
Aku terbangun dengan seluruh tubuhku terasa nyeri, nafas berat dan kepala pusing. Semua pandanganku masih samar, sesekali telinga terasa berdengung. Aku pikir, aku tidak akan lagi membuka mata dan benar-benar berakhir, tapi ternyata aku justru kembali tergeletak lemah, persis seperti awal mula ketika aku baru bertemu Revan.
Aku tidak tahu persis apa tujuan Tuhan membiarkanku masih bertahan, padahal aku sangat berharap untuk tidak lagi bisa bernafas dan hidup di dunia ini. Katakanlah aku tidak bersyukur, tapi aku benar-benar kehilangan semangatku untuk hidup.
Dua hari pasca aku terbangun dari koma, beberapa suster penjaga memberitahuku,jika aku koma selama tiga hari dan kondisiku saat itu sangat kritis akibat percobaan bunuh diri hari itu. Jadi total aku sudah berada di Rumah Sakit ini selama lima hari dan ini hari ke enam.
Di Rumah Sakit aku ditemani Ibu dan sesekali Abang datang setelah dia pulang kantor dari Bandung. Ibu tidak banyak bertanya tentang keadaanku, begitu pun dengan Bang Ramzi. Abang jadi lebih pendiam dari biasanya, begitu juga denganku, semenjak sadar dari koma,aku jarang bicara dan memilih diam. Aku hanya menanggapi sesekali jika Ibu,Dokter atau perawat yang bergantian memeriksa kondisiku. Untungnya tidak ada satu orangpun yang membahas kejadian yang menimpaku ataupun bertanya mengapa aku bisa seperti ini. Aku Yakin Ibu ataupun Abang pasti tau alasanku berada di Rumah Sakit ini. Seakan tidak ingin menambah masalah,mereka memilih diam tidak banyak bertanya dan hanya menjagaku dengan baik.
"Makan malam dulu, sayang. Biar cepet sembuh. Nanti kita pulang setelah kondisi kamu benar-benar sudah membaik." Ibu menggeser meja berisi satu nampan penuh dengan berbagai jenis makanan.
"Aku udah kenyang, Bu." Aku menyetop suapan kelima dari Ibu. Bubur yang terasa hambar di tambah sup ayam yang terasa seperti air mineral, membuatku merasa mual.
"Baru sedikit, sayang. Kamu harus banyak makan biar cepat sembuh."
Rasa mual yang semakin mendesak, membuatku buru-buru turun dari ranjang,menyibak selimut dan menggeser meja makan dekat bangkar. Tidak lagi aku pedulikan selang infusan yang tertarik dan lepas, menimbulkan aliran darah dari punggung tanganku dan mulai menetes ke lantai.
"Nay,,, kamu kenapa, sayang?" Ibu terlonjak begitu aku tiba-tiba turun dan berlari menuju kamar mandi.
"Hueek!!!"
Aku memuntahkan semua makanan yang sempat masuk ke dalam perutku tanpa sisa, ke dalam wastafel kamar mandi. Dengan telaten Ibu Mengelus punggungku, mengikat rambutku yang berhamburan hingga ke wajah.
"Mual banget, Bu." Aku tertunduk lemas.
Ibu berjongkok bahkan dia duduk bersimpuh di dekatku yang masih tak berdaya menahan lemas akibat gejolak mual yang terasa seperti mengaduk-aduk isi perutku.
"Maafin Ibu, Nay." Ibu memeluk dan menangis sejadi-jadinya. Tubuhnya berguncang, tangisnya terdengar pilu dan menyayat hati.
"Maafin Ibu, sayang." Ibu semakin terisak, bahkan berulang kali dia mengucapkan kata maaf.
"Seharusnya Nay yang bilang maaf ke Ibu. Nay banyak banget ngerepotin dan nyusahin Ibu."
"Nggak,sayang. Nggak gitu, Ibu gak ngerasa direpotin sama sekali. Jangan bicara gitu lagi." Aku mengusap air mata di pipi Ibu, bersyukur aku bisa memiliki Ibu seperti dia. Yang tidak pernah menghakimi apapun meski dia tau apa yang aku lakukan jelas salah.
