
Because alana eps 10n
Pagi ini aku terbangun dengan semangat yang tak pernah aku rasakan sebelumnya.
Ah,,ralat! Aku pernah merasakan perasaan seperti ini, yaitu ketika aku akan memulai hari pertama sekolah, bersemangat dengan perasaan bahagia.
Selama pasca libur di Bandung beberapa hari lalu, tidak ada satupun kegiatan yang aku lakukan. Paling banter nonton infotainment di jam sembilan pagi, setelahnya tidur lagi dan bangun di jam dua sore dan kembali berlanjut melihat gosip selebriti bahkan dengan berita yang sama.
kasihan banget gak sih?
Kemarin sore aku dan Revan tiba di apartemen pukul dua sore. Revan hanya mengantarku hingga depan pintu, meski aku mengajaknya mampir, dia menolak dengan alasan masih ada pekerjaan. Raut wajahnya terlihat lelah, bahkan sesekali dia menguap menahan kantuk.
Selesai mandi,sarapan dan tidak lupa meminum ramuan dari tante Devi yang aku bawa. Entah apa saja komposisi dari ramuan herbal ini, bentuk nya seperti daun-daun kering,begitu direbus warna nya berubah seperti teh dan rasanya pahit sekali. Jika bukan karena menghargai perhatian tante Devi, malas rasanya meminum ramuan seperti ini,selain kurang praktis, rasa dan aromanya yang begitu menyengat menusuk hidung.
Meja kerja masih rapi, tatanannya masih sama persis seperti terakhir kali, aku sangat merindukan suasana kantor. Setidaknya di kantor banyak orang-orang yang menyenangkan, meskipun tidak sedikit juga yang menyebalkan. Termasuk ketiga kepo yang sudah terlihat berjalan beriringan mendekati meja kerjaku. Mereka sangat cerewet dan selalu ingin tahu, tapi itu lebih baik daripada aku harus menyaksikan siaran TV yang tanpa hentinya membahas berita yang sama.
"Nay, lo beneran sakit?" Tanya Sarah begitu menghampiriku. Aku Menengok ke arah belakang Sarah, tidak nampak dua kawannya yang lain.
"Kenapa?" Sarah ikut melihat ke belakangnya
"Laksmi sama Rani mana, tadi aku lihat mereka bareng-bareng ke sini."
"Oh,, mereka ada meeting di lantai lima." Aku hanya beroh ria dan mulai fokus ke layar komputer, melihat beberapa pekerjaan yang sempat tertunda selama libur.
"Lo beneran sakit?" Sarah mengulang kembali pertanyaannya.
"Ada ya sakit bohongan?" Sarah terkekeh, sambil merapikan poninya.
"Lo kurus banget,Nay. Badan lo kaya papan triplek, rata banget." Ucapnya sambil memperagakan, membuat pola lurus dengan kedua tangannya.
"Masa sih?"
"Iya, pipi lo peot banget kaya nenek-nenek." Spontan aku langsung memegang pipiku dengan kedua telapak tangan.
"Masa sih?"
"Masa sih terus dari tadi, emangnya ga nimbang?"
Aku menggeleng sembari memeriksa pinggangku. Aku memang merasakan jika rok yang aku kenakan hari ini memang terasa sedikit longgar, padahal satu bulan lalu terasa begitu sesak.
"Lo sakit mulu akhir-akhir ini."
"Gue cuman kecapean aja. Lagipula ini memang musim banyak penyakit. Lo tau kan si Novi anak marketing sakit, sudah dua minggu di rawat."
"Gue tau lo sakit bukan sakit beneran kaya si Novi, tapi lo sakit luar dalam juga. Udah ga usah mikirin yang udah lewat, lagian lo udah dapet gantinya juga kan? Bahkan lebih kece." Aku memutar bola mata jengah, aku tahu persis maksud pembicaraan Sarah. Dia pasti ingin tau tentang kedekatan aku dan Revan. Meski sebenarnya mereka sering memperhatikan atau sengaja menguntit setiap kali Revan datang menjemput.
" Liat noh Mia, dia gemukan sekarang. Liat pipi nya tembem ya sekarang?" Sarah menunjuk seseorang dengan ujung dagunya.
Aku melirik sekilas, nampak Mia tengah berdiri di depan mesin fotocopy, ia memang terlihat Lebih berisi dari terakhir kulihat.
