
Asuna merasa cemas ketika mengingat adiknya, Farhan Hitomi, yang belum makan. Dia melihat jam di pergelangan tangannya dan menyadari bahwa waktu sudah terlalu larut.
"Han, maaf, aku harus pulang. Adikku belum makan dan ayahku belum pulang. Aku harus memastikan semuanya baik-baik saja di rumah."
Han mengerti dan mengangguk, "Tentu, tidak masalah. Kesehatan adikmu dan keamanan rumahmu lebih penting. Aku akan mengantarmu pulang."
Asuna tersenyum menghargai, "Terima kasih, Han. Aku akan menghubungimu lagi nanti."
Dengan itu, Asuna dan Han turun dari gedung dan berjalan bersama menuju rumah Asuna
Asuna dan Han tiba di depan rumah Asuna. Han berencana untuk pergi, tetapi perutnya tiba-tiba berbunyi, membuat Asuna ketawa dan tersenyum.
"Sepertinya perutmu memprotes juga, Han. Mengapa tidak bergabung makan di rumahku saja? Ayahku mungkin masih belum pulang, tetapi aku bisa memasak untuk kita."
Han terlihat ragu sejenak, tetapi kemudian mengangguk setuju, "Baiklah, jika tidak merepotkanmu. Aku akan menerima tawaranmu, Asuna."
Asuna tersenyum senang, "Tentu saja tidak merepotkan. Mari, masuklah."
Farhan, adik Asuna, tiba-tiba muncul di pintu saat Asuna dan Han masuk. Dia memandang keduanya dengan tatapan heran.
"Kak, siapa dia?" tanya Farhan,menunjuk pada Han.
Asuna tersenyum dan memperkenalkan Han kepada adiknya, "Farhan, ini temanku Han. Han, ini adikku, Farhan."
Han memberikan senyuman ramah kepada Farhan, "Halo, Farhan. Aku Han, teman baik Asuna."
Farhan masih terlihat bingung, tetapi dia mengangguk hormat pada Han. Dia tidak terbiasa melihat Asuna membawa teman laki-laki pulang, terlebih lagi seorang pria yang tampak asing baginya.
"Oh, aku mengerti. Senang bertemu denganmu, Han," ucap Farhan singkat.
Asuna mencoba menjelaskan, "Han hanya mampir sebentar, Farhan. Kami makan malam bersama dan dia akan pergi setelah ini."
Farhan mengangguk, tetapi terlihat masih waspada. Dia melihat Han dengan pandangan tajam sebelum akhirnya pergi ke kamarnya tanpa banyak berkata.
Asuna merasa canggung dengan situasi tersebut dan mencoba meredakan ketegangan.
"Maafkan dia, Han. Dia belum terbiasa melihatku membawa teman pria pulang."
Han mengangguk, "Tidak masalah. Aku mengerti. Dia hanya melindungimu sebagai adik yang baik."
Asuna tersenyum, "Terima kasih, Han. Aku harap kamu tidak merasa tidak nyaman."
Han menggelengkan kepala, "Tidak, aku baik-baik saja. Aku sudah mengerti. Aku seharusnya juga segera pergi setelah makan."
Asuna sibuk di dapur, mempersiapkan bahan-bahan untuk memasak. Dia ingin membuat hidangan favorit Han, spaghetti bolognese, sebagai tanda terima kasih atas kunjungannya.
Farhan duduk di sofa, sibuk membaca komik superhero kesukaannya. Han duduk di sebelahnya, menatap gambar-gambar dalam komik dengan senyum. Dia terkejut melihat betapa antusiasnya Farhan terhadap komik tersebut.
"Komik apa itu?"tanya Han.
Farhan mengangkat kepalanya dari komik dan menjawab dengan bersemangat, "Ini komik tentang pahlawan super bernama 'Sang Pemimpin'. Dia memiliki kekuatan luar biasa dan melawan penjahat untuk menyelamatkan satu kota."
