Because Alana

Because Alana
episode 46



Aku tidak menyebut ini sebagai melarikan diri, aku hanya ingin menenangkan hatiku,salah satunya menjauh dari orang-orang terutama Revan dan mencari suasana baru di tempat baru, dengan orang-orang baru juga.


Namun meski enam bulan sudah aku berada di kampung kecil ini,di pelosok Kalimantan, tak kunjung juga membuatku lebih baik. Berkali-kali aku di larikan keRumah sakit,karena mengalami pendarahan. Berat badanku tidak bertambah banyak seperti kebanyakan wanita hamil lainnya, hingga akhirnya aku kekurangan banyak vitamin karena nafsu makanku yang turun drastis. 


Sampai hari ini aku baru siuman setelah koma dua hari, pasca operasi sesar. Pagi itu tiba-tiba perutku sakit, sakit yang tak bisa aku tahan lagi, bahkan aku pendarahan. Ibu dan Abang panik, mereka segera membawaku ke Rumah sakit dan akhirnya aku harus melahirkan putriku saat itu juga dengan proses operasi  sesar. Juna tiba tepat tiga puluh menit sebelum aku masuk ruang operasi. Dia datang dari Jakarta menggunakan jet pribadi milik temannya, begitu tau aku di larikan ke Rumah sakit.


Operasi memakan waktu satu jam dan Juna dengan sabar menunggu detik-detik kelahiran putri kecilku. Namun begitu aku mendengar suara tangis bayiku untuk pertama kalinya, kesadaranku tiba-tiba hilang. Aku tidak lagi mendengar atau melihat apapun, pandanganku menggelap dan sunyi. 


Dan hari ini, untuk pertama kalinya aku sadar dan bisa melihat putri kecilku yang nyaris saja kehilangan Ibunya. 


Dia cantik, pipinya gembul, matanya bulat dan bibirnya merah. Aku terharu melihatnya, meski dia terlahir prematur di usia kandunganku baru menginjak 29 minggu. Tapi gadis kecilku ini kuat, dia mampu bertahan meskipun selama aku koma, dia juga dirawat intensif di ruangan khusus. 


Aku masih lekat memandangi wajahnya, bibir kecilnya tak henti-henti menyedot air susu dari payudaraku. Aku bahagia bisa mengasihinya dengan memberikan ASI, begitu aku sadar. 


"Dia cantik seperti dirimu." Ibu yang sejak tadi berada di dekatku, tak pernah lepas memandangi cucu pertamanya itu. 


"Iya,, dia cantik sekali." Balasku. 


Gadis kecilku sudah merasa kenyang, karena tidak lagi minum ASI. Segera aku membetulkan kemeja, menutup dua kancing yang terbuka. 


"Mau di taruh di kasurnya?" Tanya Ibu, karena gadis kecilku sudah terlelap.


"Nanti saja,Bu. Aku masih mau menggendongnya."


"Jangan lama-lama. Luka jahitan di perutmu belum kering, tidak boleh tertekan." 


"Iya." 


Sungguh luar biasa rasanya memiliki seorang anak, rasa sakit akibat melahirkan hilang begitu saja ketika aku melihatnya wajahnya terlelap. Wajahnya mampu menyedot semua rasa sakit dan rasa sedihku. Meskipun kau masih merasa bersalah karena dia lahir tanpa seorang Ayah di sampingnya, tapi kehadirannya sungguh anugrah terindah dihidupku  


"Juna dimana,Bu?" Sejak aku siuman aku tidak melihatnya, terakhir aku melihatnya ketika dia menemaniku masuk ruang operasi. 


"Juna kembali ke Jakarta. Ibu sudah memberitahunya kalau kamu sudah siuman. Dia pasti secepatnya kesini." 


Aku ingin sekali bertemu Juna dan mengucapkan terimakasih karena dia selalu membantuku. Terkadang aku bingung sendiri, bagaimana caranya aku membalas semua  kebaikannya yang sudah tidak bisa lagi aku hitung.


Suara ketukan terdengar dari luar, 


"Iya,, masuk." Seru Ibu.


Semua orang yang hendak masuk ke ruanganku,harus mengetuk pintu terlebih dulu karena aku tidak ingin orang lain datang di saat aku tengah menyusui. 


Pintu perlahan terbuka. Juna datang membawa satu buket bunga mawar merah besar beserta boneka kura-kura berwarna pink. Dia seperti hantu, baru saja aku dan Ibu membicarakannya, tiba-tiba saja dia datang. 


"Hai,, apa kabar?" Juna mendekat, memeberika bunga mawar dan bonekanya padaku.


"Baik." Aku memeluk tubuh besarnya,


"Hai,,, gadis kecil Ayah, apa kabar sayang? Ayah kangen." Juna mengecup pipi gadisku, mengelus sayang puncak kepalanya.


"Aku ingin dia memanggilku Ayah, apa kamu keberatan?" Tanya Juna. 


"Nggak, dia boleh memanggilmu Ayah." 


"Nay, ada yang ingin bertemu denganmu. Aku tidak bisa menolak begitu dia memohon dan memaksaku." 


Perasaanku mulai tidak tenang,terakhir kali orang yang menemuiku yaitu Mia, dan itu membuatku hampir kehilangan kendali. Lalu siapa orang yang di maksud Juna? Aku belum siap bertemu dengan siapapun, bahkan Revan sekalipun. 


"Jun,," aku menatap Juna dengan perasaan tak menentu, dia menggenggam tanganku mencoba meyakinkan.


"Mereka tidak akan menyakitimu. Percaya padaku." 


Meski ragu, akhirnya aku memperbolehkan orang yang dimaksud Juna masuk. Perlahan pintu terbuka, dua orang lelaki dan dua orang perempuan memasuki ruanganku. Aku tersentak,bahkan nyaris tidak percaya dengan apa yang aku lihat.


"Tante Devi?" 


Ternyata tante Devi,Om Herman,Reno dan juga Reva, tamu yang di maksud Juna,mereka keluarga Revan. 


Aku kembali menatap Juna yang masih berdiri di samping tempat tidurku, sedangkan Ibu,matanya sudah berkaca-kaca melihat kedatangan mantan  calon besannya.


"Mereka memaksaku ingin bertemu denganmu. Begitu kondisimu memburuk,koma setelah melahirkan, aku tidak punya pilihan lain. Aku menyetujui mereka menemuimu, karena aku takut sesuatu hal buruk terjadi padamu." Jelas Juna.


"Sayang, jangan menyalahkan Juna. Salahkan tante yang terus memaksanya." Tante Devi menghampiriku. Matanya merah dan berkaca-kaca,apalagi ketika dia mulai melirik gadis kecil di pangkuanku.


"Tante minta maaf,," Lirihnya.


Meski jarak antara aku dan tante Devi tidak jauh, hanya selang beberapa tiga langkah tapi seolah menjaga jarak dia tetap berdiri mematung,menatapku bergantian dengan gadis kecil yang terlelap tidak merasa terganggu dengan kehadiran keluarga Ayahnya. 


"


"


 


hai.... aku bukam mau update ya.... , aku mau kasih info aja... cerita BECAUSE ALANA, akhirnya mendapat tawaran bergabung di Dreame. JADI CErita ini aku stop di noveltoon sampai sini aja. buat kalian yang mau tau kelanjutannya, silahkan mampir ke dreame.


aku masih pake user name yang sama Kmmy Reana.tapi aku baru publish mulai tanggal 1 januari 2020.


maaf kalian pasti kecewa, sekali lagi aku minta maaf.... semoga kalian mau mengerti. di sana aku bakal lanjutin gimana perjalanan


love, kimmy reana.