
Setelah sebentar singgah di rumah Asuna, Han dan yang lainnya memutuskan untuk pulang. Mereka ingin memberikan kesempatan Asuna untuk istirahat dan pulih sepenuhnya. Han, Rina, dan Kenji berdiri dan bersiap-siap untuk pulang.
Han berjalan menuju pintu sambil mengucapkan, "Baiklah, Asuna. Kamu istirahat yang cukup dan sembuh dengan baik, ya? Jika kamu butuh sesuatu, jangan ragu untuk menghubungi kami."
Rina menambahkan, "Kami selalu ada untukmu, Asuna. Jaga dirimu dengan baik. Sampai jumpa besok di sekolah."
Kenji menyambung, "Istirahatlah dengan baik, Asuna. Jangan terlalu memikirkan hal-hal yang berat. Kami akan berdoa untuk kesembuhanmu."
Asuna tersenyum lembut. "Terima kasih, teman-teman. Aku sangat berterima kasih atas dukungan dan perhatian kalian. Aku akan berusaha sembuh dengan cepat."
Mereka bertiga keluar dari rumah Asuna dan berjalan menuju jalan pulang. Dalam hati, mereka berharap agar Asuna segera pulih dan bisa bergabung dengan mereka lagi. Saat mereka melaju pulang, pikiran mereka masih tertuju pada Asuna. Mereka berjanji akan terus mendukungnya dalam proses pemulihannya dan membantunya menghadapi masa depan yang lebih baik.
Di dalam rumah yang sepi, Asuna merasa terharu dengan perhatian dan kepedulian Han, Rina, dan Kenji. Dia tahu bahwa dia tidak sendirian dalam menghadapi setiap rintangan yang ada di depannya. Dengan keyakinan dan dukungan dari teman-temannya, Asuna merasa semangat untuk pulih sepenuhnya dan mewujudkan impian-impian yang ada di depannya.
Dia berbaring di ranjang dengan pikiran yang penuh harapan, siap untuk menghadapi masa depan yang menantang dengan semangat yang baru.
Asuna berbaring di tempat tidurnya, memejamkan matanya, dan membiarkan imajinasinya terbang bebas. Pikirannya membawa dia ke tempat yang jauh, tempat yang aman dan indah seperti Selandia Baru.
Dia membayangkan dirinya berjalan di padang rumput yang hijau, di tengah pemandangan pegunungan yang menjulang tinggi. Udara segar mengisi paru-parunya, dan angin lembut mengusap wajahnya. Asuna merasakan kehangatan sinar matahari yang menyinari langit biru yang cerah.
Dia melihat kejernihan air sungai yang mengalir deras di antara lembah hijau. Suara gemericik air memberikan ketenangan dalam pikirannya. Asuna membayangkan dirinya duduk di tepi sungai, merasakan kesegaran air yang menyentuh tangannya.
Kemudian, dia berjalan melintasi hamparan ladang bunga berwarna-warni, menghirup aroma harum dari bunga-bunga yang sedang mekar. Asuna tersenyum melihat keindahan alam di sekelilingnya, merasakan kedamaian dan ketenangan yang sulit diungkapkan dengan kata-kata.
Dalam khayalannya, Asuna merasa damai dan bebas dari segala kekhawatiran dan masalah yang ada. Dia mengimajinasikan dirinya hidup di tempat yang indah ini, menjalani kehidupan yang sederhana dan penuh kedamaian.
Pikiran-pikiran positif dan impian Asuna membawa tidurnya menjadi lelap dan damai. Dia merasa terinspirasi untuk terus berjuang dan mencapai impian-impian yang ada di dalam hatinya.
Di dalam tidurnya, Asuna berjanji pada dirinya sendiri bahwa suatu hari nanti dia akan mencapai tempat yang aman dan indah seperti New Zealand, tempat di mana dia bisa menemukan kedamaian, kebahagiaan, dan keberhasilan yang dia impikan.
Asuna keluar dari rumahnya dengan tas sekolah di punggung. Rina sudah menunggu di depan rumah, dan mereka berjalan bersama menuju sekolah. Ketika mereka tiba di sekolah, mereka melihat seorang petugas sedang memperbaiki jendela yang pecah akibat penyerangan kemarin.
Asuna dan Rina melihat dengan penuh harap bahwa kejadian semalam tidak terulang kembali. Mereka berharap suasana di sekolah akan kembali normal dan aman seperti sebelumnya. Mereka bergegas ke dalam gedung sekolah dan menuju ke kelas mereka.
Ketika mereka masuk ke dalam kelas, suasana masih terasa sedikit tegang. Beberapa siswa masih membicarakan kejadian kemarin, sementara yang lain terlihat cemas dan khawatir. Asuna dan Rina saling pandang, memberikan dukungan satu sama lain.
