Decent Place

Decent Place
Memperbaiki hubungan



Bell istirahat berbunyi, menandakan waktu istirahat di sekolah. Asuna yang baru saja selesai mengambil hasil perbaikan nilai ujian matematikanya dari guru, melangkah dengan senyum di wajahnya menuju kantin. Dia merasa lega karena hasil perbaikan nilainya cukup baik, berkat bantuan dari Han, teman lamanya yang sangat mahir dalam matematika, meskipun Han hanya lulusan SMP.


Asuna duduk di meja favoritnya di kantin, sambil membuka kantong plastik yang berisi lembaran kertas hasil perbaikan nilainya. Dia senang melihat angka yang lebih tinggi daripada sebelumnya, berkat bimbingan Han


Asuna duduk di meja kantin sekolah, sambil menikmati makan siangnya bersama Leo teman dekatnya sekarang.


"Hey, Asuna! Kabar baik? Ayo kita makan siang bareng," ajak Leo dengan semangat.


Asuna mengangguk, "Tentu, kenapa tidak?"


Mereka berdua berbincang seru sambil menikmati makanan mereka. Leo kemudian menyusupkan pembicaraan tentang rencananya.


"Hei, kamu tahu apa yang akan seru? Kita bisa pergi ke mall setelah ini! Aku ingin membeli beberapa game baru dan aku butuh saranmu," ujar Leo dengan senyum lebar.


Asuna ragu sejenak. Dia ingin sekali bertemu dengan Han, teman lamanya yang sudah lama tidak dia jumpai. Rindu mereka terhadap satu sama lain membuat hati Asuna berbunga-bunga. Namun, dia tidak ingin mengungkapkannya kepada Leo.


"Maaf, Leo. Aku tidak bisa ikut ke mall kali ini," kata Asuna dengan cemas.


Leo terlihat bingung, "Kok bisa?"


Asuna berpikir cepat untuk menemukan alasan yang masuk akal. "Ehm, ada urusan keluarga yang harus aku selesaikan sore ini. Tidak bisa diundur lagi," ujar Asuna dengan wajah serius.


Leo mengangguk mengerti, meskipun terlihat kecewa, dia menghormati keputusan Asuna.


"Oh, mengerti. Tidak masalah. Mungkin nanti kita bisa pergi bersama lain kali," ujar Leo dengan nada yang mengandung harapan.


Asuna mengangguk, "Ya, tentu. Maaf ya, Leo. Sekarang aku harus pergi," ujar Asuna sambil berdiri dan meninggalkan kantin dengan hati yang berbunga-bunga, karena dia tahu dia akan bertemu dengan Han, teman lamanya yang sudah dia rindukan, di Decent Place. Dia tidak sabar untuk bertemu dengannya dan bercerita tentang apa yang telah terjadi sejak terakhir kali mereka bertemu


Leo memperhatikan dengan seksama langkah-langkah Asuna yang meninggalkan meja kantin. Dia merasa ada sesuatu yang berbeda dalam nada bicara Asuna tadi. Leo merasa curiga bahwa Asuna sedang menyembunyikan sesuatu.


"Dari nada bicaranya tadi, sepertinya Asuna menyembunyikan sesuatu deh," ucap Leo dalam hati. Dia mengingat bagaimana Asuna menolak ajakannya untuk pergi ke mall, padahal sebelumnya mereka sering menghabiskan waktu bersama.


Leo merasa cemas dan penasaran apa yang sedang terjadi dengan Asuna. Dia merasa ingin tahu apa yang sedang ada dalam pikiran Asuna, namun dia juga tidak ingin terlalu mengganggu privasi Asuna. Dia memutuskan untuk mengamati lebih lanjut, sambil berharap bahwa Asuna akan berbagi apa yang sedang terjadi dalam hidupnya dengan Leo suatu saat nanti


Setelah pulang sekolah, Asuna berjalan menuju rumahnya dengan langkah tergesa-gesa. Hatinya masih berbunga-bunga setelah mendapat hasil perbaikan nilai matematika yang diberikan oleh Han, teman sekelasnya yang dulu pernah membantunya mengerjakan soal tersebut.


