Because Alana

Because Alana
episode 8 Kanaya pov



Aku fikir semalam hanyalah mimpi, dan berharap itu hanya mimpi. Rupanya tidak.


Hingga mendekati dini hari, aku tak bisa memejamkan mata. Aku sungguh tak sanggup jika harus mengingat bagaiman dengan canggungnya aku memilih pergi, ketika Revan melepas ciumannya. Aku yakin wajah dan rambutku pasti sama-sama berantakan dan terlihat bodoh.


"kamu gak apa-apa?,"


satu pesan yang Revan kirim, beberapa saat setelah aku sampai di kamar. Aku hanya menatap layar ponsel tanpa membalas. Jikapun aku balas,apa yang harus aku katakan?


"tentu aku baik-baik saja," Apa harus seperti itu?


Padahal justru aku merasakan sebaliknya, jantungku masih berdetak kencang hingga harus berulang kali menetralkan, menghirup udara dari hidung dan perlahan membuangnya dari mulut.


Aku mulai merasa tenang, tapi begitu kembali teringat jantungku justru kembali menggila.


Aku hanya tidur tiga jam, begitu alarm di ponsel berdering memekakan telinga, aku sadar ini sudah jam enam pagi. Rasa kantuk yang tak bisa aku tahan, membuatku malas membuka mata dan ingin kembali menenggelamkan tubuhku di balik hangatnya selimut. Tapi tidak mungkin aku bangun tengah hari di rumah calon mertua, walaupun bukan calon mertua sungguhan.


Entah karena efek kurang tidur atau terlalu lelah, badanku terasa sangat sakit, sekujur tubuhku terasa ngilu bahkan telapak tanganku terasa jauh lebih hangat dari biasanya.


Dengan malas aku beranjak dari tempat tidur, melangkah menuju kamar mandi. Mungkin dengan berendam di air hangat bisa membuat tubuhku terasa lebih segar.


Suara ketukan dari arah luar pintu menghentikan langkahku,


"Nay, udah bangun?"


Astaga , itu suara Revan! . Aku belum siap bertemu dengannya, bagaimana ini.


"Nay?" Suara Revan terdengar lagi.


Tidak ada pilihan lain, aku membuka pintu perlahan, dengan sengaja aku hanya membuka sedikit, memperlihatkan separuh wajahku. Sekilas aku menatap Revan, dan buru- buru menunduk, menguap pura-pura masih ngantuk.


"Aku mau ajak kamu jalan pagi, bareng Mamah dan juga Reva."


"Oh.. Iya, Aku mau bersih-bersih dulu sebentar."


"Aku tunggu di depan ya?" Aku mengangguk, bergegas menutup pintu, menyandarkan dahiku di balik pintu.


"*B*odoh,,, bodoh. " Gumamku sembari membentur-benturkan kepala.


Pemandangan yang selalu ingin aku hindari dan membuatku ketakutan setiap kali melihatnya, aku menghela nafas berat. Inilah yang selalu menjadi ketakutanku beberapa bulan terakhir, lebih tepatnya semenjak enam bulan yang lalu.


Seharusnya bukan hal yang aneh ketika seorang perempuan melihat bercak darah di celana dalamnya, karena itu merupakan hal wajar yang menjadi siklus bulanan untuk kaum wanita normal pada umumnya. Tapi tidak denganku.


Pantas saja begitu bangun tidur tubuhku terasa sakit, bahkan kini aku mulai merasa suhu tubuhku mulai naik. Tangan dan juga dahiku mulai mengeluarkan keringat dingin.


Rasa sakit mulai terasa, membuat sebagian tubuhku mati rasa. Hanya perut dan pinggang yang terasa bagai di tusuk-tusuk benda tajam. Aku ingat ajakan Revan dan mungkin saja dia masih menungguku. Tidak mungkin aku bisa berjalan dengan kondisiku seperti ini, bergegas aku mengirim pesan singkat memberi taunya jika aku merasa kurang sehat, dan pusing menjadi alasannya.


Aku kembali ketempat tidur, setelah meminum obat pereda nyeri yang biasa aku konsumsi. Beristirahat sejenak mungkin bisa mengurangi rasa sakit dan akan membaik setelah istirahat.


Sayup-sayup aku mendengar pintu terbuka, derap langkah kaki semakin mendekat. Aku masih memejamkan mata tanpa tau siapa yang datang.


"Nay, kamu baik-baik aja?" Tanya Revan. Perlahan kasur bergoyang, Revan duduk persis di sebelahku. Dengan enggan aku membuka mata, menatap sorot mata Revan yang terlihat hawatir. Aku masih meringkuk memegangi perut dengan kedua tanganku.


"Sakit lagi?" Tanyanya, terdengar cemas.


"Bulanannya datang," Ucapku, masih menahan rasa sakit yang kian menjadi.


"Sakit banget?" Revan menarik satu tanganku menautkan jemarinya dengan jemariku,aku hanya mengangguk sebagai jawaban.


Aku semakin meringis kesakitan, rasa sakit yang terasa semakin menjalar hingga ke pinggang ,membuatku melepas genggaman Revan dan kembali mencengkram perutku.


"Kita ke Rumasakit ya?"


"Aku udah minum obat, gak usah ke Rumah sakit." Aku menggeleng,menolak ajakan Revan.


"Aku cuman butuh istirahat aja, bentaran juga sembuh."


"Ke Rumasakit aja ya?" Revan tetap memilih Rumasakit sebagai pilihan tepat, aku justru tidak ingin kembali berakhir di rawat di tempat itu.


