Decent Place

Decent Place
Perawatan Serius



Ganster yang menghadang Han bergegas menjauh dari tempat kejadian setelah meninggalkan Han yang pingsan. Mereka bergegas menuju ke sebuah jalan yang gelap, di mana seseorang telah menunggu untuk membayar mereka. Ketika mereka sampai di sana, mereka bertemu dengan seorang pria yang memakai topeng untuk menyembunyikan identitasnya.


"Kerjaannya sudah selesai boss," kata salah satu ganster dengan suara serak.


Pria yang memakai topeng itu mengangguk puas. "Bagus. Inilah bayarannya," ujarnya sambil memberikan kantong berisi uang kepada mereka. Ganster-ganster tersebut dengan cepat menghitung uang dalam kantong itu dan senang dengan jumlahnya.


"Kami berdua senang bisa bekerja sama dengan Anda," ujar salah satu ganster sambil tersenyum licik.


Pria yang memakai topeng itu hanya mengangguk sebagai tanda pengakuan, namun ia tampak tidak berminat untuk berbicara lebih banyak. Ia merasa terganggu oleh keberhasilan Han yang selalu berhasil mengungguli dirinya dalam berbagai hal.


Ketika ganster-ganster itu pergi, pria yang memakai topeng itu melepas topengnya, dan terungkaplah bahwa dia adalah Leo, seorang pria yang merasa iri dengan Han. Ia merasa cemburu karena Han sudah membuatnya sulit lagi mendekati Asuna. Leo merencanakan segala cara untuk mendapatkan tujuannya.


Leo merasa senang dengan hasil kerja keras para ganster itu. Dia merasa bahwa kemenangan kecil ini adalah awal dari rencananya yang lebih besar untuk mennyingkirkan Han. Dengan senyuman jahat di wajahnya, Leo berbicara pada dirinya sendiri, "Aku Paling benci ketika aku menerima kenyataan begitu saja." Dengan tekad yang kuat, Leo melangkah pergi menuju kegelapan malam, merencanakan langkah selanjutnya dalam rencananya yang jahat


************


Keesokan harinya, Asuna tengah sibuk membersihkan rumah ketika tiba-tiba ponselnya berbunyi. Ia melihat pesan dari Han yang berisi kabar bahwa ia sedang dirawat di rumah sakit. Asuna langsung merasa khawatir dan memutuskan untuk segera pergi ke sana.


Namun sebelum ia pergi, adiknya, Farhan, melihat kekhawatiran di wajah kakaknya dan bertanya, "Kak, ada apa? Kenapa wajah kakak terlihat begitu khawatir?"


Asuna mengambil nafas dalam-dalam dan menjawab, "Han Masato dirawat di RSU. Ayo kita pergi ke sana sekarang juga."


Farhan merasa cemas juga dan ia berkata, "Akujuga ingin ikut. Kak Masato yang pernah makan bersama kan? Saya juga khawatir dengan teman kakak."


Asuna tersenyum dan mengangguk, "Tentu saja. Mari kita pergi sekarang juga."


Asuna dan Farhan berjalan menuju ruangan Han di rawat dengan perasaan cemas dan bertanya-tanya apa yang sebenarnya terjadi dengan Han


Asuna dan Farhan berjalan melalui lorong rumah sakit, mencari ruangan di mana Han dirawat. Mereka bertanya kepada petugas informasi dan akhirnya menemukan nomor ruangan Han.


Mereka masuk ke dalam ruangan dengan hati-hati, dan melihat Han terbaring di tempat tidur rumah sakit, dengan beberapa alat medis yang terpasang pada tubuhnya. Asuna merasa hatinya berdenyut kencang melihat keadaan Han, tetapi dia mencoba tetap tenang untuk memberikan dukungan padanya.


Farhan yang masih muda merasa cemas dan bertanya, "Kak, apa yang sebenarnya terjadi dengan Han? Dia terluka parah?"


Asuna menjawab dengan lembut, "Kita belum tahu pasti, Farhan. Tapi sepertinya Han terlibat dalam suatu kejadian yang berbahaya. Kita harus sabar dan menunggu hingga dia bangun dan bisa bercerita kepada kita."


Farhan mengangguk paham, meskipun wajahnya masih penuh kekhawatiran. Mereka duduk di samping tempat tidur Han, menunggu dengan cemas, sambil mengirimkan doa-doa untuk kesembuhan Han.


Setelah beberapa lama, Han mulai membuka mata perlahan-lahan, merasakan sakit di seluruh tubuhnya. Dia memandang sekitarnya, melihat wajah Asuna dan Farhan yang khawatir.


"Asuna... Farhan..." bisik Han dengan suara lemah.


Asuna tersenyum dan memegang tangan Han dengan lembut, "Han, kamu sudah sadar. Kami sangat khawatir padamu."


Han mengangguk, merasa bersalah karena telah merepotkan Asuna dan Farhan. "Maafkan aku, kalian berdua. Aku tidak bermaksud membuat kalian khawatir."


Asuna menggelengkan kepala, "Tidak usah minta maaf, Han. Yang penting sekarang kamu baik-baik saja. Kita harus berterima kasih pada Farhan, dia yang memberi tahu aku tentang kejadian ini."


Farhan tersenyum malu, "Ah, tidak usah diucapkan terima kasih. Aku hanya khawatir sama teman kakakku."


Han tersenyum lemah, merasa beruntung memiliki teman sebaik Asuna dan adik sebaik Farhan. "Terima kasih, kalian berdua. Aku akan lebih berhati-hati ke depannya.


