Decent Place

Decent Place
Tanggung jawab Asuna



Setelah Han pergi Asuna lalu membuka pintu rumah, Asuna diterima dengan wajah marah ayahnya yang menunggunya di Ruang tamu. Tanpa memberikan kesempatan pada Asuna untuk bicara, ayahnya langsung membentaknya.


"Dari mana saja kau, Asuna? Kenapa kau mengabaikan adikmu? Dia masih kecil dan butuh perhatianmu. Dan kau membiarkannya, sementara kau asyik bersenang-senang dengan pacarmu?" ujar ayah Asuna dengan nada marah.


Asuna merasa bersalah dan mencoba untuk membela diri, tapi ayahnya sudah terlalu emosi lalu menarik rambut Asuna dan menyeret Asuna ke kamar mandi dengan kasar, di ikuti dengan jeritan Asuna yang kesakitan Ayahnya yang tidak pikir panjang langsung menenggelamkan kepala Asuna ke bak air, yang membuat Asuna kesulitan bernafas di dalam air.


"Aku membiayai hidupmu bukan untuk bermain-main, adikmu masih sakit dan kau masih sempat-sempatnya pergi kelayapan dengan pacarmu" ujar Ayah Asuna yang masih menarik rambut Asuna


Asuna mencoba untuk berjuang untuk melepaskan diri dari cengkeraman ayahnya, tapi kekuatan ayahnya terlalu kuat dan Asuna tidak bisa melawan. Dia merasa takut dan tercekik di dalam air. Akhirnya, ayahnya melepaskan cengkeramannya dan membiarkan Asuna bangkit ke permukaan.


"Kau harus belajar untuk bertanggung jawab dan memprioritaskan keluargamu. Kuliat-liat kau selalu pergi dengan pria itu , Apa dia pacarmu yang membuatmu mengabaikan Adikmu, Sekarang lupakan dia," kata ayahnya dengan suara yang keras.


Asuna terus mencoba mempertahankan dirinya, "Tidak, ayah. Kau yang tidak pernah peduli dengan keluarga. Kau selalu sibuk dengan pekerjaanmu dan pulang dalam keadaan mabuk . Kau bahkan tidak pernah ada saat adikku sakit. Dan sekarang kau malah menyalahkan aku karena aku keluar pergi bersama temanku?".


Namun, perkataan Asuna hanya membuat amarah ayahnya semakin memuncak. Tanpa ragu-ragu, ayahnya langsung menggampar wajah Asuna dengan keras. Asuna merasa sakit dan terduduk di lantai, air mata mulai mengalir dari matanya.


"Aku bosan dengan sikapmu yang selalu merasa benar dan menyalahkan orang lain. Kau harus belajar bertanggung jawab dan memikirkan keluargamu," ujar ayah Asuna sambil meninggalkan kamar mandi.


Asuna merasa sedih dan tidak mengerti kenapa ayahnya begitu marah padanya. Dia berusaha menghentikan tangisannya dan memikirkan apa yang harus dilakukan selanjutnya.


Setelah mengalami kejadian yang tidak menyenangkan dengan ayahnya, Asuna pergi ke kamar adiknya, Farhan, dan menemukan bahwa Farhan sedang tidur pulas. Dia tidak ingin mengganggu tidur adiknya, jadi dia memutuskan untuk memasakkan makanan untuknya sebagai tanda permintaan maaf.


Asuna pergi ke dapur dan mulai memasak beberapa makanan kesukaan Farhan. Dia membuat nasi goreng dengan telur dan sayuran, serta beberapa makanan ringan lainnya. Asuna sangat serius dalam memasak, dia ingin menunjukkan ke adiknya bahwa dia sangat peduli padanya.


Setelah selesai memasak, Asuna pergi ke kamar Farhan dengan membawa makanan dan membangunkannya dengan lembut. Farhan banngun dari tidurnya, Asuna tersenyum dengan lega. Farhan langsung duduk dan memulai makan, dan Asuna duduk di sampingnya.