Mereka duduk di bangku mereka, mencoba fokus pada pelajaran hari itu. Meskipun kejadian kemarin masih terbayang di pikiran mereka, mereka berusaha untuk tidak terpengaruh dan tetap fokus pada belajar dengan baik.
Saat istirahat, Asuna dan Rina keluar dari kelas dan duduk di bawah pohon di halaman sekolah. Mereka berbicara tentang berbagai hal, mencoba mengalihkan perhatian dari kejadian kemarin.
Walaupun suasana di sekolah masih tegang, Asuna dan Rina berusaha untuk tetap kuat dan tidak membiarkan rasa takut menguasai mereka. Mereka bertekad untuk menjalani hari-hari sekolah dengan semangat dan tetap berfokus pada tujuan mereka.
Dalam keheningan suasana sekolah yang sedang pulih, Asuna dan Rina berjanji untuk saling mendukung dan menjaga satu sama lain. Mereka tahu bahwa dengan bersama, mereka bisa menghadapi segala tantangan dan mengatasi ketakutan yang mungkin muncul.
Cindy mendekati Asuna dengan langkah ragu. Rina, yang berada di dekat Asuna, memperhatikan kedatangan Cindy dengan curiga. Namun, Asuna memberikan tanda kepada Rina untuk memberikan kesempatan pada Cindy.
"D-Do you mind if I talk to you, Asuna?" ucap Cindy dengan suara yang terdengar canggung.
Asuna mengangguk, memberikan tanda bahwa dia bersedia mendengarkan. Rina tetap berada di dekat mereka, tetapi mengamati situasi dengan ketegangan.
Cindy mengambil napas dalam-dalam sebelum berbicara, "Asuna, aku ingin minta maaf atas segala kesalahanku sebelumnya. Aku menyadari betapa buruknya tindakan yang aku lakukan, terutama terhadapmu dan Josh."
Asuna melihat ke dalam mata Cindy dan melihat kejujuran dalam kata-katanya. Meskipun masih ada kekhawatiran dan keraguan di dalam hatinya, dia memutuskan untuk memberikan kesempatan pada Cindy untuk memperbaiki kesalahannya.
Rina tiba-tiba memotong pembicaraan Cindy dengan ekspresi wajah yang tajam. "Stop right there, Cindy. Aku masih sangat curiga padamu. Apa yang membuatmu berubah tiba-tiba? Bagaimana aku bisa tahu bahwa ini bukan sekadar rencana busukmu lagi?"
Cindy terlihat terkejut oleh interupsi tiba-tiba dari Rina. Dia berusaha menjelaskan dengan nada yang penuh kejujuran, "Rina, aku mengerti mengapa kamu meragukan niatku. Tapi aku benar-benar ingin memperbaiki kesalahan-kesalahan yang aku lakukan. Aku ingin kembali menjadi temanmu, Asuna, dan Josh. Aku sadar bahwa aku telah membuat kesalahan besar, dan aku ingin memperbaikinya."
Rina masih tetap skeptis, tapi dia melihat kerendahan hati dalam sikap Cindy. Dia kemudian memandang Asuna, mencari konfirmasi dari sahabatnya itu.
Asuna memberikan senyuman lembut dan mengangguk kecil pada Rina. "Rina, kita semua pernah melakukan kesalahan. Jika Cindy benar-benar ingin berubah dan memperbaikinya, apakah kita bisa memberinya kesempatan kedua? Setidaknya, untuk memulai lagi sebagai teman."
Rina masih mencoba meyakinkan Asuna. "Tapi Asuna, kamu tidak bisa memaafkannya begitu saja dong. Dia telah banyak membuat kesalahan terhadapmu, dia hanya minta maaf dan harap kembali berteman."
Asuna mencoba memberikan keyakinan dan meminta Rina untuk tenang sejenak. "Kau ini, aku tahu semua pasti ada alasannya. Namun, apakah dia tidak layak mendapat kesempatan kedua? Aku juga tidak terlalu berharap dia akan menjadi baik lagi sepenuhnya. Untuk saat ini, mari kita maafkannya dulu."
Rina ragu sejenak. "Kau terlalu naif Asuna. Oke, oke kali ini karena permintaanmu, Cindy, aku akan memberikanmu kesempatan kedua. Tetapi, jangan pernah mengecewakan kami lagi."
Cindy tersenyum dengan penuh terima kasih. "Terima kasih, Rina. Aku akan berusaha semaksimal mungkin. Aku berharap ini adalah awal dari perubahanku."
Mereka bertiga kemudian melanjutkan perjalanan ke kelas masing-masing, membawa harapan bahwa persahabatan mereka bisa diperbaiki dan tumbuh menjadi lebih kuat dari sebelumnya.