
KOSONG... ltu yang aku rasakan saat ini.
Aku tahu, sudah seharusnya aku mengikhlaskan semua yang terjadi, dan memang aku sudah berusaha mengikhlaskannya. Hanya saja,salahkah jika aku masih merasa kecewa?
Ya... Aku kecewa dengan diriku sendiri yang masih meradang setiap kali aku melihat mereka berdua berinteraksi.
Setiap bulan aku masih rutin memeriksa perkembangan kondisi penyakitku. Dan hari ini aku memang sengaja datang lebih lambat dari biasanya. Setelah Revan pulang, aku memutuskan pergi ke Rumah Sakit sendiri. Begitu aku melewati lorong Rumah Sakit, aku melihat dua orang yang amat aku kenali baru saja keluar dari ruangan Dokter kandungan. Sebenarnya itu hal yang biasa jika sepasang suami istri mendatangi dokter kandungan. Tapi, jauh di sudut hati ku ada desiran perih yang begitu terasa,meski seharusnya aku sudah mulai membiasakan diri,namun tetap saja aku masih sering kesulitan mengendalikan hatiku.
Seharusnya cukup sampai melihat mereka dari kejauhan saja, bukan seperti orang bodoh yang mengikuti mereka bak seorang penguntit, seperti yang aku lakukan saat ini.
Aku mengikuti mereka diam-diam,memperhatikan dari jauh.Hingga aku melihat pemandangan yang seharusnya tak kulihat,membuat hatiku semakin ngilu dan perih.
Alex memeluk Mia, bahkan aku bisa melihat ada rasa sayang dari caranya menatap Mia, berbeda ketika dulu masih bersamaku.
Mereka sudah berbahagia, bahkan sebentar lagi keluarga kecil mereka akan semakin lengkap dengan hadirnya buah cinta mereka.
Mereka bahagia aku pun harus bahagia,bukankah kini aku sudah memiliki Revan, tidak sepantasnya aku masih meratapi dan menangisi penghianatan mereka berdua.
Terkadang hati memang sulit untuk diajak berdamai, ini bukan tentang bagaimana sakit nya kehilangan kekasih. Tapi, aku juga kehilangan sahabat yang begitu aku sayangi. Aku menyedihkan bukan?
Hasil pemeriksaan memang baru bisa diterima esok harinya, setelah semua selesai aku memutuskan pulang. awalnya aku ingin sekalian bertemu Revan, tapi aku urungkan. Aku sudah tidak bersemangat dan memilih pulang. Sesampainya di basement, aku melihat Juna tengah duduk di depan minimarket, seorang diri. Duduk diantara salah satu kursi yang disediakan, entah dengan siapa dia berada di situ, karena ada dua minuman kaleng di atas meja.
"Sendirian?" Aku tau, seharusnya aku mengabaikan Juna, membiarkannya sendiri dan berpura-pura tidak melihatnya. Tapi,aku tak bisa mengabaikannya begitu saja, kakiku justru melangkah mendekatinya. Juna tersenyum masam, wajahnya tampak pucat dan terlihat kurang bersemangat.
Aku masih berdiri persis di depannya, kemudian Juna menepuk kursi kosong di sebelahnya,
"Sini duduk, gak pegel berdiri terus? Ah.. iya aku lupa. Kamu dilarang dekat dekat aku," Ucapnya sembari menganggukan kepala.
"Mau aku tempat rahasiaku?"
Juna menoleh,mengerutkan keningnya .
"Ayo, mau ikut?" Ajakku
"Apa Revan pernah kesana?"
"Nggak!"
"Berarti aku orang pertama yang kamu ajak?"
"Iya."
"Oke, aku mau kalau begitu."
"Ini tempat rahasia kamu?" Tanya Juna, begitu aku membawanya ke atap gedung apartemen.
"Iya, ini tempat rahasiaku. Aku sering kesini, bisa lihat pemandangan bagus dari sini." Aku menunjuk hamparan luas kota Jakarta, tampak indah dengan lampu-lampu beraneka warna.
"Aku suka tempat ini, apalagi kalau suasana hati lagi buruk, ini tempat paling nyaman untuk melarikan diri." Juna menoleh ke arahku
"Muka kamu kelihatan banget lagi bete." Jelasku,karena Juna menatapku penuh tanya.
Aku mengajak Juna duduk di kursi yang sengaja aku bawa dulu. Dan untungnya pihak apartemen tidak mempermasalahkan. Bahkan mereka sempat mengganti kursi lamaku karena sudah lapuk dan kusam,akibat sering terkena panas dan hujan.
"So, apa yang sebenarnya terjadi. Sampe mukanya di tekuk kaya gitu?" Tanyaku,
"Nggak ada." Juna terkekeh
"Curang! Selama ini aku terus yang cerita kalau lagi bete."
Aku mengerucutkan bibir, pura-pura marah.
"Hidupku terlalu datar, Nay. Jadi ga ada hal menarik yang perlu aku ceritain." Juna meraih kaleng minumannya dan menenggak isinya hingga tinggal separuh. Aku hanya diam memperhatikannya, aku tau dia tengah menyembunyikan sesuatu.
"Hidupku memang tidak menarik, sampai ada seorang perempuan yang menarik perhatianku akhir akhir ini"
"Mm?, Siapa?". Tanyaku
"Kamu tau, dulu aku pernah menyukai seseorang. Dia cinta pertamaku. Aku begitu menyukainya tapi, dia tidak pernah menganggapku sebagai seorang Lelaki. Dia hanya menganggapku sebagai teman. Tapi, dia justru mencintai sahabat baikku." Juna menghela, aku masih mendengarkan,Membiarkan dia menyelesaikan ceritanya.
