
Kanaya pov
Tubuhku Lemas. Bagaikan di tusuk pisau, jantungku terasa sakit. Apa yang aku lihat dan apa yang aku dengar sungguh membuat hidupku hancur berantakan dalam sekejap.
Perlahan aku melangkah meninggal kan sekumpulan orang-orang yang dengan sengaja telah terlibat menghancurkan hidupku. Tak ada lagi yang perlu aku dengar.
Aku menyusuri Lorong Rumah sakit dengan tenaga sisa yang aku miliki. Berkali-kali aku mencari pegangan , agar tubuhku tidak terjatuh. Hingga aku merasakan seseorang mencengkram pergelangan tanganku begitu kuat..
"Nay, please. Dengar penjelasanku dulu." Revan mencengkram tanganku, menarik tubuhku hingga berbalik menghadapnya. Aku tersenyum, aku tidak menangis lagi, meski sebenarnya hatiku teramat sakit,tapi aku sudah tak mampu lagi menangis.
"Tidak ada yang perlu kamu jelaskan lagi,Rev. Tolong berhenti cukup sampai disini. Aku tak ingin mendengar apapun lagi. Tolong."
Aku mencoba melepas cengkraman Revan, semakin aku berusaha , Revan semakin mencengkram kuat lenganku.
"Aku mengaku salah. Tapi aku mohon Nay, dengarkan dulu penjelasanku!" Revan tetap memaksa.
Namun tiba-tiba Juna datang,mencengkram kerah baju Revan dan menariknya hingga cengkramannya terlepas.
"Brengsek!" Umpat Juna.
"Lo emang brengsek,Rev." Pukulan Juna menghantam wajah Revan dengan keras.
Bugh
"Ini buat sikap brengsek lo!"
Bugh
"Ini untuk Kanaya."
Bugh
"Dan terakhir. Ini dari gue,karena lo udah hancurin cita-cita gue."
Juna menghentikan pukulannya setelah merasa puas dan tidak ada balasan dari Revan.
Revan tergeletak di lantai Rumah sakit, dengan seluruh wajah penuh lebam.Kondisi Lorong Rumah sakit yang terbilang cukup sepi, membuat aksi kedua Lelaki itu tidak terlalu menimbulkan kegaduhan. Aku tidak tau harus bereaksi seperti apa, melihat kedua lelaki di hadapanku saling memukul satu sama lain.
"Jangan pernah muncul lagi di hadapan Kanaya !" Ancam Juna. Dengan gerakan cepat juna menarik tanganku, menuju mobil nya yang berada di basement Rumah sakit.
Tidak ada yang bicara selama perjalanan, bahkan sampai di depan pintu apartemen pun, aku dan Juna masih sama-sama diam.
"Aku mau istirahat, kamu boleh pulang." Ucapku tanpa melihat ke arah Juna.
Segera aku membuka pintu unit, namun entah apa yang salah berulang kali aku menekan password, berulang kali juga salah.
"Aku lupa kata password nya." Segera aku mencari kunci cadangan di dalam tas.
"Untung ada kunci cadangan." Aku menunjukan kunci berbandul hello kitty pada Juna.
Juna hanya diam tanpa expresi, memperhatikanku.
"Argh, kenapa susah sekali!" Aku mencoba memasukan kunci, tapi tetap tidak bisa.
"Kenapa gak bisa dibuka!" Aku menyerah, kupukul berulang-ulang pintu dengan telapak tanganku, hingga meninggalkan bekas merah.
"Stop! Kamu bisa melukai tangan kamu sendiri!" Juna mencekal lenganku.
"Bukan kuncinya yang gak bisa di buka, tapi tangan kamu yang bergetar dari tadi."
"Lepas!" Aku menarik tanganku dari cengkraman Juna, "Ini pintunya yang salah, bukan tanganku!"
"Aku baik-baik saja. Kamu boleh pulang. Aku capek , mau istirahat!" Aku berusaha tersenyum, meski setengah mati aku melakukannya agar Juna mau pergi meninggalkanku sendiri.
"Jangan seperti ini, Nay."
"Seperti apa maksud kamu? Aku ga apa apa." Juna menghela nafas, menatapku prihatin.
"Aku beneran gak apa-apa. Memangnya aku kenapa? Bukannya aku baik-baik aja, iya kan?" Aku tertawa, entah dorongan apa yang membuatku ingin tertawa. Tertawa lepas seperti orang bodoh. Atau mungkin aku memang menertawakan diriku yang bodoh.
Tawaku yang semakin menggema, namun terdengar semakin aneh. Juna menarik tanganku, hingga tubuh besarnya mendekap tubuhku yang masih berguncang karena tertawa.
"Kamu boleh menangis sekarang.Jangan di tahan Iagi." Bisiknya persis di telingaku.
"Aku ga.. aku ga mau... Ga... Mau.. nangis ko."
