
Asuna pulang ke rumah setelah hari yang melelahkan di sekolah. Dia merasa terganggu dengan kejadian di kantin tadi dan ingin bercerita kepada Han, sahabat dekatnya. Asuna masuk ke kamarnya, duduk di atas tempat tidur, dan mengambil ponselnya. Dia mencari nomor Han di daftar kontak dan menelponnya.
Tuuut... tuuut... tuuut...
"Hello?" suara Han terdengar di seberang sana.
"Han, ini Asuna," kata Asuna dengan nada cemas.
"Oh, hai Asuna. Ada apa?" tanya Han.
Asuna mulai menceritakan apa yang terjadi di sekolah tadi, bagaimana Leo mencoba mengajaknya makan di kantin, dan bagaimana mereka berhadapan dengan kelompok pembully.
Han mendengarkan dengan seksama dan menggumamkan beberapa kata-kata penghiburan. Namun, Asuna bisa mendengar suara berisik di latar belakang saat Han berbicara.
"Maaf ya, Asuna. Aku lagi di warnet nih," kata Han dengan suara yang terdengar agak tergesa-gesa.
"Asuna merasa sedikit kecewa. Dia merasa Han tidak sepenuhnya fokus mendengarkan ceritanya. Namun, dia mencoba mengerti bahwa Han mungkin sedang sibuk dengan kegiatan di warnet.
"Oke, nggak masalah. Aku cuma ingin berbagi cerita saja," kata Asuna dengan suara yang agak reda.
Han berjanji akan lebih fokus mendengarkan cerita Asuna di lain waktu dan meminta maaf karena harus terburu-buru saat ini. Asuna mengerti dan mereka berbicara sebentar lagi sebelum akhirnya mengakhiri panggilan.
Setelah menutup telepon, Asuna merasa agak kesepian di kamarnya. Dia memutuskan untuk menghabiskan waktu dengan hobi kesukaannya, membaca buku. Dia mengambil sebuah novel dari rak buku dan duduk di meja belajar. Dia berusaha mengalihkan pikirannya dari kejadian di sekolah tadi dan fokus pada cerita dalam buku tersebut.
Asuna sedang asyik membaca buku ketika pintu depan rumahnya terbuka dengan tiba-tiba. Dia terkejut ketika melihat Farhan, adiknya, pulang dengan keadaan kotor. Wajah Farhan terlihat cemas dan terlihat ada tanda-tanda bekas pukulan di lengannya.
"Kak Asuna, maafkan aku masuk begitu saja. Aku hanya ingin segera pulang," kata Farhan sambil bernafas terengah-engah.
"Asuna langsung merasa khawatir melihat kondisi Farhan. Dia buru-buru menghampiri Farhan dan bertanya apa yang terjadi."
"Farhan, kamu kenapa? Kok kotor begini? Ada apa?" tanya Asuna dengan khawatir.
Farhan menghela nafas panjang dan menceritakan apa yang terjadi. Ternyata, ketika dia pulang dari rumah temannya, dia melihat seorang anak nakal sedang membully anak seusianya. Farhan, yang tidak tahan melihat anak itu dianiaya, berusaha membantu dan memisahkan mereka. Namun, dalam prosesnya, dia terlibat dalam perkelahian dan mendapat beberapa pukulan.
Asuna mengerti alasan Farhan dan merasa bangga padanya karena telah berani membela orang yang tertindas. Namun, dia juga khawatir tentang kondisi Farhan yang kotor dan terluka.
"Farhan, kamu memang superhero tapi kamu harus hati-hati, kamu ini manusia biasa, kakak gak mau kau kanapa-napa, sekarang kamu harus membersihkan dirimu dan merawat lukamu," kata Asuna dengan suara penuh perhatian. "Aku akan membantumu membersihkan pakaianmu dan merawat luka-lukamu ya."
Asuna segera mengambil obat dan peralatan pertolongan pertama dari kotak di kamarnya. Dia membantu Farhan membersihkan luka-lukanya dan membersihkan pakaian kotor yang dikenakannya. Farhan mengucapkan terima kasih kepada Asuna sambil tersenyum.
"Terima kasih, kak Asuna. Aku senang kamu ada di sini untukku," kata Farhan dengan tulus.
Asuna tersenyum balik dan merasa senang bisa membantu. Setelah membersihkan luka dan pakaian Farhan, mereka duduk bersama di ruang tamu dan mengobrol tentang kejadian di sekolah, termasuk insiden pembullyan yang dialami oleh teman Farhan.
Mereka saling bertukar cerita dan berbicara tentang pentingnya menghormati dan membantu sesama teman. Asuna merasa terinspirasi oleh tindakan Farhan yang berani dan berbicara tentang pentingnya berani berdiri untuk kebenaran.
