
Asuna pulang dari sekolah dengan perasaan yang berat. Hatinya masih terluka akibat masalah dengan Rina, namun dia merasa tidak ingin pulang ke rumah yang sepi dan penuh ketegangan. Tanpa pikir panjang, Asuna memutuskan untuk pergi ke Decent Place, sebuah gedung tua yang hanya dia dan Han yang tahu.
Dia berjalan dengan langkah tergesa-gesa menuju gedung tersebut. Decent Place terletak di pinggir kota, di daerah yang jarang dilalui orang. Ketika dia sampai di sana, dia merasa lega melihat gedung itu masih berdiri kokoh seperti biasa. Dia tahu ini adalah tempat di mana dia dan Han sering berkumpul dan berbicara tentang segala hal.
Asuna masuk ke dalam gedung dan naik ke lantai atas. Dia membuka pintu dan masuk ke dalam ruangan yang dulu sering menjadi markas mereka berdua. Diluar itu masih seperti dulu, meski sudah lama tidak terpakai. Meja kayu tua, kursi-kursi vintage, dan dinding yang dipenuhi grafiti menjadi saksi bisu dari kenangan indah yang mereka bagi bersama.
Asuna merenung sejenak, mengenang saat-saat bahagia bersama Han di tempat ini. Dia merasa rindu dengan pertemanan mereka yang dulu begitu erat. Namun, kali ini dia tidak ingin membicarakan masalah berciuman dengan Josh kepada Han. Dia ingin menik
Asuna duduk di salah satu sofa, mengambil napas dalam-dalam, dan menatap ke luar jendela yang sudah lama tidak dibuka. Dia merasa sejuk angin yang masuk melalui jendela, dan itu membuatnya merasa lebih baik. Dia menutup matanya sejenak, mencoba merenung dan merasa tenang di tempat yang dulu begitu spesial bagi mereka berdua.
Setelah beberapa saat, Asuna membuka matanya dan tersenyum. Dia merasa lebih baik sekarang, meski masalah dengan Rina masih belum terungkap. Dia merasa berterima kasih kepada Decent Place dan kenangan indah bersama Han yang membuatnya merasa sedikit lebih baik.
Han turun tangga perlahan-lahan dari lantai atas Decent Place dan melihat Asuna yang duduk di sofa. Dia merasa hatinya berbunga-bunga saat melihat wajah Asuna, namun dia juga merasa ragu. Han berpikir bahwa Asuna sudah memiliki pacar, mengingat dia telah melihat Asuna bersama pria lain sebelumnya.
Han menghela nafas dalam-dalam, berusaha menjaga batasan. Dia tidak ingin merusak hubungan persahabatan mereka dengan perasaan cemburu yang mungkin tidak beralasan. Han tahu bahwa dia hanya seorang teman bagi Asuna, dan itu tidak akan berubah.
Han menghampiri Asuna dengan senyuman ramah. "Hai, Asuna," sapa Han dengan suara hangat.
Asuna mengangkat kepala dan menyambut senyuman Han. "Hai, Han," jawabnya, namun Han melihat ketidakberanian di matanya.
Han mencoba memulai percakapan ringan dengan Asuna, menghindari topik tentang masalah pribadi mereka. Mereka berbicara tentang hal-hal sehari-hari, seperti sekolah, teman-teman, dan minat mereka. Han berusaha untuk tetap menjaga jarak dan tidak menunjukkan perasaannya yang lebih dalam.
Asuna juga merasa ada ketegangan di antara mereka, namun dia tidak yakin apa yang terjadi. Dia merasa Han berbeda, lebih berhati-hati dan menjaga jarak. Asuna bertanya-tanya dalam hatinya apa yang sebenarnya terjadi, namun dia tidak ingin menekan Han untuk bercerita
Asuna duduk di salah satu bangku di Decent Place, tapi perasaannya agak kacau. Meskipun dia sedang mengobrol dengan Han seperti biasa, dia merasa ada yang salah dengan Han. Dia merasa Han cenderung lebih dingin dan menjaga jarak darinya.
"Han, apa yang terjadi? Kau terasa berbeda," tanya Asuna dengan nada khawatir.
