Decent Place

Decent Place
Lingkungan sekolah



Asuna dan Rina pergi ke kantin saat istirahat kedua, berharap bisa makan dengan tenang. Namun, ketika mereka tiba di kantin, mereka langsung bertemu dengan kelompok siswi pembully, yaitu Ami, Rastri, Farah, dan Cindy. Kelompok tersebut langsung menghampiri Asuna dengan sikap yang provokatif.


Cindy, sebagai ketua kelompok, langsung memberikan cemoohan kepada Asuna. "Hei, kamu, sudah cukup menggoda kelompok siswa gangster kemarin, huh?" ucap Cindy dengan nada sinis sambil menatap Asuna dengan tajam.


Asuna merasa terkejut dan marah atas tuduhan yang dilemparkan padanya. Dia tahu bahwa tuduhan tersebut sama sekali tidak benar dan hanya merupakan upaya kelompok tersebut untuk mempermalukan dan mengganggunya. Namun, dia mencoba untuk tetap tenang dan tidak terprovokasi.


Rina, teman dekat Asuna, berusaha membela Asuna. "Tidak ada yang benar-benar menggoda kalian, itu hanya omong kosong semata!" ucap Rina dengan tegas.


Namun, kelompok pembully tersebut hanya tertawa dengan sinis dan semakin memperburuk situasi. Mereka terus menghina Asuna dengan kata-kata yang tidak pantas, mencoba membuat Asuna merasa terintimidasi dan malu di depan umum.


Asuna berusaha untuk menjaga ketenangan dan tidak menanggapi provokasi tersebut. Dia tahu bahwa menghadapi pembully memerlukan kebijaksanaan dan strategi yang tepat. Dia mencoba untuk mengabaikan kata-kata yang ditujukan padanya, sambil memandang mereka dengan tatapan tegas.


Namun, dalam hati Asuna, perasaan marah dan kesal terus memuncak. Dia tidak bisa memahami mengapa kelompok tersebut begitu kejam padanya dan terus mengganggunya tanpa alasan yang jelas. Dia berusaha mengontrol emosinya, namun rasa ingin melawan semakin kuat dalam dirinya.


Cindy: (dengan suara keras dan sinis) Kamu memang benar-benar pelacur, Asuna! Merebut pacar orang, kan? Kau tau betapa sakit hati ku dulu ketika pacar ku lebih memilihmu!


Asuna: (menahan amarah) Itu tidak benar, Cindy! Aku tidak pernah merayu atau merebut pacarmu. Pacarmu memilih sendiri dan kau tidak bisa menyalahkanku atas itu!


Cindy: (tertawa sinis) Oh, benarkah? Kamu memang selalu berpura-pura jadi korban, ya? Tapi semua orang tahu kau adalah seorang penggoda!


Rina: (tidak bisa menahan emosi) Cukup! Kau sudah terlalu jauh, Cindy! Kamu tidak punya hak untuk memfitnah temanku seperti itu!


Cindy: (terkejut) Hah, apa yang akan kau lakukan, Rina? (menyeringai) Ingin melawanku?


Rina: (dengan tatapan tajam) Aku tidak akan membiarkanmu mengganggu Asuna lagi! (Rina kemudian menghamparkan tangan kanannya, mengejutkan Cindy)


Cindy: (terjatuh dan kaget) Kau...kau berani menyentuhku?


Asuna: (menghentikan Rina) Rina, berhenti! (Asuna berusaha menenangkan Rina dan menghindari terjadinya kekerasan fisik)


Rina: (bernafas berat) Baiklah, tapi dia harus tahu batasnya! (Rina berjalan menjauh dari Cindy, tetapi masih memandanginya dengan marah)


Cindy: (menyeka dirinya sendiri dan menatap Asuna dengan tatapan jahat) Kau berdua akan menyesal sudah melawan aku!


Asuna: (menatap Cindy dengan penuh keberanian) Kami tidak akan pernah takut padamu, Cindy. Tindakanmu tidak akan membuatmu menjadi lebih baik.


Cindy: (berdiri dan pergi dengan bangga) Kalian lihat saja nanti! Kalian berdua pasti akan menyesal!


