
Asuna merasa kedinginan dan terbangun dari tidurnya di sofa. Dia merasa bingung sejenak sebelum menyadari bahwa dia terlelap di sofa semalam. Dia melihat sekeliling dan melihat adiknya, Farhan, berdiri di depannya dengan senyum lebar.
"Kak, sudah pagi nih," kata Farhan dengan penuh semangat. "Ayo, bangun! Kita harus bersiap-siap sekolah!"
Asuna menggosok matanya dan tersenyum lebar melihat semangat adiknya. "Maaf, Farhan. Aku terlelap di sini semalam. Biasanya aku yang harus membangunkanmu."
Farhan tertawa, "Tidak apa-apa, kak. Kali ini giliran aku yang membangunkanmu."
Asuna mengangguk dan berdiri dari sofa. Dia merasa kaku sedikit karena tiduran semalam di sofa yang tidak begitu nyaman. Dia berterima kasih kepada Farhan, lalu bersiap-siap untuk berangkat sekolah.
Mereka berdua sarapan bersama-sama di dapur, sambil bercerita tentang rencana mereka hari ini. Asuna masih teringat tentang Han, tapi dia mencoba untuk tetap ceria di depan adiknya.
"Sudahkah kamu menelpon dengan Han pagi ini?" tanya Farhan.
Asuna menggelengkan kepala, "Belum, tapi aku akan menghubunginya setelah sekolah. Aku ingin tahu kabar terbarunya."
Farhan mengangguk, "Baiklah, semoga dia sudah semakin baik."
Setelah sarapan selesai, mereka berdua berangkat sekolah. Asuna mengenakan senyum palsu di wajahnya, mencoba untuk tidak memperlihatkan kekhawatirannya kepada Farhan. Mereka berpisah di jalan dan langsung lanjut pergi ke sekolah, dengan janji untuk pergi ke rumah sakit nanti.
Asuna menghadiri pelajaran dengan pikiran yang terbagi antara sekolah dan Han. Dia berusaha tetap fokus, tapi hatinya masih gelisah. Begitu bel pulang sekolah berbunyi, dia segera mengambil ponselnya dan menghubungi Han
Setelah pulang sekolah, Asuna bergegas ke dapur untuk menyiapkan masakan untuk Han di rumah sakit. Dia memasak sayur sop dan nasi, dua hidangan kesukaan Han. Farhan membantu dengan membersihkan sayuran dan memotong bahan-bahan.
Setelah semuanya siap, Asuna dan Farhan berangkat ke rumah sakit. Mereka membawa masakan dan beberapa buah untuk Han.Asuna dan Farhan menunggu di tepi jalan sambil melihat-lihat lalu lintas yang padat. Asuna mengecek ponselnya dan melihat jam sudah menunjukkan pukul 3 sore.
"Kita mungkin perlu menunggu beberapa menit untuk menemukan taksi kosong," kata Asuna.
Farhan hanya mengangguk dan menatap asyik ke arah jalan. Beberapa menit kemudian, sebuah taksi kosong akhirnya melambat di depan mereka dan Asuna segera mengajak Farhan untuk masuk.
"Mari kita cepat-cepat, Farhan," kata Asuna, membuka pintu taksi.
Farhan mengangguk dan cepat-cepat masuk ke dalam taksi. Asuna mengucapkan alamat rumah sakit kepada sopir taksi dan taksi itu melaju perlahan memasuki jalan yang lebih lengang. Setibanya di rumah sakit, mereka langsung menuju ruang rawat Han.
Han tampak lebih baik dari kemarin, meskipun masih terlihat lelah. Asuna memberikan masakan yang dia buat, dan Han dengan senang hati menerimanya. "Terima kasih, Asuna. Kamu selalu membuat makanan terbaik," ucap Han sambil tersenyum.
Farhan yang duduk di samping Asuna tiba-tiba menyeletuk kepada Han
"Dengar, Kak Han, semalam kakaku menangis terus karena khawatir dengan keadaanmu," ujar Farhan dengan nada tinggi.
Asuna langsung menepuk-nepuk bahu adiknya, "Jangan bilang-bilang ih, Farhan! Memalukan saja."
Han hanya tersenyum mendengar kekhawatiran Asuna dan Farhan. Ia merasa terharu karena ada orang yang begitu peduli padanya.