Han menatap Asuna sesaat sebelum menjawab dengan suara yang agak datar, "Tidak apa-apa, Asuna. Aku baik-baik saja."
Namun, Asuna bisa merasakan ketidaksepahaman dalam jawaban Han. Dia tahu bahwa Han tidak seperti biasanya, dan itu membuatnya cemas.
"Asal kau tahu, Han, aku di sini untukmu. Aku ingin mendengarkanmu jika ada masalah apa pun," ujar Asuna dengan lembut, mencoba membuka pintu komunikasi di antara mereka.
Han menatap Asuna dengan ekspresi campuran, antara ingin mengungkapkan perasaannya dan ingin menjaga jarak. Dia tahu dia tidak bisa berbohong lagi.
“Asuna, sebenarnya aku merasa cemburu,” akhirnya Han mengungkapkan perasaannya.
Asuna terkejut mendengar pengakuan itu. Dia tidak mengira Han akan mengakuinya. Dia bisa melihat raut wajah Han yang cemas dan bingung.
"Cemburu?Kenapa, Han?" tanya Asuna dengan nada penuh perhatian.
Han menghela nafas. "Aku tahu malam itu, kau sedang makan malam dengan pria lain, aku masih merasa cemburu. Aku takut kehilanganmu sebagai teman baikku."
Asuna merasa haru mendengar pengakuan Han. Dia mengerti perasaannya, tapi dia ingin menjelaskan situasinya dengan Josh.
"Han, aku mengerti perasaanmu, tapi aku ingin menjelaskan tentang Josh. Kita hanya teman, dan kita tidak memiliki hubungan romantis lagi. Aku ingin kau tahu apa yang sebenarnya terjadi sebelum kamu membuat kesimpulan," jelas Asuna dengan tulus
Han terdiam sejenak, lalu mengajukan pertanyaan yang membuat Asuna sedikit kikuk. "Asuna, aku ingin tahu, mengapa kau dan Josh makan malam bersama tanpa memberitahuku? Aku tidak pernah mendengar ceritanya."
Asuna merasa terjebak dalam situasi sulit. Dia tahu bahwa dia harus jujur dengan Han, tapi dia juga khawatir akan reaksi Han. Dia memilih untuk berbicara dengan hati-hati.
Han mengangguk, tapi masih terlihat agak ragu. "Tapi kenapa kau tidak memberitahuku sebelumnya? Aku merasa seperti ada hal-hal yang kau sembunyikan dariku."
Asuna menggenggam tangan Han dengan lembut. "Maafkan aku, Han. Aku tidak bermaksud membuatmu merasa seperti itu. Aku hanya ingin menjaga privasi Josh dan diriku sendiri, tapi aku berjanji akan lebih terbuka kepadamu di masa depan. Kau adalah teman baikku dan aku tidak ingin merusak hubungan kita dengan menyembunyikan sesuatu. "
Han menggenggam tangan Asuna dengan lembut, dia masih merasa penasaran dengan apa yang terjadi pada waktu itu. "Asuna, aku ingin bertanya lagi. Waktu itu, ketika aku bertemu denganmu, Dan, dan Rina pulang sekolah, kau terlihat seperti memiliki masalah. Namun, kau terlihat seperti menyembunyikannya. Bisakah kau memberitahuku apa yang terjadi?"
Asuna menarik napas dalam-dalam, merenung sejenak sebelum berbicara. Dia tahu bahwa dia tidak bisa lagi menyembunyikan apa yang sebenarnya terjadi pada saat itu dari Han.
"Han, waktu itu memang ada masalah yang sedang aku hadapi. Aku dan Josh menghadapi beberapa masalah dalam hubungan kami, dan itu membuatku cemas dan khawatir. Aku tidak ingin mengganggu atau membuatmu khawatir, jadi aku mencoba menyembunyikannya," ujar Asuna dengan jujur.
Han menatap Asuna dengan simpati. "Aku mengerti, Asuna. Aku tahu kau ingin melindungiku dan tidak ingin membuatku khawatir. Tapi sebagai teman, aku ingin kau tahu bahwa aku selalu ada di sini untukmu jika kau ingin berbicara atau membagikan bebanmu. Kita saling mendukung dalam suka dan duka, kan? "
Asuna tersenyum mengangguk, merasa terharu dengan dukungan yang diberikan oleh Han. "Terima kasih, Han. Aku sangat menghargainya. Aku akan mengingat kata-katamu dan akan lebih terbuka kepada teman-teman dalam menghadapi masalah di masa depan."
