Decent Place

Decent Place
Pulang dari rumah sakit



Seperti yang telah Asuna bilang kemarin dia akan kembali ke rumah sait namun kali ini ,Asuna tiba di rumah sakit pada sore hari, dengan niatan untuk menjemput Han pulang, sesuai dengan perkataan dokter bahwa Han bisa pulang hari ini. Namun, ketika dia masuk ke ruang rawat dia melihat Han tidak ada di sana, lalu dia melihat di sekitar dan melihat jendela dia terkejut melihat Han sudah berjalan-jalan di sana di taman rumah sakit.


"Asuna!" Han tersenyum lebar saat melihat Asuna. Dia terlihat lebih baik daripada saat terakhir kali mereka bertemu di rumah sakit. Han mengenakan pakaian biasa dan tidak terlihat selemah sebelumnya.


"Asuna, aku sudah diberi izin untuk pulang oleh dokter," kata Han dengan senyum cerah di wajahnya. "Mereka mengatakan aku sudah cukup pulih untuk kembali ke rumah."


Asuna merasa campuran antara lega dan khawatir. Dia senang melihat Han sudah bisa pulang dan sembuh, tetapi dia juga khawatir apakah Han sudah benar-benar pulih sepenuhnya. Dia ingin memastikan bahwa Han dalam kondisi yang baik sebelum pulang.


"Tapi Han, apakah kamu yakin kamu sudah benar-benar baik-baik saja?" tanya Asuna dengan khawatir. "Aku tidak ingin kamu memaksakan diri."


Han meyakinkan Asuna bahwa dia merasa jauh lebih baik dan bahwa dokter memberinya lampu hijau untuk pulang. Dia juga menegaskan bahwa dia akan beristirahat dan mengikuti petunjuk medis dengan baik di rumah.


"Asuna, aku benar-benar ingin pulang," kata Han dengan penuh keyakinan. "Aku akan sangat berterima kasih jika kamu bisa membantu aku pulang."


Asuna akhirnya mengangguk, tetapi dia tetap memperhatikan Han dengan cermat selama perjalanan pulang. Dia ingin memastikan bahwa Han dalam kondisi yang baik dan tidak memaksakan diri.


Asuna merasa senang bisa mengantar Han pulang ke rumah setelah Han dinyatakan pulih dan boleh keluar dari rumah sakit. Namun, Han mengutarakan rasa khawatirnya kepada Asuna.


"Sebenarnya, kau tidak perlu menjemput aku pulang, Asuna," ucap Han dengan lembut. "Aku tahu kau pasti sibuk dan kelelahan. Aku bisa pulang sendiri."


Asuna tersenyum lembut, menunjukkan kepeduliannya pada Han. "Tidak apa-apa, Han," kata Asuna. "Aku ingin memastikan kamu pulang dengan aman dan nyaman. Aku tidak keberatan sama sekali."


Han tersenyum, mengerti bahwa Asuna ingin menjaga keamanannya. Dia merasa beruntung memiliki seorang teman seperti Asuna yang selalu peduli pada dirinya.


Mereka berdua naik taksi bersama-sama, dengan Asuna duduk di samping Han. Mereka berbicara tentang berbagai hal, tertawa dan mengingat kenangan-kenangan bersama selama waktu Han di rumah sakit. Asuna juga memberikan beberapa saran dan petunjuk kepada Han tentang perawatan lanjutan yang perlu dia ikuti setelah pulang.


Setelah tiba di apartemen Han, Asuna terkesan dengan kebersihan dan kerapihan di dalam rumahnya. Han mempersilakan Asuna duduk di ruang tamu sementara dia pergi ke dapur untuk membuatkan minuman.


Sambil menunggu, Asuna melihat-lihat koleksi buku dan album musik Han yang tersusun rapi di rak. Han kembali dengan membawa dua gelas minuman dan duduk di sebelah Asuna.


"Kau punya banyak buku dan album musik ya, Han. Kapan waktu luangmu untuk membaca dan mendengarkan musik?" tanya Asuna.


Han tersenyum, "Aku selalu mencari waktu untuk hal-hal yang aku sukai, meskipun sedikit saja."


Asuna mengangguk mengerti, "Bagus sekali itu, Han. Aku juga senang membaca buku dan mendengarkan musik, meskipun terkadang sulit mencari waktunya ."


Saat Meraka duduk di sofa Han menanyakan kabar tentang kehidupan Asuna "Bagiamana sekolahmu tadi Asuna apa masih ada Maslah,?"


"Han, sampai saat ini Rina masih menjauh dariku, dulu aku sebangku dengannya namun setelah kejadian itu dia pindah ke bangku belakang dan mencoba menghindari ku" ucap Asuna yang sedih.


Asuna merasa teringat akan masa lalu ketika dia dan Rina dulunya adalah teman dekat di sekolah. Namun, hubungan mereka menjadi renggang setelah ada permasalahan yang melibatkan Cindy, seorang teman mereka yang menghasut mereka untuk bermusuhan.


"Aku masih teringat ketika aku dan Rina dulu sangat dekat. Tapi semuanya berubah setelah Cindy memiliki kekuatan untuk menyuruhku bermusuhan dengannya," ucap Asuna dengan nada sedih.


Han mengangguk paham. "Jadi Cindy yang menghasut kalian berdua untuk bermusuhan?"


