Decent Place

Decent Place
Liburan selesai



Asuna merasa sedih ketika liburan semester telah berakhir dan dia harus kembali ke sekolah. Tidak ada perubahan pada ayahnya, yang tetap bekerja keras di kantornya dan pulang ke rumah dalam keadaan mabuk. Farhan juga harus kembali ke sekolahnya yang masih di tingkat SD.


Asuna tetap menjaga hubungannya dengan Han dan Rina. Dia sering berkunjung ke Decent Place untuk menghabiskan waktu dengan Han, dan dia juga mengajak Rina untuk hangout dan mencoba tempat-tempat baru di kota. Namun, setiap kali dia meninggalkan rumahnya, Asuna selalu merasa khawatir tentang adiknya yang tinggal sendirian di rumah.


Kota tempat Asuna tinggal masih sama seperti sebelumnya, dengan polisi yang korup dan banyak kriminalitas yang terjadi hampir setiap hari. Asuna merasa tidak nyaman tinggal di kota seperti itu, dan dia sering berdoa agar ibunya kembali dan membawa mereka pergi dari kota itu.


Meskipun hidupnya masih sulit, Asuna tetap berusaha untuk tetap positif dan melihat sisi terbaik dari setiap situasi. Dia berharap suatu hari nanti keadaan akan membaik dan dia bisa menikmati hidup yang lebih baik bersama keluarganya


Asuna berjalan menuju sekolah dengan langkah ringan, menikmati udara segar di pagi hari. Dia memakai seragam sekolahnya yang rapi, memastikan bahwa semua persyaratan yang diperlukan sudah dipenuhi. Setelah mengantarkan adiknya ke sekolah, dia memutuskan untuk berjalan kaki ke sekolahnya sendiri.


Jalanan di kota Schuld town sangat ramai dan penuh dengan polusi. Asuna harus berhati-hati saat menyeberang jalan karena banyak kendaraan yang melaju dengan kecepatan tinggi dan pengemudinya sering kali tidak memperhatikan pejalan kaki.


Setelah beberapa menit berjalan, Asuna akhirnya tiba di sekolahnya. Dia menyapa teman-temannya dan mengikuti pelajaran dengan serius. Meski lingkungannya kurang baik, Asuna tetap berusaha untuk belajar dengan baik dan memperbaiki keadaan sekitarnya.


Asuna berjalan menuju kelasnya dengan hati-hati, merasa sedikit tidak nyaman dengan perhatian yang diberikan oleh beberapa siswa di sekolahnya. Beberapa di antaranya bahkan mencoba mendekatinya dengan berkata-kata manis atau mencoba menggoda.


Namun, Asuna hanya membalasnya dengan senyuman sopan dan tetap melanjutkan perjalanan ke sekolah. Dia tidak ingin terlibat dalam pergaulan yang salah dan tetap fokus pada studinya.


Saat tiba di sekolah, dia menuju ke ruang kelasnya dan mulai mempersiapkan diri untuk pelajaran hari itu. Meskipun dia tidak terlalu suka dengan sekolahnya dan lingkungannya yang kurang aman, dia tetap berusaha keras untuk belajar dan mengejar cita-citanya.


Sementara itu, beberapa siswa lain masih mencoba mendekatinya dengan berbagai cara, tetapi Asuna tetap menolak dengan sopan. Dia tahu bahwa mereka hanya tertarik padanya karena penampilannya dan bukan karena kepribadiannya.


Dalam hatinya, Asuna berharap dapat menemukan teman yang baik dan tulus di sekolahnya, seseorang yang dapat diajak berbicara dan bertukar pikiran dengan baik tanpa ada niatan lain. Namun, dia tahu bahwa mencari teman sejati di lingkungannya yang kacau dan penuh kekerasan tidak mudah, untungnya dia merasa bersyukur masih Ada Rina dan Han sebagai teman terbaiknya.


Saat jam istirahat Asuna dan anak lainnya pergi ke kantin, namun kali ini Asuna pergi sendiri ke Kantin karna Rina sedang ada urusan dengan wali kelasnya, Saat sedang berjalan menuju ke kantin melewati lorong sekolah dan beberapa ruangan kelas tetangganya, tiba-tiba ada seseorang yang mengejar dari belakang, tampak seorang laki-laki seusianya.


Leo: "Hei Asuna, tunggu sebentar. Aku mau kasih tahu kamu sesuatu," kata Leo sambil mengejar Asuna.


Asuna: "Ada apa?" tanya Asuna dengan wajah datar.


Leo: "Aku mau ajak kamu ke kantin untuk makan siang bareng. Biar aku bisa mentraktir kamu," ujar Leo dengan tersenyum lebar.


Asuna: "Tidak usah, aku tidak lapar," jawab Asuna sambil berusaha melanjutkan jalan.


