
Han merasa frustrasi dan kesal karena sudah beberapa kali kalah dalam permainan game yang sedang dia mainkan di warnet. Dia memutuskan untuk berhenti sejenak dan memikirkan hal lain. Tiba-tiba, Han teringat pada Asuna dan merasa ingin pergi ke rumahnya untuk bertemu dengannya.
Tanpa ragu, Han segera membayar biaya sewa warnet dan keluar dari tempat itu. Dia melangkah cepat menuju rumah Asuna yang berjarak beberapa kilometer dari sana.
Setelah sampai di depan rumah Asuna, Han memperhatikan tanda-tanda di sekitar rumah dan melihat ayah Asuna tidak ada di sana. Dia berpikir bahwa ini mungkin saat yang tepat untuk mengunjungi Asuna.
Ketika Han datang ke rumah Asuna, Asuna dengan hati yang berat keluar dari kamar adiknya dan menghadapi Han di depan pintu. Walaupun dia merindukan Han, dia merasa terhalang oleh ancaman ayahnya.
"Asuna, aku datang karena aku khawatir padamu. Apa yang terjadi? Mengapa kau tidak mengangkat telponku ?" tanya Han dengan khawatir.
"Sekarang kita tidak perlu bertemu ataupun mengajaku ke Decent Place ," kata Asuna dengan ekspresi datar.
"Hah kau ini kenapa Asuna. Apakah aku berbuat salah ? akuĀ hanya mencoba selalu menjagamu," balas Han dengan tegas.
Asuna terdiam. Dia tahu Han benar, tetapi dia juga tidak ingin membuat ayahnya marah. Akhirnya, Asuna berkata dengan suara lembut, "Maaf, Han. Tidak sekarang. Ayahku sedang dalam keadaan yang buruk, dan aku tidak ingin membuatnya lebih marah. Tolong mengerti."
Han mengangguk dengan sedih. "Baiklah, aku mengerti. Tapi janji padaku, jika kau butuh bantuan, beritahuku. Aku akan selalu ada untukmu."
Asuna mengangguk dan Han pergi dengan perasaan sedih. Asuna merasa bersalah dan merindukan Han, tetapi dia tidak tahu bagaimana cara menyelesaikan masalah dengan ayahnya.
Asuna diam-diam memperhatikan Han dari halaman rumahnya saat Han pergi dari rumahnya. Dia merasa sangat menyesal atas perbuatannya yang menolak Han tadi, tetapi dia merasa terpaksa karena ayahnya yang terlalu protektif.
Asuna memikirkan betapa sulitnya bagi Han untuk datang ke rumahnya, tetapi dia tetap menolaknya dan bahkan memintanya pergi. Hatinya berkecamuk dan dia merasa sedih, tetapi dia tahu dia harus berbuat seperti itu demi memiliki waktu merawat adiknya.
Asuna berharap Han dapat memahaminya, meskipun dia tahu itu akan sangat sulit. Dia lalu berdoa semoga suatu saat nanti mereka dapat bersatu kembali tanpa ada halangan.
Han terus berjalan dengan langkah gontai, merasa tidak bersemangat. Dia merenungkan tentang hari ini yang memang tampak seperti hari yang sial. Dia merasa frustasi karena gagal menang dalam game dan Asuna menolak kedatangannya. Dia tahu bahwa Asuna pasti memiliki alasan yang kuat untuk menolaknya, tapi dia merasa sedih dan kecewa, dia masih memikirkan Asuna terus-menerus.
"Apa yang harus aku lakukan? Aku merindukannya, tapi dia jelas tidak ingin aku dekat-dekat dengannya saat ini," pikir Han dalam hati.
Han merasa frustasi dengan situasi ini, tetapi dia tahu bahwa dia harus memberi Asuna waktu dan ruang untuk memperbaiki hubungan mereka. Dia memutuskan untuk mengambil jalan pulang yang berbeda dan berjalan-jalan sendirian sambil berpikir tentang cara mengatasi masalah ini
"Hari ini aku merasa sangat kesepian," ucap Han dalam hatinya.
