
Tiba di sehari sebelum liburan semester tiba-tiba Asuna mendengar suara rintihan dari kamar adiknya dan dia terkejut, melihat adiknya yang menggigil dengan wajah yang pucat , Asuna langsung memeriksa apa yang terjadi pada adiknya dan ternyata suhu tubuhnya naik.
"Halo Rina, maaf mengganggu, aku ingin memberitahumu kalau aku tidak bisa ikut liburan nanti" ucap Asuna dengan kecewa.
"Kenapa? Ada masalah?,"jawab Rina dengan nada panik.
"Adikku tiba-tiba demam, jadi aku harus mengurusi dia di rumah," balas Asuna.
"Ooh, semoga adikmu cepat sembuh ya. Tidak apa-apa, kita bisa liburan lain waktu,"jawab Rina yang mengerti keadaan Asuna.
"Terima kasih, Rina. Maaf kalau membuatmu kecewa," ucap Asuna.
"Tidak, tentu saja tidak. Kesehatan adikmu lebih penting. Jangan khawatir tentang liburan, kita bisa menemukan waktu lain untuk bersenang-senang," jawab Rina yang berusaha menenangkan Asuna.
"Terima kasih atas pengertianmu. Semoga kita bisa liburan bersama lain waktu,"ucap Asuna yang merasa bersalah.
"Pasti bisa, jangan khawatir. Jaga adikmu baik-baik ya, Asuna" jawab Rina.
********
Asuna merasa sedih dan kecewa karena ia tidak bisa ikut berlibur dengan Rina yang sudah merencanakan semuanya dengan baik. Namun, dia tahu bahwa Farhan membutuhkan perhatiannya saat ini karena adiknya tiba-tiba demam. Asuna mengambil suhu tubuh Farhan dan memberinya obat yang sudah disiapkan sebelumnya. Setelah itu, Asuna membaca cerita untuk Farhan dan membantu adiknya tertidur.
Sementara itu, Asuna memutuskan untuk menghabiskan hari liburnya di rumah saja dan merawat adiknya. Dia juga memanfaatkan waktu luangnya untuk membersihkan rumah dan mencuci baju. Setelah itu, Asuna memasak makan malam untuk mereka berdua dan menemani Farhan ketika menonton film kesukaannya.
Meskipun tidak bisa ikut berlibur, Asuna merasa bahagia karena dapat menghabiskan waktu bersama adiknya. Dia tahu bahwa sebagai kakak, tanggung jawabnya adalah untuk merawat adiknya, terlepas dari situasi apapun
Asuna mencoba menelpon ayahnya beberapa kali, tetapi tidak ada respons. Ia semakin khawatir dengan kondisi adiknya yang terus demam. Setelah beberapa saat, Asuna memutuskan untuk membawa Farhan ke klinik terdekat.
Sesampainya di klinik, Asuna merasa lega karena dokter mengatakan bahwa Farhan hanya mengalami flu biasa dan diberikan resep obat. Setelah membeli obat di apotek, Asuna membawa Farhan pulang ke rumah.
Saat tiba di rumah, Asuna merasa sedih karena tidak ada yang bisa membantunya mengurus adiknya selama ia pergi bekerja. Ia merasa terbebani dengan tanggung jawab mengurus adiknya dan merindukan kehadiran ibunya.
Asuna kemudian memutuskan untuk memasak makan siang untuk mereka berdua. Sambil menunggu makanan matang, Asuna membaca buku dan Farhan tidur di sampingnya. Ia merasa bersyukur memiliki adik yang selalu membuatnya semangat meskipun dalam situasi sulit seperti ini.
Setelah mengetahui bahwa Asuna tidak jadi ikut liburan, Han memutuskan untuk menelponnya. Dia ingin tahu apakah ada sesuatu yang bisa ia bantu. Ternyata, Asuna sedang merawat adiknya yang sedang demam.
Ketika Han menawarkan untuk membantu menjaga adiknya, Asuna merasa terharu. "Benarkah kamu bisa?" tanya Asuna.
"Tentu saja, saya punya pengalaman merawat adik kecil di keluarga saya," jawab Han.
