Decent Place

Decent Place
Kemarahan Josh



Asuna tiba di sekolah keesokan harinya dengan perasaan gugup. Begitu dia memasuki sekolah, dia merasa banyak siswa yang melihatnya dengan pandangan sinis. Beberapa dari mereka berbisik-bisik dan menunjuk ke arahnya, membuat Asuna merasa semakin tidak nyaman.


Asuna merasa yakin bahwa berita tentang ciumannya dengan Josh yang di sebar oleh Cindy sudah menyebar ke seluruh sekolah. Dia merasa malu dan frustasi, karena dia tahu bahwa banyak orang yang menilainya tanpa mengenal ceritanya sebenarnya. Dia merasa seperti menjadi pusat perhatian yang tidak diinginkan.


Asuna mencoba menghindari tatapan sinis dari sesama siswa dan berusaha untuk tetap tenang. Namun, hatinya terasa berat dan pikirannya kacau. Dia merasa terjebak dalam situasi yang sulit dan tidak tahu apa yang harus dilakukan.


Ketika dia berjalan menuju kelasnya, dia melihat Rina sudah ada di depan pintu kelas. Rina tampak khawatir dan Asuna merasa gembira melihat temannya itu.


"Rina," panggil Asuna dengan suara pelan.


Rina menoleh dan melihat Asuna. Dia tersenyum, tapi tampak sedikit cemas. "Asuna, aku tahu tentang beritanya. pasti ini pasti akan menjadi lebih buruk, Bagaimana keadaanmu?"


Asuna merasa terharu dengan perhatian Rina. "Aku sedikit gugup dan malu, Rina. Tapi aku berusaha untuk tetap kuat," ucap Asuna.


Rina mengangguk. "Kamu tidak sendirian, Asuna. Aku di sini untukmu, dan aku tahu kamu bukanlah seperti yang diberitakan oleh Cindy."


Asuna tersenyum lemah. "Iyaa Rin."


Ketika bel berbunyi, mereka berdua masuk ke dalam kelas. Asuna merasa tegang saat memasuki kelas dan melihat reaksi dari teman-teman sekelasnya. Beberapa dari mereka masih meliriknya dengan pandangan sinis, tapi beberapa lainnya tampak mengerti dan bersimpati.


Asuna mengambil tempat duduknya dan mencoba untuk fokus pada pelajaran. Namun, pikirannya masih terganggu dengan situasi yang sedang dihadapinya. Dia berharap bahwa semua ini akan segera berlalu dan dia bisa mendapatkan dukungan dari teman-temannya


Saat istirahat Rina ingin pergi ke kantin dia mengajak Asuna namun Asuna memilih untuk tetap di kelas. Saat Cindy ingin keluar dari kelas, Asuna dan Rina terkejut mendengar keributan di luar kelas mereka. Mereka segera berdiri dan bergegas keluar kelas untuk melihat apa yang sedang terjadi. Begitu mereka sampai di kantin, mereka melihat Josh yang marah dan mengamuk, mendorong Cindy dengan keras. Beberapa siswa mencoba menahan Josh, namun dia terus memaki Cindy dengan marah.


Asuna dan Rina berusaha mendekati Josh, tetapi kerumunan siswa yang menonton membuat sulit bagi mereka untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi. Mereka bisa mendengar teriakan Josh yang frustasi, sementara Cindy terlihat ketakutan dan menangis.


Tanpa ragu, Asuna mencoba menerobos kerumunan untuk mencapai Josh. Dia tahu dia harus menghentikan kekerasan itu. Akhir-akhir ini, meskipun ada perselisihan antara mereka, dia tidak ingin ada siapa pun yang terluka.


Rina ikut mengikuti Asuna, berusaha membantu mengatur kerumunan siswa. Akhirnya, dengan susah payah, Asuna berhasil mencapai Josh. Dia mencoba meredakan kemarahannya, berbicara padanya dengan lembut, berusaha membuatnya menghentikan tindakannya.


"Sudahlah, Josh! Tenanglah!" ucap Asuna dengan nada yang penuh perhatian.


Josh terlihat terengah-engah, dia masih marah dan tidak bisa mengendalikan emosinya. Namun, kata-kata Asuna seolah memberikan efek pada dirinya. Dia melihat wajah Asuna yang khawatir, dan dia merasa kehilangan.