*************
Asuna duduk di sisi tempat tidur Han dan mulai menyuapi makanan yang dia bawa. Dia memilih dengan hati-hati, memastikan Han dapat mengunyah dan menelan dengan baik. Farhan duduk di sampingnya, memperhatikan dengan senyum.
"Bagaimana rasanya?" tanya Asuna sambil tersenyum.
Han mengangguk dengan senyum, "Enak sekali, terima kasih, Asuna. Kamu pintar memasak."
Asuna merasa lega melihat Han bisa makan dengan lahap. Dia merasa sedikit lebih tenang sekarang karena Han tampaknya dalam kondisi yang membaik.
"jadi kak Han udah berapa hari kamu di sini.?" tanya Farhan, yang ingin ikut berbincang.
Han menggaruk kepalanya yang masih terbungkus perban, "Baru dua hari, sepertinya. Tapi aku merasa semakin baik setiap harinya."
Asuna mengangguk setuju, "Iya, kamu memang terlihat lebih baik daripada kemarin. Kami sangat khawatir tentangmu, Han."
Han tersenyum lembut, "Terima kasih, Asuna. Aku sangat berterima kasih atas perhatianmu dan Farhan."
Farhan tersenyum, "Tentu saja, Kak Han! Kamu adalah teman kakakku, jadi aku juga khawatir tentangmu."
Mereka melanjutkan makan malam mereka dengan penuh perasaan hangat. Asuna merasa lega melihat Han bisa makan dengan nafsu, dan Han merasa beruntung memiliki teman sebaik Asuna dan adik yang perhatian seperti Farhan.
Han menghela nafas lega ketika Asuna memasukkan satu sendok lagi makanan ke mulutnya. Dia merasa beruntung memiliki seorang teman seperti Asuna yang begitu peduli padanya. Han mengamati wajah Asuna yang penuh perhatian saat menyuapinya, dan dia merasa sedikit bersalah karena membuat Asuna khawatir.
"Sampai sekarang hanya kamu yang menjengukku ya Asuna?" tanya Han sambil menelan suapan makanan.
Asuna mengangguk, "Ya, aku khawatir tentangmu dan aku ingin pastikan bahwa kau baik-baik saja."
Asuna tersenyum, "Itu bagus. Aku senang kau tidak merasa sendirian di sini."
Mereka melanjutkan makan sambil berbincang-bincang tentang hal-hal yang tidak terlalu penting. Han merasa senang bisa berbicara dengan seseorang setelah beberapa hari terakhir hanya dihabiskan dengan berbaring di ranjang rumah sakit.
Setelah selesai makan, Asuna dan Farhan menghabiskan waktu di rumah sakit bersama Han, mengobrol dan bercanda. Han merasa senang bisa memiliki teman-teman seperti mereka di sampingnya.
Tiba-tiba, dokter datang memeriksa kondisi Han dan memberikan kabar baik bahwa Han bisa pulang dalam beberapa hari ke depan. Asuna dan Farhan bersorak bahagia, sementara Han tersenyum lebar.
"Akhirnya bisa pulang juga," ujarnya dengan suara pelan.
Mendengar kabar itu, Asuna merasa lega dan bahagia. Dia berencana untuk menjaga Han dan membantunya pulih sepenuhnya setelah pulang dari rumah sakit
Jam 7 malam, beberapa teman Han datang menjenguknya di rumah sakit. Asuna masih berada di sana bersama Han, duduk di samping tempat tidur Han. Han tersenyum ketika melihat teman-temannya datang.
"Hey, kalian datang!" ucap Han dengan lemah, tapi senang melihat teman-temannya.
Asuna bangkit dari kursi dan memberikan salam kepada mereka, "Halo, aku Asuna, teman Han. Senang bertemu dengan kalian."
Teman-teman Han saling berkenalan dengan Asuna sambil tersenyum. Mereka terkesan dengan kebaikan Asuna dan rasa pedulinya terhadap Han.
"Saya Kenji, teman Han sejak SMP," kata seorang teman Han sambil mengulurkan tangan kepada Asuna.
Asuna tersenyum dan berjabat tangan dengan Kenji, "Senang bertemu denganmu, Kenji."
