
Han dan Kenji memasuki ruang perawatan di rumah sakit, di mana mereka melihat Asuna terbaring lemah di ranjang. Rina dan Josh juga berada di ruangan yang sama, duduk di sekitar Asuna dengan wajah prihatin.
Josh, yang tidak mengenal Han dan Kenji, berbisik kepada Rina, bertanya siapa kedua orang itu. Rina dengan lembut menjawab Josh bahwa mereka adalah teman dekat Asuna, yang datang untuk menjenguknya. Dia memberi tahu Josh bahwa Han adalah teman dekat Asuna, Asuna yang sering terlibat dalam petualangan bersamanya, sedangkan Kenji adalah teman Han yang juga memiliki peran penting dalam kehidupan Asuna.
Josh mengangguk mengerti, mengamati Han dan Kenji dengan rasa ingin tahu. Dia menyadari bahwa Asuna memiliki lingkaran teman yang kuat dan solid yang selalu ada untuknya dalam situasi sulit seperti ini. Josh merasa sedikit cemburu dengan kebersamaan mereka, tetapi pada saat yang sama, dia juga merasakan rasa hormat terhadap persahabatan yang terjalin di antara mereka.
Han dan Kenji mendekati Rina dan Josh dengan perlahan, menunjukkan rasa simpati dan dukungan mereka terhadap Asuna. Mereka berbicara dengan suara lembut, bertanya tentang keadaan Asuna dan bagaimana dia sedang pulih. Han dan Kenji menyampaikan harapan mereka bahwa Asuna segera sembuh dan kembali ke kehidupan normalnya.
Rina memberikan informasi terbaru tentang kondisi Asuna, menjelaskan bahwa dia sedang dalam tahap pemulihan yang baik. Dia mengapresiasi kehadiran Han dan Kenji di sana, menyadari betapa pentingnya dukungan dan kehadiran teman-teman dalam situasi seperti ini.
Han, Kenji, Rina, dan Josh duduk bersama di sekitar Asuna, membentuk ikatan kebersamaan yang kuat. Meskipun mereka semua memiliki peran yang berbeda dalam kehidupan Asuna, mereka bersatu untuk memberikan dukungan dan kekuatan satu sama lain.
Josh berdiri dari kursi dan dengan lembut berkata, "Maaf, aku harus pergi duluan. Semoga Asuna segera pulih."
Rina menganggukkan kepala dengan penuh pengertian dan setelah Josh pergi, dia membalikkan pandangannya ke arah Han. Dengan suara lirih, dia mulai berbicara, "Han, aku khawatir dengan kondisi Asuna. Apa yang sebenarnya terjadi di sekolah tadi?"
Han merasakan kegelisahan dalam suaranya saat dia menjawab, "Rina, aku juga tidak tahu pasti. Aku mendapat informasi bahwa sekolah kita diserang oleh segerombolan ganster. Asuna terluka dan sekarang dia sedang dirawat di sini."
Rina menggigit bibirnya, mencoba menahan air mata. "Aku tidak pernah membayangkan hal seperti ini bisa terjadi. Apa yang akan kita lakukan sekarang, Han?"
Han menatap Rina dengan tekad di matanya. "Kita harus tetap tenang dan mendukung Asuna. Kita akan berjuang bersama untuk keadilan dan keamanan di sekolah ini. Kita tidak boleh membiarkan kejadian seperti ini terulang."
Rina menganggukkan kepala, mengambil nafas dalam-dalam. "Kamu benar, Han. Aku akan berada di samping Asuna, mendukungnya sepenuh hati. Kita harus kuat untuknya."
Kenji duduk diam mendengarkan pembicaraan antara Han dan Rina. Setelah Han selesai berbicara, Kenji mengangguk setuju. "Kamu benar, Han. Kota ini memang memiliki tingkat kriminalitas yang tinggi. Masalahnya tidak hanya pada gangster yang semakin banyak, tetapi juga korupsi di kalangan pemerintah yang membuat kekacauan semakin merajalela."
Dia menghela nafas berat sebelum melanjutkan, "Polisi pun seringkali lambat merespons keluhan masyarakat. Kasus-kasus pembunuhan meningkat, dan kita hanya bisa selalu waspada dan berhati-hati dalam kehidupan sehari-hari."
Rina menganggukkan kepala dengan sedih. "Sungguh menyedihkan melihat kondisi kota ini. Tapi kita tidak boleh menyerah. Kita harus tetap berjuang untuk keadilan dan mencari cara untuk membuat perubahan."
Kenji menyentuh lengan Rina dengan penuh keyakinan. "Kamu benar, Rina. Meskipun tantangan di depan kita berat, kita tidak boleh menyerah. Kita harus mencari cara untuk membantu memperbaiki keadaan ini, meskipun hanya dalam skala kecil."
Han melihat Asuna yang masih terbaring di tempat tidur, wajahnya pucat dan lemah. Dia memandangnya dengan penuh kasih sayang, lalu berbalik ke arah Kenji dan Rina.
