
Suara hujan rintik-rintik dan suara radio yang menemani perjalanan pulang. Tidak ada yang bersuara, baik aku atau pun Revan semua sibuk dengan pikirannya masing-masing, terlebih Elea sudah terlelap di pangkuanku sejak perjalanan baru lima belas menit.
Sesekali aku mencuri pandang pada lelaki di sebelahku, dia nampak terlihat lelah, karena sesekali dia merenggangkan pundaknya, memijat kedua lengannya bergantian. Dia pasti sangat lelah, satu hari ini menani Elea bermain. Bahkan Elea tidak mau turun dari gendongan Revan, kecuali sesekali mendekatiku minta susu. Mereka seperti tengah berlibur berdua, sedangkan aku hanya seperti pengasuh yang mengikuti kemanapun mereka pergi.
"Maaf, Elea pasti bikin kamu capek. Dia memang sedikit manja dan aktif." Aku memberanikan diri memulai pembicaraan. Bagaimanapun aku merasa tak enak hati, karena merepotkannya.
"Gak apa-apa. Aku justru senang," balas Revan.
Revan menoleh, tersenyum. Senyum manis yang sangat aku sukai sejak dulu, tentunya senyum yang sangat berbahaya untuk kesehatan jantungku. Aku tidak ingin terlena hanya karena senyumnya, segera aku memalingkan wajah dan kembali menatap jalan.
"Memang terasa lelah, tapi menyenangkan. Bahkan rasa lelahku tidak sebanding dengan rasa lelahmu, yang sudah membesarkannya selama ini sendirian," lanjut Revan.
"Aku tidak sendiri merawatnya. Ada orang lain yang ikut andil membantu membesarkan Elea."
"Termasuk Juna?"
"Ya,,, dia banyak berjasa di hidupku. Termasuk membantu membesarkan Elea." Aku sengaja membawa Juna dalam pembicaraan ini, meski sebenarnya sudah beberapa hari ini aku sengaja menjauhi Juna.
"Aku memang pantas kamu benci. Tapi, kamu tidak pernah memberiku kesempatan untuk menjelaskan. Meski hanya satu detik." Revan mendengus, tampak senyum kecewa terbit di bibirnya.
"Rev, itu sudah lama berlalu. Aku tidak mau membahasnya lagi," aku segera memotong pembicaraan.
"Aku tidak mau membahas apapun yang sudah berlalu. Kita sudah memiliki kehidupan masing-masing, tidak perlu terus menerus mengingat yang sudah lewat," jelasku.
Mungkin ini adalah kesempatan untukku dan juga Revan membicarakan masalah ini, aku tidak ingin terus terjebak dalam hubungan yang rumit seperti tiga tahun lalu. Namun, baru saja aku hendak melanjutkan, tiba-tiba ponsel Revan berdering. Awalnya Revan hanya melihat layar ponsel dan membiarkannya berhenti sendiri, namun panggilan itu kembali berdering untuk kedua kalinya. Hingga, Revan menekan tombol hijau dan meletakan ponsel di telinganya, semua pergerakan Revan tak luput dari perhatianku.
"Iya, Nit. Ada apa?" Satu nama yang mampu menjawab berjuta rasa penasaranku.
Euphoria bahagia itu hanya sesaat, hanya berselang beberapa detik, dan begitu aku kembali mendengar nama yang begitu mengganggu, aku kembali diingatkan jika lelaki di sebelahku ini masih milik Nita. Aku tersenyum getir, bagaimana bisa aku kembali terjebak dengan orang yang sama, dan dalam hubungan yang sama rumitnya. Aku tidak lagi melihat atau mendengar perbincangan Revan dan Nita. Aku lebih memilih memfokuskan pandangan pada gadis kecil yang tengah berada dalam pangkuanku, dan menulikan telinga menggunakan earphone.
Memiliki seorang anak, secara perlahan bisa membuatku jauh lebih bisa bersikap dewasa. Aku memilih tidak mendengar sama sekali obrolan Revan dan kekasihnya. Daripada harus mendengar dan kembali membuat hatiku berdarah, meski sebenarnya rasa penasaran kian menggerogoti hatiku, tapi aku tetap menulikan telinga, memilih mendengarkan lagu, dan memejamkan mata.
Aku dan Revan tiba di Jakarta hampir pukul delapan malam. Ternyata Jakarta tidak diguyur hujan, hanya beberapa tempat saja yang tampak basah, sedangkan di daerah tempat tinggalku tidak terjamah hujan sama sekali. Intensitas hujan memang belum merata, terkadang di rumah hujan, di kantor tidak. Begitulah cara kerja alam, kadang bisa di pahami logika, kadang tidak.
