
Han duduk di sebuah warkop, menghirup asap rokoknya dengan perasaan campur aduk. Ia baru saja selesai menjadi joki game di sebuah warnet, pekerjaan yang ia lakukan untuk mencari nafkah sejak ia tidak sekolah lagi. Sambil menatap kosong ke arah jalanan, matanya tiba-tiba tertuju pada sepasang siswa perempuan yang berjalan pulang sekolah. Han mengenali salah satunya sebagai Asuna, teman dekatnya.
Han memperhatikan Asuna dan temannya, Rina, yang berjalan berdampingan. Dia terpesona melihat Asuna, yang tetap cantik meskipun lama di sekolah, Han ingat bagaimana Asuna pernah bercerita tentang Rina, teman sekelasnya yang belum pernah mereka temui secara langsung.
Sambil mengepulkan asap rokoknya, Han merenung tentang perubahan dalam hidupnya. Dia merasa sedih dan sedih karna dia sekarang sibuk, Han merasa dia telah mengorbankan banyak hal untuk bekerja sebagai joki game, dan sekarang dia merasa semakin jauh dari Asuna, Han menghempaskan puntung rokoknya dan berdiri dari kursinya, memutuskan untuk menghampiri mereka
Han melangkah mendekati Asuna dan Rina yang berjalan melewati warkop. Dia melihat Asuna yang terlihat sedikit khawatir, dan mengerti bahwa Asuna mungkin tidak ingin Han mengetahui masalahnya di sekolah. Asuna memberikan isyarat kepada Rina untuk tidak membicarakan masalah tersebut.
"Hey, Asuna, Rina," sapa Han dengan senyum ramah. "Lama tidak bertemu. Apa kabar?"
Asuna tersenyum tipis, mencoba menyembunyikan kecemasannya. "Hai, Han. Baik-baik saja," jawabnya singkat.
Rina, yang belum pernah bertemu dengan Han sebelumnya, mengangguk sopan. "Hai, Han. Aku Rina, teman sekelas Asuna," kata Rina.
Han tersenyum hangat. "Senang bertemu denganmu, Rina," kata Han. "Asuna sering membicarakanmu dalam ceritanya."
Asuna memberikan isyarat kepada Rina dengan cepat, menunjukkan bahwa dia tidak ingin membahas masalahnya di depan Han. Rina mengerti dan mengangguk mengerti.
"Baiklah, aku akan berbicara dengannya sebentar," ujar Asuna kepada Rina.
Rina mengangguk dan tersenyum, lalu pergi meninggalkan mereka berdua. Han dan Asuna pergi jalan bersama ke rumah Asuna.
"Asuna ku lihat-lihat, dari tadi kamu seperti ada masalah, ada apa Asuna ceritalah ?,"tanya Han Yang penasaran.
"Oh, tidak Han aku hanya kelelahan tidak ada yang perlu kamu khawatirkan Han," jawab Asuna yang tersenyum.
Han memperhatikan raut wajah Asuna yang terlihat khawatir, meski dia berusaha untuk tersenyum dan mengalihkan obrolan. Han merasa bahwa ada sesuatu yang lebih dalam yang terjadi dengan Asuna, tapi dia menghormati keputusan Asuna untuk tidak membahasnya.
"Hmm, baiklah, jika kamu tidak ingin membahasnya," kata Han dengan lembut. "Tapi, kamu tahu bahwa kamu bisa mengandalkan aku, kan? Aku di sini untukmu."
Asuna tersenyum dan mengangguk. "Ya, aku tahu, Han. Terima kasih atas dukungannya."
"Mari kita bicara tentang hal lain saja," kata Asuna mencoba mengalihkan perhatian mereka. "Bagaimana dengan pekerjaanmu sebagai Joki game? Apa yang terakhir kamu mainkan?"
Han tersenyum dan mengganti topik pembicaraan, berbicara tentang pekerjaannya sebagai Joki game dan permainan terbaru yang dia mainkan. Asuna berusaha tersenyum dan berbicara dengan riang, berusaha untuk tidak memperlihatkan kekhawatirannya lagi.
Mereka terus berbicara dan tertawa bersama, saling bertukar cerita dan pengalaman. Asuna merasa lega dapat mengalihkan pikirannya dari masalah di sekolah dan berfokus pada obrolan dengan Han. Han juga berusaha membuat Asuna merasa lebih baik, memberikan dukungan dan kehadiran yang menghibur.
Setelah beberapa waktu, mereka akhirnya berpisah di depan rumah Asuna.
"Terima kasih, Han," kata Asuna dengan tulus. "Aku benar-benar menghargai waktu yang kita habiskan bersama."
Han tersenyum. "Sama-sama, Asuna. Aku di sini untukmu kapan saja."
Asuna mengangguk, lalu mereka berpamitan. Asuna berjalan pulang dengan perasaan yang lebih ringan, tahu bahwa dia punya teman sejati dalam Han yang dia bisa andalkan. Dia juga bersyukur bisa mengalihkan perhatiannya dari masalah di sekolah, setidaknya untuk sementara waktu, dan menikmati waktu bersama Han. Dia berjanji pada dirinya sendiri untuk tetap kuat dan berusaha mengatasi masalahnya di sekolah, sambil tahu bahwa Han selalu ada di sisinya
Asuna pulang ke rumah dengan perasaan yang kacau setelah menghadapi kejadian di sekolah tadi. Dia merasa campur aduk antara marah, bingung, dan cemas. Begitu dia masuk ke dalam kamar mandi, dia mengunci pintu dan duduk di lantai, membiarkan air mengalir dari shower tanpa menghiraukannya.
Dalam pikirannya, dia terus memutar ulang kejadian tadi di sekolah. Bagaimana Josh menciumnya tiba-tiba dan bagaimana Cindy dan Farah tiba-tiba muncul, mengancam untuk melaporkan mereka. Dan bagaimana Cindy dengan liciknya memanfaatkan situasi itu untuk memberikan suatu perjanjian kepada mereka.
Asuna merasa marah pada Josh karena tindakannya yang tiba-tiba dan tanpa seizinnya. Dia juga merasa marah pada Cindy karena mengancamnya dan memanfaatkan situasi untuk kepentingannya sendiri. Dia merasa cemas tentang apa yang bisa terjadi selanjutnya dan apa yang bisa dilakukan Cindy jika dia tidak menuruti perjanjian mereka.
Air hangat dari shower yang mengalir menyadarkan Asuna dari lamunannya. Dia menyeka air mata yang mengalir di pipinya dan berdiri, mulai mengguyur tubuhnya dengan air hangat. Dia merasa sedikit lebih baik setelah mandi, air hangat memberikannya sedikit kenyamanan dan menghilangkan sedikit tegangannya.
Tapi pikirannya masih kacau. Dia merasa ragu tentang apa yang seharusnya dilakukan. Haruskah dia menuruti perjanjian Cindy dan menghindari masalah lebih lanjut, Asuna tahu dia tidak ingin diperintah oleh Cindy, tapi dia juga tidak ingin masalahnya semakin memburuk.
Asuna keluar dari kamar mandi, mengeringkan tubuhnya dan mengenakan piyama. Dia duduk di ranjang, masih dalam keadaan bingung. Pikirannya melayang-layang antara berbagai pilihan dan konsekuensi yang mungkin terjadi.
Dia merasa marah pada dirinya sendiri karena terjebak dalam situasi ini. Dia merasa frustasi dan cemas, tidak tahu apa yang harus dia lakukan. Dia merenung sejenak, menghela nafas dalam-dalam.