
Kriiiiiing....
Suara bel pulang sudah berdering.Asuna dan Rina keluar dari kelas bersama-sama, berjalan menuju pintu sekolah. Asuna masih terlihat murung dan sedih setelah kejadian di kantin tadi. Rina mencoba menenangkan Asuna dengan memberikan kata-kata semangat.
"Jangan biarkan kata-kata mereka menghancurkanmu, Asuna. Kita berdua tahu siapa dirimu sebenarnya dan tidak perlu mendengarkan mereka," kata Rina dengan lembut.
Asuna mengangguk perlahan dan membalas senyum Rina. "Terima kasih, Rin. Kamu selalu tahu cara membuatku merasa lebih baik," ujarnya.
Saat mereka sampai di depan pintu sekolah, Asuna berhenti sejenak. "Rin, aku bisa pulang sendiri dari sini. Kamu tidak perlu repot-repot mengantarku," kata Asuna dengan lembut.
Rina menggelengkan kepala. "Tidak apa-apa, sebelumnya kan kita selalu bersama. Kita bisa pulang bareng seperti dulu lagi," jawab Rina sambil tersenyum
Asuna dan Rina berjalan bersama-sama menuju rumah. melalewati rumah-rumah dan jalanan.mereka akhirnya kembali seperti dulu dengan Rina yang mengerti keadaan Asuna.
"Hey, Asuna. Aku ingin bertanya, apakah Cindy yang menyuruhmu untuk bermusuhan denganku?" tanya Rina dengan hati-hati.
Asuna menatap Rina dengan keterkejutan. "Bagaimana kau tahu?" tanya Asuna heran.
Rina tersenyum simpul. " Saat aku melihat pertengkaranmu dengan Cindy tadi di kantin. Dia terdengar cukup kasar padamu. Dan kau berkata bahwa kau di ancam jika tidak menjauhiku,jadi selama ini kau tidak benar-benar melakukan?" ulang Rina pertanyaannya.
Asuna menggelengkan kepala. "Dia memang menyuruhku untuk bermusuhan denganmu, Rina. Dia mengancamku bahwa jika aku tidak melakukannya, dia akan menyebarkan berita tentangku. Aku terpaksa melakukannya dan mengikutinya," ujar Asuna dengan suara lirih.
"Oh aku juga sangat menyelasal tidak mengertimu, aku terperangkap dengan alurnya"ucap Rina.
"Aku minta maaf atas semuanya Rina.seharusnya aku mengatakan kepadamu di awal" ujar Asuna.
Rina mengangguk memahami. "Tidak apa-apa, Asuna. Aku mengerti situasimu. Yang terpenting sekarang adalah kita berdua bersama-sama dan tidak membiarkan Cindy atau siapa pun merusak persahabatan kita," kata Rina dengan tulus.
"Aku tidak mengerti mengapa dia sejahat itu padaku, padahal aku dan Josh sudah menuruti kemauannya. tapi tetap saja dia menyebarkan berita itu ke orang-orang di kantin. Setelah ini aku tidak tau apa yang terjadi ini sangat membuatku cemas Rin," ucap Asuna yang merasa kesal.
"Aku merasa gregetan Asuna,rasanya aku ingin mencakar-cakar wajahnya.yah setidaknya tadi aku menampar dan menyiramnya semoga itu membuatmu merasa terwakilkan,Asuna."ujar Rina.
Asuna tersenyum kecil mendengar perkataan Rina. "Terima kasih, Rin. Tadi aku merasa sangat terhina dan kehilangan semangat. Tapi sekarang, setelah kamu ada di sini dan mendukungku, aku merasa lebih baik," ujar Asuna dengan tulus.
Rina tersenyum lebar. "Tidak perlu terima kasih, Asuna. Kita saling mendukung dan melindungi satu sama lain, seperti sahabat sejati," ucap Rina sambil memeluk Asuna.
Asuna merasakan kehangatan pelukan Rina dan merasa beruntung memiliki sahabat seperti dia. Mereka berjalan bersama-sama sambil bercerita dan mengobrol.
Di akhir perjalanan, mereka tiba di depan rumah Asuna. Rina mengucapkan selamat tinggal sambil memberikan Asuna sebuah senyuman. "Jangan khawatir, Asuna. Semuanya akan baik-baik saja. Kita akan melalui ini bersama-sama seperti sebelumnya kan ," kata Rina dengan penuh keyakinan.
Asuna tersenyum dan mengangguk. "Yah Rin. Kamu selalu menjadi teman yang baik dan bisa diandalkan," ujar Asuna.
Rina tersenyum kecil. "Asuna. Sampai jumpa besok di sekolah," kata Rina sebelum berlalu.
Asuna melihat Rina pergi dan merasa lega. Dia tahu bahwa dengan Rina di sisinya, dia bisa menghadapi segala hal. Dia merasa lebih kuat dan lebih berani untuk menghadapi masa depan yang menantinya.