"Dulu Asuna pernah bercerita padaku tentang mimpinya," ujar Han dengan suara lembut. "Dia ingin keluar dari kota ini dan memulai hidup yang baru di tempat yang lebih aman. Dia ingin pindah ke New Zealand dan menjadi peternak. Itulah impian yang selalu dia genggam dalam hatinya."
Kenji dan Rina mendengarkan dengan perhatian. Wajah mereka terlihat penuh empati. Han melanjutkan, "Asuna merasa bahwa di sana, dia bisa hidup dengan tenang dan mengejar passion-nya. Dia ingin merasakan kedamaian dan keamanan yang mungkin sulit didapatkan di kota ini."
Rina mengangguk mengerti. "Itu adalah impian yang indah, Han. Aku berharap suatu hari Asuna bisa mewujudkannya. Kita harus mendukung dan memperjuangkan apa pun yang membuatnya bahagia."
Kenji menambahkan dengan penuh semangat, "Benar sekali. Asuna adalah teman kita yang berharga. Kita harus membantu dia meraih impian tersebut, baik dengan dukungan moral maupun bantuan praktis."
Han tersenyum mengingatkan. "Sekarang, dalam situasi ini, mungkin tampak sulit untuk memikirkan hal-hal seperti itu. Tapi aku yakin Asuna akan pulih dan kembali bersemangat. Kita akan membantunya mewujudkan impian itu, di mana pun dan kapan pun dia siap."
Mereka bertiga menggenggam tangan erat-erat, saling memberikan dukungan dan kekuatan satu sama lain. Meskipun tantangan besar menanti di depan, mereka tetap bertekad untuk mendukung Asuna dan membantunya mencapai impian yang begitu berarti baginya.
Asuna tiba-tiba membuka mata, matanya memandang ke sekeliling ruangan yang tenang. Dia merasa kebingungan sejenak, tak menyadari bahwa dia telah kembali sadar setelah pingsan. Dia mencoba menggerakkan tubuhnya, merasakan kelemahan namun masih bisa merasakan kehidupan kembali dalam dirinya.
Han, Kenji, dan Rina langsung menghampirinya dengan penuh kegembiraan dan lega. Han menggenggam tangannya dengan lembut. "Asuna, kau sadar. Bagaimana perasaanmu? Apakah kau baik-baik saja?"
Asuna mencoba mengucapkan kata-kata, suaranya masih lemah. "Aku... Aku merasa lelah, tapi... aku baik-baik saja." Dia tersenyum lemah, berusaha memberikan kelegaan pada teman-temannya yang khawatir.
Kenji dengan cemas bertanya, "Asuna, apa yang terjadi? Mengapa kau sampai pingsan?"
Asuna menghela nafas pelan. "Ada kerusuhan di sekolah, Kenji. Sebuah serangan tiba-tiba oleh sekelompok ganster. Aku berlari mencari tempat yang aman, tapi... aku terkena sebuah batu dan pingsan."
Rina menaruh tangannya di pundak Asuna dengan lembut. "Syukurlah kau baik-baik saja sekarang. Kami sangat khawatir padamu."
Asuna mengangguk, merasa terharu dengan kepedulian dan kehadiran mereka di sisinya. "Terima kasih, semuanya. Kalian selalu ada untukku. Aku sangat beruntung memiliki teman-teman sepertimu."
Han menepuk bahunya dengan penuh semangat. "Tentu saja, Asuna. Kami selalu akan ada di sampingmu, mendukungmu dan melindungimu. Kita akan melewati ini bersama-sama."
Mereka berempat duduk di sekitar tempat tidur Asuna, bercerita dan tertawa seperti biasa. Dalam saat-saat sulit ini, mereka menemukan kekuatan dalam persahabatan mereka yang kokoh, dan bersama-sama mereka menghadapi masa depan dengan harapan dan tekad yang tak tergoyahkan.
Asuna memandang Rina dengan ekspresi kesedihan dan ketidaknyamanan. "Rina, aku benar-benar benci suasana rumah sakit ini. Bisakah aku pulang sekarang?"
Rina mengerti perasaan Asuna, namun dia juga khawatir tentang kondisi kesehatannya. "Asuna, aku paham betapa tidak nyamannya di sini, tapi sebaiknya kita tunggu sampai dokter memeriksamu dan memberikan persetujuan untuk pulang. Kita harus memastikan bahwa kamu sudah benar-benar pulih."
Asuna menggigit bibirnya, mencoba menekan perasaan frustrasinya. "Tapi Rina, aku ingin segera keluar dari sini. Aku merasa terjebak di ruangan ini."
Rina mencoba menenangkan Asuna. "Sabarlah sebentar, Asuna. Aku akan memanggil dokter untuk memeriksamu dan memberitahu kita apakah kamu sudah boleh pulang atau tidak."
Rina kemudian berjalan menuju meja perawat dan memanggil salah satu perawat yang ada di sana. Dia menjelaskan situasi Asuna dan meminta untuk bertemu dengan dokter yang merawat Asuna.
