
Leo duduk di sebuah meja di sebuah kafe yang terkenal di kota itu. Dia tersenyum dengan senang hati, merasa puas dengan rencana jahatnya yang telah berhasil. Dia merasa senang karena Cindy telah membantunya untuk menyingkirkan Josh dari tim basket dan menghancurkan hubungan Josh dan Asuna.
Cindy, teman Leo yang ambisius dan suka bermain licik, duduk di hadapannya dengan senyuman lebar. Dia mengangguk puas pada Leo dan mengucapkan terima kasih atas bantuannya.
"Kamu luar biasa, Leo!" kata Cindy dengan penuh pujian. "Josh sudah diusir dari tim basket dan hubungannya dengan Asuna hancur berantakan. Semua berkatmu."
Leo tersenyum bangga. Dia merasa senang atas pujian Cindy. Dia lalu mengambil sebuah tas mewah yang diletakkan di sampingnya dan mengulurkannya kepada Cindy.
"Ini hadiah dari aku untukmu," kata Leo dengan sombong. "Tas ini baru dari brand ternama yang baru dirilis. Kamu pantas mendapatkannya karena telah membantuku dalam rencana ini."
Cindy menerimanya dengan gembira, mengamati tas mewah tersebut dengan mata berbinar. Dia merasa senang dan bangga atas apa yang telah dia lakukan untuk Leo, dan hadiah dari Leo semakin membuatnya bahagia.
"Terima kasih, Leo!" ucap Cindy dengan senyuman lebar. "Aku senang bisa membantu kamu. Dan hadiah ini sungguh luar biasa!"
Leo tersenyum dan mengangguk. Dia merasa senang telah memiliki sekutu seperti Cindy yang bisa membantu meraih ambisinya. Mereka berbicara tentang rencana mereka selanjutnya, merencanakan langkah-langkah berikutnya untuk mencapai tujuan mereka.
Setelah pertemuannya dengan Cindy, kini Leo duduk di kamarnya, senyum bangga menghiasi wajahnya. Dia merasa senang karena rencana jahatnya bersama Cindy telah berhasil membuat Josh keluar dari tim basket. Dia berpikir bahwa sekarang dia akan bisa mendekati Asuna tanpa harus khawatir tentang saingan utamanya, Josh, di tim basket.
"Dengan Josh keluar dari tim, sekarang aku akan menjadi pemain basket utama di sekolah ini," gumam Leo dengan bangga. "Aku akan menunjukkan pada Asuna dan semua orang bahwa aku adalah yang terbaik."
Leo merasa semakin termotivasi untuk mencapai tujuannya. Dia merasa yakin bahwa sekarang dia akan bisa lebih dekat dengan Asuna, dan dia berencana untuk menggunakan kesempatan ini untuk memenangkan hati Asuna. Dia berpikir bahwa dengan Josh keluar dari tim, dia tidak akan ada lagi saingan untuk mendapatkan perhatian Asuna.
Namun, sedikit rasa bersalah menyelinap di benak Leo. Dia tahu bahwa apa yang dia lakukan bersama Cindy adalah rencana jahat dan tidak etis. Dia merasa cemas jika kebenaran terungkap, hubungannya dengan Asuna dan temannya bisa hancur.
Namun, keinginan Leo untuk mendapatkan perhatian Asuna dan meraih kepopuleran di sekolah lebih besar dari rasa bersalahnya. Dia mengusir pikiran negatif itu dan fokus pada rencananya selanjutnya. Dia merasa semakin yakin bahwa dia akan berhasil menggapai tujuannya.
Dengan keyakinan yang membara, Leo merencanakan langkah-langkah berikutnya untuk mendekati Asuna. Dia berusaha untuk tampil sebagai pemain basket yang hebat, memperlihatkan bakatnya dan berharap dapat memenangkan perhatian Asuna. Dia berharap bahwa rencana jahatnya bersama Cindy akan berhasil, meskipun dia tahu bahwa hal itu tidak benar dan bisa berdampak buruk pada dirinya sendiri dan orang lain.
