Decent Place

Decent Place
Kembali sembuh



Farhan bangun dari tidur dan merasa lebih baik setelah sembuh dari sakitnya. Ia berjalan ke ruang keluarga dan melihat Asuna sedang tidur di sofa. Farhan merasa khawatir dan membangunkan Asuna untuk memastikan bahwa ia baik-baik saja.


"kakak, kau baik-baik saja?" tanya Farhan dengan khawatir.


Asuna mengangguk dan tersenyum ke arah adiknya. "Iya, aku baik-baik saja. Bagaimana denganmu, Farhan? Sudah sembuh?"


"Ya, aku merasa lebih baik sekarang," jawab Farhan sambil menggosok-gosok matanya.


Asuna merasa lega mendengar kabar baik dari adiknya dan kembali memeluk Farhan dengan erat. "Aku senang kau sudah sembuh, Farhan. Maafkan aku karena tidak bisa merawatmu dengan baik."


Farhan merasa hangat di hatinya saat Asuna memeluknya. Ia tahu bahwa kakaknya mencintainya dan selalu berusaha untuk melindunginya. "Tidak apa-apa, kak. Aku tahu kau sudah berusaha sebaik-baiknya."


Kedua saudara itu kemudian menghabiskan waktu bersama di ruang keluarga, bercerita dan tertawa bersama. Asuna merasa bahagia bisa melihat adiknya sehat dan ceria kembali setelah seminggu yang sulit


Saat Asuna duduk di sofa sambil membaca novelnya, tiba-tiba teleponnya berdering dan dia melihat nama Rina di layar, lalu menjawab telepon Rina dengan senang hati dan mengucapkan selamat datang kembali. Setelah beberapa lama berbincang-bincang, Rina menyatakan niatnya untuk mengunjungi rumah Asuna.


"Bolehkah aku berkunjung ke rumahmu Sekarang, Asuna? Aku ingin melihatmu dan adikmu. Apa dia masih sakit?" ujar Rina.


Asuna tersenyum, "Tentu saja, Rina! Aku senang sekali kalau kamu bisa datang. Tapi sekarang syukurnya adikku sudah sembuh."


Setelah menyetujui rencana kunjungan Rina, Asuna langsung berpikir untuk membersihkan rumah dan menyiapkan makanan. Ia ingin membuat hari spesial bagi Rina dan adiknya, serta menghabiskan waktu bersama-sama dengan bahagia.


Beberapa jam kemudian, Ada yang mengetuk pintu rumah Asuna dengan lembut. Beberapa saat kemudian, Asuna membukanya  dan melihat Rina depannya. Asuna terlihat senang melihat Rina dan langsung memeluknya.


"Rina, akhirnya kau pulang juga. Aku merindukanmu," ucap Asuna sambil tersenyum.


"Iya, aku juga merindukanmu, Asuna. Aku bawa oleh-oleh buatmu," kata Rina sambil menyerahkan bungkusan kepada Asuna.


Asuna membuka bungkusan tersebut dan menemukan sebuah kotak berisi cokelat.


"Wah, terima kasih, Rina. Kamu selalu ingat dengan kelemahanku," kata Asuna sambil tertawa.


Rina dan Asuna pun duduk di ruang tamu sambil bercerita. Mereka mengobrol tentang liburan Rina, teman-teman baru yang ditemuinya, dan juga tentang keadaan keluarga Asuna.


Ketika Asuna menyebutkan tentang ayahnya yang selalu memarahi dan mengekang dirinya, Rina merasa prihatin.


"Asuna, kau harus Speak up. Tidak bisa terus begini, kau harus melawan. Kau punya hak untuk hidup bahagia," ujar Rina dengan serius.


Asuna terdiam sejenak dan mengangguk. Dia tahu Rina benar. Dia tidak bisa terus menerima perlakuan kasar dari ayahnya.


"Terima kasih, Rina. Tapi mungkin itu akan sia-sia dan hanya akan menambah besar masalahnya ," kata Asuna


"Kamu tahu, Asuna, liburan di pantai kemarin sungguh menyenangkan. Tapi semakin banyak sampah yang aku lihat di sekitar pantai, semakin membuatku kecewa," ucap Rina sambil mengambil segelas air dari meja.


"Benar-benar menyedihkan melihat orang-orang membuang sampah sembarangan dan merusak keindahan pantai. Aku sampai berpikir untuk ikut membantu membersihkan pantai," lanjut Rina.


Asuna yang duduk di sebelah Rina merasa prihatin dan mengangguk-angguk.


"Ya, aku setuju. Kita harus bertanggung jawab dan merawat lingkungan sekitar kita," ucap Asuna sambil tersenyum.


