
Kondisiku semakin membaik secara fisik, bahkan hari ini selang infus sudah bisa dilepas. Aku sudah diperbolehkan berjalan di sekitar kamar, atau berkeliling di dalam ruangan saja. Jujur aku sudah bosan terus menerus berada di Rumah sakit, tapi Abag tetap bersikeras memaksa untuk tinggal beberapa hari lagi.
"Di luar rame banget ada apa,Bu?" Aku mendengar suara gaduh persis di depan kamar.
"Mungkin ada yang meninggal." Balas Ibu, sambil mengupas jeruk dan buah-buahan yang lain. Aku mengalami morning sick lumayan parah, aku kesulitan makan makanan berat dan hanya buah-buahan yang bisa aku telan tanpa muntah lagi.
"Habisin buahnya ya,,,Ibu mau cuci pisaunya dulu." Aku mengangguk, mencomot apel yang sudah dikupas Ibu.
Pintu kamar terbuka dengan kasar membuatku berjengit,terkejut. Seorang perempuan mengenakan baju Rumah sakit, dilapisi sweater hitam, berjalan terhuyung ke arah tempat tidurku, bahkan dia tidak mengenakan alas kaki.
"Kanaya,,,, " Suaranya serak, bahkan terbata-bata.
"Kanaya,,, Maafin aku." Dia bersimpuh di tempat tidur, kepalanya menunduk di pinggiran tempat tidur, menangis sejadi-jadinya.
"Maafkan kami, Bu. Dia memaksa minta masuk, bahkan sampai melukai suster penjaga." Seorang Security datang di dampingi dua suster. Salah satu suster memegang tangannya yang nampak jelas terlihat bekas cakaran, bahkan gigitan.
"Ada apa ini?" Ibu muncul dari pintu kamar mandi, setelah mencuci pisau.
"Mia!" Ibu terkejut begitu melihat seorang perempuan tengah bersimpuh di samping tempat tidurku,menangis dengan kondisi sangat memprihatinkan.
Kedua perawat dan seorang Security hendak mengangkat tubuh Mia, namun Mia semakin berontak bahkan dia sampai menjerit-jerit minta di lepaskan.
"Kanaya,,, aku mohon. Jangan usir aku." Suaranya lirih, bahkan raut wajahnya lebih mirip seperti zombie. Rambut acak-acakan,mata sembab, dan wajahnya tak terurus. Berbeda dari Mia yang aku kenal.
Meski berontak, tenaga Mia kalah jika harus berhadapan dengan tiga orang sekaligus.
"Lepaskan dia," perintahku.
"Tapi,_" Salah satu perawat yang aku kenal bernama,Dewi menyela.
"Tapi, Pak Juna melarang siapapun,menemui Mbak Kanaya." Juna memang sengaja meminta Dewi mengawasi siapapun yang ingin mengunjungiku.
"Aku tahu, lepaskan dia. Dia tamuku."
"Baik." Meski ragu akhirnya Suster Dewi memerintahkan Security untuk melepas Mia.
Mia kembali berlari,mendekat. Namun Ibu terlebih dulu menghadang.
"Nak Mia, tolong jangan buat keributan. Kanaya sedang sakit." Pinta Ibu.
"Aku tidak akan menyakitinya,Bu. Aku hanya ingin meminta maaf." Mia memohon, supaya keinginannya dipenuhi.
"Kalian boleh keluar," perintah Ibu kepada tiga orang tadi, tanpa menunggu lama mereka segera keluar dari kamarku.
Tidak banyak yang aku lakukan setelah kini hanya tinggal aku,Mia dan juga Ibu. Aku hanya menatap hampa ke arah televisi, tidak menghiraukan Mia yang kini sudah duduk di pinggir tempat tidurku.
"Ibu bisa tolong keluar sebentar?" Pintaku,
"Tapi,Nay?"
"Nay mau bicara berdua saja."
"Baiklah, Ibu tunggu di luar." Ibu berjalan keluar, meski sesekali dia menengok memastikan keadaanku.
Kini tinggal aku dan Mia berada di kamar, aku enggan memulai pembicaraan sehingga akhirnya Mia berbicara terlebih dulu.