Leo memutuskan untuk terus melangkah maju dengan rencananya, tanpa memikirkan konsekuensi yang mungkin terjadi. Dia berjanji pada dirinya sendiri bahwa dia akan mendapatkan apa yang dia inginkan, tidak peduli apa pun yang harus dia lakukan untuk itu. Dia menatap cermin di depannya, menggenggam erat bola basket di tangannya, dan mengatakan pada dirinya sendiri, "Aku akan mendapatkan Asuna, apa pun yang terjadi.
Besoknya di sekolah,Leo melihat Asuna yang duduk sendirian di sudut kelas, dengan wajah yang sedih dan mata yang merah akibat tangis. Dia memutuskan untuk mengambil kesempatan ini untuk mendekati Asuna, berpura-pura tidak tahu apa yang terjadi.
Dia berjalan dengan langkah mantap menuju meja Asuna, berusaha menunjukkan senyuman ramah di wajahnya. Asuna mengangkat kepala, terkejut melihat Leo di dekatnya.
"Hey, Asuna, apa yang terjadi?" tanya Leo dengan nada khawatir, berusaha terlihat peduli.
Asuna menggelengkan kepala, mencoba menghapus air mata yang menggenangi matanya. "Tidak apa-apa," jawabnya singkat.
Leo duduk di samping Asuna, mengambil nafas dalam-dalam sebelum berbicara lagi. "Kamu tahu, aku tahu kamu sedang bersedih. Aku ingin tahu apa yang terjadi. Kamu bisa curhat padaku, kamu tahu," kata Leo, berusaha terdengar perhatian.
Asuna menatap Leo, wajahnya terlihat ragu. Dia tahu bahwa Leo adalah teman dekatnya, tetapi dia juga merasa waspada karena tahu bahwa Leo dan Cindy sering bersama dan memiliki rencana jahat terhadap Josh.
Leo merasa senang karena berhasil menarik perhatian Asuna. Dia berbicara dengan nada penuh simpati, berusaha untuk menggali lebih dalam tentang apa yang terjadi pada Asuna.
Asuna akhirnya mulai bercerita tentang perseteruan antara Rina dan dirinya, dan bagaimana hal itu membuatnya sangat sedih. Dia bercerita tentang perasaannya yang terluka dan bagaimana dia merasa sendirian dalam menghadapi masalah ini.
Leo mendengarkan dengan cermat, berusaha menunjukkan empati dan menghibur Asuna. Dia mengeluarkan kata-kata manis dan menghibur, berjanji untuk selalu mendukung Asuna dan berada di sisinya.
Asuna merasa terharu dengan perhatian Leo. Dia mengucapkan terima kasih padanya dan merasa lega bisa berbicara dengan seseorang tentang masalahnya. Meskipun dia masih merasa curiga tentang rencana Leo dan Cindy, tetapi saat ini dia memilih untuk mengabaikan kecurigaan itu dan fokus pada dukungan yang diberikan oleh Leo.
Leo berusaha menenangkan Asuna sebaik mungkin, tetapi dalam hatinya, dia merasa senang karena berhasil mendekati Asuna. Dia merasa semakin yakin bahwa rencananya akan berhasil dan dia akan bisa mendapatkan hati Asuna.
Namun, Asuna masih merasa bingung dan emosional. Dia mengucapkan terima kasih pada Leo, tetapi dia masih perlu waktu untuk merenungkan masalahnya sendiri dan memutuskan bagaimana menghadapinya.
Asuna duduk di bangku, merasa sendiri dan terjebak dalam konflik emosional. Dia masih teringat dengan pertengkaran dengan Rina, dan hatinya terasa hancur. Dia merasa ragu tentang apa yang harus dilakukan selanjutnya.
