
Asuna duduk dengan tegang di kursinya saat guru matematikanya, Ibu Siti, mulai membagikan hasil ujian matematika kepada murid-muridnya. Asuna merasa cemas, karena dia tahu bahwa dia tidak berprestasi baik dalam ujian matematika kali ini.
Ibu Siti memberikan kertas hasil ujian kepada Asuna dengan ekspresi serius di wajahnya. "Asuna, kamu mendapatkan nilai 40," kata Ibu Siti dengan tegas. "Ini jauh di bawah rata-rata dan perlu diperbaiki. Kamu harus belajar lebih giat lagi."
Asuna merasa malu dan kecewa. Dia tahu dia harus bisa lebih baik dalam mata pelajaran matematika, tapi hasil ujiannya menunjukkan sebaliknya. Ibu Siti melanjutkan dengan memberikan nasihat kepada Asuna untuk belajar lebih giat, fokus, dan meminta bantuan kepada guru atau teman sekelas jika diperlukan.
Asuna mengangguk dengan serius, "Baik, Bu Siti. Saya akan berusaha lebih keras lagi dan memperbaiki hasil ujian saya."
Ibu Siti mengangguk, "Baiklah, saya akan menantikan perbaikanmu. Kamu bisa melakukannya, Asuna."
Asuna meninggalkan kelas dengan hati yang berat, tetapi dia tahu bahwa dia harus menghadapinya dengan tekad dan tekun. Dia berjanji pada dirinya sendiri untuk belajar lebih giat dan bertanya kepada Ibu Siti atau teman sekelas jika dia menghadapi kesulitan dalam memahami materi matematika.
Asuna pulang dari sekolah dengan bergegas, Saat Asuna merasa haus dan memutuskan untuk mampir ke minimarket untuk membeli minuman favoritnya.
Setelah membeli minuman, Asuna berjalan dengan riang gembira menuju rumahnya. Namun, ketika dia tiba di depan pintu rumahnya, dia merasa kaget. Dia merasa sesuatu yang berat di dalam dadanya, seperti ada yang hilang.
Asuna mencoba mengingat-ingat dan baru menyadari bahwa tasnya yang biasanya dia bawa ke mana-mana tertinggal di meja minimarket tadi. Dalam tas itu, ada buku-buku pelajarannya dan hasil ujian matematika yang akan diperbaiki di rumah.
Tubuh Asuna terasa panik. Dia berusaha mengingat apakah dia sudah menaruh tasnya di meja minimarket atau tidak, tapi dia yakin sudah meninggalkannya di sana. Asuna menggigit bibirnya cemas, merasa bersalah karena lupa mengambil tasnya.
Han yang baru pulang dari futsal bersama teman-temannya, memutuskan untuk mampir ke minimarket untuk membeli beberapa barang. Saat dia masuk ke minimarket, dia melihat sebuah tas yang terletak di meja. Tiba-tiba, dia merasa akrab dengan tas itu.
Han mendekati tas tersebut dan memperhatikannya dengan seksama. Dia mengenali tas itu sebagai tas milik Asuna, Han teringat bahwa setiap Asuna pulang sekolah dia selalu memakai tas itu.
Han merasa cemas ketika melihat tas Asuna terlantar di minimarket. Dia memutuskan untuk mengambil tas itu dan mencarinya di sekitar minimarket, tetapi tidak menemukan Asuna. Hatinya menjadi semakin gelisah, khawatir apa yang terjadi pada temannya.
Han akhirnya mengambil keputusan untuk membawa tas Asuna pulang bersamanya. Dia merasa bertanggung jawab untuk menjaga tas itu dengan baik, mengingat betapa pentingnya tas itu bagi Asuna. Han merasa bersalah karena tidak bisa menemui Asuna langsung untuk mengembalikan tasnya.
Setelah sampai di rumah, Han meletakkan tas Asuna dengan hati-hati di sudut kamarnya. Dia merasa lega karena tas itu aman dan tidak hilang. Namun, dia masih merasa cemas tentang keadaan Asuna dan mengapa tasnya bisa tertinggal di minimarket
Han duduk di meja belajar, memeriksa isi tas Asuna yang ditemukannya di minimarket tadi. Dia menemukan hasil ujian matematika Asuna dengan nilai 40 di dalamnya. Han, yang sangat pintar dan jenius dalam bidang matematika saat masih sekolah dulu, merasa prihatin melihat nilai rendah tersebut.
Han tidak bisa tahan melihat hasil ujian Asuna yang buruk. Dia tahu betapa pentingnya ujian tersebut bagi Asuna, dan dia ingin membantu temannya itu. Han mengambil salah satu bukunya dan mulai menulis seluruh jawaban yang benar di dalamnya.