Selanjutnya, teman-teman Han yang lain juga memperkenalkan diri mereka satu per satu. Ada Rika, Aiko, dan Takeshi, yang semua memiliki kenangan indah bersama Han. Mereka duduk di sekitar tempat tidur Han, bercerita dan menanyakan apa yang terjadi pada han.
Kenji mendekat ke Han dan dengan suara bisik-bisik ia bertanya, "Bro, sumpah aku sangat terpesona dengan senyuman Asuna. Kau sama dia apa sih, Han? Dia pacarmu?"
Han terlihat terkejut dengan pertanyaan tersebut dan menjawab, "Tidak, kami hanya teman dekat."
Kenji mengangguk dan berkata, "Baiklah, kalau begitu aku masih punya kesempatan untuk mendekatinya."
Han tersenyum dan berkata, "Tapi hati-hati, Kenji. karna sainganmu berat, dan kau tidak akan mungkin menyainginya"
"katakan siapa itu, Masato.?"bisik Kenji.
"Yah, itu orangnya yang sedang berbaring dinsini hehehe"jawab Han.
Sementara itu, Asuna yang sedang duduk di dekat Han sedikit mendengar percakapan mereka. Ia merasa sedikit canggung ketika Kenji bertanya tentang hubungannya dengan Han dan mencoba tidak terlalu memperdulikan hal tersebut
Asuna merasa senang melihat Han bisa tertawa dan bercanda dengan teman-temannya. Dia merasa lega bahwa Han tidak sendirian dan memiliki dukungan dari teman-teman terdekatnya. Asuna duduk di samping Han, tetap memperhatikan keadaannya, dan sesekali berbicara dengan teman-teman Han.
Waktu berlalu dan suasana menjadi semakin ceria dengan tawa dan canda teman-teman Han. Asuna merasa hangat melihat persahabatan mereka. Dia merasa bahagia bisa menjadi bagian dari momen ini dan memberikan dukungan kepada Han.
Setelah beberapa jam berlalu, teman-teman Han mulai berpamitan untuk pulang. Mereka memberikan dukungan kepada Han dan berjanji akan datang lagi untuk menjenguknya. Asuna juga berpamitan, mengucapkan selamat tinggal kepada teman-teman Han dan berjanji akan kembali besok.
Han tersenyum dan berterima kasih kepada teman-temannya serta kepada Asuna atas kunjungannya. Dia merasa bahagia bisa merasakan dukungan dari teman-teman terdekat dan Asuna di sampingnya.
Setelah semua orang pergi, Asuna kembali duduk di samping tempat tidur Han. Dia menggenggam tangan Han dengan lembut.
"Han, aku senang teman-temanmu datang menjengukmu. Mereka sangat perhatian padamu," ucap Asuna dengan senyuman.
Han tersenyum lemah, "Ya, aku juga senang. Terima kasih telah selalu bersamaku sepanjang hari ini, Asuna."
Asuna tersenyum, "Tentu saja, aku selalu di sini untukmu. Aku akan datang lagi besok."
Han mengangguk, "Aku akan menunggu kehadiranmu."
Mereka saling tersenyum, dan suasana di ruangan itu menjadi tenang. Asuna tetap duduk di samping
Setelah menghabiskan waktu di rumah sakit, Asuna membawa adiknya, Farhan, pulang dengan taksi. Farhan yang lelah dari hari yang panjang, tertidur dengan tenang di sebelahnya. Asuna memandang ke luar jendela, membiarkan pikirannya melayang-layang.
Dia merenung tentang keadaan Han dan betapa mudahnya hidup dapat berubah dalam sekejap. Dia juga memikirkan tentang pertemuan dengan teman-teman Han. Meskipun mereka baru saja bertemu, Asuna merasa senang bahwa mereka datang menjenguk Han di rumah sakit.
Taksi berhenti di depan rumah mereka, dan Asuna mengguncang lembut bahu Farhan untuk membangunkannya. Mereka keluar dari taksi dan masuk ke dalam rumah. Asuna meletakkan makanan yang dia bawa ke dapur, lalu duduk di sofa dan memejamkan mata sejenak.
Dia berterima kasih kepada Tuhan bahwa Han masih hidup dan berharap dia akan pulih dengan cepat. Tapi pada saat yang sama, dia merasa khawatir tentang apa yang akan terjadi selanjutnya. Dia tidak bisa membayangkan hidup tanpa Han, dan dia berdoa agar dia segera sembuh.