Suaraku tiba-tiba sulit keluar dari tenggorokan. Bahkan aku sulit bernafas untuk mengendalikan luapan emosi yang sejak tadi aku tahan. Aku tidak mampu Lagi menahannya, aku menumpahkan semua rasa yang bercampur menjadi satu di pelukan Juna.
PelukanNya semakin erat, meredam suara isak tangisku yang semakin menjadi dalam pelukannya. Berulang kali aku rasakan bibir nya mengecup puncak kepalaku,dan tangannya mengusap lembut punggungku yang masih berguncang.
"Maafin aku, Nay." Lirih Juna, membuat tangisku semakin kencang.
"Maaf karena membiarkan kamu terjerumus terlalu jauh dan maaf karena aku terLambat datang.Jika saja aku terlebih dulu bertemu denganmu, ini semua tidak akan terjadi."
"Kenapa, kenapa harus aku?"
"Mulai sekarang aku gak akan pernah biarin kamu terluka lagi. Berjanji satu hal sama aku, tolong jangan Larang aku buat ngelakuin itu."
Juna melepas pelukannya, mengusap air mataku dengan punggung tangannya. "Aku tau, aku juga salah. Tapi aku mohon jangan menjauh dari aku. Kamu boleh marah, lakukan apapun yang kamu mau untuk melampiaskan rasa kecewa kamu, tapi aku mohon jangan menjauh atau pergi."
"Aku mau sendiri." Aku mengusap air mataku yang tak henti nya mengalir.
"Nay?"
"Tolong kasih aku waktu sendiri."
Juna menghela nafas berat, memijat pelipis dan mengacak rambutnya kesal. "Oke. tapi dengan syarat ,apapun yang terjadi kamu harus segera menghubungiku." Aku mengangguk menyetujui.
Juna membuka pintu apartemen dengan sekali coba. Mengantarku hingga ke kamar dan beranjak pulang setelah memastikan aku berada di tempat tidur. Terlihat jelas Juna enggan meninggalkan aku, tapi saat ini aku butuh waktu sendiri.
Memandang langit sore hari dari balik jendela kamar, tampak matahari masih bersinar terik. Dering suara ponsel terus bergema dari tadi, tapi aku tidak berniat sedikitpun untuk melihat ataupun menjawab panggilan.
Kembali aku mengingat bagaimana aku bertemu dengan Revan dari awal sampai hari ini. Seharusnya aku memang menyadari nya dari dulu. Kehadirannya yang begitu tiba-tiba langsung mengajakku berpacaran, seharusnya aku menaruh curiga. Tapi dengan bodohnya aku justru menerima tawarannya hingga aku terjebak dan berakhir mengenaskan.
Seharusnya aku mempercayai ucapan Nita tempo hari. Ucapan Nita memang benar, ternyata aku hanya dianggap mainan,sama seperti perempuan-perempuan lainnya yang hanya dimanfaatkan kemudian ditinggalkan setelah puas. Dan semua yang dilakukannya padaku hanya karena satu alasan, yaitu hanya karena Alana?
Jadi selama ini hanya karena Alana? Dan hanya Alana alasan dari semua ini?
Aku menatap pantulan wajahku di cermin. Mata sembab, rambut berantakan,bahkan aku Lebih mirip pasien Rumah sakit gangguan jiwa. Aku memegang erat satu botol berisi pil penenang yang aku miliki sejak lama. Aku tidak pernah menyentuh nya, meski obat itu sudah berada di Lemariku sejak lama.
Kali ini aku merasa begitu lelah, aku ingin beristirahat dengan tenang tanpa harus merasakan sakit yang semakin mencengkram erat di hatiku. Tidak ada lagi yang tersisa untukku, satu-satunya harga diri yang aku miliki pun sudah aku berikan dengan sukarela kepada Revan. Lalu untuk apa lagi aku hidup?
Apa aku seputus asa itu? Tentu saja tidak,aku hanya ingin istirahat sejenak. Menjeda waktu yang terasa terus mencekik Leherku.
Bahkan bayangan ibu dan Abang pun tak mampu mengurangi rasa sakit yang aku rasa .Aku terlalu takut melihat mereka menangis dan kecewa. Sebelum itu terjadi lebih baik aku tidur sejenak. Aku mengeluarkan beberapa butir pil,menenggak nya bersama air putih yang sudah aku siapkan.
Perlahan mataku semakin berat, pantulan wajahku di cermin berubah banyak. Pusing yang semakin menghantam kepala membuatku tersungkur bahkan kini
Jantungku mulai berdetak kencang,pandangan kabur, seluruh ruangan terasa berputar-putar. Aku mencengkram kuat selimut, menahan tubuhku yang mulai bergetar hebat. Rasa sakit perlahan mulai menjalar ke seluruh tubuh, mengimbangi rasa sakit yang ada di hatiku.
Tuhan,,, jika ini yang dinamakan sekarat, tolong cabut nyawaku segera.