Asuna langsung masuk ke kamarnya dan rebahan di atas kasurnya. Dia merasa lelah dan terbebani oleh semua masalah yang sedang dihadapinya. Adiknya yang sedang menonton TV di ruang tamu, mendengar Asuna masuk dan merasa penasaran.
"Kak, kenapa kakak terlihat murung sekali?" tanya adiknya dengan penasaran.
Asuna hanya diam dan menatap langit-langit kamar tanpa memberikan jawaban. Farhan melihat kakaknya yang sedang bersedih hati dan merasa khawatir. Dia merangkul Asuna dan mencoba menghiburnya.
"Kak, jangan sedih ya. Semua pasti akan baik-baik saja. Aku selalu ada untuk kakak," kata adiknya dengan lembut.
Asuna tersenyum kecil mendengar kata-kata adiknya. "Terima kasih,Farhan. Kakak akan baik-baik saja. Aku hanya perlu sedikit waktu untuk merenungkan semuanya," jawab Asuna sambil mengusap rambut adiknya.
Adiknya mengangguk mengerti dan kembali ke ruang tamu untuk menonton TV. Asuna melanjutkan rebahannya di atas kasur dan mulai merenungkan semuanya. Dia merasa lebih tenang dengan dukungan yang diberikan oleh Rina dan akhirnya dia bisa berteman kembali. namun dia juga merasa sedih dan kessal dengan Cindy yang telah membuat masalah dengan menyebarkan berita itu. walaupun sudah melakukan apa yang dia mau untuk menjaga rahasia tersebut
Saat sedang memikirkan masalahnya Asuna terbesit di pikirannya untuk pergi ke kosan Han untuk curhat dan sekaligus menjenguknya. Asuna mengambil ponselnya dan mencari nomor Han di kontak telepon. Setelah menemukannya, dia menekan tombol panggilan dan menunggu dengan harap-harap cemas.
Beberapa kali telepon tidak diangkat, membuat Asuna semakin gelisah. Namun, pada panggilan kelima, suara Han akhirnya terdengar di seberang telepon.
"Halo, Han? Ini aku," kata Asuna dengan suara gugup.
"Oh, hai Asuna. Ada apa?" balas Han dengan ramah.
"Asuna ingin pergi ke kosanmu. Bisakah aku datang?" tanya Asuna.
Setelah menutup telepon, Asuna segera bangkit dari tempat tidurnya dan bergegas mengambil jaketnya. Dia memberitahu adiknya bahwa dia akan pergi sebentar dan akan segera kembali.
Asuna berjalan menuju kosan Han dengan hati yang berdebar-debar. Dia masih merasa kesal dengan Cindy dan kejadian di kantin tadi. Namun, dia merasa lega bahwa dia bisa menghubungi Han dan berkunjung ke kosannya.
Setelah tiba di kosan Han, Asuna mengetuk pintu dan Han membukanya dengan senyum ramah di wajahnya. "Hai, Asuna. Masuklah," kata Han.
Asuna masuk ke dalam dan melihat ruangan kosan yang bersih dan rapi. Han menawarkan Asuna untuk duduk di sofa dan menawarkan minuman hangat. Asuna merasa nyaman di kosan Han dan dia merasa seperti dirinya sendiri.
"Bagaimana keadaanmu, Asuna?" tanya Han.
Asuna menggelengkan kepala dan menghela nafas. "Sulit untuk dijelaskan, Han. Tadi ada masalah dengan Cindy di sekolah, dan aku merasa sedih dan kesal. Aku butuh tempat untuk melarikan diri sejenak dari semuanya," ujarnya
Han yang memperhatikan Asuna merasa penasaran"iya baiklah ceritakan saja secara pelan-pelan" ujar Han
Asuna duduk di sofa di samping Han, dia merasa terbuka untuk berbicara tentang masalahnya. Dia menceritakan kepada Han tentang betapa muaknya dia dengan perilaku Cindy di sekolah, bagaimana Cindy selalu mencari masalah dengannya dan membuatnya frustasi. Asuna juga mengatakan bahwa dia cemas jika pihak sekolah mengetahui tentang kasus ciuman dengan Josh, karena itu bisa menjadi masalah bagi mereka berdua.
Han mendengarkan dengan penuh perhatian dan memahami perasaan Asuna. dia memberikan dukungan dan menghibur Asuna, mengatakan bahwa dia tidak sendirian dan bahwa dia akan selalu berada di sisinya. Han juga mengingatkan Asuna untuk tidak terlalu khawatir tentang pendapat orang lain dan fokus pada dirinya sendiri. Dia menenangkan Asuna dan meyakinkannya bahwa semuanya akan baik-baik saja.