Asuna mengangguk, "Ya, begitulah. Cindy memainkan peran yang cukup besar dalam memecah persahabatan kami. Aku menyesal telah terjebak dalam permainannya."


Han meletakkan tangan di bahu Asuna dengan penuh simpati. "Jangan terlalu keras pada dirimu sendiri, Asuna. Kadang-kadang kita semua bisa terpengaruh oleh orang lain. Yang penting sekarang adalah apa yang bisa kita lakukan untuk memperbaiki hubunganmu dengan Rina."


Han memberikan senyuman penyemangat. "Cobalah untuk berbicara dengannya, jujur dan tulus. Sampaikan perasaanmu dan niat baikmu untuk memperbaiki hubungan kalian. Mungkin dia akan menerimamu."


Asuna menghela nafas, merasa bersemangat untuk menghadapi Rina dan memperbaiki hubungan mereka. "Yah baiklah, Han. Aku akan mencobanya."


Han mengangguk dan memberikan dukungan. "Tidak masalah. Aku di sini untukmu. Semoga hubunganmu dengan Rina bisa membaik."


Mereka terus berbincang-bincang, tertawa, dan menghabiskan waktu bersama di rumah Han, Akhirnya, Asuna merasa sudah cukup lama dan harus segera pulang.


"Han. Aku senang bisa berkunjung ke rumahmu dan menghabiskan waktu bersama," ucap Asuna sambil berdiri.


Han tersenyum, "Yah, Asuna. Aku juga senang bisa menghabiskan waktu bersama denganmu. Sampai jumpa lagi ya."


Asuna tersenyum dan meninggalkan rumah Han dengan perasaan senang dan bahagia. Dia merasa semakin dekat dengan Han dan ingin mengenalnya lebih dalam lagi


Asuna pulang ke rumah dan bertemu dengan adiknya, Farhan, yang sedang menunggunya di ruang tamu. Farhan langsung menanyakan kabar Han kepada Asuna.


"Kak, bagaimana kabar Han? Apa dia sudah sembuh?" tanya Farhan dengan wajah cemas.


Asuna tersenyum dan mengelus kepala adiknya. "Iya, Farhan. Han sudah sembuh dan sudah pulang dari rumah sakit. Kita sudah menjenguknya tadi sore."


"Syukurlah, aku senang mendengarnya," kata Farhan lega.


Asuna mengangguk dan duduk di samping adiknya di sofa. Mereka berbincang-bincang sebentar tentang Han dan kesehatannya, lalu Asuna memutuskan untuk mandi dan istirahat


Asuna mandi dan istirahat di rumahnya. Setelah berbicara dengan Farhan tentang kabar Han, Asuna merasa cukup lelah dan memutuskan untuk mandi dan istirahat sejenak.


Asuna pergi ke kamar mandi dan mengalirkan air untuk mandi. Dia merasa rileks saat air hangat mengalir melalui tubuhnya, menghilangkan kelelahan setelah seharian yang penuh peristiwa. Dia menggosok tubuhnya dengan sabun dan sampo, membiarkan pikirannya melayang entah ke mana.


Setelah selesai mandi, Asuna mengenakan piyama yang nyaman dan kembali ke kamarnya. Dia merasa sangat kenyang dengan perasaan lega bahwa Han sudah sembuh. Asuna berbaring di atas tempat tidurnya, memejamkan mata, dan berusaha untuk bersantai sejenak.


Namun, pikirannya masih melayang pada masalah dengan Rina. Dia merasa sedih karena persahabatannya dengan Rina masih belum baikan setelah insiden yang di sebabkan Cindy. Asuna berharap bisa berbicara dan meredakan ketegangan dengan Rina secepat mungkin.


Saat Asuna sedang beristirahat, tiba-tiba ponselnya berdering dan dilihatnya bahwa itu adalah panggilan dari Leo. Asuna agak terkejut karena tidak terbiasa menerima panggilan dari Leo di waktu-waktu seperti ini. Namun, dia tetap menjawab panggilan itu.


"Ada apa, Leo? Maaf, aku ingin beristirahat sebentar aku sangat lelah jadi ku harap kau mengerti," kata Asuna.


"Iya, maaf mengganggu istirahatmu. Aku hanya merindukanmu, Asuna," jawab Leo dengan lembut.


Asuna mengernyitkan kening. Dia merasa aneh dengan pernyataan Leo. Mereka memang sudah saling kenal cukup lama, walaupun Asuna dan Leo pernah dekat itupun karna Saat itu Han menjauh dengannya.


"Aku juga merindukanmu, Leo. Tapi aku ingin istirahat sebentar, bisa kita bicara lain kali maaf yah Leo?" kata Asuna.


"Ehhh.. Tapi Asuna bisakah kita...." kata Leo sebelum akhirnya Asuna menutup panggilan.


Asuna merasa sedikit lega setelah panggilan itu berakhir. Dia merasa ada sesuatu yang tidak beres dengan Leo, tapi dia tidak tahu pasti apa itu. Setelah itu, dia segera melanjutkan istirahatnya


Setelah beristirahat sejenak, Asuna memutuskan untuk tidur dan mengistirahatkan tubuhnya sepenuhnya. Dia berharap bisa bangun dengan semangat baru dan menghadapi hari berikutnya dengan pikiran yang jernih