Mereka menghabiskan waktu bersama dengan penuh tawa dan keceriaan, serta saling memberikan dukungan satu sama lain. Asuna merasa bersyukur memiliki seorang Adik seperti Farhan yang selalu peduli dan berani membela orang dengan kebenaran.
Asuna datang ke sekolah seperti biasa, meskipun masih teringat dengan pertengkaran yang melibatkan Farhan kemarin. Dia memutuskan untuk tetap fokus pada pelajarannya dan berusaha untuk tidak terpengaruh oleh gangguan di sekolah.
Setelah melewati lorong-lorong sekolah yang ramai, Asuna akhirnya tiba di kelasnya. Dia duduk di bangkunya yang biasa, di baris depan sebelah jendela. Rina sudah ada di sana, duduk di sampingnya.
"Asuna, apa kabar?" Rina bertanya dengan ramah.
"Asuna mengangguk, "Baik, terima kasih. Bagaimana denganmu?"
"Baik juga," Rina menjawab sambil tersenyum.
Saat itu, Josh masuk ke dalam kelas dengan wajah tampannya yang selalu menarik perhatian banyak siswi. Dia melirik ke arah Asuna dan tersenyum kecil sebelum duduk di bangku di belakang Asuna.
Asuna merasa sedikit tidak nyaman dengan kehadiran Josh di belakangnya, mengingat masa lalu mereka yang pernah berpacaran dan hubungan mereka yang singkat. Namun, dia mencoba untuk tidak memperlihatkan rasa tidak nyamannya dan tetap fokus pada pelajaran.
Pelajaran berlangsung seperti biasa, meskipun Asuna kadang-kadang merasa terganggu dengan tatapan Josh yang terasa mengawasi dari belakang. Setelah pelajaran terakhir selesai, Asuna bersiap-siap untuk pulang.
Namun, sebelum dia bisa meninggalkan kelas, Josh mendekatinya. "Asuna, bisa ngobrol sebentar?"
Asuna merasa ragu, tetapi dia setuju dan mengikuti Josh keluar dari kelas menuju area yang sepi di sekolah.
Asuna dan Josh mengajak ke lorong sekolah yang sepi. Josh terlihat gugup, sementara Asuna merasa bingung dengan situasi yang sedang terjadi.
Asuna terdiam sejenak, tidak tahu harus berkata apa. Dia tidak tahu bagaimana merespons pernyataan Josh, dia tau bahwa dulu Josh yang pernah menjadi kekasihnya.
Sebelum Asuna bisa menjawab, Josh tiba-tiba meraih tangan Asuna dan menciumnya. Asuna terkejut dan mencoba melepaskan diri, tetapi Josh terlalu kuat. Asuna mencoba menghindari ciuman Josh dan berusaha melepaskan tangannya, tetapi situasinya menjadi semakin tidak nyaman.
Tiba-tiba, Cindy dan Farah muncul di tempat itu. Mereka berdua terkejut melihat Asuna dan Josh.
"Oohhh Maiii gaad, jadi ini yang kalian lakukan, ya?" Cecar Cindy dengan sinis. "Asuna, kamu memang pelacur seperti yang kami duga!"
Asuna merasa marah dan terpojok. Dia mencoba menjelaskan situasinya, tetapi Cindy dan Farah tidak mendengarkannya.
"Kami akan melaporkan ini pada guru dan kepala sekolah!" Ancam Farah sambil memegang ponselnya.
Josh yang merasa terjebak dan marah karena tindakan Cindy, tiba-tiba berdiri dan mengejar Cindy yang berusaha melarikan diri. Cindy dan Farah berlari, dan Josh mengikuti mereka dengan penuh amarah.
Asuna merasa bingung dan cemas. Dia tidak tahu apa yang harus dilakukan. Dia merasa dikepung oleh situasi yang rumit ini. Dia berpikir cepat dan memutuskan untuk menghubungi Rina untuk meminta bantuan.
Asuna mengeluarkan ponselnya dan menelepon Rina, memberitahukan situasi yang sedang terjadi. Rina menyanggupi untuk datang ke tempat dia sekarang secepatnya untuk membantu Asuna.
Sambil menunggu Rina datang, Asuna mencoba untuk tetap tenang dan mengatur pikirannya. Dia berharap Josh bisa menyelesaikan masalah ini tanpa harus terlibat dalam konflik fisik.
Beberapa menit kemudian, Rina tiba dan langsung berlari menuju Asuna. Mereka berdua mencari tahu apa yang terjadi dan berusaha mencari Cindy, Farah, dan Josh.
Josh, yang sudah berhasil menghadang Cindy dan Farah, memohon kepada mereka untuk memahaminya dan tidak melaporkan tindakan mereka kepada guru. Cindy, yang selalu licik, tersenyum dengan senyum sinis di wajahnya.