Sambil memandangi jendela kelas, mata Asuna tertuju pada Leo, teman baiknya yang baru saja berbicara dengannya di kelas. Dia melihat bagaimana Leo dengan ramah mendekatinya, berusaha mendengarkan dan memberikan dukungan padanya. Sejenak, Asuna merasa tersentuh oleh perhatian Leo, dan dia merasa cemas.
Asuna menggigit bibirnya, merasa bingung. Dia tahu bahwa Leo dan Cindy memiliki rencana jahat terhadap Josh, tetapi pada saat yang sama, dia merasa tergugah oleh perhatian yang Leo berikan kepadanya. Dia merasa sendiri dan bingung, dan Leo tampaknya ada di sana untuk mendengarkan dan menghiburnya.
Asuna merenung sejenak, mengenang saat-saat indah bersama Rina, tetapi juga mengingat perseteruannya dengan Rina dan. Dia merasa tidak tahu harus berbuat apa, dan Leo yang ada di sana tampak menawarkan sebuah peluang.
Asuna akhirnya mengambil keputusan impulsif. Dia ingin mengalihkan perhatiannya dari masalahnya dengan Josh dan Rina, dan Leo tampaknya ada di sana untuknya. Dengan ragu, Asuna memutuskan untuk mendekati Leo.
Dia berjalan pelan menuju Leo, yang duduk di dekat jendela kelas. Leo terkejut melihat Asuna menghampirinya, tetapi dia menyambutnya dengan senyuman.
"Asuna, apa yang bisa kulakukan untukmu?" tanya Leo dengan lembut.
Asuna merasa canggung, tetapi dia memutuskan untuk berbicara dari hati. "Aku merasa sangat bingung dan sendiri, Leo. Aku tahu kita memiliki perbedaan, tapi kamu selalu di sini untukku. Bisakah kita menjadi teman yang lebih dekat?"
Leo terkejut dengan ucapan Asuna, tetapi dia tidak menunjukkan ekspresi yang mencurigakan. Dia tersenyum lebar dan mengangguk. "Tentu saja, Asuna. Aku di sini untukmu. Kita bisa menjadi teman yang lebih dekat dan saling mendukung."
Asuna merasa lega melihat reaksi positif dari Leo. Dia merasa sedikit lebih baik karena ada seseorang yang bersedia mendengarkan dan berada di sisinya. Meskipun dia masih merasa bingung dan emosional, tetapi kehadiran Leo memberikan sedikit kenyamanan.
Leo duduk di kelas, tersenyum sendiri. Dia merasa semakin yakin bahwa rencananya dengan Cindy tidak akan sia-sia. Dia merasa senang melihat bagaimana Asuna datang padanya dan menyatakan keinginannya untuk menjadi teman yang lebih dekat. Dia merasa bahwa langkah-langkahnya untuk menjauhkan Josh dari tim basket dan merusak hubungan Josh dan Asuna telah berhasil.
Leo merenung tentang rencananya selanjutnya. Dia dan Cindy telah merencanakan banyak hal untuk menghancurkan hubungan antara Josh dan Asuna. Mereka telah bekerja sama dengan cerdik dan berhasil menghasilkan kecemburuan di antara Josh dan Asuna. Leo merasa bahwa Asuna semakin cenderung kepada dirinya, dan dia merasa senang dengan itu.
Leo juga berpikir tentang bagaimana rencananya dengan Cindy akan memberikan keuntungan bagi karir basketnya. Dengan Josh keluar dari tim, dia merasa posisinya di tim basket sekolah semakin kuat. Dia berencana untuk menjadi pemain basket yang terkenal dan diakui, dan rencananya dengan Cindy adalah langkah pertama untuk mencapainya.
Leo merasa semakin percaya diri dan bersemangat tentang masa depannya. Dia merasa bahwa rencananya untuk mendekati Asuna dan menjauhkan Josh telah berhasil, dan dia semakin yakin bahwa dia bisa mendapatkan apa yang dia inginkan. Dia tersenyum puas, memikirkan langkah-langkah selanjutnya dalam rencananya yang licik bersama Cindy