Decent Place

Decent Place
Selalu terlambat



Pagi itu, Asuna terbangun dengan tergesa-gesa. Dia merasa terlambat dan langsung melompat dari tempat tidurnya. Dia memeriksa jam tangannya dan kaget saat melihat pukul sudah menunjukkan jam 7.30 pagi.


"Oh tidak! Aku akan terlambat!" gumamnya panik sambil cepat-cepat mengenakan seragam sekolahnya. Dia segera mengambil tas punggungnya dan keluar rumah dengan cepat.


Saat dia berlari ke arah sekolah, Asuna mulai merasakan napasnya tersengal-sengal. Dia tahu dia tidak bisa terus berlari seperti itu atau dia akan kehabisan napas. Dia mulai berjalan cepat sambil mempercepat langkahnya.


Saat dia hampir tiba di sekolah, Asuna melihat selai tangannya lagi dan merasa lega bahwa dia masih punya beberapa menit sebelum bel masuk berbunyi. Namun, ketika dia sampai di depan gerbang sekolah, pintu gerbang sudah terkunci.


"Ah, tidak mungkin!" ucap Asuna frustrasi. Dia merasa tidak tahu harus berbuat apa dan akhirnya memutuskan untuk mencari pintu masuk lainnya. Setelah beberapa menit mencari, dia akhirnya menemukan pintu masuk lainnya dan berhasil masuk ke dalam sekolah.


Asuna menghela napas dan dia masuk ke pintu kelasnya namun sialnya Guru sudah ada di dalam kelasnya dia di tegur oleh gurunya karna selalu terlambat kali ini Dia mendapatkan Hukuman atas kesalahannya tersebut.


Asuna merasa kesal karena harus dihukum lagi karena terlambat. Setelah diberi tahu oleh guru untuk menulis 100 kali "saya tidak boleh terlambat lagi", dia bergabung dengan Rina di meja sekolah.


Rina berkata, "Asuna, aku berencana untuk pergi liburan nanti. Kamu ingin ikut?"


Asuna menjawab, "Itu tergantung di mana tempat tujuan liburannya."


Rina menjawab, "Aku dan teman-teman lainnya berencana pergi ke pantai. Kamu pasti suka! Kita bisa berenang, berjemur, dan bermain di pasir."


Asuna tersenyum dan menjawab, "Terdengar menyenangkan! Tapi aku harus meminta izin dulu kepada orangtuaku."


Rina berkata, "Ya, pastikan untuk meminta izin terlebih dahulu. Aku akan memberitahumu detail lebih lanjut nanti."


Asuna merasa senang karena dia jarang pergi liburan. Dia tidak sabar untuk menanyakan izin kepada orangtuanya dan bergabung dengan Rina ke pantai.


Asuna dan Rina berjalan bersama pulang dari sekolah.


Rina: Asuna, kamu tidak suka sekolah ya? Terlihat selalu buru-buru setiap pagi.


Asuna: Tidak juga sih, aku suka belajar. Cuma mungkin aku terlalu sering begadang dan akhirnya terlambat bangun.


Rina: Kamu harusnya lebih rajin tidur, Asuna. Supaya besoknya tidak terlambat lagi.


Asuna: Iya, kamu benar. Aku akan mencoba untuk tidur lebih awal malam ini.


Rina: Bagus deh. Oh iya, nanti besok aku ada rencana mau pergi ke taman bermain. Kamu mau ikut?


Rina: Siapa Han?


Asuna: Teman baruku.


Rina: Wah, seru ya. Aku jadi iri nih. Tapi jangan lupa untuk tetap hati-hati ya, Asuna.


Asuna: Iya, pasti. Aku akan berusaha untuk aman.


Keduanya melanjutkan perjalanan pulang dengan obrolan yang santai. Asuna merasa senang memiliki teman seperti Rina, yang selalu bisa membuatnya tertawa dan merasa nyaman


Di siang yang panas dan jalanan kecil yang sepi, Asuna dan Rina berpisah , dan Asuna masuk kedalam Rumahnya lalu dia melihat adiknya yang sedang duduk di sofa sambil membaca komik favoritnya


Asuna :Farhan kamu sudah lapar belum ?"


Farhan : " Eh iyaa kak Aku sudah menunggu kakak dari tadi.


Asuna : Baiklah kakak akan masak sekarang, kebetulan kakak juga lapar.


Asuna yang baru pulang sekolah langsung pergi ke dapur lalu memasak untuk makan siangnya, kebetulan saat itu persediaan makanan masih banyak jadi dia tidak perlu belanja bahan-bahan untuk masak.


Asuna dan adiknya Farhan duduk di meja makan yang sederhana di ruang tamu mereka. Asuna menata nasi dan lauk pauk di atas meja, sedangkan Farhan dengan antusias menunggu untuk memulai makan.


Farhan: "Kak, ini enak sekali! Terima kasih sudah memasak untuk kita."


Asuna tersenyum lembut, "Tentu saja, adikku. Kamu harus makan yang cukup untuk tumbuh besar dan kuat."


Farhan: "Kak, kapan kita bisa pergi jalan-jalan seperti yang kita lakukan dulu, sebelum ayah bekerja terus?"


Asuna merenung sejenak, "Kita akan pergi jalan-jalan lagi suatu hari nanti, Farhan. Tapi sekarang kita harus sabar dan bersabarlah, ya."


Farhan mengangguk penuh semangat, "Baik, kak! Aku sabar!"


Asuna tersenyum dan melanjutkan makan bersama Farhan. Meskipun mereka hanya memiliki hidup sederhana, Asuna selalu berusaha untuk memberikan yang terbaik untuk adiknya dan keluarganya