"Kak Asuna, kenapa tadi Ayah marah padamu pipimu merah apakah Ayah memukulmu.?" tanya Farhan dengan nada sedih.


Pipi Asuna kini di basahi oleh air mata yang keluar dari bola matanya, Dia meraih tangan Farhan dan mengelus kepalanya.


"Kakak jangan bohong, Aku sudah sering melihat kakak bertengkar dengan Ayah, mendengar jeritan kakak, melihat luka lebam di pipi kakak," ucap Farhan yang memerhatikan Asuna.


"Dulu sebelum Ibu pergi kakak belum Pernah mendapatkan tindakan kasar dari ayah, justru ibulah yang selalu menerima perlakuan kejam Ayah, Kakak selalu mendengar pertengkaran Mereka, kadang aku selalu ingin melindungi ibu namun Kakak tidak bisa berbuat apa-apa hingga akhirnya ibu kabur dari rumah " Jawab Asuna yang memandang kosong ke bawah.


"Maaf kak Aku, selalu membuat hidupmu sulit, aku tidak bisa melakukan apa-apa untuk melindungimu dari ayah" ucap Farhan yang memeluk Asuna.


"Tidak, tidak kau tidak bersalah Farhan, kakak tidak menyalahkanmu," Jawab Asuna yang mangelus punggung Farhan.


"Jika aku jadi orang kuat seperti superhero, aku yang akan melindungimu kak". kata Farhan yang memandang Asuna dengan penuh keyakinan.


Asuna pun tersenyum dan mengusap air matanya dan mengelus kepala Farhan dan menyuruhnya untuk melanjutkan makanya dan minum obat setelah makan.


Asuna menghabiskan beberapa hari di kamarnya merawat adiknya, Farhan. Dia tidak keluar sama sekali, bahkan untuk makan. Han sudah mencoba untuk menghubunginya, tetapi Asuna mengabaikan telpon dari panggilan Han. Dia merasa sangat bersalah dan menyesal karena telah mengabaikan adiknya.


Asuna menghabiskan waktunya untuk merawat Farhan, memberinya obat-obatan dan memastikan bahwa ia makan dengan baik. Farhan, yang masih lemah karena demamnya, menjadi sangat bersyukur dan bahagia karena kakaknya kembali mengurusinya.


"Sudahlah, kakak. Jangan khawatir. Aku merasa lebih baik sekarang," ujar Farhan sambil tersenyum lemah.


Asuna tersenyum dan memeluk adiknya. Dia merasa sangat beruntung memiliki adik seperti Farhan


Beberapa hari kemudian, Asuna terbangun pagi-pagi sekali untuk menemukan ayahnya sudah pergi ke kantor tanpa pamit. Di meja di ruang tamu, ada selembar kertas yang bertuliskan pesan dari ayahnya, "Sudah kubilang sebelumnya, aku punya pekerjaan penting. Uang untuk kebutuhan sehari-hari sudah kusiapkan di sini, aku akan kembali setelah seminggu."


Asuna merasa kecewa dan kesal pada ayahnya. Dia merasa seperti selalu diabaikan oleh ayahnya, yang selalu sibuk dengan pekerjaannya. Namun, dia tidak bisa berbuat apa-apa selain mengambil uang dan mempersiapkan sarapan untuk adiknya.


Selama seminggu, Asuna bertanggung jawab penuh atas kebutuhan keluarganya. Dia hanya keluar rumah untuk belanja, dia hanya melakukan aktivitas lainnya selain merawat adiknya. Dia juga tidak memiliki kesempatan untuk berbicara dengan Han ataupun pergi ke Decent Place.


Meskipun melelahkan, Asuna merasa puas karena bisa merawat adiknya dengan baik dan menjalankan tugas-tugas rumah tangga. Namun, dia juga merasa kesepian dan merindukan kebersamaan dengan Han ataupun temannya yang lain.