Rina, yang juga merasa marah dan kesal melihat temannya diganggu, mencoba mengajak Asuna untuk pergi dari situ dan melapor kepada guru atau staf sekolah. Namun, Asuna memutuskan untuk tetap bertahan dan tidak memberikan kepuasan pada kelompok pembully tersebut


Setelah insiden di kantin, Rina merasa semakin kesal dengan kelompok siswi yang selalu mengganggu Asuna. Dia merasa bahwa tindakan tersebut tidak bisa dibiarkan begitu saja dan harus ada tindakan yang lebih tegas untuk menghentikannya. Rina merasa marah karena melihat temannya, Asuna, terus-menerus menjadi korban bully di sekolah.


Rina: (menggertakkan gigi) Itu sudah terlalu banyak! Mereka selalu mengganggu Asuna setiap hari! Aku tidak bisa lagi diam dan membiarkan mereka bertindak seenaknya!


Asuna: (menggenggam tangan Rina dengan penuh perhatian) Rina, aku menghargai perasaanmu, tapi kita harus tetap tenang dan bijaksana dalam menghadapi ini. Kekerasan tidak akan menjadi solusi.


Rina: (menarik nafas dalam-dalam, mencoba menenangkan diri) Aku tahu, Asuna. Tapi aku tidak tahan melihatmu selalu jadi korban mereka. Kita harus melakukan sesuatu!


Asuna: (menyentuh bahu Rina) Aku mengerti perasaanmu, Rina. Tapi kita harus bertindak cerdas.


Rina: (mengangguk setuju) Baiklah, aku heran sama kamu Asuna kok mereka sampe segitunya yah sama kamu,Tapi aku ingin mereka tahu bahwa kita tidak akan lagi membiarkan mereka mengganggumu!


Asuna: (tersenyum) Terima kasih, Rina. Aku sangat menghargai dukunganmu. Bersama-sama kita bisa menghadapinya dengan bijaksana.


Rina: (tersenyum kembali) Tentu saja, kita tim, Asuna! Kita akan menghadapinya bersama-sama.


Kedua teman itu berjanji untuk bekerja sama dalam menghadapi masalah bully yang dihadapi Asuna. Mereka berencana untuk melaporkan insiden tersebut kepada pihak sekolah dan berusaha mencari solusi yang tepat agar tindakan bullying tersebut dapat dihentikan. Mereka yakin bahwa dengan bersatu, mereka bisa melawan tindakan yang tidak benar dan melindungi hak-hak Asuna serta teman-teman lain yang mungkin menjadi korban bully di sekolah mereka


Asuna dan Rina berjalan bersama pulang sekolah setelah bel berakhir. Mereka berbincang-bincang tentang pelajaran dan rencana akhir pekan mereka. Ketika mereka sampai di gerbang sekolah, tiba-tiba Josh, teman sekelas mereka, mendekati mereka dengan senyuman.


Josh: "Hei Asuna, mau tumpangan pulang?"


Asuna terlihat ragu, dia melihat ke arah Rina dengan cemas. Rina menunjukkan ekspresi dukungan, memberikan isyarat bahwa dia siap untuk pergi bersama Asuna.


Asuna: "Terima kasih, Josh, tapi aku sudah punya rencana untuk pulang bersama Rina hari ini."


Josh: "Oh, begitu ya. Baiklah, mungkin lain kali."


Asuna: "Ya, mungkin lain kali."


Josh pergi dengan senyuman yang tampak agak terpaksa, dan Asuna merasa lega karena bisa tetap pulang bersama Rina. Mereka berdua melanjutkan perjalanan pulang sambil saling berbicara dan tertawa. Rina memberikan dukungan kepada Asuna dan memberikan nasihat untuk tetap tenang dan tegas dalam menghadapi situasi yang tidak nyaman.


Sesampainya di rumah, Asuna mengucapkan terima kasih kepada Rina atas dukungannya dan mengatakan bahwa dia sangat berterima kasih bisa pulang bersama teman sejatinya. Rina tersenyum dan mengatakan bahwa teman selalu saling mendukung satu sama lain.


Asuna belajar dari pengalaman ini bahwa penting untuk menghormati dirinya sendiri dan membuat keputusan yang membuatnya nyaman. Dia bersyukur memiliki teman seperti Rina yang selalu ada untuknya dan memberikan dukungan moral. Mereka berdua berjanji untuk saling mendukung dan menjaga satu sama lain dalam menghadapi tantangan di sekolah.