Saat berjalan di jalan, tiba-tiba Asuna melihat seseorang yang dikenalinya dengan baik. Itu adalah Han, teman dekatnya yang pernah menjadi sahabat baiknya. Namun, semenjak beberapa waktu belakangan, Han bersikap dingin dan jarang berbicara dengannya.


Asuna merasa gugup, namun dia memutuskan untuk menghadapinya. Dia ingin mengajak Han ke Decent Place, tempat yang sudah lama ingin dia kunjungi bersama Han. Asuna berjalan mendekati Han dan berbicara dengan hati-hati.


"Han, apa kabar?" ucap Asuna dengan senyum ramah.


Han hanya mengangkat alisnya tanpa menjawab. Dia masih bersikap dingin dan tidak menggubris Asuna.


Asuna menggigit bibirnya, merasa canggung. Namun, dia tidak ingin menyerah begitu saja. Dia mengambil nafas dalam-dalam, lalu melanjutkan.


"Aku mau mengajakmu ke Decent Place, tempat yang dulu kita selalu bicarakan. Aku rindu menghabiskan waktu bersamamu," ucap Asuna dengan nada lembut, mencoba untuk melembutkan hati Han.


Han terdiam sejenak, seolah berpikir. Setelah beberapa saat, dia akhirnya mengangguk singkat.


"Baiklah," ucap Han singkat, tanpa menunjukkan ekspresi berlebihan.


Asuna merasa senang, meskipun Han masih bersikap dingin. Dia berharap bisa menghabiskan waktu yang menyenangkan bersama Han di Decent Place dan memperbaiki hubungan mereka yang sempat renggang.


mereka jalan bersama menuju ke Decent Place, selama di perjalanan Han tidak membuka pembicaraan apapun bahkan sekedar basa-basi pun tidak, Asuna yang merasa canggung Asuna tiba-tiba menggenggam tangan Han dan tersenyum penuh semangat. "Ayo, Han! Kita bisa berlari ke Decent Place! Mari kita ingat kenangan indah kita di sana!"


Han menarik tangannya perlahan, masih terlihat ragu. "Tidak usah terburu-buru, Asuna. Kita bisa berjalan saja."


Namun, Asuna tidak mau menyerah begitu saja. Dia ingin membuat Han tersenyum seperti dulu lagi. Dengan penuh semangat, Asuna mulai berlari, mencoba membujuk Han untuk ikut.


"Han, coba deh! Ingat saat kita dulu berlari untuk ke Decent Place untuk pertama kalinya, larimu terlalu cepat ?" seru Asuna, sambil terus berlari, meninggalkan Han yang terlihat bingung di belakangnya.


Han menggelengkan kepala, tetapi tak lama kemudian, dia mulai tersenyum melihat Asuna yang terlihat sangat bersemangat. Dia akhirnya mengikuti Asuna dan berlari bersamanya ke Decent Place.


Mereka melewati jalan-jalan dan gang-gang, sambil sesekali tertawa dan mengingat kenangan mereka di tempat itu. Lambat laun, Han merasa hangat di hatinya, saat Asuna berhasil membuatnya merasa lebih rileks dan terbuka.


Setelah beberapa saat, mereka akhirnya tiba di Decent Place, sambil terengah-engah karena berlari. Asuna tersenyum puas, merasa senang bisa mengajak Han berlari bersamanya.


"Haha, kita sampai juga!" ucap Asuna, masih bernafas agak terengah-engah.


Han mengangguk, tersenyum tipis. "Ya, berhasil juga."


Asuna merasa senang melihat senyuman di wajah Han. Mereka masuk ke Decent Place dan duduk di meja yang familiar baginya. Meskipun awalnya Han masih dingin.


Asuna dan Han duduk di sofa di dalam ruangan Decent Place. Mereka saling berhadapan, suasana canggung masih terasa di antara mereka. Asuna mencoba untuk memecah keheningan.