"Oh btw masalah apa yang terjadi saat itu hingga membuatmu sempat menyembunyikan padaku" Tanya Han penasaran.
Asuna terkejut mendengar pertanyaan Han. Dia tahu bahwa jika dia jujur tentang mencium Josh, itu bisa membuat Han menjauh darinya. Dia merasa bingung dan tidak tahu harus menjawab apa.
Asuna menatap Han dengan wajah penuh keraguan, mencoba mencari kata-kata yang tepat untuk menjawab pertanyaan Han. Dia ingin tetap jujur kepada Han, tapi dia juga takut akan konsekuensi dari kejujurannya.
Han melihat ekspresi bingung Asuna dan menggenggam tangannya dengan lembut. "Asuna, kau tahu kau bisa mempercayaiku, kan? Aku di sini untukmu, apa pun yang terjadi. Aku ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi, karena aku peduli padamu."
Asuna merasa terenyuh mendengar kata-kata Han. Dia tahu bahwa Han adalah teman sejatinya dan selalu ada untuknya. Dengan hati yang berat, Asuna memutuskan untuk berbicara jujur.
"Han, waktu itu... aku dan Josh, kita berciuman," ujar Asuna perlahan, takut dengan reaksi Han.
Han terkejut mendengar pengakuan Asuna. Dia tidak mengharapkan jawaban itu, dan dia tampak terkejut seketika. Namun, dia segera mengendalikan emosinya dan tersenyum lembut kepada Asuna.
"Asuna, aku menghargai kejujuranmu. Aku tahu bahwa kau sedang menghadapi masalah dengan Josh, tapi itu tidak mengubah persahabatan kita. Aku masih di sini untukmu, dan aku akan selalu mendukungmu, tanpa memandang apa yang terjadi," ujar Han dengan tatapan yang langsung datar
Asuna melihat Han pergi dengan perasaan bingung dan sedih. Dia merasa bahwa Han mungkin kecewa dengan pengakuan mencium Josh yang dia berikan. Asuna ingin mengejar Han, tapi dia ragu karena tidak ingin membuat situasi semakin rumit.
Asuna duduk sendirian di Decent Place, memikirkan apa yang telah terjadi. Dia merasa bersalah karena tidak berbicara jujur kepada Han sejak awal. Dia juga bingung merasa tentang perasaan Han terhadapnya sekarang.
Beberapa hari berlalu dan Han menghindari Asuna. Dia tidak menghubunginya atau berbicara dengannya seperti biasa. Asuna merasa semakin cemas dan merindukan persahabatan mereka yang dulu begitu dekat.
Suatu hari, Asuna menemui Han di jalan dan mencoba berbicara dengannya. Namun, Han terlihat dingin dan menjaga jarak. Asuna merasa semakin bingung dan kecewa.
"Aku minta maaf, Han. Aku tidak bermaksud menyakiti perasaanmu," kata Asuna dengan suara terguncang.
Han menatap Asuna dengan wajah datar. "Aku tahu kau tidak bermaksud seperti itu, Asuna. Tapi aku merasa sangat kecewa karena kau tidak jujur kepada ku sejak awal. Aku butuh waktu untuk memproses semuanya."
Asuna merasa hancur hatinya mendengar kata-kata Han. Dia menyadari betapa pentingnya kejujuran dalam sebuah hubungan, dan dia menyesal tidak berbicara jujur kepada Han lebih awal. Dia ingin memperbaiki hubungan mereka, tetapi dia juga mengerti bahwa Han mungkin perlu waktu untuk merasa lebih baik.
"Aku mengerti, Han. Aku sangat menyesal dan aku ingin memperbaiki hubungan kita. Aku berjanji untuk lebih jujur dan transparan di depannya," ujar Asuna dengan tulus.
Han masih terlihat ragu, tapi dia mengangguk. "Baiklah, kita lihat nanti. Tapi aku butuh waktu untuk merasa lebih baik, Asuna."
Asuna mengerti dan menghormati keputusan Han. Belaka