
Tak ada hari yang Lebih menyenangkan selain akhir pekan, hari yang selalu di nanti nanti dalam satu minggu. Selama beberapa hari ini aku benar benar Lelah, pekerjaan yang menguras seluruh energiku, bahkan beberapa kali aku harus Lembur.
Mungkin Lelahku tak sebanding dengan yang dirasakan Revan. Setelah makan malam tempo hari dia semakin sibuk, bahkan sampai hari ini aku belum bertemu Lagi dengan nya. Ada perasaan aneh yang menggelitik hatiku, ingin sekali aku melihat wajahnya, apa ini bisa dikategorikan aku tengah merindukannya? Haha yang benar saja!
Meskipun belum sempat bertemu. Revan sering kali mengirim pesan atau bahkan sesekali video call. Aku tidak pernah menuntut apapun darinya. Karena, menurutku peranku belum terlalu penting di hidupnya. Aku hanya akan membalas pesan setiap kali Revan mengirim terlebih dulu. Bukan aku tidak pengertian atau tidak mau tahu tentang keadaannya, hanya saja aku tak ingin berlebihan dalam hal apapun. Segala sesuatu yang dilakukan berlebihan, maka sakit nya pun akan terasa berlebihan.
Dulu, ketika aku masih bersama Alex, aku seringkali mengirim pesan atau menelpon nya terlebih dulu hanya untuk sekedar menanyakan kabar atau menanyakan perihal sudah makan apa belum. Dan mungkin itu menjadi salah satu alasan Alex meninggalkanku.Karena aku terlalu berlebihan,dan membosankan berbeda dengan Mia yang lebih santai.
Aku pikir dengan menjadi pacar perhatian bisa membuat kelangsungan hubungan berjalan dengan baik, tapi ternyata justru sebaliknya. Segala usaha dan perhatianku hanya dianggap angin Lalu, dan tanpa merasa bersalah justru meninggalkanku. Dadaku masih sering terasa sesak jika mengingat hal itu,bahkan sudah berkali kali aku meyakinkan diri, jika itu pasti berlalu dan aku pasti bisa melupakannya. Meski ternyata tak semudah yang aku kira.
Taksi online perlahan membawaku ke Rumah Sakit tempat Revan bekerja. Kali ini kedatanganku bukan untuk berobat. Tapi, tadi Revan menyuruhku datang. Beberapa hari belakangan Revan tidak menjemputku saat pulang kerja, begitu juga dengan hari ini. Dia tak bisa menjemputku, dia justru memintaku datang ke tempatnya bekerja.
Jarak antara rumah sakit dan kantor tempatku bekerja tidak terlalu jauh, sehingga perjalanan hanya memakan waktu tiga puluh menit.
Memasuki gedung Rumah sakit membuatku mengingat kembali kejadian dua bulan lalu. Awal mula pertemuanku dengan Revan, bahkan sampai terjadi nya ide konyol yang akhirnya membuatku benar benar berakhir dekat dengan nya, semua terjadi di Rumah Sakit ini. Aku tersenyum mengingat semua yang terjadi, sembari terus berjalan melewati Lorong menuju ruang kerja Revan. Benerapa kali aku pernah di ajak keruang kerja pribadinya, jadi aku sudah hafal dimana ruang tempat kerjanya Sesampainya di depan pintu, aku terlebih dulu mengetuk, dan terdengar suara seseorang dari dalam
"Iya,masuk." Tanpa basa basi aku membuka pintu perlahan, namun bukan Revan yang aku temui. Melainkan seorang lelaki mengenakan kemeja putih dan celana biru navy,mungkin usianya tidak berbeda jauh dengan Revan. Dia tengah duduk di sofa,tersenyum ke arahku.
"Cari Revan? Dia lagi keluar sebentar. Kamu bisa tunggu di sini, biar aku carikan." Dia beranjak dari sofa. Belum sempat aku membalas perkataan nya, dia terlebih dulu berjalan melewatiku yang masih berdiri di ambang pintu.
Ruang tempat kerja Revan rapi dan juga bersih, tidak banyak barang-barang,hanya ada satu sofa panjang dan televisi. Di meja kerjanya pun hanya ada komputer,beberapa file yang tersusun rapi dan satu pas foto. Aku penasaran dengan gambar yang ada di dalam bingkai berwarna gold tersebut. Baru aku berdiri hendak melihat, terdengar suara derap langkah dari luar,itu pasti Revan. Kembali aku duduk di sofa,mengurungkan niatku melihat bingkai foto yang terletak persis di sebelah komputer.
Gagang pintu terbuka,di susul Revan muncul dari balik pintu dan tersenyum,di ikuti teman nya yang tadi dan seorang perempuan yang memakai jas putih sama seperti Revan.