"Asyik juga bisa datang ke sini lagi," ucap Asuna, mencoba mengobrol dengan Han.


Asuna merasa cemas. Dia ingin memperbaiki hubungan mereka, tetapi Han masih terlihat cuek. Dia mencoba mencari topik pembicaraan yang bisa membuat Han lebih nyaman.


"Kamu tahu, aku sangat berterima kasih karena kamu membantuku memperbaiki nilai ujian matematika tadi," ucap Asuna dengan senyum tulus. "Tanpa bantuanmu, aku mungkin masih bingung sampai sekarang."


Han mengangkat alisnya sedikit, tetapi masih tidak banyak mengatakan. "Itu tidak masalah. Aku hanya membantu karena kamu terlihat sangat bingung."


Asuna tersenyum lebar, senang mendengar kata-kata Han yang meski sedikit, namun lebih ramah daripada sebelumnya. Dia ingin lebih dekat lagi dengan Han dan memperbaiki hubungan mereka yang sebelumnya retak.


Asuna menatap Han dengan tanda tanya di wajahnya. "Han, aku penasaran. Bagaimana bisa kamu begitu jago dalam matematika, padahal kamu sudah tidak melanjutkan ke SMA?"


Han tersenyum tipis, menggelengkan kepala. "Aku suka matematika sejak dulu, jadi aku terus belajar meski tidak melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi."


Asuna mengangguk mengerti. "Wow, itu sangat mengesankan. Kamu memang cerdas, Han."


Han hanya tersenyum simpul, seolah tidak terlalu ingin diperhatikan.


Asuna kemudian melanjutkan, "Aku juga ingin belajar lebih banyak dari kamu. Aku merasa aku masih perlu meningkatkan kemampuanku dalam matematika."


Han mengangkat alisnya, menatap Asuna dengan tajam. "Serius? Aku tidak pernah berpikir kamu butuh bantuan dalam matematika. Kamu selalu terlihat pintar dalam pelajaran itu."


Asuna tersipu malu, merasa senang mendengar pujian dari Han. "Terima kasih, tapi sebenarnya aku ingin menjadi lebih baik lagi. Maukah kamu membantu aku belajar?"


Han mengedikkan bahu, masih dengan senyum kecil di bibirnya. "Baiklah, aku bisa membantumu. Tapi kamu harus serius belajar dan berjanji tidak akan menghindar lagi seperti sebelumnya."


Asuna mengangguk dengan semangat. "Deal! Aku janji akan serius belajar dan berterima kasih banyak atas bantuanmu, Han."


Asuna merasa masih merasa canggung saat duduk berhadapan dengan Han di Decent Place. Dia tahu dia harus menghadapinya dan meminta maaf atas tindakan sebelumnya.


"Asuna, aku tahu kamu ingin bicara tentang itu," kata Han dengan suara tenang, tetapi Asuna bisa melihat ekspresi ringan di wajah Han.


Asuna menggigit bibirnya, merasa gugup. "Han, aku benar-benar menyesal atas apa yang telah terjadi. Itu adalah kesalahan besar dan sangat tidak pantas. Aku ingin meminta maaf, aku tidak seharusnya melakukan itu."


Han tersenyum, mencoba menenangkan Asuna. "Sudahlah, Asuna. Aku sudah memaafkanmu."


Asuna terkejut. "Tapi aku merasa sangat bersalah..."


Han menatap Asuna dengan lembut. "Kamu tahu aku sudah memaafkanmu, kan? Dan aku tidak ingin membahasnya lagi. Yang terpenting sekarang adalah kita bisa belajar dari kesalahan kita dan menjaga hubungan kita dengan baik."


Asuna merasa lega mendengar kata-kata Han. Dia merasa bersyukur memiliki teman sepertinya yang bisa memaafkannya meskipun kesalahannya cukup besar. Dia meraih tangan Han dengan penuh penghargaan.