Aku memang tidak menyadari perubahan yang terjadi pada tubuh Mia, Lebih tepatnya aku tak peduli. Tapi memang ada benarnya juga, Mia terlihat jauh Lebih berisi sekarang. Mungkin saja sekarang dia banyak makan atau mungkin Alex sering membawa nya makan enak di Restoran mahal, jangan lupa Alex itu kaya. Tanpa sadar aku masih menatap Mia, hingga dia menoleh ke arahku, dan tatapan kami bertemu. Sepersekian detik saling menatap hingga Mia tersenyum dan melambaikan tangan nya ke arahku,hal sederhana yang sering Mia lakukan dulu, ketika kami masih sangat dekat. Aku buru buru memutus pandang, tak berniat membalas sapaan atau senyuman nya.
Memasang earphone ketika orang Lain berbicara memang kurang sopan, tapi itu cara yang ampuh untuk menghindar tanpa harus repot repot menyuruh nya diam. itu juga yang aku Lakukan sekarang, sebelum Sarah melanjutkan sesi ghibah nya, aku buru buru menyumpal telinga dengan earphone. Aku masih bisa mendengar dengan jelas pembicaraan sarah yang masih membahas tentang perubahan Mia yang terlihat sedikit gemuk. Melihat tak ada respon dariku, akhirnya Sarah berlalu kemeja kerja nya. Aku menghela, merasa lega walaupun sebenarnya earphone yang terpasang tak ada suara apapun dan aku masih bisa mendengar dengan jelas setiap ucapan Sarah.
Pekerjan menjadi dua kali Lipat dari biasanya bahkan aku sampai makan siang di meja kerja. Aku flkir dengan banyak nya pekerjaan akan membuatku bisa mengalihkan pikiran ucapan sarah tadi pagi, "mungkin mia hamil", satu kata yang mampu menurunkan mood ku,padahal tadi pagi sempat begitu bersemangat.
"Apa benar mia hamil?"
”Apa mereka sebahagia itu?"
"Apa mereka tidak merasa bersalah sedikitpun padaku?"
" Apa Alex menjadi suami yang baik, suami siaga yang akan begitu posesif ketika istri nya hamil?"
Pertanyaan Pertanyaan itu terus berputar di kepalaku. Bahkan aku kembali teringat bagaimana paniknya Alex ketika aku sakit,dulu. Dia akan sangat telaten merawat dan menjagaku hingga sembuh, bisa dibayangkan bagaimana telatennya Alex sekarang, dalam hitungan beberapa bulan kedepan mereka akan memiliki bayi. Aku iri, membayangkan bagaimana perhatiannya Alex kepada Mia begitu tau di dalam perut Mia kini tumbuh buah cinta mereka berdua.
Sempat aku berfikir jika Alex menikahi Mia hanya karena alasan lain yang tidak aku ketahui, bukan karena alasan dia mencintai Mia. Tapi, begitu aku mulai menyadari perubahan bentuk tubuh Mia,dipastikan jika di tengah berbadan dua seketika hatiku kembali berdenyut perih. Jadi Alex dan Mia benar benar saling mencintai? Sejak kapan? Apa semenjak Alex sering mengantar Mia menemui saudara kandungnya yang sempat terpisah semenjak kecil itu? Jika iya, mereka sangatlah tidak punya perasaan. Membiarkanku terlihat bodoh di tengah sandiwara yang mereka buat.
Suara dering ponsel menyadarkanku. Satu pesan masuk
Revan: Aku di depan,,,
Belum sempat aku membalas, pesan baru kembali muncul
Revan: Aku mau ajak kamu ke suatu tempat
Seharus nya Revan sudah mulai menghentikan drama pura puranya, dan juga seharus nya aku menolak ajakan Revan dan membalas " tidak", untuk ajakan nya.Tapi, entah apa yang salah dengan jemariku atau lebih tepat nya hatiku. Aku justru membalas "iya".
Mungkin pergi bersama Revan bisa membuat hatiku sedikit lebih baik, meski aku tau kedekatan kita berdua karena saling membutuhkan bukan karena saling mencintai.
Mengalihkan perhatian hanya untuk melupakan sesuatu yang menyesakan hati tidaklah semudah perkiraanku. Aku flkir dengan membenci mereka berdua bisa membuatku puas, tapi nyatanya semakin aku berusaha membencinya, semakin sakit pula hatiku mengingat semua yang telah mereka lakukan.
Kehadiran Revan memang sangat membantu, setidaknya ketika bersamanya aku tidak perlu lagi meratapi hatiku yang masih terluka. Tapi, ketika Revan pergi dan aku kembali sendiri, perasaan itu kembali datang, mencekik dan menggerogoti hatiku di tengah gelapnya malam. Hingga aku merasa sesak dan sulit bernafas.