
"Ada yang sakit ? Dari tadi kamu diem aja." Revan yang mulaii menyadari jika sedari tadi aku hanya diam. Semenjak mobil Revan keluar dari gedung kantor, itu merupakan kalimat pertama yang terdengar di antara kita berdua.
"Kita mau kemana?" Aku mencoba mengalihkan pertanyaan Revan.
"Makan ke suatu tempat, kamu pasti suka." Aku menoleh ke arah Revan
"Dari tadi pagi aku belum makan," lanjutnya. Belum sempat aku membalas perkatan nya , Revan menoleh ke arahku dengan senyuman hangat yang mampu mengurungkan pertanyaanku.
Aku memandang ke arah luar jendela, sekilas masih terngiang ucapan sarah tadi pagi , oh shitt!Aku sangat muak, aku berdecak kenapa kata-kata itu terus berada di pikiranku.
"Kita sudah sampai." Revan menghentikan mobil nya di sebuah tempat makan yang tidak terlalu ramai di pinggir jalan, terlihat sepi. Sepertinya Revan sudah menjadi pelanggan tetap di tempat ini, terlihat dari bagaimana cara pelayan menyapa dan menunjukkan tempat yang sudah di pesan Revan, mereka terlihat akrab.
Aku terkejut dengan apa yang aku lihat, tempat yang dari depan terlihat biasa saja, ternyata dari dalam menyimpan sebuah pemandangan yang begitu menakjubkan. Tempat yang terletak di pinggir tebing, menjadikan rumah makan ini memiliki dua pilihan tempat. Di dalam ruangan depan tersedia tempat yang terlihat elegan dan sangat romantis. Dengan hiasan hiasan yang terlihat semakin indah dan nyaman.
Sedangkan untuk di luar ruangan , mereka menyediakan tempat makan yang langsung dengan pemandangan yang jauh Iebih indah. Suasana outdoor, yang langsung bisa melihat hamparan luas kolampulampu kota. Sungguh tempat yang menjadi kesukaanku.
Hembusan angin menerpa wajahku,rasa dingin yang begitu terasa menyentuh kulit, secara reflek aku mengelus elus kedua lenganku secara bergantian.
"Dingin?" tanya Revan.
"Nggak."
" Suka ?"
"Sangat suka."
Revan tersenyum, "makan dulu nanti baru liat liat Iagi." Ajak nya sembari menarik ujung siku tangan ku dan duduk di meja yang sudah tersaji berbagai makanan.
“Terimakasih" ucapku setelah kita selesai makan, dan kini kita tengah sama sama memandang hamparan jutaan lampu, Revan menoleh ke arahku
"Harus nya aku yang bilang gitu sama kamu."
" Rev?"
"Ya? Kenapa?"
Aku memikirkan apa yang akan aku katakan sedari tadi. Aku rasa mungkin sekarang saat nya aku dan Revan mengakhiri drama pura-pura yang selama ini kita jalani. Semenjak Revan masuk kedalam kehidupanku semua terasa berbeda. Meski masih saja aku meradang ketika mendengar apapun tentang Mia dan Alex. Meski mereka masih mampu membuat emosi ku naik turun, tapi tidak separah di awaL-awal. Apalagi, semenjak Revan selalu dengan mudah mengalihkan perhatianku , contohnya seperti hari ini, Revan bisa dengan mudah membuatku lupa dengan kejadian tadi pagi. Untuk saat Revan seperti manusia dengan banyak fungsi. Dia bisa menjadi. Pengalih dari rasa sakitku, bahkan dia bisa sangat cerewet sama seperti abang Ramzi.
Aku tersenyum sembari menatapnya,
"Aku ga mau kamu terus-terusan seperti ini, kamu bisa cari kebahagian kamu sendiri, kamu bisa menjalin hubungan serius dengan seseorang, lagi pula masalah perjodohan konyol kita sudah selesai buka?, Kamu hanya perlu bilang sama keluargamu kalau kita ga cocok dan bertengkar, kemudian kita memilih berpisah."
