
Cindy dan kelompoknya yang tiba-tiba mengganggu makan siang Leo dan Asuna. Mereka datang dengan sikap yang mengganggu, mencemooh, dan merendahkan.
"Cie cie kayaknya ada yang sedang pdkt nih," ucap Cindy dengan nada sinis, sambil memandang Leo dan Asuna. "Si pelacur ini memang mudah yah mendapatkan mangsa baru," tambahnya dengan nada merendahkan.
Leo merasa marah dan tidak terima dengan kata-kata Cindy, tetapi dia tetap berusaha menjaga ketenangan. Dia memberikan isyarat pada Cindy dan kelompoknya untuk pergi, berharap mereka akan meninggalkan mereka dalam kedamaian.
Asuna merasa terganggu dan kesal dengan tingkah laku Cindy. Dia merasa frustasi karena Cindy selalu mencari masalah dan merusak suasana. Namun, dia juga tidak ingin memperburuk situasi dengan terlibat dalam konflik.
Leo, dengan bijaksana, mencoba mengendalikan situasi dengan menjawab dengan santai, "Kalian salah, kami hanya teman yang sedang makan siang bersama." Dia mengedipkan mata pada Cindy, memberikan isyarat bahwa mereka tidak ingin diteruskan gangguannya.
Namun, Cindy dan kelompoknya tetap bergeming dan melanjutkan ejekan mereka. Mereka terus mencoba mengganggu Leo dan Asuna, mencemooh dan memaki mereka dengan kata-kata kasar.
Asuna mulai merasa emosi naik, tetapi Leo tetap berusaha menjaga ketenangan. Dia berbicara dengan bijaksana, mencoba meredakan situasi, dan mengajak Cindy dan kelompoknya untuk berbicara dengan lebih baik.
Namun, Cindy dan kelompoknya tidak merespons baik. Mereka semakin provokatif dan terus merendahkan Leo dan Asuna. Leo akhirnya berdiri, memberikan isyarat pada Asuna untuk pergi bersamanya, menghindari konfrontasi yang lebih lanjut.
Leo dan Asuna pergi meninggalkan Cindy dan kelompoknya, meninggalkan mereka dalam kebingungan. Meskipun masih merasa marah dan terganggu, Leo dan Asuna memilih untuk tidak terlibat dalam konflik dan memilih untuk menjaga ketenangan dan menjauh dari situasi yang tidak menyenangkan.
Leo yang keluar sejenak untuk pergi ke toilet, sementara Asuna menunggu di tempat yang telah disepakati. Di tengah perjalanan, Leo memutuskan untuk menghubungi Cindy secara diam-diam untuk memperingatkannya agar tidak mengganggu lagi saat dia bersama Asuna.
Leo mengeluarkan ponselnya dan menelpon Cindy. "Cindy, kamu apa-apaan sih? Kok kamu malah ganggu aku dan Asuna," ucap Leo dengan nada kesal.
Cindy tersenyum licik di sisi telepon, "Oh, Leo sayang, aku hanya ingin sedikit bersenang-senang. Tapi tentu saja, aku bisa berhenti jika ada imbalan yang pantas." Dia mengisyaratkan agar Leo memberikan uang sebagai syarat untuk tidak mengganggu mereka lagi.
Leo merasa marah dan frustrasi dengan perilaku licik Cindy. Dia menolak tawaran Cindy dan menyampaikan dengan tegas, "Tidak ada cara aku akan memberikanmu uang hanya untuk berhenti mengganggu kami. Berhenti mengacaukan hubunganku dengan Asuna!"
Cindy mencibir, "Baiklah, sepertimu yang tahu. Tapi ingat, aku bisa kembali kapan saja jika kamu tidak memenuhi permintaanku." Dia kemudian memutuskan panggilan telepon tersebut.
Leo menghela nafas berat dan kembali ke tempat Asuna menunggunya. Dia merasa kesal dan frustasi dengan perilaku manipulatif Cindy, tetapi dia bertekad untuk menjaga hubungannya dengan Asuna tetap baik dan tidak membiarkan Cindy mengganggu mereka.
Leo dan Asuna melanjutkan perjalanan mereka, tetapi Leo tetap waspada terhadap kemungkinan Cindy atau kelompoknya mengganggu lagi. Dia berjanji pada dirinya sendiri untuk tetap berani dan tegas menghadapi Cindy jika dia kembali mencoba mengganggu hubungannya dengan Asuna
Asuna membuka buku tersebut dan mulai membaca, tetapi pikirannya terus melayang ke masa lalu dan perasaannya bercampur aduk. Dia merasa sedih dan bingung tentang apa yang terjadi antara Han dan Rina, dan bagaimana hal itu mempengaruhi hubungan mereka.