"Sialan, Asuna," gumam Josh, "Aku tidak bisa lagi menahan marahku. Cindy menyebarkan berita itu, bahkan setelah kita mengikuti kemauannya untuk keluar dari tim basket dan menjauhimu."


Asuna mengerti keadaan Josh, dia tahu bahwa Cindy adalah dalang di balik cerita ciuman mereka yang tersebar luas. Dia merasa marah terhadap Cindy juga, tetapi dia ingin menghentikan kekerasan dan menyelesaikan masalah ini dengan cara yang lebih bijaksana.


"Asuna benar, Josh. Kita harus menghadapinya dengan cara yang lebih baik," Rina mencoba memberikan dukungan.


Josh masih terlihat kesal, tetapi dia mengerti bahwa tindakannya yang kasar bukanlah solusi yang tepat. Dia menghela nafas dalam-dalam, mencoba menenangkan dirinya


Cindy terlihat terpojok di tengah kerumunan siswa yang mengepungnya, termasuk Josh yang masih marah. Tanpa berkata apa-apa, Cindy menunduk sambil menangis. Namun, beberapa saat kemudian dia berteriak dengan suara yang gemetar, "Itu semua karena Leo! Dia yang memerintahkan aku untuk melakukan itu!"


Siswa-siswa yang ada di sekitarnya terdiam, dan Asuna dan Rina juga terkejut. Rina yang berdiri di sampingnya menepuk-nepuk tangannya, "Lihat, aku bilang kan? Pasti ada alasan di balik semua ini."


Cindy kemudian melanjutkan, "Dan aku masih dendam denganmu, Asuna! Kau merebut Josh dariku, padahal aku yang pertama kali dekat dengannya!"


Josh yang mendengar itu, langsung membentak Cindy, "Itu tidak benar! Aku memilih Asuna karena aku menyukainya, bukan karena kau!"


Asuna dan Rina saling pandang, mereka tidak pernah menyangka bahwa Leo berada di balik semua ini. Namun, mereka juga merasa lega karena akhirnya segala kejanggalan dan ancaman terhadap Asuna terungkap


"Oh jadi semuanya kerja sama kalian, emang bener-benar sialan kalian!"ucap Josh yang kesal ke Cindy.


Setelah Josh mengetahui bahwa Leo yang menyuruh Cindy untuk mengancam Asuna dan Josh, Josh langsung meninggalkkan kantin dan berniat pergi ke Lapangan basket untuk menemui Leo yang biasanya sedang berlatih basket.


"Kenapa kamu melakukan itu, Leo? Kenapa kamu menyuruh Cindy untuk mengancam Asuna?" kata Josh dengan emosi yang tinggi.


Leo menggelengkan kepalanya, "Apa yang kamu bicarakan, Josh? Aku tidak tahu apa-apa ."


Namun, jawaban Leo tidak memuaskan Josh dan dia kembali menyerang Leo dengan pukulan dan memicu keributan baru di lapangan basket. Beberapa siswa yang sedang berlatih berusaha meredakan keributan, sementara Rina dan Asuna mencoba meredakan situasi.


"Ayo, jangan bertengkar lagi. Kita harus menyelesaikan masalah ini dengan cara yang baik-baik," kata Asuna, berusaha menenangkan situasi.


Leo terus berusaha untuk berpura-pura tidak tahu apa-apa, namun Josh sudah terlalu marah dan tidak lagi percaya pada Leo. Rina mencoba menenangkan Josh, sementara Asuna menatap Leo dengan tatapan tajam.


"Leo, kenapa kamu melakukan ini?" tanya Asuna dengan suara bergetar.


Leo terdiam sejenak, namun akhirnya ia mengakui semuanya. "Aku hanya ingin Josh keluar dari tim basket dan menjauhi kamu, Asuna. Aku tahu dia suka padamu dan aku tidak ingin bersaing dengannya," ujar Leo dengan suara lemah.


Asuna merasa terpukul dan marah pada Leo. "Kamu melakukan ini hanya untuk urusan cemburu dan persaingan? Kamu bahkan tidak memikirkan bagaimana aku dan Josh merasa frustasi?" tanyanya dengan nada tinggi.