"Terima kasih, Han. Aku benar-benar beruntung memiliki kamu sebagai teman. Aku akan berusaha untuk menjadi lebih baik ke depannya."


Han tersenyum dan mengangguk. "Sama-sama, Asuna. Kita akan menjaga hubungan kita dengan baik, dan aku akan selalu siap membantu kamu jika kamu membutuhkannya."


Asuna tiba-tiba merasa percaya diri dan dengan iseng, dia mencium pipi Han dengan lembut. Han terkejut dan merasa pipinya terasa hangat.


"Ini ciuman untukmu, supaya kau tidak cemburu lagi, Han," ucap Asuna dengan nada sedikit menggoda.


Han merah padam dan terkejut dengan tindakan Asuna. Dia tersenyum canggung dan mencoba merespons dengan santai.


"Hehe, terima kasih, Asuna. Tapi kamu tahu, aku tidak pernah benar-benar cemburu," ucap Han, mencoba mengendalikan keterkejutannya.


Asuna tersenyum lebar, merasa lega bahwa tindakannya diterima dengan baik. "Tentu saja, Han. Aku hanya ingin memastikan bahwa semuanya baik-baik saja antara kita."


Han mengangguk, dan dia merasa senang melihat senyuman Asuna. Dia merasa hangat di dalam hatinya, dan dia mulai merasa lebih nyaman dengan Asuna meskipun mereka baru saja melewati momen yang agak canggung.


Mereka berdua kemudian duduk kembali di sofa, tersenyum satu sama lain, dan mulai berbicara tentang hal-hal lain. Hubungan mereka mulai pulih, dan Asuna berjanji pada dirinya sendiri untuk lebih bijaksana dan tidak membuat kesalahan yang sama lagi. Dia merasa beruntung memiliki Han sebagai teman dan akan berusaha menjaga hubungan mereka dengan baik.


Asuna dan Han duduk di atas gedung, memandangi langit senja yang indah. Udara dingin menjalar, tapi mereka tetap duduk di sana, terpesona oleh pemandangan di depan mereka.


"Asuna, jika memang kota ini tetap buruk, apakah kau benar-benar ingin pergi dari sini?" ucap Han, suara pelan terbawa angin.


Asuna memandang Han dengan penuh pertimbangan. Dia ingat bahwa dulu dia pernah bercerita kepada Han tentang impian untuk pergi ke New Zealand dan tinggal di sana. Tapi sekarang, di tengah-tengah kota yang mungkin tidak sempurna, dia merasa ragu.


"Asuna menggigit bibirnya, seolah berusaha mencari jawaban yang tepat. "Aku tidak yakin, Han. Aku pernah bermimpi untuk pergi ke New Zealand, tapi sekarang aku merasa bahwa ada hal-hal yang membuatku tetap ingin tinggal di sini."


Han mengangguk, memahami perasaan Asuna. "Ya, aku mengerti. Kadang-kadang kita merasa terikat dengan tempat-tempat tertentu, entah itu karena kenangan, teman, atau pengalaman kita di sana."


Asuna tersenyum, merasa diberdayakan oleh kata-kata Han. "Ya, benar. Aku merasa terikat dengan kota ini karena ada banyak kenangan indah di sini, termasuk kenangan bersamamu."


Han tersenyum kikuk, dan mereka berdua mengalihkan pandangan mereka kembali ke langit senja yang indah. Mereka duduk di sana dalam keheningan, merenungkan masa depan mereka dan apa yang akan mereka lakukan selanjutnya.


Setelah beberapa saat, Han meraih tangan Asuna dengan lembut. "Apa pun keputusanmu nanti, aku akan mendukungmu, Asuna. Aku ingin melihatmu bahagia, di sini atau di tempat lain."


Asuna tersenyum hangat dan merasa beruntung memiliki teman seperti Han. Dia tahu bahwa dia memiliki seseorang yang selalu mendukungnya, terlepas dari apa pun keputusannya. Bersama-sama, mereka menghadapi masa depan dengan harapan dan keyakinan.