Dia sibuk bekerja di bukunya, menggali pengetahuannya tentang matematika dan memberikan jawaban yang tepat. Han berusaha sebaik mungkin untuk membantu Asuna agar bisa memperbaiki hasil ujiannya.
Malam pun tiba, dan Han memutuskan untuk pergi ke rumah Asuna untuk mengembalikan buku yang telah dia tulis jawabannya. Dia tahu bahwa Asuna pasti khawatir dengan hasil ujiannya dan ingin segera memperbaikinya.
Han berdiri di depan pintu rumah Asuna, mengetuk pintu. Asuna membukakan pintu, dan terlihat kaget melihat Han di depan pintu. Dia berpikir bahwa Han datang untuk memaafkannya setelah pertengkaran mereka beberapa waktu yang lalu.
Namun, Han hanya mengembalikan tas yang tertinggal di minimarket. "Hai, Asuna. Maaf mengganggu. Ternyata tasmu tertinggal di minimarket tadi, jadi aku mengambilnya untukmu," ucap Han sambil menyerahkan tas itu kepada Asuna.
Asuna merasa kaget dan sedikit terkejut. Dia tidak mengharapkan Han hanya datang untuk mengembalikan tasnya, bukan untuk membicarakan masalah mereka yang belum terselesaikan. Dia merasa bingung tentang apa yang harus dikatakan.
"Terima kasih, Han," kata Asuna dengan ragu, menerima tasnya kembali. "Aku tidak menyangka kamu hanya datang untuk itu."
Han hanya mengangguk dan tersenyum. "Tidak masalah. Aku hanya ingin memastikan tasmu kembali kepadamu dengan selamat," kata Han dengan ramah.
Asuna mengucapkan terima kasih lagi, tetapi suasana menjadi canggung di antara mereka. Han merasa ragu untuk mengajak bicara lebih lanjut, dan Asuna merasa bingung tentang apa yang harus dikatakan. Mereka berdua terdiam sejenak, saling menatap.
Han kemudian memberikan senyuman kecil, "Baiklah, aku akan pergi sekarang. Semoga kita bisa berbicara lagi suatu saat nanti."
Asuna hanya mengangguk singkat, masih merasa bingung dan tidak tahu apa yang harus dikatakan. Han pergi dari rumah Asuna dengan langkah ringan, meninggalkan Asuna yang berdiri di pintu, merasa campur aduk.
Asuna merenungkan situasi yang terjadi, merasa sedih bahwa hubungannya dengan Han dan Rina masih tegang. Dia merindukan waktu-waktu bahagia ketika mereka bertiga masih bersama-sama. Asuna merasa penyesalan dan ingin memperbaiki hubungan mereka, tetapi dia tahu bahwa itu tidak akan mudah.
Asuna menggenggam tasnya erat, merasa bersyukur bahwa Han mengembalikannya. Dia berjanji dalam hatinya untuk belajar dari kesalahan dan berusaha memperbaiki hubungannya dengan Han dan Rina. Dia ingin mencari cara untuk memulihkan persahabatan mereka, meskipun dia tahu itu akan memakan waktu dan usaha yang banyak.
Dengan tekad yang bulat, Asuna masuk ke dalam rumahnya. Dia duduk di kamarnya, merenungkan langkah-langkah selanjutnya yang harus diambil untuk memperbaiki hubungannya dengan Han dan Rina. Dia berharap suatu hari nanti mereka bisa kembali seperti dulu, bersama-sama tertawa dan saling mendukung seperti sahabat sejati
Asuna duduk di kamarnya, merenungkan tentang tasnya yang tertinggal di minimarket dan baru saja dikembalikan oleh Han. Dia memutuskan untuk memeriksa isi tasnya, memastikan bahwa tidak ada yang tertinggal atau rusak.
Ketika Asuna membuka tasnya, dia melihat kertas yang diletakkan di dalam tasnya, Dia mengangkat kertas itu dan membacanya dengan heran. Tulisan tangan yang jelas terbaca di sana, "Kau boleh banyak masalah, tapi kau harus memprioritaskan pendidikan. By: Han Masato."
Asuna terkejut. Dia tahu bahwa Han sudah tidak melanjutkan sekolah lagi dan telah memutuskan untuk bekerja. Namun, tulisan ini menunjukkan bahwa Han masih sangat peduli dengan pendidikan dan memberikan pesan penting kepada Asuna.
Asuna merasa haru dan terharu. Dia menyadari bahwa Han telah mengorbankan waktu dan usahanya untuk menulis jawaban soal ujiannya di buku Asuna, meskipun dia sendiri sudah tidak bersekolah lagi. Itu adalah tindakan yang sangat mulia dan tak terduga dari Han.