"Lama nunggu?"Revan menghampiriku
"Nggak,aku baru sampai ko."
"Kenalin ini temen temen aku, yang ini nama nya Juna dan yang ini Nita." Aku mengulur tanganku
"Kanaya"
Juna terlihat antusias dengan perkenalan ini, berbeda dengan perempuan yang berada di sebelahnya. Dia memandangku dari ujung kepala hingga ujung kaki. Seolah aku adalah manusia asing yang aneh. Bahkan dengan sengaja dia menatap Revan, seolah meminta penjelasan.
"Nay, Nita Dokter anak di rumasakit ini, sedangkan Juna dia seorang Chef."Jelas Revan sembari menarik pinggangku, sehingga tubuhku melekat sempurna dengan nya.
"Pacar, atau?" Tiba Tiba Nita bertanya, aku bisa melihat kilatan tajam matanya yang terlihat kurang bersahabat.
"Pacar lah,masa iya temen." Juna ikut menimpali
"Ya mungkin aja kaya yang udah-udah."Jawab nya Nita terasa ambigu, bahkan dia sengaja menggantung kalimatnya seolah hanya mereka saja yang boleh tau. Sambil mengibaskan rambut nya, Nita seolah menunjukan sikap tidak sukanya padaku. Tidak tau harus harus bereaksi seperti apa, aku memilih diam membiarkannya mengintimidasiku,lagipula aku juga belum terlalu mengenal banyak tentang kehidupan Revan. Menyadari jika aku mulai tidak nyaman akhirnya Revan meminta Juna membawa Nita keluar.
"Nita emang gitu orang nya, dia kelihatan judes. Tapi, aslinya dia baik." Ucap Revan begitu kedua teman nya pergi.
"Mereka teman baik kamu?"
"Mmm,teman semenjak kita kuliah bareng. Nanti kapan kapan aku ajak kumpul bareng temen temenku.”
"Aku ga suka keramaian," belum sempat aku menuntaskan perkataanku, Revan sudah menarikku kedalam pelukannya.
"Kangen." Satu kata yang mampu memporak porandakan hatiku. Revan mengelus rambutku, mencium sekilas puncak kepala,kemudian menatapku.
"Kamu ga kangen aku?" Pipiku pasti sudah semerah buah tomat. Aku kembali membenamkan wajahku di dada bidangnya.
"Aku juga kangen," jawabku pelan. Revan terkekeh dan memelukku dengan erat.
Perlakuan hangat Revan yang perlahan membuatku bisa membuka diri dengan sangat cepat setelah pengkhianatan Alex dan Mia. Mungkin untuk sebagian orang akan terasa sangat aneh jika dalam waktu sekejap mampu melupakan orang yang pernah lama berada di hati. Tapi, justru Revan membuktikan dan melakukan itu padaku.
Awalnya pun aku ragu, karena bayang bayang Alex masih sering menghantui pIkiranku. Tapi, perlahan Revan mampu mengganti posisi Alex dengan sikap nya yang Lembut dan penuh perhatian. Jadi wajar saja jika aku dengan mudah menyukainya bahkan aku mulai menerima kehadirannya. Revan tidak pernah bersikap berlebihan, hanya saja dia jauh lebih possessive dibanding Alex. Revan hadir di saat yang tepat meski berawal dari ketidaksengajaan.Tapi,aku cukup menikmati hari hariku yang semakin membaik setelah Revan datang.
"Aku beresin dulu kerjaan sebentar, setelah itu pulang bareng." Ucapnya mengecup puncak kepalaku sebelum akhirnya dia kembali keluar. Sendiri berada di ruangan kerjanya,membuatku kembali merasa penasaran dengan bingkai foto tadi,hingga aku memutuskan untuk melihat. Di dalam bingkai berwarna gold itu ada gambar tiga orang remaja, dua Lelaki dan satu perempuan tengah tersenyum ke arah kamera. Aku Tersenyum melihat gambar Revan,Nita dan Juna,mereka nampak masih muda dan mereka benar benar berteman sejak lama. Beruntung sekali mereka memiliki teman baik dan masih berhubungan hingga sekarang.
Aku tidak memiliki banyak teman seperti Revan , bahkan setelah Mia menghianatiku,aku benar benar tidak memiliki teman dekat. Sesekali aku sering ikut bergabung dengan Sarah dan teman teman yang Lain, hanya untuk sekedar minum kopi atau belanja bersama. Tapi untuk teman dekat seakrab aku dan Mia dulu,aku tidak punya. Selain rasa trauma yang masih sering aku alami, aku lebih sering menutup diri,dan hanya akan bercerita sewajarnya. Untuk hal hal yang bersifat pribadi,aku lebih suka menyimpannya sendiri.