"Biar aku yang gendong, Elea." Melihatku kesulitan menggendong dan membawa beberapa tas keperluan Elea, akhirnya Revan meraih Elea dari pangkuanku.
"Gak perlu, aku bisa sendiri."
"Biar aku yang antar kalian sampai ke rumah. Tadi pagi aku kalian jemput di rumah, jadi aku pasti akan antar kalian sampai rumah juga," ucap Revan final, tidak bisa di bantah.
Lift berjalan perlahan melewati setiap lantai, barisan nomor terus berganti, hingga akhirnya berhenti di lantai tempat tinggalku.
"Biar aku yang gendong. Terima Kasih untuk hari ini. Elea sangat suka." Aku meraih Elea.
Meski nampak enggan, Revan memindahkan Elea dari pangkuannya padaku.
"Iya sama-sama. Cuman Elea yang senang? Kamu tidak?"
"Apapun yang menjadi kebahagiaan putriku, pasti menjadi kebahagiaan juga untuk Ibunya," balasku.
"Kalau begitu aku pulang," Revan pamit.
"Iya,,"
Belum sempat aku menekan tombol bel, pintu sudah terlebih dulu terbuka. Bukan sus Tuti yang membuka pintu, namun dua lelaki dengan raut wajah penuh emosi.
"Brengsek!!!"
Bugh!
Pergerakannya begitu cepat, hingga satu pukulan keras menghantam di wajah Revan.
"Abang!!!"
Emosi sudah menguasai Abang seluruhnya, tidak menghiraukan teriakanku, Abang kembali menerjang Revan hingga tersungkur ke lantai.
"Abang hentikan!!" Aku kesulitan melerai mereka, karena Elea berada dalam pangkuanku. Sedangkan Juna, dia hanya diam tak kalah emosinya, wajahnya mengelap, tangannya mengepal, menahan luapan amarah. Namun dia masih bisa menahan, dan hanya diam melihat Revan babak belur.
Keributan yang terdengar nyaring, membuat sus Tuti akhirnya muncul, bahkan Camelia dan Febian, tetangga depan rumah pun ikut keluar.
"Abang hentikan!" Meski berulang kali aku berteriak, ia tidak menghiraukanku. Abang memang sudah menulikan telinganya dan kembali menghajar Revan hingga darah segar mengalir dari hidung dan juga sudut bibirnya.
"Stop!! Aku mohon, bang!"
Revan akhirnya ditolong Febian dan juga Camelia, tubuhnya ditarik menjauh. Sedangkan aku dan Juna menahan tangan Abang, agar tidak kembali menghajar Revan.
"Masih punya nyali lo, muncul di hadapan adek gue? Brengsek!"
"Abang, stop! Ini gak seperti yang Abang kira," aku mencoba menenangkan Bang Ramzi.
"Lo pikir Elea anak lo?" Abang menepis cekalan tanganku dan Juna. Ia kembali mendekati Revan, "Atas dasar apa lo ngerasa Elea anak lo? Lo yakin hanya lo yang tidur dengannya dulu? Gak usah naif, lo tau persis bagaimana liarnya kehidupan di Jakarta. Dan satu lagi yang perlu lo tau," Abang semakin mencondongkan tubuhnya, dan berbisik, "Adek gue juga pernah tidur sama Juna. Jadi lo gak perlu kepedean." Abang menyeringai tersenyum puas.
Revan tampak terkejut. Bukan hanya Revan yang terkejut, aku pun sama terkejutnya, bagaimana bisa Abang berbohong seperti itu. Revan yang awalnya hanya diam, dan pasrah menerima setiap pukulan Bang Ramzi, tiba-tiba saja dia melayangkan pukulannya, hingga Bang Ramzi tersungkur.
"Abang!!" Aku segera menghampiri Abang,
"Stop!! Tolong hentikan!" Aku mendongak menatap Revan yang masih berdiri, mengepalkan kedua tangannya dan nafasnya memburu.
"Benar yang diucapkan kakakmu?" Tanyanya.
Ingin sekali aku berkata itu tidak benar, tapi keadaan akan semakin kacau jika tidak segera diakhiri.
Aku memejamkan mata, menahan desakan air mata yang kian terasa memaksa keluar. Menghela nafas kasar, "Iya benar. Aku pernah tidur dengan Juna. Jadi sekarang jelas bukan? Elea bukan anakmu!"