**********


Asuna duduk di samping tempat tidur Han dan menyuapi dia makan. "Han, apa yang terjadi semalam? Kenapa kau bisa sampai seperti ini?" tanya Asuna dengan nada khawatir.


Asuna menatap Han dengan tatapan khawatir. "Siapa mereka? Kenapa mereka melakukan hal itu padamu?" tanya Asuna dengan rasa penasaran.


"Aku tidak tahu pasti siapa mereka. Tapi aku menduga mereka dibayar untuk melakukan itu," jawab Han.


"Darimana kau tahu mereka di bayar Han, mungkin saja mereka hanya ganster yang mabuk" ujar Asuna.


"Aku tidak tahu Asuna, tapi mereka tidak mengambil barang-barang ku dan juga mereka tampak serius menghajar ku"


Asuna menarik napas panjang. " Yah Han,Aku harap Ita bisa mencari tahu siapa yang berada di balik ini, dan akan membuat mereka bertanggung jawab atas perbuatan mereka," kata Asuna dengan suara tegas.


Han tersenyum dan meraih tangan Asuna. "Terima kasih, Asuna. Aku tahu aku bisa mengandalkanmu," ucap Han dengan suara lembut.


Asuna tersenyum dan membalas genggaman tangan Han. Mereka saling pandang sejenak, lalu,Asuna meneteskan air mata saat ia duduk di samping ranjang Han. "Kenapa di saat seperti ini kau membuatku khawatir Han? Aku tidak siap kehilanganmu," ujarnya dengan suara bergetar.


Han merasakan kekhawatiran dan kecemasan dalam suara Asuna. "Maafkan aku, Asuna. Aku tak berniat membuatmu khawatir," jawab Han dengan lemah. "Aku berusaha melawan mereka, tapi mereka terlalu banyak. Aku tidak bisa menghadapinya sendiri."


Asuna memegang tangan Han dengan erat, "Tidak apa-apa, yang penting kau baik-baik saja sekarang. Aku akan selalu ada untukmu, Han."


Farhan yang sedari tadi diam-diam menyaksikan adegan itu pun ikut merasa haru. Ia berdiri dari tempat duduknya dan menghampiri kakaknya dan Han. "Bagaimana kabarnya, kak?" tanya Farhan dengan wajah yang penuh kekhawatiran.


Asuna menatap Farhan dan mengangguk, "Dia baik-baik saja sekarang. Kita hanya perlu berdoa agar dia cepat pulih."


Farhan mengangguk dan mengambil tempat duduk di samping kakaknya, mereka merasakan kebahagiaan dan kelegaan bahwa Han masih tertolong.


Setelah Han mulai stabil, Asuna dan Farhan akhirnya memutuskan untuk pulang ke rumah untuk istirahat dan menyiapkan diri untuk kembali besok. Asuna masih tampak khawatir dan sedih, tetapi dia mencoba untuk tetap kuat di depan adiknya. Mereka meninggalkan Han di ruang rawat dan berjanji akan kembali lagi besok pagi.


"Besok kita kembali lagi ya, Farhan," kata Asuna sambil memegang tangan adiknya.


Farhan mengangguk dengan senyum tipis di wajahnya, "Iya, kak. Kita harus berdoa supaya Han segera sembuh dan bisa pulang."


Asuna mengangguk dan menarik napas dalam-dalam. "Aku akan tetap optimis, Farhan. Kita harus percaya bahwa Han akan segera pulih dan kembali seperti sedia kala."


Mereka berjalan keluar dari ruang rawat dan berjalan menuju pintu keluar rumah sakit. Asuna masih sedih, tetapi Farhan mencoba untuk menghiburnya dengan berbicara tentang hal-hal yang lain. Mereka memesan taksi dan kembali ke rumah dengan hati yang berat.


Asuna dan Farhan duduk bersama-sama di dalam taksi, menatap keluar jendela dengan perasaan yang berbeda-beda. Asuna masih khawatir dengan kondisi Han, sedangkan Farhan merasa sedih melihat kakaknya sedih.


"Tadi dokter bilang kondisinya sudah stabil, tapi harus dipantau terus menerus," ujar Asuna mencoba menenangkan dirinya sendiri.


Farhan mengangguk, "Sudahlah kak, Kak Han pasti akan baik-baik saja. Kita berdoa saja supaya cepat sembuh."


Asuna tersenyum tipis, "Iya, kamu benar. Terima kasih, Farhan."


Taksi berhenti di depan rumah mereka, Asuna membayar uang taksi dan membuka pintu. Mereka berjalan masuk ke rumah dengan perasaan yang masih sedih.


Asuna melihat jam di dinding, sudah hampir tengah malam. "Kamu sudah lelah, Farhan. Kamu tidur saja dulu, besok aku yang bangunkan."


Farhan mengangguk, "Baiklah, kak. Aku juga khawatir dengan Han, jadi aku akan berdoa untuknya sebelum tidur."


Asuna tersenyum lagi, "Terima kasih, Farhan. Aku juga akan berdoa untuk Han."


Mereka berpelukan sejenak sebelum Farhan pergi ke kamarnya. Asuna duduk di sofa, menatap kosong ke arah jendela. Dia masih merasa khawatir dengan Han, tapi dia yakin Han pasti akan baik-baik saja. Dia memejamkan matanya dan berdoa untuk kesembuhan Han