Asuna merasa lega. "Terima kasih banyak, Han. Aku benar-benar tidak tahu harus berbuat apa. Ayahku tidak mengangkat telepon dan aku tidak punya sanak saudara di sini."
"Tidak perlu terima kasih. Ini waktunya kami saling membantu," kata Han.
Kemudian Han pun pergi untuk menjaga adik Asuna. Sesampainya di rumah Asuna, Han melihat Farhan sudah tertidur pulas. Han kemudian duduk di samping Asuna dan bertanya tentang kesehatan adiknya
Asuna dan Han duduk di ruang tamu, mereka sedang membicarakan tentang keadaan ayah Asuna.
"Aku khawatir dengan ayahku, dia selalu bekerja sampai larut malam dan tidak pernah pulang tepat waktu. Aku tidak tahu apa yang dia lakukan." Asuna yang membuka obrolannya.
"Apakah kamu pernah bertanya padanya?" tanya Han
"Sudah, tapi dia selalu bilang bahwa pekerjaannya sangat penting dan dia tidak bisa meninggalkannya."jawab Asuna.
"Mungkin dia hanya berusaha keras untuk mencukupi kebutuhan keluarga, tapi dia tidak bisa mengungkapkan itu dengan jelas kepadamu." Han yang menjelaskan apa yang terjadi.
"Tapi itu bukan alasan untuk tidak pernah pulang tepat waktu atau bahkan tidak memperhatikan Farhan. Dia masih kecil dan butuh perhatian," balas Asuna.
"Aku mengerti perasaanmu, tapi kita harus mencoba memahami situasinya. Mungkin ada sesuatu yang membuat ayahmu bekerja keras seperti itu." Han yang memberikan pikiran positif.
"Aku hanya berharap dia bisa memberi tahu kami tentang itu, dan tidak hanya meninggalkan kami sendirian seperti ini." ujar Asuna.
"Aku akan mencoba membantumu mencari tahu lebih banyak tentang situasinya. Dan jangan khawatir, aku akan selalu ada untukmu dan Farhan." jawab Han.
"Terima kasih, Han. Aku sangat menghargainya,"Asuna yang menatap mata Han
Han melihat wajah Asuna yang terlihat lelah dan lesu. Ia bertanya, "Apakah kamu baik-baik saja, Asuna? Kamu terlihat sangat lelah."
Han mengambil tangan Asuna dan berkata, "Kamu tahu, kamu tidak harus mengatasi semuanya sendirian. Aku selalu di sini untukmu, jadi jangan ragu untuk meminta bantuan jika kamu membutuhkannya."
Asuna tersenyum dan mengucapkan terima kasih. Dia merasa sangat beruntung memiliki teman seperti Han yang selalu siap membantunya. Meskipun ia tahu bahwa ia harus menghadapi banyak masalah, ia tahu bahwa ia tidak sendirian dalam menghadapinya
Asuna merasa terharu atas kehadiran Han di hidupnya. Dia merasa bahwa Han benar-benar peduli dan memperhatikan dirinya. Dia merasa bersyukur karena memiliki teman seperti Han. Air matanya pun mulai berlinang.
Melihat Asuna menangis, Han merasa prihatin dan mencoba menghiburnya. Dia mengusap air mata Asuna dengan lembut.
"Han, terima kasih. Terima kasih karena sudah selalu ada untukku," ucap Asuna sambil mencoba mengendalikan tangisnya.
"Tidak perlu mengucapkan terima kasih, Asuna. Aku selalu ada untukmu, kapan saja dan di mana saja," balas Han dengan senyum hangatnya.
Asuna tersenyum dan merasa lega setelah berbicara dengan Han. Dia merasa ada beban yang terangkat dari hatinya.
Asuna tidak bisa menahan tangisnya lagi dan memeluk Han dengan erat. Air mata yang tadi menetes sekarang mengalir deras di pipinya. Han terdiam sejenak, kemudian membalas pelukan Asuna dan menepuk-nepuk punggungnya dengan lembut.
"Asuna, jangan menangis," ujarnya perlahan. "Aku di sini untukmu. Aku akan selalu ada untukmu."