"Kenapa harus ke Rumasakit? Dokternya aja ada di sini."


"Nay, aku serius!"


Aku tak ingin mendebat Revan, terlalu lemas hanya untuk sekedar meladeni ucapannya.


"Sini," aku menepuk sebelah ruang kosong, di sebelahku. Tanpa bantahan, Revan merebahkan tubuhnya di sebelahku. Tangannya menarik tubuhku kedalam pelukannya, kupejamkan mata membalas pelukan Revan, melupakan kejadian semalam bersikap seolah-olah tidak ada yang terjadi. Bahkan aku justru membenamkan wajahku di dada bidangnya, mengirup aroma lembut tubuhnya yang membuatku semakin merasa nyaman. Detak jantungnya terdengar seperti menghipnotisku , seperti musik klasik penghantar tidur.


"Seperti ini aja dulu, aku mau tidur," Gumamku , membuat Revan semakin mengeratkan pelukannya. Aku sungguh tidak tahu malu, tapi pelukan Revan benar- benar terasa nyaman, entah karena efek obat atau karena pelukan Revan hingga akhirnya aku kembali terlelap.


Selama ini aku selalu berharap ketika aku memejamkan mata di malam hari, dan membuka mataku di pagi hari aku bisa melupakan semua kejadian buruk yang terjadi di hidupku dan kembali memulai hidup dengan baik. Hanya itu yang selalu aku harapkan. Namun untuk kali ini, aku mengharapkan sesuatu yang lain. Aku ingin tertidur dan bangun berada di pelukan lelaki yang kini mendekapku.


Terlalu serakah jika aku berharap seperti itu?


Bahkan di saat pelukan Revan mampu mengurangi rasa sakit sekalipun. Bukan hanya sakit yang kini menggerogoti tubuhku, tapi juga rasa sakit yang di torehkan Alex dan juga Mia.


Lalu, bagaimana jika hanya aku yang memiliki perasaan ini? sendirian?


Haruskah aku patah hati untuk kedua kalinya?


Aku tak akan sanggup jika harus kembali mengalaminya, merasakan kembali bagaimana aku bisa menjadi orang lain ketika patah hati.


Baiklah, untuk hari ini saja aku membiarkan hatiku bahagia, hanya untuk sekedar penghantar tidur tidak lebih. Karena ketika aku bangun, aku harus kembali ke rencana awal. Untuk kali ini saja aku menuruti kata hati , membiarkan naluri bekerja dan meninggalkan logika untuk sementara.


Entah berapa lama aku tertidur, karena begitu sadar langit yang semula terang kini sudah gelap. Tirai jendela tertutup menyisakan lampu tidur yang berada di sebelah tempat tidur. Revan tak lagi berada di sebelahku, serasa di ingatkan aku mulai menyadarkan diri jika aku harus kembali pada rencana awal, tidak ada hati yang ikut terlibat.


Aku melihat kesetiap penjuru ruangan, dan betapa terkejutnya aku begitu melihat jam menunjukan pukul enam malam. Aku tidur apa tidak sadarkan diri? , bagaimana bisa selama itu aku tidur, hampir delapan jam lebih. Karena seingatku Revan masuk ke kamar jam sepuluh pagi, setelah itu aku tidak ingat apapun lagi.


Perlahan pintu terbuka, aku berharap itu Revan. Tapi begitu sosok perempuan cantik membawa nampan masuk, tersenyum ramah menghampiriku.


"Sudah lebih baik, sayang?" Tante Devi menaruh nampan berisi bubur panas, yang masih mengepul dan juga teh madu beserta air putih.


"Sudah mendingan tante. Maaf aku ngerepotin." Aku merasa tak enak hati, merepotkan keluarga Revan dengan kondisiku seperti ini.


"Nggak ,sayang. Tante justru senang, Revan membawamu kesini. Makan dulu ya, tante buatin bubur." Tante Devi meniup bubur di sendok, menyuapiku dengan perlahan.


"Revan kemana tante?" Sejak bangun aku belum melihatnya lagi.


"Dia panik begitu melihat kondisi kamu, jadi dia pergi ke Klinik milik temannya cari obat."


"Aku sakit, jadi ngerepotin semua orang. Maaf ya tante." Tante Devi menaruh mangkuk di meja, merengkuh tubuhku yang mulai bergetar


"Tante gak merasa repot sama sekali. Justru tante senang bisa ngerawat kamu. Mulai hari ini kamu bagian dari keluarga ini, jadi ga perlu merasa bersalah." Aku mulai terisak di pelukan tante Devi.


"Nanti , tante bawain obat herbal ya? kita sama-sama harus bisa lawan penyakitnya." Sapuan tangan hangat tante Devi menyeka air mataku. Mungkin Revan sudah bercerita mengenai kondisi dan juga penyakitku, karena tante Devi tidak bertanya apapun lagi. Dia hanya menyuapiku bubur, kemudian pergi setelah aku menghabiskan satu mangkok bubur dan satu cangkir teh madu hangat.


Berselang satu jam, Revan datang membawa satu plastik berisi obat-obatan .


"Udah mendingan?"


"Udah, maaf ya ngerepotin," Lirihku.


"Kamu hampir bikin aku jantungan," Revan menegelus rambutku hingga ke sisi wajahku.


"Jangan sakit lagi, aku takut lihat kamu kaya tadi." Kecupan hangat mendarat di puncak kepalaku, mengalirkan gelenyar aneh hingga ke hatiku.


Tolong jangan katakan jika aku mulai menyukainya.