Leo menundukkan kepalanya, merasa malu dengan perbuatannya. Rina yang melihat situasi tersebut mencoba untuk meredakan suasana. "Sudahlah, kita semua sudah terlalu banyak mengeluarkan emosi hari ini. Leo, kamu harus bertanggung jawab atas perbuatanmu," kata Rina.


Leo mengangguk, menyadari kesalahannya. "Aku tahu, dan aku akan meminta maaf Asuna, tapi percayalah aku sangat mencintaimu Asuna aku rela melakukan segala cara agar bisa dekat denganmu walaupun harus menyingkirkan temanku sendiri."


Asuna hanya menatap Leo dingin, tanpa mengatakan apa-apa lagi. Sementara itu, Josh masih kesal dan tidak bisa menerima alasan Leo. "Sialan.. ternyata kau yang membuatnya menjadi rumit, kau membuatku Terpaksa keluar dari tim basket kita dan menghancurkan hidup Asuna, kau memang pecundang Leo."ucap Josh yang masih kesal


Dari kejauhan Beberapa guru berjalan ke arah Meraka dan langsung memisahkan meraka yang telah berkelahi dan di susul beberapa siswa yang ingin melihat kejadian tersebut.


Setelah keadaan sudah tenang, guru-guru membawa Josh, Leo, dan Asuna ke ruang kepala sekolah untuk dimintai keterangan. Asuna masih merasa takut jika berita ciumannya dengan Josh akan terungkap, tetapi dia mencoba untuk menenangkan dirinya sendiri.


Di ruang kepala sekolah sudah ada Cindy di sana yang hanya terdiam menatap ke bawah, lalu kepala sekolah dan beberapa guru meminta penjelasan dari Josh dan Leo tentang keributan yang terjadi di lapangan basket dan kantin. Leo tetap berusaha untuk menyangkal dan menyebut bahwa dia tiba-tiba di hajar oleh Josh dia merasa tidak melakukan apapun, sedangkan Josh marah-marah dan menuduh Leo telah membuatnya marah


Asuna juga merasa kecewa atas sikap Leo, tetapi Josh tetap kesal dan terus menuduh Leo. Kepala sekolah dan guru-guru mencoba untuk meredakan situasi dan meminta agar mereka semua tenang.


"tunggu-tunggu! Kalian Pernah ciuman di sekolah Heii itu tindakan yang sangat dilarang di sini" ucap salah satu guru.


"bukan begitu pak, itu terjadi atas murni kesalahan ku aku tau itu pelanggaran namun Asuna sama sekali tidak memiliki niat yang sama denganku, jadi jika kalian ingin menghukum atas tindakan tersebut hukum saja aku"ucap Josh yang berusaha membela Asuna.


"lalu mengapa kau bermasalah dengan Cindy dan Leo ?, ucap salah satu guru menatap tajam ke arah Josh.


Josh mencoba menjelaskan apa yang terjadi sebenarnya dan mencoba memberi keterangan bahwa Asuna juga selalu di ganggu oleh Cindy dan kelompoknya, namun guru-guru itu tetap mempermasalahkan Atas tindakan Asuna dan Josh yang Ciuman di sekolah.


"sebenarnya kami ingin mengeluarkan kalian berdua terutama kau Josh kau mendapat hukuman yang berlapis, namun kami ingin memberi kesempatan pada kalian mengingat sebentar lagi kalian akan lulus sekolah" ucap kepala sekolah.


"Aku sudah kehabisan kata-kata untuk membela diri" ucap Josh ke Asuna.


"kalian berdua akan di skor selama dua Minggu atas tindakan kalian yang sangat menjijikan itu"ucap kepala sekolah yang menatap ke arah Josh dan Asuna.


"tapi paak, apakah dua minggu itu sangat berlebihan ? " jawab Josh.


"Oh apakah itu keberatan bagimu Josh ? Masih mending aku tidak mengeluarkan kalian jadi bersyukurlah" ucap salah satu guru.


Guru-guru akhirnya memutuskan juga untuk memberikan sanksi kepada Cindy dan Leo juga atas perbuatan mereka, termasuk pembinaan dan pengawasan lebih ketat


akhirnya, Josh, Asuna, dan Rina berbicara dengan kepala sekolah dan mengakhiri perseteruan mereka. Mereka semua berjanji untuk memulai lembaran baru dan menjaga kedamaian di sekolah, serta bekerja sama untuk menghadapi tantangan yang ada.