Asuna mengangguk sambil masih merangkul Han. Perlahan-lahan, ia merasa tenang dan nyaman di pelukan Han. Hatinya dipenuhi rasa syukur karena akhirnya ia punya seseorang yang bisa mengerti dirinya di sampingnya.
Setelah beberapa menit, Asuna melepaskan pelukan dan mengusap air matanya. "Maaf, aku tadi jadi lebay," katanya sambil tersenyum kecil.
Han juga tersenyum. "Tidak apa-apa. Aku mengerti."
Asuna mengangguk, lalu ia mengalihkan topik pembicaraan. "Eh, kamu mau minum apa? Aku buatkan minum dulu ya."
Han mengangguk. "Terima kasih, aku mau teh hangat saja."
Asuna tersenyum dan beranjak ke dapur untuk mempersiapkan teh untuk Han. Sementara itu, Han duduk di sofa dan memandangi sekeliling rumah Asuna. Ia merasa senang bisa berada di sana dan membantu Asuna. Ia berharap bisa terus menjadi teman dekat Asuna dan memberikan dukungan untuknya di masa-masa sulit seperti sekarang
Asuna dan Han duduk berdampingan di sofa dan meminum teh hangat bersama, mereka saling berbincang-bincang dengan hangat. Asuna merasa sangat nyaman dan terhibur dengan kehadiran Han di sampingnya.
"Han, terima kasih sudah datang. Aku benar-benar merasa sendirian sebelum kamu datang," ucap Asuna dengan tulus.
Han tersenyum dan menyentuh bahu Asuna dengan lembut, "Tidak usah terima kasih, Asuna. Aku senang bisa membantumu dan membuatmu merasa lebih baik."
Asuna mengangguk, dan senyumnya pun terlihat lebih cerah dari sebelumnya. Mereka terus berbincang-bincang tentang segala hal, dari hobi dan minat mereka hingga masalah keluarga dan kehidupan pribadi.
Han juga memberikan nasihat dan dukungan pada Asuna, memberitahunya bahwa dia tidak sendirian dan selalu ada orang yang peduli padanya. Asuna merasa sangat beruntung bisa bertemu dengan Han.
"Kamu tahu, Han, kamu benar-benar berbeda dari orang lain. Aku merasa sangat nyaman dan aman di dekatmu," ucap Asuna dengan penuh rasa syukur.
Han tersenyum dan menepuk pelan tangan Asuna, "Kamu juga berbeda, Asuna. Aku senang bisa bertemu denganmu dan menjadi temanmu."
Mereka terus berbincang-bincang hingga larut malam, tanpa merasa lelah atau bosan. Asuna merasa sangat bahagia karena akhirnya dia memiliki teman yang bisa mengerti dan mendukungnya.
"Maaf Asuna, aku harus pergi sekarang. Aku tidak bisa terlalu lama di sini." Han yang berdiri dari sofa.
"Tapi, apa kamu yakin bisa pulang sendiri di malam yang gelap seperti ini?" tanya Asuna.
"Tenang saja, aku sudah biasa pulang sendiri di malam hari. Jangan khawatir tentangku."Han yang memastikannya.
"Tapi bagaimana jika terjadi sesuatu? Aku tidak bisa membiarkanmu pergi sendiri."ujar Asuna.
Han mengangguk ringan, "Aku akan baik-baik saja, jangan khawatir."
Asuna merasa khawatir dan tidak ingin Han pergi sendirian di malam yang gelap. "Tetapi, malam ini sangat berbahaya di kota ini, polisi tidak dapat diandalkan, dan banyak sekali tindakan kriminalitas yang terjadi."
Han tersenyum, "Aku akan berjalan cepat, jangan khawatir. Aku akan segera sampai di rumah."
Asuna tidak yakin, tetapi dia juga tidak ingin memaksakan Han untuk tinggal. "Baiklah, tetapi tolong berhati-hati, jangan lupa menghubungi saya ketika kamu sudah sampai di rumah."
Han mengangguk, "Aku akan melakukannya, jangan khawatir. Sampai jumpa besok."
Asuna mengantar Han ke pintu dan melihat dia berjalan dengan cepat menuju jalan raya yang gelap. Hatinya masih merasa khawatir dan cemas, tapi dia berdoa agar Han sampai di rumah dengan selamat