"Ada apa ini? Kenapa kalian di sini?!" Aku dan Ibu sama-sama menoleh ke arah suara berasal. Bamg Ramzi datang dengan raut wajah panik, melihat aku dan Ibu saling merangkul di kamar mandi.
"Ada apa?" Suara lain ikut bertanya, dan ternyata Abang tidak datang sendiri tapi bersama Juna. Semenjak aku sadar dari Koma, aku tidak melihat Juna dan ini pertama kalinya aku kembali melihatnya.
Abang menggendongku dari kamar mandi hingga tempat tidur. Sedangkan Juna memanggil suster perawat untuk memasang kembali selang infus dan cleaning service untuk membersihkan sisa-sisa kekacauan yang aku buat.
"Sudah lebih baik?" Abang duduk di sebelah kanan bangkar dan Ibu di sebelah kiri,sedangkan Juna berada di depanku, di ujung bangkar. Mereka mengelilingi ku seperti aku ini tahanan yang sewaktu-waktu akan melarikan diri.
"Sudah." Jawabku.
Aku pikir mereka akan senang mendengar ucapanku, tapi justru raut wajah mereka semakin terlihat tegang. Bahkan Juna tidak mengeluarkan sepatah katapun sejak tadi. Juna hanya diam, tapi wajahnya jelas terlihat gelisah.
"Nay,,, dengarkan baik-baik." Abang meraih kedua lenganku,menangkup jadi satu dengan lengannya.
"Abang,Ibu dan Juna, sangat menyayangi kamu. Apapun yang terjadi kami akan berusaha selalu berada didekat kamu dan membantu kamu. Abnag tidak mau kejadiam kemarin sampai terulang kembali." Aku mengerti maksud perkataan Abang.
"Abang mohon jangan ulangi lagi. Jika keberadaan Ibu,Abang dan juga Juna tidak lagi bisa menjadi alasan kamu hidup, tapi tidak untuk janin yang sedang tumbuh dalam rahimmu. Dia sangat membutuhkanmu."
Deg,,,
"Apa?" Aku melepas tautan tanganku. Aku salah dengar kan?
"Nay,,," Ibu Menggeser duduknya semakin mendekat.
"Sayang,,, Ibu tau ini berat buat kamu. Tapi kita bisa lewatin ini sama-sama."
Nafasku memburu, jantungku bergemuruh berdetak cepat.
Aku hamil?
Aku memegang perutku dengan kedua tangan, ku raba perlahan. Jadi di dalam sini ada makhluk kecil yang sedang tumbuh?
Pandanganku buram, tertutup butiran air yang mendesak ingin keluar, aku senang sekaligus sedih secara bersama. Jadi ini alasan tuhan tidak mencabut nyawaku, karena ada nyawa lain yang tengah bergantung padaku.
"Dia akan jadi anak Abang juga." Lanjutnya membuatku semakin tak terkendali dan menangis sejadi-jadinya.
_________
Malam harinya Ibu dan Abang pergi ke apartemen untuk mengambil beberapa baju ganti dan keperluan lainnya. Sedangkan yang aku di sini di temani Juna.
Aku hanya menatap layar televisi dengan tatapan kosong, tidak ada yang benar-benar aku perhatikan. Pikiranku masih melayang-layang, mencerna berbagai kejadian besar di hidupku yang terjadi hanya secara bersamaan.
"Nay,,," Suara decit kursi bergeser, Juna memindahkan salah satu kursi,meletakkannya di sebelah kanan ranjangku.
Aku menoleh, menatap mata teduhnya.
"Kamu kemana aja, bosen ya ngurusin aku?"
"Ko ngomong gitu? Ada beberapa urusan yang harus aku selesaikan. Jadi aku minta maaf baru bisa datang hari ini."
"Aku tidak tau harus bilang apa, yang jelas aku sangat berterima kasih sama kamu. Pasti kamu yang bawa aku kesini. Iya kan?"
"Berjanji satu hal sama aku. Tolong jangan lakukan itu lagi, bukan hanya aku yang akan sedih tapi juga keluarga kamu."