Han mengangguk mengerti, "Tampak menarik. Kamu suka pahlawan super, ya?"
Farhan mengangguk antusias, "Iya, aku suka sekali!"
Han duduk di sofa bersama Farhan, mereka berdua tengah berbincang setelah makan malam,"Kau tahu, Farhan, kadang-kadang aku merasa kota ini membutuhkan seorang pahlawan super."
Farhan mengangguk setuju, "Iya, aku juga berpikir begitu. Tapi sayangnya, pahlawan super itu hanya ada di cerita fiksi."
Han tersenyum, "Mungkin, tapi siapa tahu suatu hari nanti seseorang bisa menjadi pahlawan super yang nyata."
Farhan tersenyum lebar, "kalau begitu aku akan menjadi pahlawan super!"
Han terkejut, tapi tersenyum melihat semangat Farhan, "Benarkah? Bagaimana kamu bisa menjadi pahlawan super?"
Farhan menjawab dengan penuh keyakinan, "Aku bisa belajar berbagai keterampilan, seperti ilmu pengetahuan, olahraga, dan hal-hal lainnya. Aku akan menjadi orang yang kuat dan bijaksana, seperti pahlawan super dalam komik!"
Han terkesan dengan tekad Farhan, "Itu adalah tekad yang hebat, Farhan. Aku yakin kamu bisa menjadi pahlawan super yang hebat suatu hari nanti."
Farhan tersenyum bahagia, "Terima kasih, kak Han! Aku akan berusaha sebaik mungkin untuk menjadi pahlawan super yang bisa membantu kota ini!"
Han tersenyum dan mengelus kepala Farhan dengan penuh dukungan, "Aku yakin kamu bisa melakukannya, Farhan. Dan siapa tahu, mungkin suatu hari aku akan menjadi salah satu penggemarmu yang paling bersemangat!"
Asuna membawa hidangan yang baru saja dia masak ke meja makan, sementara Han dan Farhan duduk siap untuk makan bersama.
Han dan Farhan menyambut makanan dengan senyum dan bersiap untuk menyantapnya. Mereka mulai makan dengan lahap, menikmati hidangan yang enak dan hangat.
"Wow, makananmu enak sekali! Terima kasih sudah memasak untuk kita," ujar Han.
Asuna tersenyum, "Tidak masalah, aku senang bisa memasak untuk kalian. Aku suka melihat kalian berdua menikmati makanan."
Farhan, yang sibuk makan, mengangguk setuju, "Iya, makanannya enak sekali!"
Asuna tersenyum lebih lebar mendengar pujian dari adiknya, "Terima kasih, Farhan. Aku senang kamu suka."
Han melihat mereka berdua, merasa bahagia melihat keharmonisan di antara mereka. Dia merasa senang bisa merasakan kehangatan sebuah keluarga lagi setelah lama merasa sendiri.
"Kalian berdua benar-benar seperti saudara kandung. Aku senang bisa menjadi bagian dari momen ini," ucap Asuna dalam batin.
********
Farhan tiba-tiba melempar pertanyaan yang cukup mengejutkan. Asuna terkejut dan tersedak, pipinya memerah saat dia menatap Han dengan tatapan penuh harap.
Han terkekeh pelan melihat reaksi mereka berdua, kemudian menjawab dengan senyum, "Hmm, tidak Farhan, kami belum pacaran. Kami hanya teman baik."
Asuna merasa lega mendengar jawaban Han, tapi masih merasa canggung. Dia berbicara sambil sesekali meneguk air untuk meredakan batuknya, "Iya, benar. Kami hanya teman, Farhan. Tidak ada yang spesial di antara kami."
Farhan mengangguk paham, tapi tetap memperlihatkan senyuman cerah di wajahnya, "Oh, begitu ya. Tapi kalian terlihat seperti pasangan yang serasi. Aku senang bisa melihat kalian bahagia bersama."
Asuna dan Han saling bertatap-tatapan, merasa canggung tapi juga tersenyum. Mereka berdua tahu bahwa ada perasaan yang lebih dari sekadar persahabatan di antara mereka, tapi belum sampai pada tahap pacaran.
