereka. Mereka mengakui bahwa mereka berdua pernah mengalami momen sulit dalam hidup mereka sendiri. Mereka saling menguatkan dan berjanji untuk saling mendukung satu sama lain dalam menghadapi kesulitan ini.
Asuna menyadari bahwa meskipun dia tidak dapat mengubah apa yang telah terjadi pada Leo, dia bisa memanfaatkan pengalaman ini sebagai pelajaran untuk lebih peduli pada orang-orang di sekitarnya. Dia berkomitmen untuk mendengarkan dan merespons isu-isu kesehatan mental dengan lebih sensitif, serta memperluas pengetahuannya tentang bagaimana memberikan dukungan yang tepat kepada mereka yang membutuhkannya.
Dengan hati yang sedih dan tetap bertekad, Asuna dan Rina meninggalkan sekolah pada hari itu dengan pertanyaan yang belum terjawab. Mereka tahu bahwa perjalanan untuk mencari jawaban dan pemulihan akan memakan waktu, tetapi mereka berjanji untuk saling mendukung dan tetap kuat.
Asuna dan Rina duduk di bangkunya ketika Josh mendekat dan mengucapkan kata-kata yang membuat mereka terkejut. Asuna memandang Josh dengan ekspresi campur aduk antara kebingungan dan rasa prihatin.
"Apa maksudmu, Josh?" tanya Asuna dengan suara hati-hati.
Josh menatap jauh ke kejauhan sejenak sebelum mengalihkan pandangannya ke Asuna. "Aku masih merasa marah padanya karena apa yang dia lakukan, tapi aku tidak pernah berharap dia akan berakhir seperti ini," kata Josh dengan nada sedih.
Asuna bisa merasakan kebingungan dan kebingungan dalam kata-kata Josh. Dia tahu bahwa Leo pernah terlibat dalam konflik dengan Josh, dan sekarang Josh merasa campur tangan mereka dalam insiden ini.
Rina, yang duduk di samping Asuna, menatap Josh dengan serius. "Josh, kita tidak bisa memprediksi apa yang ada di dalam pikiran seseorang. Kita mungkin tidak tahu apa yang dia alami atau bagaimana perasaannya. Yang penting sekarang adalah kita menghormati dan mengingat Leo dengan baik," kata Rina dengan bijak.
Asuna mengangguk setuju, "Kamu benar, Rina. Ini saatnya untuk menghargai kehidupan dan belajar dari pengalaman yang telah kita lewati. Bukan saat untuk memelihara dendam atau menyalahkan diri sendiri."
Josh menatap Asuna dan Rina dengan tatapan campuran. "Kalian benar, aku perlu belajar untuk melepaskan dendam dan menemukan cara untuk melanjutkan hidup dengan lebih baik. Terima kasih, kalian berdua," ucap Josh dengan suara lembut.
Asuna, Rina, dan Josh duduk di bangku belakangnya dalam keheningan sejenak, merenungkan apa yang telah terjadi dan memikirkan bagaimana mereka bisa tumbuh dari pengalaman ini. Mereka saling menguatkan dan berjanji untuk menjaga semangat yang positif saat melanjutkan perjalanan mereka.
Dalam diam, mereka berkomitmen untuk belajar dari kesalahan masa lalu, mencari damai di hati mereka, dan membangun masa depan yang lebih baik, di mana kehidupan orang lain tidak lagi tergantung pada dendam dan permusuhan.
Adegan itu terjadi dengan tiba-tiba. Suasana sekolah yang awalnya damai dan tenang berubah menjadi kekacauan ketika segerombolan gangster bermotor datang dengan membawa senjata dan melempari batu ke sekolah. Siswa-siswa berhamburan berusaha mencari tempat yang aman untuk bersembunyi.
Asuna, dalam kepanikan, berlari sekuat tenaga mencari tempat yang aman. Namun, takdir berkata lain. Ketika dia berusaha melewati lorong sekolah, batu yang dilempar oleh salah satu gangster mengenai kepalanya dengan keras. Asuna terjatuh dan pingsan di tempat itu.
Kejadian itu menyebabkan kekacauan semakin meluas. Beberapa siswa lainnya juga terluka akibat lemparan batu dan terjebak dalam keadaan yang kacau. Suasana sekolah dipenuhi dengan suara tangisan, teriakan, dan kepanikan.