"Nay,, aku minta _"
Plakkk
Satu tamparanku menghantam wajah Mia.
Meski terlihat menahan sakit,Mia tersenyum dan kembali menatapku.
"Aku minta_"
Plakkk
Tamparan kedua kembali menghantam wajahnya. Aku tidak tahu bagaimana sakitnya, tapi aku yakin pasti sangat sakit karena telapak tanganku terasa panas dan perih, bahkan pipi Mia tampak memar, berwarna merah.
Aku sudah mempersiapkan diri jika Mia sewaktu-waktu membalas tamparanku. Tapi dia justru tersenyum, menatap mataku yang mulai basah.
"Aku senang kamu masih menganggapku temanmu. Aku pantas mendapatkannya, bahkan mungkin aku lebih pantas mati, bukan hanya sekedar tamparan."
"Nay,,, aku tau. Aku terlalu menjijikan untuk mendapat maaf dari kamu. Kesalahanku terlalu fatal untuk kamu maafkan, sampai rasanya aku ingin mati."
"Kenapa kamu lakukan ini? Apa salahku. Apa?!" Aku berteriak, bahkan aku mencakar-cakar lengannya tanpa henti. Mia hanya diam,membiarkanku melampiaskan segala kekesalan pada tubuhnya.
"Kenapa?!"
Aku berhenti memukul tubuh Mia, sekeras apa pun aku memukul bahkan aku membunuhnya sekalipun, tidak akan mengembalikan keadaan.
"Aku tahu mungkin semua ini sudah terlambat dan tidak akan mengembalikan apapun. Tapi aku hanya ingin menjelaskannya padamu. Setelah itu, kamu boleh membenci ataupun membunuhku,jika itu bisa menebus semua rasa bersalahku." Mia nampak sangat putus asa, bahkan dari jarak sedekat ini ia tampak begitu frustasi dan tertekan.
"Aku dan Alana adalah saudara, kami terpisah sejak kecil karena kedua orang tua kita bercerai. Alana dibawa Ibu pindah ke Semarang, hidup serba berkecukupan. Sedangkan aku, hidup bersama Ibu tiri dan kedua saudara tiri, hidup serba kekurangan. Setelah Ayah meninggal, aku di adopsi keluarga Mama Lara, hingga aku bertemu kamu dan kita berteman baik. Setelah aku dewasa,aku kembali bertemu dengan Alana, tapi dengan kondisi jauh berbeda. Dia tumbuh menjadi gadis cantik dan memiliki seorang kekasih tampan, sedangkan aku harus kerja keras untuk menghidupi keluarga mama Lara dan ketiga anaknya."
Aku masih diam, membiarkan Mia menyelesaikan semua ceritanya.
"Aku sering bertemu dengan Revan, sehingga timbul rasa suka yang pada akhirnya membuatku lupa diri. Rasa iri, karena kehidupan Alana yang jauh lebih baik membuatku gila dan ingin merebut Revan darinya. Namun Revan begitu mencintai Alana, hingga tanpa sadar jika Alana dan Gerry diam-diam menjalin hubungan di belakangnya."
Hatiku berdesir perih begitu kembali diingatkan, jika Revan memang benar-benar mencintai Alana.
"Alana hamil, namun Gerry tidak mau bertanggung jawab. Gerry sengaja menggugurkan kandungan Alana, hingga kejadian mengerikan itu terjadi. Alana meninggal akibat pendarahan hebat, pasca aborsi. Semua terjadi begitu saja, bahkan aku hanya diam begitu Gerry melimpahkan semua kesalahannya pada Alex, dan akhirnya Revan menduga jika Alex lah yang bertanggung jawab atas kematian Alana."
Mia terisak, begitu juga denganku. Aku merasa begitu hancur mendengar semua penuturan Mia.
"Aku bersalah karena aku ikut terlibat menjebak Alex, dan menghianatimu. Bahkan aku hanya diam begitu tau Revan mempermainkanmu. Aku minta maaf,,, Kanya." Mia menangis tersedu-sedu.
"Sekarang kamu keluar!" Aku sudah tidak sanggup mendengar apapun lagi. Mia mendongkak menatapku,
"Keluar!" Aku berteriak.