"Asuna dan aku adalah teman dekat yang saling menghargai satu sama lain," ucap Han, mencoba meredakan kecanggungan.
Asuna setuju dengan senyuman, "Iya, kita masih mengenal satu sama lain lebih dalam. Tapi aku sangat berterima kasih memiliki teman sebaik Han."
Farhan mengangguk dan tersenyum lagi, "Aku mengerti. Tapi jika suatu saat kalian memutuskan untuk pacaran, aku akan sangat mendukung kalian."
Asuna dan Han tersenyum, merasa terharu dengan dukungan yang diberikan oleh Farhan. Mereka tahu bahwa hubungan mereka masih dalam tahap awal, dan mereka berdua harus berbicara lebih lanjut tentang perasaan mereka di masa depan.
Setelah makan bersama, Han memberikan ucapan terima kasih kepada Asuna dan Farhan. Dia mengenakan jaketnya dan bersiap untuk pulang.
"Hmm, makananmu sangat enak, Asuna. Terima kasih sudah mengundangku," ucap Han sambil tersenyum pada Asuna.
Asuna tersenyum balik, "Tidak masalah, aku senang kamu bisa datang dan makan bersama kami. Terima kasih sudah datang, Han."
Farhan juga mengangguk, "Aku juga senang kamu bisa datang, Kak Han. Aku berharap kamu bisa datang lagi lain waktu."
Han tersenyum, "Tentu, akan kuberitahu kamu jika aku punya waktu luang lagi. Sampai jumpa, Farhan."
Farhan mengangguk dengan antusias, "Sampai jumpa, Kak Han!"
Han tertawa, "Ya Sampai jumpa, Farhan."
Han berpamitan kepada Asuna dengan salam, dan mereka berdua saling bertatapan sejenak. Ada perasaan yang terasa di antara mereka, tapi belum diungkapkan.
"Terima kasih, Han. Sampai jumpa," ucap Asuna dengan senyuman hangat.
Han tersenyum kembali, "Sampai jumpa, Asuna."
Han meninggalkan rumah Asuna dengan senyum di wajahnya. Asuna dan Farhan melihatnya pergi dari jendela, lalu mereka berdua mengangguk satu sama lain.
Farhan tersenyum pada Asuna, "Kamu suka dia, kan, Kakak?"
Asuna memerah, tapi dia tersenyum, "Hmm, entahlah. Kita lihat saja apa yang akan terjadi di masa depan."
Farhan mengangguk paham, "Aku mendukungmu, Kakak. Semoga kamu dan Han bisa bahagia bersama."
Asuna tersenyum lebih lebar, "Terima kasih, adikku yang penuh perhatian. Aku akan berbicara lebih lanjut dengan Han nanti."
Mereka berdua mengobrol lebih lanjut tentang Han dan momen mereka bersama, sambil membersihkan meja dan merapikan dapur.
Asuna duduk sendirian di kamarnya, memikirkan Han dengan senyum di bibirnya. Pikirannya melayang ke saat-saat mereka bersama, saat mereka tertawa dan berbicara, saat-saat Han menunjukkan perhatiannya padanya. Dia merasa ada perasaan yang lebih dari sekadar teman dalam dirinya.
"Han..." gumam Asuna, sambil meraba dadanya yang berdebar lebih cepat dari biasanya. Dia merasa bingung, karena dia belum pernah merasa seperti ini sebelumnya. Perasaan cinta dan ketertarikan yang tumbuh dalam hatinya membuatnya merasa gugup.
Asuna merenung, memikirkan apakah Han mungkin merasakan hal yang sama. Dia ingat senyum dan tatapannya, dan dia merasa ada tanda-tanda bahwa Han juga memiliki perasaan terhadapnya. Namun, dia tidak yakin. Dia ragu untuk mengungkapkan perasaannya, takut akan mengganggu persahabatan mereka.