Tiba-tiba, ponsel Asuna berdering, dan dia melihat panggilan masuk dari Leo. Dia tersenyum sedikit, merasa senang akan kunjungan temannya yang akan datang. Dia menjawab panggilan tersebut dan berbicara dengan Leo, yang memberitahunya bahwa dia akan segera datang ke rumah Asuna.
Asuna merasa campuran antara gugup dan senang. Dia berharap pertemuan dengan Leo bisa mengalihkan pikirannya dari masalahnya dengan Han dan Rina. Dia memutuskan untuk menyiapkan rumahnya agar siap menyambut kedatangan Leo.
Asuna membersihkan rumahnya dan membuat beberapa camilan untuk disajikan kepada Leo. Dia juga mencoba mengatur pikirannya agar tidak terlalu terfokus pada masalahnya dengan Han dan Rina, tetapi tetap tidak bisa menghilangkan kegelisahan di hatinya.
Akhirnya, pintu bel rumah Asuna berdering, menandakan kedatangan Leo. Asuna dengan cepat membukakan pintu dan menyambut Leo dengan senyuman. Mereka duduk bersama di ruang tamu, sambil menikmati camilan yang telah disiapkan Asuna.
Leo melihat ekspresi khawatir di wajah Asuna, dan dia bertanya tentang apa yang sedang terjadi. Asuna pun menceritakan secara singkat tentang masalahnya dengan Han dan Rina, serta bagaimana hal itu masih mempengaruhi pikirannya.
Leo mendengarkan dengan penuh perhatian, dan kemudian dia memberikan dukungan dan nasihat kepada Asuna. Dia mengingatkan Asuna untuk tidak terlalu memikirkan hal-hal yang tidak dapat diubah, dan untuk fokus pada apa yang ada di depannya.
Asuna merasa lega mendapatkan dukungan dari Leo, dan mereka pun menghabiskan waktu bersama, berbicara tentang hal-hal lain yang lebih menyenangkan. Leo berhasil mengalihkan perhatian Asuna dari masalahnya dengan Han dan Rina, dan mereka berdua menghabiskan waktu yang menyenangkan bersama.
dengan Asuna yang merasa lebih ringan setelah berbicara dengan Leo, dan dia merasa beruntung memiliki seorang teman seperti Leo yang selalu ada untuknya. Mereka berjanji untuk tetap saling mendukung dan menjaga hubungan persahabatan mereka, sambil berharap untuk masa depan yang lebih baik.
Leo, yang duduk di dalam mobilnya sambil memandangi rumah Asuna dari kejauhan, merasa sangat senang. Dia merenung tentang bagaimana dia tidak pernah bisa mendekati Asuna sebelumnya, tetapi sekarang, melalui permainan yang dimainkannya, semuanya tampaknya berjalan dengan lancar. Dia merasa senang bahwa rencananya untuk mendapatkan perhatian Asuna berhasil, walaupun dia tahu bahwa dia menggunakan trik dan manipulasi untuk mencapainya.
"Dari dulu aku tidak pernah bisa sekedekat ini dengan Asuna," pikir Leo dalam hati. "Namun, sekarang aku bisa merasakan keberhasilan dalam meraih perhatiannya melalui permainan. Semua strategi dan rencanaku berhasil. Aku bahagia bisa melihat wajah Asuna dan mendapatkan kesempatan untuk bersamanya."
Namun, di balik senyum dan kebahagiaan yang dimilikinya, Leo juga merasa ada sesuatu yang tidak beres. Dia merasa bersalah karena menggunakan trik dan manipulasi untuk mendapatkan apa yang dia inginkan. Dia merenung tentang apakah ini adalah cara yang benar untuk mendekati seseorang, terutama orang yang dia minati.
"Apakah ini benar-benar aku? Apakah aku harus menggunakan trik dan bermain licik untuk mendapatkan apa yang aku inginkan?" batin Leo, merasa ragu. "Aku tahu ini tidak benar, tapi aku terlalu terobsesi dengan Asuna."
Leo merasa berkecamuk dalam hatinya, antara kebahagiaan atas pencapaiannya dan keraguan atas metodenya, namun dia mencoba menghilangkan pikirannya itu.