Matanya menatap lurus kedepan tapi, aku bisa melihat ada Luka dari sorot matanya. " Aku tau bagaimana sakitnya ketika orang yang kita cintai, justru mencintai sahabat sendiri." Aku mengusap punggung Juna, berharap bisa membuatnya merasa Lebih baik.
"Aku mengorbankan impianku supaya dia bisa menjalin hubungan dengan sahabatku tanpa merasa terganggu dengan keberadaanku. Setelah aku berusaha melupakannya, bahkan aku sampai pergi menjauh, berharap kepergianku membuatnya bahagia. Tapi,justru kepergianku membuatnya semakin menderita. Dia merasa bersalah bahkan sahabatku justru mencampakannya. Bodoh nya sampai detik ini ,dia masih mencintai lelaki itu."Juna tersenyum miris. Tubuhnya bergeser hingga kini dia duduk menghadap ke arahku. Tangannya meraih jemariku,menggenggam dengan kuat,
''Aku kalah karena,aku pengecut. Bahkan dengan bodohnya aku melarikan diri. Tapi, kali ini aku akan berusaha apapun yang terjadi."
"Tentu, kamu harus berusaha aku pasti dukung," balasku.
"Kamu harus berusaha, agar bisa mendapat perhatian wanita yang kamu cintai." Hanya itu yang bisa aku katakan, mungkin terdengar biasa tapi aku benar-benar berharap Juna bisa bersama dengan wanita pujaan hatinya itu.
"Mau lihat siapa orang yang aku maksud?"
Aku mengangguk, aku sangat penasaran siapa wanita yang telah membuat Juna jatuh hati. Juna mengambil ponsel dari kantong jaket yang ia kenakan, beberapa saat dia nampak mengotak atik layar hp, hingga dia menyodorkan. Layar ponsel nya tepat di depan wajahku.
"Nih, cantik kan?"
Aku tertegun begitu menyadari pantulan wajahku terlihat di Layar kamera depan ponsel Juna.
"Cantik kan? Tapi dia jarang tersenyum." Decak Juna. Sekilas dia menatapku, tersenyum kemudian memasukan kembali ponsel ke kantong jaketnya.
"Aku tau jawaban kamu, tapi seperti kataku tadi, aku ga akan menyerah." Aku masih terpaku menatap Juna.
"Ga usah pasang tampang horor gitu, aku ga akan merebut paksa kamu dari Revan.Tapi, jika dia nyakitin kamu, aku orang pertama yang akan merebutmu." Ucapnya sembari mengelus rambutku.
Juna masih panjang Iebar menceritakan apapun, dan seperti biasa dia masih menceritakan Lelucon garing khas nya. Dia tak lagi membahas pembicaraan tadi, justru dia terlihat seolah tak terjadi apa apa,berbeda dengan diriku, justru merasa canggung setelah Juna mengungkapkan perasaan yang sebenarnya.
Tapi juna tetaplah juna dengan semua sifat konyolnya, yang justru membuatku semakin merasa bersalah.
Obrolan kita terhenti begitu tiba tiba Revan menghubungiku. Juna memilih pulang karena merasa tak enak hati jika Revan sampai tau, aku dan Juna tengah bersama.
Sesampainya di kamar,aku langsung menghubungi balik Revan, karena tadi aku sengaja tidak menerima panggilan.
"Suster Nadia tadi bilang kamu ke rumah sakit?" Tanya nya dari sambungan seluler di seberang sana.
"lya, tadi habis cek, tapi hasil nya baru keluar besok," jawabku sambil merebahkan tubuh di kasur.
"Besok kesini jam berapa?"
"Tadi Dokter Airin bilang jam sepuluh pagi."
"Oke, besok jam sepuluh pagi aku sudah dirumah sakit, nanti mampir dulu ke tempat kerjaku. Aku masih ada pekerjaan,jangan Iupa makan. Sampai ketemu besok."
"lya, kamu juga." Revan memutus sambungan.
Author pov
Di tempat lain, di sebuah cafe ada dua orang berbeda jenis kelamin tengah duduk,tengah menikmati secangkir hot cappucino untuk si wanita, dan ice americano untuk si lelaki.
"Alex udah tau usia kehamilan gue." Ucap si wanita
" Apa? Lo kasih tau?" Si Lelaki nampak begitu terkejut
"Lo gila! Sama aja gue bunuh diri namanya kalau gue kasih tau!"
"Lalu?"
"Dia masih mau nerima gue, bahkan dia masih mau anggap anak ini sebagai anak kandungnya. Setelah gue pikir-pikir apa mungkin Alex tega melakukan hal itu ke Alana? Sedangkan anak yang gue kandung bukan anak nya aja dia mau tanggung jawab?"
Si Lelaki tak menjawab, ia hanya menyesap minumannya tanpa expresi. Mereka tidak lama berbincang-bincang, karena si wanita terlebih dulu memilih pulang setelah minumannya habis.
Begitu si wanita pergi, ia Lantas buru buru menghubungi seseorang.
"Sepertinya rencana kita tidak sesuai seperti rencana awal. Jadi, kita ubah alurnya. Dimulai dari menyingkirkan Mia, Ialu juna, setelah itu Alex. Untuk Revan dan perempuan itu , biarin itu tugas gue. Main aman seperti biasa," ucapnya kepada seseorang.