Setelah beberapa saat, dokter datang dan memeriksa kondisi Asuna. Setelah pemeriksaan, dokter memberikan lampu hijau untuk Asuna pulang. Dia memberikan instruksi dan perawatan yang harus diikuti di rumah.
Rina kembali ke samping Asuna dengan senyuman. "Kabar baik, Asuna! Dokter memberikan izin untuk pulang. Kita bisa segera pergi dari sini."
Asuna merasa lega mendengar kabar tersebut. Dia bersyukur bisa meninggalkan suasana rumah sakit yang tidak menyenangkan. Dia berterima kasih pada Rina karena telah membantunya dan memahami keinginannya.
Mereka berdua bergegas mengurus prosedur administratif dan mengambil semua barang milik Asuna dari ruangan. Setelah selesai, mereka meninggalkan rumah sakit dengan harapan baru dan rasa lega. Asuna menghirup udara segar dengan penuh rasa syukur, mengetahui bahwa dia akan segera berada di tempat yang lebih nyaman dan akrab - rumahnya.
Mereka berjalan keluar dari pintu rumah sakit, menyambut udara segar di luar. Asuna masih terlihat sedikit lemah, tetapi dia bertekad untuk berjalan sendiri.
Han dengan lembut menawarkan gendongan ke Asuna. "Asuna, bagaimana kalau aku menggendongmu saja? Aku khawatir kamu masih lemah dan capek."
Asuna tersenyum lemah dan menggelengkan kepalanya. "Terima kasih, Han, tapi aku sudah cukup pulih untuk berjalan sendiri. Aku ingin merasakan kaki-kaki ini melangkah lagi."
Han mengangguk memahami keinginan Asuna. "Baiklah, jika kamu yakin bisa. Aku akan selalu ada di sampingmu jika kamu butuh bantuan."
Mereka melanjutkan perjalanan dengan hati penuh harap. Asuna mengambil langkah perlahan, tetapi semangatnya kembali pulih. Han berjalan di sebelahnya, siap untuk menopangnya jika diperlukan.
Mereka sampai di trotoar depan rumah sakit dan melihat beberapa taksi berjalan melewati mereka. Han mengangkat tangannya untuk menentukan tanda untuk menyetop taksi. Mereka menunggu beberapa saat, dan akhirnya taksi berhenti di dekat mereka.
Asuna dan Han masuk ke dalam taksi, duduk berdampingan. Mereka memberi alamat tujuan kepada sopir taksi dan melanjutkan perjalanan mereka pulang.
Saat taksi melaju di tengah kota, Asuna merasakan rasa lega dan kebahagiaan. Meskipun masih ada kebingungan dan pertanyaan di dalam hatinya, dia merasa bahwa dia akan mampu menghadapi semuanya dengan dukungan dari Han dan teman-temannya.
Han duduk di samping Asuna, menyampaikan rasa syukur dan kelegaannya melihat Asuna semakin pulih. Dia bersumpah akan selalu ada untuk Asuna, mendukungnya dalam setiap langkah hidupnya.
Asuna mengetuk pintu dengan lembut, sedangkan Han berdiri di sampingnya dengan tatapan perhatian. Pintu perlahan terbuka, dan Farhan muncul di baliknya. Dia terkejut melihat kepala Asuna yang dibalut perban.
"Kak Asuna, apa yang terjadi? Mengapa kepalamu dibalut seperti itu?" tanya Farhan dengan nada khawatir.
Asuna tersenyum lembut. "Hai, Farhan. Jangan khawatir, aku baik-baik saja. Ini hanya cedera kecil yang sedang dalam proses penyembuhan."
Farhan merasa lega mendengar penjelasan Asuna, tetapi tetap memandangnya dengan kekhawatiran. "Kamu yakin, Kak? Apakah ada yang bisa aku bantu?"
Han ikut angkat bicara. "Terima kasih, Farhan. Kami akan menjaga Asuna dengan baik. Dia butuh istirahat dan perawatan yang baik."
Asuna mengusap lembut kepala Farhan. "Aku baik-baik saja, Farhan. Aku hanya butuh waktu untuk pulih sepenuhnya. Kamu jangan khawatir."
Farhan mengangguk, masih agak cemas namun berusaha meyakinkan dirinya sendiri. "Baiklah, Kak. Jika kamu butuh bantuan apa pun, beri tahu aku, ya?"
Asuna tersenyum penuh kasih sayang. "Terima kasih, Farhan. Kamu adik yang baik. Aku sangat beruntung memilikimu."
Mereka bertiga kemudian masuk ke dalam rumah. Asuna duduk di ruang tengah sambil melepas sepatunya. Han dan Farhan duduk di sebelahnya, menciptakan suasana hangat dan mendukung.
Asuna merasa beruntung memiliki Han dan adiknya di sisinya dalam saat-saat seperti ini. Meskipun ada tantangan dan cobaan di depan mereka, mereka akan bersama-sama menghadapinya sebagai keluarga yang saling mendukung.
Dalam ruang yang penuh cahaya senja, mereka duduk bersama, membawa harapan dan keyakinan bahwa masa depan akan membawa kebahagiaan dan kedamaian bagi mereka semua.