Dia merasa kecewa karena Asuna menolak kehadirannya tadi. Meskipun dia tahu bahwa itu bukan kesalahan Asuna, dia merasa sedih karena tidak bisa berada di dekat gadis itu.
Han merokok dengan lambat, membiarkan waktu berlalu tanpa perhatian. Setelah beberapa menit, dia membuang sisa rokok itu dan melangkah ke arah Decent Place dengan langkah lemas dan kesepian di hatinya.
Han duduk di atas atap gedung Decent place yang tinggi, dengan kaki menggantung di tepi atap. Dia meraih kotak rokok dari sakunya dan menyalakan satu batang. Han mengambil sejumput napas dalam dan menatap langit yang indah di depannya.
"Tidak ada yang lebih baik dari ini," gumam Han pada dirinya sendiri sambil meniupkan asap rokoknya ke langit.
Dia merasa tenang di atas gedung ini, jauh dari keramaian kota yang sibuk. Han memikirkan Asuna dan perasaannya terhadapnya. Dia tahu Asuna masih terluka dan merasa terancam oleh ayahnya. Namun, dia tidak tahu apa yang harus dilakukan untuk membantu Asuna. Han merasakan ketidakpastian di dalam dirinya, karena dia tidak ingin menyakiti perasaan Asuna lagi.
"Haruskah aku menyerah? Atau terus berjuang untuk Asuna?" gumam Han pada dirinya sendiri.
Han mengambil satu tarikan panjang dari rokoknya dan meniupkan asap ke udara. Dia memutuskan untuk terus berjuang untuk Asuna. Han tidak ingin membiarkan Asuna sendiri dan terluka. Dia akan berjuang sampai akhir dan memenangkan hati Asuna.
Han duduk di sofa di salah satu sudut ruangan Decent Place, tempat yang biasa ia kunjungi bersama Asuna. Dia merenung sambil menatap bingkai foto di atas meja kecil di dekatnya. Foto itu memperlihatkan dirinya dan Asuna tersenyum bahagia.
"Kau tahu, Asuna...aku merindukanmu," ucap Han dalam hatinya sambil menghembuskan asap rokoknya.
Dia berusaha menenangkan hatinya yang gelisah. Seperti ada yang hilang dari kehidupannya sejak Asuna menjauh darinya. Han merasa terluka dan kesepian, tetapi dia tidak tahu bagaimana mengatasinya. Ia hanya dapat menikmati kehampaan di tempat ini dan merenungkan semua yang telah terjadi.
"Katakan padaku, Asuna... apa yang harus kulakukan?" pikir Han sambil menarik nafas dalam-dalam. Dia ingin mencari cara untuk memperbaiki hubungannya dengan Asuna, tetapi terasa semakin sulit setiap kali ia mencoba.
Dia terus memandang foto itu, mengingat kenangan indah yang pernah mereka bagikan bersama. Han hanya bisa berharap bahwa satu hari nanti mereka bisa kembali bersama seperti dulu lagi.
Han terlelap di sofa ruangan Decent Place hingga pagi hari. Tubuhnya yang lelah karena berjalan-jalan dan merokok semalam membuatnya terlelap pulas. Pagi yang cerah dengan sinar matahari yang masuk ke dalam ruangan membangunkannya dari tidurnya. Han menggosok-gosok matanya dan merapikan pakaian yang sedikit kusut.
Setelah merasa cukup segar, Han memutuskan untuk pulang ke rumah. Dia berjalan pelan menuju pintu keluar, Han menarik napas dalam-dalam, merasa udara pagi yang segar menyegarkan pikirannya. Dia memutuskan untuk berjalan kaki pulang ke rumah, merasakan setiap langkahnya yang lembut di tanah. Han memandang ke langit dan tersenyum, hari ini dia merasa sedikit lebih baik dari kemarin.