Abang tersenyum, sambil mengusap setitik darah yang mengalir dari ujung bibirnya, sedangkan Revan jelas sekali tampak kecewa, meski seulas senyum palsu terbit di bibirnya yang penuh luka.
"Baiklah. Aku percaya sekarang." Revan berbalik dan berjalan tertatih meninggalkanku. Aku hanya bisa menatap punggungnya, hingga ia hilang di balik pintu besi. Namun seakan ada yang mendorongku dengan sangat kuat, aku berdiri dan mengejarnya menggunakan tangga darurat.
Katakanlah aku gila, tapi aku ingin sekali mengejarnya.
Entah berapa kali aku tersandung, bahkan aku melepas sepatu flat shoes yang terasa menjepit dan menyulitkanku mengejar Revan, hingga sepatu itu aku lempar entah kemana.
Beruntunglah lift yang membawa Revam sempat beberapa kali berhenti, hingga aku bisa mengejarnya dan menemukan Revan peris di depan pintu mobilnya, hendak masuk.
"Revan!!" Revan segera menoleh begitu aku memanggil namanya.
"Aku,,, aku. Minta maaf." Nafasku terasa habis, karena berlari begitu cepat.
"Seharusnya aku yang minta maaf. Entah berapa juta kali aku harus memintanya. Tapi, mungkin sekarang saat nya kita harus menyelesaikan segalanya disini." Aku masih terengah, mengisi paru-paruku yang nyaris saja kekurangan oksigen.
"Terimakasih karena sudah menjadi wanita kuat dan tangguh. Aku tidak tau seberapa menderitanya kamu dulu, akibat kebohonganku. Tapi kamu harus tau aku sangat mencintaimu. Mungkin karena rasa bersalah dan rasa cintaku, hingga akhirnya begitu aku melihatmu kembali, dan membawa seorang gadis, aku langsung mengira itu putriku. Aku langsung jatuh cinta pada Elea begitu pertama kali aku melihatnya, namun ternyata aku salah." Suara Revan mulai bergetar.
Revan berjalan beberapa langkah, mengikis jarak antara aku dan dirinya. "Aku tidak tahu siapa Ayah biologis Elea. Hanya tuhan dan kamu yang tahu, tapi aku cukup tau diri untuk tidak mengganggu kehidupan kalian, apalagi jika ternyata Elea bukan anak kandungku. Kamu Ibu yang hebat, terimakasih telah melahirkan gadis secantik dan pintar seperti Elea. Aku janji tidak akan mengganggu hidup kalian lagi."
"Rev,," suaraku tercekat. Sulit sekali untuk berbicara.
"Tunggu disini sebentar," Revan berlari kecil menuju mobilnya, dan kembali membawa satu plastik kecil berisi salep.
"Aku melihat lebam di tangan kamu. Jadi aku bawa ini, tapi aku lupa memberikannya padamu. Jangan terluka lagi, kamu harus kuat, karena Elea membutuhkan Ibu yang kuat."
Revan menyerahkan plastik berisi salep padaku, aku tidak tahu jika Revan memperhatikan tanganku yang lebam, akibat lemparan patung tempo hari.
"Kamu jauh lebih membutuhkan ini di banding aku,"
"Luka di wajahku tidak sebanding dengan luka yang pernah aku lakukan padamu. Jadi aku memang tidak berniat mengobatinya,"
"Tapi, Rev."
Revan menarik tubuhku ke dalam pelukannya, pelukan hangat namun terasa begitu menyakitkan.
"Aku tahu, aku manusia paling jahat didunia ini, dosaku sudah terlalu banyak. Tapi aku tetap berdoa, agar suatu hari aku bisa diberi kebahagiaan, meski hanya satu hari. Terimakasih, karena kamu telah mengabulkan doaku. Hari ini aku sangat bahagia." Hembusan hangat nafas Revan terasa menyapu pelipis, bahkan sekilas aku merasakan kecupan hangat di pipiku.
"Berbahagialah, Nay. Aku sangat menyayangi kalian berdua." Aku tidak mampu lagi menahan air mataku, dan menangis di pelukan Revan.
Aku pernah berpisah dengannya, dulu. Tapi, hari ini terasa begitu menyakitkan dan hatiku terasa begitu hancur. Setelah mobil Revan hilang dari pandanganku, hatiku terasa kosong, dan untuk kedua kalinya aku harus kehilangannya.