"Juna,,, " Aku menunduk,memperhatikan perutku yang masih rata.
Juna bangkit dari kursi, berpindah duduk di sebelah ruang kosong ranjang tempatku.
"Semua akan baik-baik aja. Terutama kamu. Dia sangat membutuhkan kamu melebihi dari siapapun. Karena saat ini hanya kamu tempatnya berlindung dan hidup." Juna mengelus kepalaku, ucapannya menenangkan sekaligus membuat mataku kembali berair.
"Apa aku bisa membesarkannya sendiri?" Kuangkat kepala, menatap mata Juna.
"Bisa. Kamu nggak sendiri, ada aku,Abang dan juga Ibu. Tapi Revan juga berhak tau keberadaannya."
"Tidak! Jangan beritahu apapun pada Revan. Aku tidak mau Revan sampai tau."
"Tapi,Nay?"
"Aku mohon. Jangan beritahu dia."
"Aku berkata seperti ini bukan karena aku membelanya atau membenarkan semua perlakuannya. Tapi Revan juga sama menderitanya denganmu. Berulang kali dia memohon padaku, meminta bertemu denganmu, bahkan berulang kali dia mendatangi apartemenmu dan berulang kali juga dia mencarimu sampai ke Bandung. Meski bukan kamu yang dia temukan tapi justru pukulan Abang dia terima." Hatiku berdenyut nyeri mendengar Revan dipukul Abang, aku tidak bisa membayangkan bagaimana marahnya Abang begitu tau Revan membohongiku.
"Kamu yakin tidak akan memberitahunya?"
"Tidak. Biarkan aku yang bertanggung jawab, karena semua ini memang berawal dari kesalahanku."
"Nay,,,"
"Bukannya kamu bilang aku pasti baik-baik aja kan?" Juna mengangguk.
"Kamu gak akan ninggalin aku kan?" Juna kembali mengangguk.
"Itu sudah cukup untukku. Aku tidak butuh apapun lagi."
"Aku akan selalu di dekat kamu, sampai kamu benar- benar tidak membutuhkan aku lagi." Aku membalas ucapannya dengan senyuman. Jika saja aku bisa mencintai lelaki sebaik Juna.
"Ada satu lagi orang yang ingin bertemu denganmu. Mia."
"Aku tidak ingin bertemu dengan siapapun. Dan jangan beritahu keberadaanku pada siapapun."
Juna mengangguk. Untung saja aku dibawa ke sebuah Rumah Sakit terpencil di daerah perkampungan Cibubur. Meski Rumah Sakit kecil,tapi memiliki peralatan medis yang sangat lengkap. Tidak banyak yang tau keberadaanku saat ini, hanya Abang,Ibu dan Juna yang tau, karena begitu aku ditemukan tak sadarkan diri di apartemen, Juna langsung menghubungi Abang dan membawaku ke Rumah Sakit.
Awalnya aku dirawat di salah satu Rumah Sakit ternama di Jakarta. Tapi keberadaanku pasti dengan mudah di temukan Revan, akhirnya aku di pindahkan. Abang pasti sangat membenci Revan dan menjauhkan aku dari jangkauannya merupakan salah satu upaya Abang agar Revan kesulitan menemukan keberadaanku dan aku tidak merasa keberatan akan hal itu.
Mungkin lebih baik aku tidak bertemu dengan Revan untuk selama-lamanya. Aku tidak membencinya, tapi justru karena aku sangat mencintainya, aku tidak ingin membuatnya terikat denganku hanya karena aku mengandung darah dagingnya. Aku cukup sadar diri,Revan tidak mencintaiku sebesar cintanya untuk Alana. Dia berbuat seperti ini juga karena cintanya yang begitu besar untuk Alana, bukan untukku.
Biarlah aku egois untuk kali ini, karena aku membawa sebagian dari dirinya,meski kehadirannya tidak diharapkan Revan, tapi bagiku kehadirannya sungguh anugerah paling berharga di balik musibah yang aku alami. dan aku akan menjaganya dengan baik.