"Hei, Josh, apa yang kamu mau sekarang?" ujar Cindy dengan nada merendahkan. "Aku bisa melaporkanmu ke guru jika aku mau. Tapi aku punya proposal untukmu."
Asuna dan Rina memandang kebingungan. Mereka ingin memastikan Josh tidak terlibat dalam masalah lebih lanjut, tetapi mereka juga tidak ingin memberikan keuntungan kepada Cindy.
"Oke, apa proposalmu?" tanya Josh dengan ragu.
Cindy tersenyum lebar, "Kamu harus mengundurkan diri dari tim basketnya dan Jauhi Asuna, Jika kamu setuju, aku tidak akan melaporkan apa yang terjadi pada guru."
Josh merasa terjebak. Dia sangat ingin tetap bermain basket apalagi beberapa hari lagi sedang ada turnamen basket, tetapi dia juga tidak ingin Cindy dan Farah membuat masalah lebih lanjut. Dia melihat kepada Asuna dan Rina, mencari dukungan.
Asuna dan Rina bertukar pandang sejenak, kemudian Asuna berbicara, "Josh, kami tidak ingin kamu mengundurkan diri dari tim basket atau menghindari kami. Tapi keputusan ada padamu."
Josh terlihat bimbang, tetapi akhirnya dia mengangguk dengan tegas, "Baiklah, aku setuju dengan syarat kamu tidak melaporkan apa yang terjadi kepada guru."
Cindy tersenyum puas. "Bagus, sekarang kamu tahu siapa yang sebenarnya punya kekuasaan di sekolah ini," ucapnya sambil melangkah pergi bersama Farah.
Setelah peristiwa di sekolah, Cindy mulai memanfaatkan situasi tersebut untuk mendapatkan keuntungan pribadi dari Asuna. Dia mengancam akan melaporkan apa yang terjadi kepada guru jika Asuna tidak melakukan apa yang dia inginkan.
Suatu hari, Cindy menghampiri Asuna di lorong sekolah, di antara kelas. Dia menatap Asuna dengan tatapan sombong, sambil menggenggam ponsel di tangannya.
"Hei, Asuna, apa kabar?" ujar Cindy dengan nada sinis.
Asuna merasa jengah, tetapi dia mencoba untuk tetap tenang. "Apa yang kamu inginkan, Cindy?" tanya Asuna.
Cindy tersenyum licik. "Aku ingin kamu membantu aku dalam tugas rumah matematika. Jika tidak, aku akan melaporkanmu ke guru tentang apa yang terjadi dengan Josh."
Asuna merasa marah dan frustasi, tetapi dia tidak ingin masalahnya dengan Josh menjadi lebih besar. Dia ragu-ragu, tetapi akhirnya dia setuju untuk membantu Cindy agar tidak melaporkannya kepada guru.
Cindy tersenyum puas. "Baiklah, kita akan belajar bersama di perpustakaan setelah sekolah."
Asuna setuju dengan enggan, meskipun dia merasa tidak nyaman dengan situasi ini. Dia tidak ingin Cindy memanfaatkannya, tetapi dia juga ingin melindungi Josh dan menjaga agar situasinya tidak lebih buruk.
Setelah sekolah, Asuna pergi ke perpustakaan dan bertemu dengan Cindy. Mereka duduk bersama-sama dan Cindy meminta Asuna untuk membantunya dengan tugas rumah matematika yang sulit. Asuna dengan sabar membantu Cindy, meskipun Cindy terus menunjukkan sikap sombong dan merendahkan.
Setelah mereka selesai, Cindy tersenyum dan berkata, "Baiklah, kamu bisa pergi sekarang. Ingat, jangan ceritakan apa pun tentang Josh pada siapa pun. Aku punya bukti yang cukup untuk melaporkanmu jika kamu melanggar janji."
Asuna mengangguk dengan enggan, merasa tertekan oleh ancaman Cindy. Dia meninggalkan perpustakaan dengan perasaan campur aduk, merasa terjebak dalam situasi yang tidak diinginkannya.
Cindy terus memanfaatkan Asuna, memintanya untuk membantu dalam tugas-tugas rumah, mengambil pekerjaan rumah tangga di sekolah, atau memberikan layanan lain yang diinginkan oleh Cindy. Asuna merasa semakin terjebak dan terbebani oleh ancaman Cindy, tetapi dia tidak tahu apa yang harus dilakukan.
Namun, suatu hari, Rina yang curiga melihat perilaku aneh Asuna dan memutuskan untuk mengajak Asuna bicara secara pribadi. Asuna akhirnya membagikan masalahnya kepada Rina, termasuk bagaimana Cindy memanfaatkannya dan mengancamnya agar tidak melaporkan apa yang terjadi kepada guru.
Rina marah mendengar hal itu dan bersama-sama mereka menyusun rencana untuk menghadapi Cindy. Mereka memutuskan untuk menghadapinya secara tegas dan meminta bantuan