Revan menghela nafas, “Apa kamu masih menganggap kita hanya sandiwara?" Akhirnya Revan bersuara, setelah tadi dia hanya diam sambil menatapku.
"Kita sudah sejauh ini, apa kita harus berhenti? Kenapa? Apa kamu masih beranggapan apa yang aku lakukan hanya semata mata bagian dari sandiwara?" Kali ini aku yang berbalik diam.
"Jauh-jauh jakartabandung cuman buat mastiin kamu baikbaik saja, bahkan aku belum sempat istirahat sama sekali. Dan hampir menabrak tukang ojek karena ngantuk, apa itu juga masih dikategorikan sandiwara?" Lidahku tiba-tiba kelu.
"Sayang sekali kalau kamu menganggap begitu. Padahal aku bener bener pengen Liat kamu dan bisa lihat dengan mata kepalaku sendiri kalau kamu baik baik saja." Terlihat Jelas raut kecewa di wajah Revan meskipun dia berusaha tersenyum.
Revan mengamati keterdiamanku sesaat, kemudian dia menarik tanganku dan menjalinkan jemarinya dengan jemariku, senyum tipis terbit dari bibirnya.
"Bisakah kita menghentikan semua ini? Berhenti pura pura, tapi benar menjalin hubungan yang sebenarnya?"
Deg...,
Mendadak aku merasa waktu berhenti, aku balik menatapnya sambil memikirkan apa yang akan terjadi setelah ini. Apa aku benar benar bisa melupakan Alex? Apa memang Revan sengaja dihadirkan tuhan setelah aku mengalami rasa sakit akibat pengkhianatan kedua orang kepercayaanku?
"Kamu kedinginan," Revan memberikan jaketnya dan memakaikannya ke pundakku. Revan mencondongkan tubuhnya, dengan kedua tangan nya yang masih berada di kedua pundakku. Sebelah tangan nya membelai pipiku yang terasa dingin, menyelipkan anak rambut yang berhamburan terkena terpaan angin. Sentuhannya begitu hangat dan Lembut.
"Bibir kamu pucet banget," ucap nya sembari mengusap bibirku dengan jemarinya.
"Rev_" Sejurus kemudian dia menciumku dengan Iembut.
Ciuman yang mampu menghantarkan kehangatan hingga ke dasar hatiku. Hembusan angin membuat rambut Revan berantakan, tapi justru terlihat semakin tampan, secara reflek aku melingkarkan lengan ku di pundaknya. Perlahan Revan melepas ciumannya, tatapan nya masih Iekat menatapku.
"Aku tau, tapi kita bisa perlahan menjalani nya." Revan menyadari keraguanku, detik berikutnya Revan kembali menciumku semakin dalam. Tentu saja aku membalas ciumannya, bahkan mungkin tanpa harus aku jawab, Revan bisa mengerti lewat balasan ciumanku.
Hembusan angin yang semakin kencang, membuatku dan Revan akhirnya memutuskan pulang. Setelah Revan mengantarku hingga apartemen dia segera pulang ,kini tinggal aku sendiri di kamar.
Aku tersenyum, pipiku kembali terasa panas mengingat bagaimana ciumanku dan Revan tadi. Jika saja tidak ada pelayan yang datang mungkin kita masih sama sama larut dalam ciuman yang semakin lama semakin terasa panas meski sebenarnya udara semakin dingin.
Layar ponselku menyala satu pesan masuk dan itu dari Revan
Revan:Jangan terlalu malam tidurnya, jangan Iupa minum obat. Aku kerja shift malam. Besok pagi aku yang antar berangkat kerja.
Aku tersenyum melihat pesan yang dikirim Revan. Rasanya seperti berjuta bunga bermekaran di hatiku. Apakah aku jatuh cinta lagi? Jika iya tolong jangan biarkan aku kecewa untuk kedua kalinya.