Guru dan staf sekolah berusaha sekuat tenaga untuk mengendalikan situasi, memanggil polisi, dan meminta bantuan medis untuk menangani korban luka. Namun, suasana masih sangat ricuh dan memerlukan waktu untuk situasi kembali terkendali.
Sementara itu, Asuna terbaring tak sadarkan diri di tengah kekacauan. Teman-temannya yang sadar akan keadaannya dengan cepat membawanya ke ruang perawatan yang lebih aman dan menunggu bantuan medis tiba.
beberapa menit kemudian sirine polisi datang dan membuat para ganster tersebut pergi meninggalkan sekolah Meraka lolos dari kejaran polisi, saat bantuan medis tiba dan situasi semakin terkendali, Asuna dilarikan ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan yang sesuai. Teman-temannya yang khawatir dan terluka juga ditangani dengan segera oleh tenaga medis.
Peristiwa tersebut mengguncang seluruh komunitas sekolah dan memunculkan kebutuhan untuk mengambil tindakan serius terhadap tindakan kekerasan yang terjadi. Pihak berwenang dan pihak sekolah berjanji untuk menyelidiki insiden tersebut dan mengambil langkah-langkah yang tepat untuk mencegah kejadian serupa di masa depan.
Sementara Asuna terbaring di rumah sakit, para temannya dan seluruh siswa sekolah berdoa untuk kesembuhannya. Mereka berharap Asuna dan siswa lain yang terluka segera pulih dan bahwa kejadian mengerikan ini menjadi titik balik dalam mewujudkan sekolah yang aman dan damai bagi semua siswa.
Rina dan Josh datang menjenguk Asuna di rumah sakit dengan masih menggunakan seragam sekolah. Mereka memasuki ruangan Asuna yang sedang berbaring lemah dan pucat di tempat tidur. Rina terlihat sedih dan prihatin melihat kondisi sahabatnya tersebut. Mereka berusaha memberikan semangat kepada Asuna, berharap agar dia segera pulih dan kembali seperti sediakala.
Saat mereka masih berada di ruangan Asuna, Han, yang mendapatkan informasi tentang serangan di sekolah Asuna, menelepon Rina. Ketika Rina menerima panggilan tersebut, dia bisa merasakan kekhawatiran yang jelas terdengar dalam suara Han. Han ingin memastikan bahwa Asuna dalam keadaan aman dan baik-baik saja.
Rina dengan lembut menjawab telepon Han dan memberikan informasi tentang keadaan Asuna. Dia menjelaskan bahwa Asuna sedang terbaring di rumah sakit setelah terluka akibat serangan di sekolah. Rina juga memberikan jaminan kepada Han bahwa Asuna akan segera pulih dengan perawatan medis yang diberikan.
Han merasa lega mendengar bahwa Asuna masih hidup dan sedang dirawat di rumah sakit. Namun, kecemasannya masih ada. Dia merasa tak tenang karena tidak dapat menghubungi Asuna secara langsung di awal. Han meminta Rina agar memberitahukan rumah sakit Asuna di rawat, Han berniat untuk menjenguk Asuna dengan Kenji.
Setelah berbicara dengan Han, Rina kembali ke samping Asuna dan Josh. Mereka bertiga berdiskusi tentang kejadian mengerikan di sekolah dan bagaimana mereka bisa membantu Asuna dalam pemulihannya. Mereka berharap agar Asuna dapat kembali bersekolah dalam waktu dekat dan melanjutkan perjuangan mereka untuk menciptakan lingkungan yang aman bagi semua siswa.
Dalam saat-saat yang sulit seperti ini, persahabatan mereka semakin kuat dan saling mendukung satu sama lain. Mereka bersumpah untuk tetap bersama dan melawan setiap rintangan yang datang dalam perjalanan mereka.
Sementara itu, Asuna masih terlelap di rumah sakit, tidak sadar akan kekhawatiran dan perjuangan yang dilakukan oleh teman-temannya. Namun, dalam alam bawah sadarnya, dia merasakan kehangatan dan cinta dari mereka yang selalu ada di sisinya, memberinya kekuatan untuk pulih dan menghadapi masa depan dengan tegar.