"Asuna, kamu tidak sendirian. Aku di sini untukmu, dan aku tahu kamu bisa menghadapinya," kata Han dengan lembut.
Asuna tersenyum dan merasa sangat bersyukur memiliki teman seperti Han. Dia merasa lega bisa berbicara tentang masalahnya dan mendapat dukungan dari Han. Dia merasa lebih tenang dan percaya diri setelah mendengar kata-kata penyemangat dari Han.
Mereka berbicara lebih lanjut tentang apa yang bisa dilakukan Asuna untuk menghadapi situasi di sekolah dan bagaimana dia bisa mengelola emosinya. Han memberikan saran yang bijaksana dan mengajak Asuna untuk berpikir dengan jernih dan bertindak bijaksana dalam menghadapi masalah tersebut.
Asuna merasa sangat berterima kasih kepada Han atas dukungannya. Dia merasa lebih lega dan siap menghadapi masalah di sekolah dengan kepala yang lebih dingin. Dia tahu bahwa dia memiliki seseorang yang dapat diandalkan dan berbicara tentang masalahnya kapan saja dia membutuhkannya.
Setelah Asuna menceritakan masalahnya di sekolah pada Han, dia juga memberitahukan kabar baik bahwa dia dan Rina sudah berteman lagi setelah sebelumnya terjadi pertengkaran akibat ulah Cindy.
"Han, aku juga ada kabar baik. Aku sudah baik-baik saja dengan Rina. Kami sudah berbicara dan berdamai," kata Asuna dengan senyum di wajahnya.
Han terlihat senang mendengar kabar tersebut. "Itu kabar bagus, Asuna. Aku senang kamu dan Rina kembali berteman. Kalian berdua memang takkan bisa dipisahkan," ujar Han.
Asuna mengangguk setuju. "Iya, aku sangat merindukannya. Dan sekarang aku merasa lega karena kami kembali seperti dulu," ucap Asuna.
"Kamu tahu, Asuna, aku selalu ada untukmu. Jika kamu butuh teman untuk berbicara atau sekadar meluangkan waktu bersama, aku siap," kata Han dengan tulus.
Asuna tersenyum dan memeluk Han erat-erat. "Terima kasih, Han. Aku sangat beruntung memiliki teman seperti kamu," ujarnya.
Han membalas pelukan Asuna dengan hangat. "Sama-sama, Asuna. Kita akan selalu saling mendukung dan berada di samping satu sama lain," ucap Han.
Mereka berdua tersenyum dan bercanda satu sama lain, menikmati kebersamaan yang mereka miliki. Asuna merasa lega karena telah menemukan sahabat yang selalu bisa diandalkan dan siap membantunya menghadapi semua masalah.
Setelah Asuna menceritakan tentang masalahnya di sekolah dan memberitahu bahwa dia dan Rina sudah berteman kembali, Han merasa lega. Namun, ketika Han melihat waktu, dia menyadari bahwa sudah malam dan khawatir jika Asuna pulang sendirian.
"Asuna, sepertinya sudah malam. Aku khawatir jika kau pulang sendirian. Kota ini penuh dengan kriminalitas," kata Han dengan cemas.
Asuna mengangguk mengerti. "Aku juga merasa khawatir jika pulang sendirian. Tapi aku tidak ingin merepotkanmu, Han," ujarnya.
Han tersenyum. "Tidak apa-apa. Aku akan mengantarmu pulang. Tidak jauh kok dari sini, kan?" ucapnya.
Asuna merasa senang dengan tawaran Han. "Terima kasih, Han. Aku sangat menghargainya," ucapnya sambil tersenyum.
Han meminjam motor ke temannya untuk mengantarkan Asuna pulang. Handan Asuna pun berjalan menuju rumah Asuna. Selama perjalanan, mereka berbicara tentang berbagai hal, dari hobi mereka hingga rencana mereka di masa depan. Asuna merasa sangat nyaman bersama Han dan merasa beruntung memiliki teman seperti dia.
Sesampainya di depan rumah Asuna, Han menghentikan motornya. "Kamu sudah sampai, Asuna. Jangan lupa untuk memastikan pintu dan jendela terkunci ya," kata Han.
Asuna mengangguk dan membuka helmnya. "Terima kasih sudah mengantarku, Han. Aku benar-benar menghargainya," ucapnya sambil tersenyum.
Han juga tersenyum. "Sama-sama, Asuna. Jangan ragu untuk meminta bantuan jika kau membutuhkannya," ucapnya.
Asuna tersenyum. "Aku akan mengingatnya. Sampai jumpa besok di sekolah ya, Han," ucapnya sambil masuk ke dalam kosan.
Han tersenyum dan membalikkan motornya untuk pulang ke kosannya. Dia merasa senang bisa membantu Asuna dan berharap bisa selalu menjadi teman yang baik baginya.