Rina yang mendengar jawaban positif dari Asuna merasa senang. "Iya, memang begitu. Semua orang harus peduli dan menjaga kebersihan lingkungan. Jangan sampai kita merusak alam yang indah ini," ucap Rina sambil menyipitkan matanya.


"Rin, ini adikku Farhan. Farhan, ini teman baik kakak, Rina."ucap Asuna yang mempertemukan mereka.


"Hai kak Rina, senang bertemu denganmu."sapa Farhan.


"Hai Farhan, senang berkenalan denganmu juga. Kamu sudah sembuh?"tanya Rina yang tersenyum.


"Iya, terima kasih sudah bertanya. Aku sudah sembuh dan bisa bermain-main lagi."jawab Han.


"Awalnya aku dan kakakmu ingin pergi bersama ke pantai, namun ketika Tahu kamu sakit, kakakmu mengurungkan niatnya, namun jangan khawatir aku membawakan buah tangan, ini untukmu Cu**te boy," ucap Rina yang memberikan bingkisan tersebut.


"Wah terimakasih kak Rina, kau baik sekali,"ujar Farhan yang bahagia.


"Rina, kamu punya cerita menarik tentang pengalamanmu di pantai kan? Ceritakanlah."ucap Asuna.


"Iya, sebenarnya liburanku di pantai itu sangat menyenangkan, tapi aku kecewa melihat begitu banyak sampah yang berserakan di sekitar pantai. Sampah-sampah itu mengganggu keindahan alam pantai," Rina yang mengkerutkan dahinya.


"Benar juga ya, kita harus lebih peduli terhadap lingkungan sekitar kita. Terima kasih sudah membagikan ceritamu, Rin."Ujar Asuna.


"Sama-sama, Asuna. Kamu juga punya cerita menarik tentang liburanmu?" Rina yang masih berdiri di sampingnya.


"Hmm, tidak ada yang istimewa sih. Aku hanya menghabiskan waktu bersama keluarga dan mengurus adikku yang sedang sakit,"jawabnya yang menyilang kan tangannya.


"Ah, tetap saja itu pengalaman yang berharga. Bagaimana kalau kita berbicara lebih banyak tentang itu sambil menikmati oleh-oleh lainnya yang kubawa?"ajak Rina.


Asuna dan Rina duduk di ruang tamu sambil menikmati minuman yang disajikan oleh Asuna. Mereka bercakap-cakap tentang liburan Rina di pantai dan bagaimana Rina kecewa dengan banyaknya sampah di pantai tersebut.


"Tapi setidaknya kamu sudah mencoba untuk melakukan yang terbaik untuk membersihkannya, kan?" tanya Asuna.


"Iya, kami bersama-sama dengan sukarelawan lainnya membersihkan pantai sebisa kami. Tapi semakin banyak orang yang datang ke pantai, semakin banyak pula sampah yang ditinggalkan,yah yang tadinya aku bersantai di pantai malah jadi kerja bakti ha-ha-ha," jawab Rina dengan riang tawa.


Asuna merasa terhibur dengan cerita Rina. "Aku juga sangat peduli dengan lingkungan dan berusaha untuk melakukan yang terbaik untuk menjaga lingkungan sekitar kita," ujar Asuna.


Rina tersenyum dan berkata, "Aku tahu kamu pasti peduli dengan lingkungan, Asuna. Kamu selalu begitu peka terhadap orang lain dan sekitarmu."


Asuna tersenyum malu-malu, lalu mereka beralih ke topik lain dan terus menikmati waktu bersama


Rina memandang jam tangannya dan menyadari sudah sore. "Wah, aku harus pulang nih, Asuna. Sudah sore dan aku tidak mau mengganggu kalian terlalu lama," ucap Rina sambil tersenyum ke arah Asuna.


Asuna mengangguk dan menjawab, "Iya, Rina. Terima kasih sudah datang dan membawa oleh-oleh. Kami sangat senang bisa bertemu denganmu lagi."


Rina kembali tersenyum, "Sama-sama, Asuna. Semoga kita bisa bertemu lagi suatu saat nanti."


Setelah pamit dari Asuna dan Farhan, Rina berjalan menuju pintu dan menyalakan motornya. Sebelum pergi, Rina menghampiri Asuna dan berkata, "Asuna, aku harap semoga kita bisa keluar dari kota sialan ini, aku juga begitu."


Asuna mengangguk, "Terima kasih, Rina. Aku juga berharap begitu."


Setelah itu, Rina pun pergi meninggalkan rumah Asuna. Asuna dan Farhan kembali ke kamarnya dan merasa sedikit lega setelah bertemu dengan Rina. Namun, perasaan cemas masih terus menghantui Asuna. Dia berharap ayahnya bisa memaafkan kesalahannya dan keluarganya bisa kembali seperti dulu lagi