Suara teriakan yang begitu nyaring membuat Ibu Muncul dari balik pintu, tapi Ibu tidak sendiri melainkan bersama Juna dan juga Alex.
"Bawa perempuan ini keluar!" Perintahku, entah pada siapa.
"Bawa dia keluar!" Aku semakin berteriak, karena mereka masih diam tak juga membawa Mia keluar. Akhirnya Alex menggandeng Mia,membawanya keluar. Aku tidak lagi ingin melihat wajah ataupun mendengarnya bicara. Aku menutup kedua telingaku dan kembali menangis.
"Aku mau pindah." Setelah tangisku mereda, aku meminta Abang,Juna dan Ibu segera membawaku pindah.
"Kemana?" Tanya Ibu.
"Kemana aja, asal jangan di sini ataupun di Jakarta. Aku tidak ingin melihat mereka lagi."
"Kita bisa saja pindah Apartemen, tanpa harus pindah keluar kota." Usul Juna.
"Nggak," aku menggeleng,
"kemungkinan bertemu dengan salah satu dari mereka sangat besar, jika aku masih berada di kota yang sama." Lanjutku.
"Lalu kita mau pindah kemana?" Tanya Abang.
"Bagaimana jika kita pindah ke Kalimantan, ke tempat Om Danuri, adik almarhum Ayah." Usul Ibu.
"Ibu masih punya kontak keluarga di sana. Dan kemungkinan bertemu dengan salah satu dari mereka sangat kecil. Lokasinya sangat terpencil dan jauh dari perkotaan. Cocok untuk Kanaya melahirkan dan membesarkan seorang Anak." Usul Ibu sangat menarik, aku memang membutuhkan suasana tenang untuk mempersiapkan kelahiran nanti. Berada di kota kecil menjadi pilihan tepat untuk meredam desas desus aku melahirkan anak tanpa seorang suami.
Meski Juna dan Abang sempat menolak, namun mengingat bagaimana bisa Mia dengan mudah menemukan keberadaanku, tidak menutup kemungkinan juga Revan bisa dengan mudah menemukan keberadaanku. Bahkan sampai hari ini aku belum mendengar bagaimana nasib Gerry, karena menurut cerita Juna Gerry tiba-tiba menghilang setelah kejadian itu.
Aku merasa terancam karena Gerry memiliki jiwa pendendam. Aku takut dia menyakitiku terlebih jika dia sampai tahu aku tengah mengandung anak Revan. Bagaimanapun juga Gerry ancaman terbesar dan berpotensi besar menyakitiku setelah rencananya gagal.
Hari itu akhirnya tiba. Aku, Abang,Juna dan juga Ibu kini berada di bandara. Hari ini aku berencana pindah ke Kalimantan. Juna tidak mengantarku sampai tempat tujuan, dia hanya mengantarku sampai di bandara,karena ada pekerjaan yang tidak bisa ditunda.
"Kamu baik-baik aja?" Tanya Juna,
"Aku baik."
"Segera hubungi aku jika butuh apapun." Aku menangguk. Juna mendekatkan wajahnya, mencium keningku. Bisa aku rasakan kasih sayang tulus di balik ciumannya, aku terharu sekaligus merasa sangat bersalah.
"Jangan nangis, aku pasti kesana kalau pekerjaanku selesai." Tangannya mengusap lembut lelehan air mataku.
Ingin sekali aku bisa mencintai lelaki sebaik Juna, tapi hati tetap egois. Meski dia berada di dalam tubuhku, tapi sulit sekali untukku kendalikan.
Aku menoleh, menatap sekilas Juna yang tanpa hentinya melambaikan tangan begitu aku mulai memasuki bagian check in, aku ikut melambaikan tanganku juga sebagai salam perpisahan.
Selamat tinggal Jakarta, selamat tinggal semua kenangan. Aku mengelus perut rataku, "Baiklah sayang, mari kita hidup bahagia. Biarkan Ayahmu juga bahagia, karena Ibu,Kamu dan juga Ayah, pantas untuk bahagia. Meski kita tidak bisa menjadi satu keluarga utuh. Kita pasti baik-baik saja," gumamku.