Leo: "Ayo, jangan seperti itu. Ini kan cuma makan siang bareng. Bukankah lebih menyenangkan makan berdua ketimbang sendirian?" pancing Leo.


Asuna: "Baiklah kalau begitu, tapi aku tidak ingin kamu mentraktir. Aku bisa membayar sendiri," kata Asuna dengan nada sedikit kesal.


Mereka berdua berjalan ke kantin, dan Leo memesan makanan untuk mereka berdua, Asuna sebenarnya terpaksa dekat dengan Leo, namun ia takut menyakiti perasaan Leo, dia terus berusaha ramah dan bersikap baik kepada Leo.


Leo: "Hey Asuna, gimana liburan semester kemarin? Kemana aja?"


Leo: "Adikmu? Oh ya, Farhan kan? Gimana kabarnya?"


Asuna: "Baik-baik aja. Dia sekarang sudah mulai sekolah lagi."


Leo: "Itu bagus. Aku belum pernah ketemu adikmu nih. Kapan-kapan ajak dia main bareng ya."


Asuna: "Bisa-bisa, Leo. Tapi kamu harus janji nggak bakal mengajaknya ke tempat yang berbahaya."


Leo: "Tentu saja, Asuna. Aku nggak akan melakukan hal yang merugikanmu atau adikmu."


Asuna: "Baiklah, kalau begitu aku percaya sama kamu. Oh ya, kamu kan suka basket ya? Gimana kabar tim basket kalian?"


Leo: "Tim basket kita masih berlatih keras. Tapi, kalau kamu mau, kamu bisa nonton pertandingan kami besok sore. Aku akan bermain sebagai shooting guard."


Asuna: "Hmm, mungkin saja aku akan datang. Tapi, aku nggak janji ya."


Leo: "Gapapa, aku akan tetap bermain sebaik mungkin. Siapa tahu tim kita bisa menang besok."


Saat Asuna dan Leo masih di mejanya , Leo terus memuji kecantikan Asuna dan mencoba untuk memikat hatinya. Namun, Asuna tidak merespons secara positif dan terlihat sedikit tidak nyaman dengan sikap Leo yang terlalu agresif.


"Kamu tahu, Asuna, aku selalu terpikat dengan kecantikanmu. Aku ingin dekat denganmu dan menghabiskan waktu bersama," ujar Leo sambil tersenyum manis.


Asuna hanya tersenyum tipis dan membalas, "Terima kasih, Leo. Tapi, aku lebih suka menghabiskan waktu bersama teman-temanku yang lain."


Leo tampak sedikit kecewa dengan jawaban Asuna, tetapi dia masih mencoba untuk memenangkan hatinya. Ia memesan makanan untuk Asuna dan mengatakan bahwa ia akan mentraktirnya.


Asuna dan Leo sedang makan di kantin ketika tiba-tiba datang lima siswa yang di kenal sebagai anggota geng motor. Mereka mulai mengganggu Asuna dan Leo dengan mengambil alih meja mereka dan menggoda Asuna.


Salah satu dari mereka kemudian menatap Asuna dengan tatapan kasar dan berkata, "Hei, cantik. Kenapa enggak kamu bergabung dengan kami? Kamu bisa jadi Ratu di kelompok kami."


Leo yang merasa geram atas perlakuan mereka kemudian berdiri dan menantang mereka untuk berkelahi, namun Asuna dengan cepat menenangkannya dan meminta mereka untuk pergi.


"Kalian semua tidak punya hak untuk mengambil meja kami dan mengganggu kami seperti ini. Segera pergi dari sini sekarang," ucap Asuna dengan suara tegas.


Namun, kelima siswa tersebut hanya tertawa dan semakin mengintimidasi Asuna dan Leo. Asuna dan Leo yang langsung mendorong salah satu dari mereka dan mencoba menghajar.


Asuna yang khawatir akan keamanannya berusaha untuk menghentikan pertengkaran tersebut dan akhirnya berhasil membujuk Leo untuk pergi dari kantin, Asuna merasa kesal dengan sikap Leo yang bertengkar dengan siswa tadi. Dia merasa tidak nyaman dengan situasi itu dan memilih untuk meninggalkan Leo dan kembali ke kelas. Namun, sebelum dia pergi, dia memberi tahu Leo bahwa dia harus lebih berhati-hati dalam bertindak dan bersikap terhadap orang lain.


Leo mencoba untuk menghentikan Asuna dan meminta maaf atas perilakunya, namun Asuna tidak ingin mendengarkannya. Dia sudah muak dengan sikap Leo yang sombong dan merasa bahwa dia tidak pantas untuk menjadi temannya. Asuna memilih untuk pergi sendiri ke kelas dan menghabiskan waktu sisa hari itu dengan belajar dan membaca novelnya